
Dokter Qiu melepaskan genggaman tangan Selly, ia merasa jika Selly sebagai wanita terlalu berani.
Sang Dokter dengan tegas mengatakan, "Selly, saya hargai keberanianmu, dan saya sangat berterimakasih untuk itu." pria tampan itu menghela napas sambil menatap wajah Selly dengan serius. "tapi maaf, saya tidak bisa menerima perasaanmu, kita jalani pertemanan saja seperti biasa." Dokter Qiu mencoba tenang dan tersenyum.
Mendengar kalimat penolakan yang di lontarkan oleh mulut lelaki itu membuat Selly merasakan hancur dan terluka, pasalnya ia sudah mempersiapkan keberanian ini jauh-jauh hari sebelum mengatakannya.
Kini harapan tinggal harapan, impian terindahnya pupus karena kalimat penolakan.
Gadis itu tertunduk lesu, dengan bibir yang mencebik.
"Tapi kenapa kau menolak saya, Dok? Bukankah beberapa bulan ini kita sudah semakin dekat dan akrab? lalu, Kenapa? Apa kurangnya saya? katakan!" Selly sedikit mendesak dengan lontaran kalimat pertanyaan, membuat Qiu semakin terjebak dalam situasi yang tak nyaman.
"Maafkan saya. Jujur, kau ini cantik, baik, sempurna, tak ada kekurangan sesuatu apapun. Tetapi, satu yang harus kau ketahui, perasaan cinta itu tak dapat di paksakan." setelah menghabiskan makanannya, Qiu beranjak dari duduk, reflek, Selly juga ikut bangkit dari posisinya dan kembali menggenggam tangan sang Dokter.
"Dok..." serunya lirih, lelaki itu merasa tak tega, tetapi ia juga tak bisa menerima cintanya.
Qiu melepas genggaman tangannya secara perlahan.
"Selly, maaf saya harus pulang!" ucapnya secara tegas, kini Selly terdiam dan berurai air mata.
"Kenapa kau tak bisa menerimaku?" tanya Selly dengan kedua mata yang berkaca-kaca di hadapan Qiu.
Lelaki itu menanggapinya dengan seulas senyuman tipis.
"Karena ada seseorang yang sedang saya tunggu," ungkapnya dengan lebih berani, membuat Selly bertanya-tanya dalam benaknya tentang siapa wanita itu.
"Saya permisi dulu, selamat malam, Sell..." pamitnya, kini Selly sendirian di tempat itu dengan sejuta kekecewaan bagai sembilu yang menyayat luka hatinya.
"Ya Tuhan, kenapa cintaku bertepuk sebelah tangan?" isaknya dalam diam, Selly merasakan lemas di sekujur tubuhnya pasca penolakan sang Dokter.
"Lagian, siapa sih perempuan itu?!" Gadis itu mendengus karena kesal sekaligus penasaran tentang siapa perempuan yang di cintai sang Dokter. "hmm..betapa beruntungnya dia!" Selly kecewa, pasalnya gadis itu bukanlah dirinya.
Selly pulang dari pertemuan malam itu dengan hati yang teramat hancur bagai tersayat-sayat benda tajam. Ia merasa penolakan Dokter Qiu sangat menyakitkan. Meskipun ia mencoba untuk tetap tegar, air mata tidak bisa dihindari saat ia berada di dalam mobil menuju rumahnya.
Tiba-tiba, ponselnya berdering, ia membaca nama Reina dengan jelas di layar ponselnya itu.
Selly langsung mengangkat panggilan dari sahabatnya, karena sebelum pergi, ia sempat mengatakan kepada Reina jika malam ini ia akan menyatakan perasaanya pada sang Dokter.
Reina sangat berharap, jika Selly dan Dokter Qiu bisa bersatu mengikat sebuah hubungan yang lebih serius, tetapi dugaannya salah.
Selly mencoba menahan air matanya agar tak jatuh saat hendak berbicara dengan Reina.
"Ya, halo Rein..." sapanya dengan suara serak.
"Sell, bagaimana rencanamu tadi, berhasil?" tanya Reina dari sebrang sana, Selly terisak seakan tak mampu menjawab pertanyaan Reina saat ini, padahal Reina begitu antusias untuk mendengarkan jawaban darinya.
"Sell, kau kenapa? Apa yang sudah terjadi padamu?" Reina kembali bertanya dengan nada khawatir, Selly langsung menyeka air matanya yang jatuh bercucuran.
"Nanti saja aku ceritakan, aku musti pulang kerumah," kata Selly sambil tancap gas dari parkiran, ia menyetir dengan pikiran yang tak fokus.
"Aku menyesal, benar-benar menyesal! Tak seharusnya aku memberanikan diri! Aku benar-benar malu!" gerutunya, kedua tangannya memegang erat stang kemudi.
Selly berusaha untuk tenang dan kembali fokus menatap jendela mobil, hal itu akan sangat berbahaya mengingat jalanan licin karena malam itu baru saja turun gerimis.
Saat menepikan mobilnya di garasi, Selly bergeming beberapa saat sambil meredakan dirinya sendiri dari rasa hancur dan kecewa yang mendera batinnya.
Sementara, Reina kembali menghubunginya tetapi Selly tak ada selera dan semangat untuk berbicara dengan siapapun termasuk Reina.
Selly menelungkupkan wajahnya di atas stir, dengan helai rambut panjang yang tergerai ke bawah.
__ADS_1
Ia terus meratapi kegundahan dihatinya, air matanya mengalir membasahi lengan.
Setiap kali ia mengingat penolakan Dokter Qiu, rasa sakit dan kecewa kembali melanda.
Bayang-bayang wajah tampannya selalu bergelayut dalam ingatan, ia tak mampu menepis pesonanya, membuatnya kesulitan untuk bangkit dan konsentrasi.
...
Sementara di tempat lain...
Reina tampak gundah gulana memikirkan Selly, kini bebannya semakin bertambah.
Ia tak ingin hal buruk menimpa sahabat yang amat sangat di sayanginya itu.
"Kau kenapa, Nak?" tanya Bu Lily, karena malam itu ia masih menemaninya di rumah sakit.
Reina langsung menceritakan kepada Mama mertuanya perihal sesuatu yang ia rasakan.
"Kau yang tenang, sayang. Mungkin sahabatmu itu sedang di timpa masalah lain, sebaiknya kau bantu doa saja. Itu adalah hal biasa, kalau kita sedang bermasalah pasti membutuhkan waktu untuk merenung dan sendiri," ujar Bu Lily, Reina mengangguk paham. Meskipun kata-kata Bu Lily memberinya sedikit ketenangan, tetapi ia tetap merasa prihatin dan terus memikirkan tentang keadaan Selly. Ia berharap sahabatnya itu bisa melewati masa sulitnya dengan baik.
Semenjak hamil, hati dan pikiran Reina begitu sensitif, ia tak merasa tenang dan nyaman dalam situasi saat ini.
Malam itu, dirinya kesulitan untuk tidur, ia terus memikirkan Selly.
"Aku harap dia tidak kenapa-kenapa," batin Rena.
Hingga keesokan harinya, seusai mengurusi suaminya, ia berpamitan pada Airin.
"Mbak, saya titip suami saya, ya, soalnya saya sedang ada keperluan di luar," kata Reina dengan sedikit keragu-raguan pada Airin.
Airin mengangguk. "Oh, ya sudah, tidak apa-apa kalau memang penting, biar Tuan muda saya yang urus." Airin merasa di beri kebebasan jika Reina pergi keluar.
"Iya-iya, saya tahu kok!"
Reina segera pergi meninggalkan ruangan suaminya setelah memberikan instruksi kepada Airin tentang perawatan Richie. Ia merasa harus segera menemui Selly dan memastikan bahwa sahabatnya itu baik-baik saja.
Tiba-tiba, ia berpapasan dengan Dokter Qiu.
"Reina," sapanya, Reina terhenti sejenak.
"Eh, Dokter," balas Reina dengan senyuman.
"Kau mau pergi kemana? Sepertinya buru-buru sekali," tanyanya lagi, ia mengamati penampilan Reina yang terlihat semakin cantik dari biasanya membuat sang Dokter semakin jatuh hati pada Reina.
"Saya sedang ada urusan di luar, Dok," jawan Reina, ia tak mungkin mengatakan jika dirinya akan menemui Selly, Reina tahu ada yang tak beres antara Dokter Qiu dan sahabatnya itu.
"Kau pergi dengan siapa?" tanya sang Dokter seakan khawatir pada Reina. "Selly?" lanjutnya menebak, Reina langsung menggeleng. "bukan, Dok."
Ia tak ingin berlama-lama, sehingga ia segera pamit dari hadapannya, sedangkan Qiu tak bisa mencegahnya, karena sedang bertugas.
Reina menunggu taxi online di depan lobby.
Saat taksi akhirnya tiba, Reina segera masuk dan memberitahu kepada sang sopir kemana tujuannya. Di dalam taksi, ia merenungkan semua yang terjadi dan ia tak sabar untuk bertemu Selly.
Sementara, Dokter Qiu sedikit terganggu konsentrasinya ketika merasakan kecemasan jika teringat kepada Reina yang pergi sendirian di saat keadaanya sedang hamil.
...
Singkat cerita, Reina tiba di depan rumah Selly.
__ADS_1
Ia turun dari taxi setelah membayar.
"Saya sudah bayar lewat applikasi ya, Pak," kata Reina saat dirinya sudah berada di luar.
Setelah taxi itu berlalu, ia langsung mendekat ke arah pintu gerbang.
Kehadirannya di sambut oleh lolongan anjing peliharaan keluarga Selly.
"Pak..." serunya kepada Bapak security penjaga gerbang, pria berseragam itu segera menghampiri lalu membukakan pintu gerbang untuk sahabat putri majikannya tersebut.
"Silahkan Non Reina, Non Selly ada di dalam kok," kata Bapak Security yang bernama Anez.
"Terimakasih ya, Pak," balas Reina.
Kehadiran Reina mendapat sambutan baik dari Ibunya Selly, yakni Bu Winda.
Reina mencium punggung tangannya, lalu Bu Winda mengajaknya berbincang-bincang di ruang tamu, ia menanyakan tentang keadaan Richie di rumah sakit, karena ia mendapat berita tersebut dari Selly.
Reina memaparkan semuanya membuat Bu Winda turut merasakan kepedihan dan duka yang sedang dialami Reina saat ini.
"Kau yang sabar ya, Reina. Rajin-rajinlah berdoa, semoga Tuhan segera memberikan kesembuhan untuk suamimu," ujarnya, terlebih ia prihatin melihat Reina yang sedang hamil. "Kasihan sekali kau, Nak," lanjutnya, Reina berusaha tegar dan tersenyum.
Sesudah itu, Reina langsung menemui Selly di kamarnya.
Reina melihat Selly tengah tidur menyamping, lantas ia segera menghampiri dan menepuk bahunya.
Reina mendengar isakannya yang memilukan.
"Selly..." seru Reina, dengan cepat gadis itu membalikan tubuhnya sambil memeluk bantal.
"Reina." Selly dengan cepat mendekap tubuh Reina.
"Sell, kau ini kenapa?" tanya Reina dengan khawatir, Selly langsung menceritakan pada Reina tentang penolakan sang Dokter kemarin malam.
"Aku benci padanya!" gerutu Selly dengan emosi, Reina berusaha membuatnya tenang.
"Selly, kau yang sabar, mungkin belum jodohmu. Lagian, kau ini cantik, punya badan bagus, berbakat, cuma laki-laki bodoh yang berani menolakmu!" ujar Reina, tetapi hal itu tak membuat Selly merasa bangga dengan apa yang dimilikinya.
"Tapi, aku cuma suka dan cinta padanya, Reina!"
"Kalau dia tak punya perasaan padamu, buat apa juga kau paksakan!" bentak Reina, ia merasa Selly sudah mulai terpedaya karena perasaanya yang mendalam kepada lelaki itu, sama seperti yang pernah Reina alami saat mencintai Melvin.
"Kau ingat, dulu aku sampai bego karena mencintai Melvin, dan kau selalu menasihati aku, sekarang kau mengalaminya juga, kan?" Reina menyodorkan kotak tisyu untuk Selly.
...
Singkat cerita, hari-hari berlalu, seminggu pasca penolakan, Selly selalu fokus berlatih voly.
Ia tak ingin terus menerus memikirkan tentang sang Dokter, meski bayang-bayangnya selalu hadir dalam ingatan dan mengganggu hari-harinya.
"Hai Sell," sapa Jackson, yakni guru pelatih. "sendirian saja nih?" lanjutnya bertanya, Selly hanya tersenyum.
Saat itu dirinya sedang istirahat latihan sambil meneguk air minum dalam botol, dan Jackson duduk di sebelahnya.
"Besok akan dimulai pertandingan, kau musti siap!" Jackson berbasa-basi supaya bisa lebih dekat dengannya, hal itu membuat Selly merasa risih dan tak nyaman.
"Iya, aku tahu kok!" ucapnya ketus, Selly beranjak dan pergi, membuat Jackson mendengus kesal sambil melontarkan kalimat ancaman dalam hati.
"Awas saja kau, suatu saat kau akan bertekuk lutut padaku, Selly!" ancamnya dengan seringai jahat...
__ADS_1
Bersambung...