PERJALANAN JADI NOMER 1

PERJALANAN JADI NOMER 1
Episode 128


__ADS_3

Ling maju sendirian melawan 10 ribu pasukan sendirian yang telah mengepung dirinya.


"bersiaplah minum teh dengan raja." ucap Jendral dari Provinsi Nan.


"oh, Raja Neraka ya, tapi masalahnya di lebih suka kopi dari pada teh." ucap Ling dan tiba tiba sudah memenggal kepala Jendral dari Provinsi Nan.


"cepat sekali, semua pasukan langsung bunuh saja dia." ucap Jendral dari Provinsi Bei yang menyerang Ling bersama para prajurit nya.


"heh, kalau berani satu satu amjinc." ucap Ling sambil menebas prajurit musuh dengan Pedang Pembelah Langit.


"ini moba ******, bukan free fire bisa solo, ayo langsung gank bang aja." ucap Jendral Dari Provinsi Bei.


"terpaksa, stack lima ratus, bantu aku menggunjangkan Land Of Down." ucap Ling dan menggunakan Jurus Pencuri Jiwa.


"apa ini, sakit banget gak da obat, ah ampun ni aku." ucap Jendral dari Provinsi Bei yang tubuhnya hancur seketika terkena pukulan Ling.


Semua pasukan langsung terdiam dan tak berkata apa pun setelah melihat dua jendral mereka mati mengenaskan di tangan Ling.


"jika kalian masih ingin hidup, lebih baik kalian bergabung denganku, jika setuju langsung ikut aku menyerang istana, jika tidak segera tinggalkan tempat ini dan bersiaplah di teror oleh rasa takut." ucap Ling.


"baik, kami setuju mengikuti anda." ucap seorang prajurit yang langsung berlutut kepada Ling.


"kalau begitu cepat kalian bantu Gajah ku itu menyerang Istana." ucap Ling.


"saudara saudara sekalian runtuhkan kekuasaan Kaisar Kazuma, Tuan Ling yang layak jadi Raja." ucap para prajurit yang baru saja bergabung dengan Ling.


"sialan, mereka semua berhianat, lihat saja setelah ini selesai, aku akan memenggal kepala kalian semua." batin Jendral dari Provinsi Xifang.


"Gajah Baja, bagaimana keadaanmu di sini?"ucap Ling.


"ah, maaf tuan, aku tidak memenuhi harapan tuan yang menyuruhku meratakan tempat ini, aku hanya bisa meratakan benteng bagian timur saja." ucap Gajah Baja.


"tidak masalah ini sudah cukup untuk pasukan ku masuk." ucap Ling, lalu ia melemparkan sesuatu ke atas untuk memberikan tanda kepada pasukan yang ia bawa dari Provinsi Dong.


Seluruh pasukan yang telah melihat tanda dari Ling langsung ikut bertarung dan membantu Ling menyerang Istana.

__ADS_1


"Gajah Baja, tugas kita sudah selesai, ayo kita mundur untuk menyaksikan pertumpahan darah ini." ucap Ling.


Gajah Baja langsung menghentikan seranganya dan mematuhi printah Ling untuk mundur "hm, bagaimana kalau kita lihat dari sini tuan, kelihatanya ini adalah tempat yang strategis untuk menonton pertarungan di sana."


"ya kau benar, mari bersantai disini." ucap Ling yang tiduran di atas kepala Gajah Baja sembari menonton peperangan.


"tuan, kenapa kau harus menonton pertarungan ini, kenapa kau tidak turun tangan sendiri?" ucap Gajah Baja.


"ha ah, tidak ada yang menarik dari pertarungan ini, apa kau tidak melihat mereka semua bukan kultivator?" ucap Ling.


"hm, yang anda katakan itu benar, kalau anda turun tangan sendiri pasti tempat ini rata dengan tanah." ucap Gajah Baja.


Langit mulai menunjukan sinar keemasanya di bagian timur, dan peperangan juga sudah usai.


"tuan pertarungan sudah usai, kita akan kemana sekarang?" ucap Gajah Baja.


"eh apa? maaf aku ketiduran." ucap Ling.


"pertarungan sudah usai, sekarang kita akan kemana?" ucap Gajah Baja.


Kemudian Gajah Baja menuju Istana yang baru saja hancur, Istana yang dulunya berdiri kokoh hanya tersisa reruntuhanya saja "wah wah, tempat ini benar benar kacau." ucap Ling.


Ling berjalan melihat lihat sekitar, lalu langsung masuk ke istana, ia melihat Kazuma yang mati di tahktanya dengan keadaan terpenggal.


"bagus bagus, sekarang aku adalah rajanya." ucap Ling.


4 hari kemudian tibalah penobatan Ling menjadi raja, semua rakyat yang menghadiri acara tersebut memiliki ekspresi yang berbeda, ada yang senang karena Kazuma mati, ada juga yang sedih dengan kematian Kazuma.



"rakyatku sekalian, aku adalah Ling, Raja baru kalian, dan mulai sekarang Kerajaan ini di bawah kendaliku, aku disini untuk memperkenalkan pangeran dan putri yang baru dan juga menyampaikan printah pertamaku." ucap Ling.



"Pangeran Huangse, akan bertanggung jawab untuk Provinsi Dong, Putri Luse akan bertanggung jawab untuk Provinsi Xifang, Pangeran Lanse akan bertanggung jawab untuk Provinsi Bei, Pangeran Hongse akan bertanggung jawab untuk Provinsi Nan." ucap Ling.

__ADS_1



Catatan : yang Luse belum dibuat, mungkin menyusul


"hidup Kaisar Ling, Jidup Kaisar Ling." sorak para rakyat yang suka dengan Ling naik tahkta.


2 bulan kemudian "hah, sangat bosan menjadi kaisar seperti ini." ucap Ling yang duduk di tahktanya.


"Gentai, kemarilah." ucap Ling.


"ada apa memanggil hamba tuan?" ucap Gentai sambil berlutut di deoan Ling.


"bangunlah dulu, aku sudah menobatkanmu menjadi Jendral Utama Kerajaan ini, bagaimana perkembangan para prajurit di ibu kota?" ucap Ling.


"para pasukan telah berkembang cukup pesat, karena mereka bersiap untuk menyerang Kerajaan Musuh." ucap Gentai.


"ha ha ha, bagus bagus, oh iya, panggilkan Midas kemari aku ingin berbicara dengannya." ucap Ling.


"tuan ada masalah apa memanggil hamba?" ucap Midas sambil berlutut di depan Ling.


"mulai sekarang aku akan memberikanmu tanah dan kau harus mengembangkanya untuk sektor perdagangan, tapi kira kira dimana tempat yang strategis untuk membangun semua itu?" ucap Ling.


"aku rasa lebih baik kita membangun tempat itu di rute jalan dari Istana ke Provinsi Nan, Xifeng, Dong, Bei, sebab bisa di pastikan di sana adalah tempat yang ramai di lewati." ucap Midas.


"yah terserah padamu saja, sekarang aku ingin memikirkan sesuatu terlebih dahulu." ucap Ling.


"baik tuan hamba mohon undur diri." ucap Midas lalu pergi.


"ngomong ngomong kenapa singgasana di tempat ini agak miring, apalah ada yang salah saat proses pembuatanya?" ucap Ling yang bangun dan mengamati tahktanya.


Ling mencoba mencari tau apa yang membuat takhta nya agak miring, tak lama ia menemukan sebuah alasan kenapa hal tersebuat terjadi.


Ling melihat ada sebuah batanga besi yang mengganjal takhtanya, lalu iapun menarik dan takhtanya kembali seperti semula, setelah di lihat lihat besi tersebut seperti memiliki ukiran namun Ling tidak paham dengan bahasa dalam tulisan ini.


Ling berfikir cukup lama, mondar mandir kesana kemari karena bingung tidak bisa mengetahui apa yang sebenarnya tertulis di dalam batangan besi yang ia temukan.

__ADS_1


Karena kesal Ling melempar batangan besi tersebut ke atas dan mengenai sebuah obor, obor itupun jatuh, namun tak di sangka obor itu memicu mekanisme yang ada di aula istana, tiba tiba muncul lorong bawah tanah di aula istana, seperti memikat Ling untuk masuk ke dalam dan menelusurinya.


__ADS_2