Permainan Cinta

Permainan Cinta
Amarah Elvina


__ADS_3

Dalam dekapan cinta yang damai, Reina dan Richie saling berbicara untuk mengenang momen-momen bahagia bersama dan menguji ingatan Richie yang sekarang kembali tersadar dan fokus menata kembali pernikahan mereka.


Kemudian, Reina tertidur dengan senyuman yang tulus di wajahnya, dan Richie mengecupnya dengan lembut sebelum mereka bersama-sama menikmati tidur yang tenang di malam itu.


...


Lain halnya dengan Elvina.


Malam itu ia tak bisa tidur, ia terus gelisah memikirkan sikap dan perubahan Richie padanya.


Terlebih ia merasakan sensasi ketidak nyamanan di bibir dan hidungnya. "Rasanya sakit, panas, dan berkedut," keluh Elvina sambil menekan lembut ujung hidung dan bibirnya akibat malpraktik di klinik kecantikan yang tak bertanggung jawab.


Ia berdiri menghadap cermin, dan betapa terkejutnya ia ketika kemerahan itu kini menjalar ke dagu dan bawah pipinya. Warna hidung yang semula merah kini berubah menjadi keunguan, disertai pecahan nanah dan darah yang keluar secara bersamaan.


"Astaga, wajahku!" Elvina kaget luar biasa melihat kondisi wajahnya yang semakin bertambah parah, hingga ia menangis dalam keputusasaan seorang diri di rumah kontrakannya.


Elvina yang semakin terpuruk dalam kondisi fisik dan mentalnya.


Ia merenungkan segala perubahan dalam hidupnya yang mengarah pada kegagalan dan kehancuran.


Kini, ia harus menghadapi konsekuensi dari keputusan-keputusan buruk yang telah ia buat dari tindakan yang tidak bertanggung jawab.


Wajah yang dulu ia anggap aset berharga kini telah berubah menjadi sumber penderitaan.


"Arrg!" Elvina berteriak sambil melempar beberapa kosmetik yang tersusun rapih diatas meja rias, semuanya menjadi berantakan tak lagi terletak pada tempatnya.


Elvina yang dipenuhi emosi marah, ia terus melemparkan apa saja yang ada di dekatnya. Dan pada saat yang penuh keputusasaan, ia memecahkan cermin yang berada di depannya. Serpihan-serpihan kaca bertebaran di seluruh ruangan, mencerminkan kekacauan yang ada dalam dirinya.


"Kenapa wajahku jadi seperti ini?!" teriaknya histeris.


Akibat memecahkan cermin, lengannya mengalami luka dan berdarah, ia terus terisak dalam keadaan putus asa, hancur, dan terluka.


Elvina terjatuh dalam gelombang emosi yang menghantamnya.


"Wajahku jadi jelek!!!" teriaknya lagi dengan suara yang semakin serak.


***


Reina dan Richie bangun di pagi yang cerah, mereka tersenyum dengan penuh kebahagiaan dan semangat yang membara menghiasi wajah keduanya. Mereka tahu bahwa cinta dan kesetiaan satu sama lain telah mengatasi ujian-ujian sulit dalam hidup mereka.


"Selamat pagi, sayang." Richie menyambut wanita di sebelahnya dengan senyuman, pelukan, dan kecupan singkat yang mendarat di kening Reina.


"Pagi juga Pak suami," balas Reina, lalu keduanya segera bergegas untuk mandi dan mengawali aktifitas pagi hari ini.


Reina terlihat seakan malas dan manja di hadapan Richie saat itu.


"Sayang, mau bangun tidak?" tanya Richie yang sudah bangkit terlebih dulu dengan keadaan polos, hal itu berhasil membuat Reina tertawa saat melihat milik suaminya.


Richie langsung menghampiri, lalu mencubit manja ujung hidung istrinya.

__ADS_1


"Ngetawain, hah?!" Richie yang gemas langsung menggelitiki pinggang Reina sampai Reina terpingkal menahan sensasinya.


"Ampun sayang, ampun!" teriak Reina dengan tawa, lalu kedua wajah mereka semakin dekat, hingga bibir keduanya saling menyentuh satu sama lain.


"Ayo cepat bangun!" Reina menyingkirkan wajah suaminya kearah samping.


Richie dengan keisengannya langsung mengangkat tubuh Reina dan membawanya ke kamar mandi pribadi mereka.


Keduanya menjalankan ritual bersih-bersih bersama, dan tentu saja rasa rindu masih bergejolak di hati masing-masing, hingga mereka berlama-lama berada di dalam sana.


"Sayang, ini sudah hampir pukul 7!" protes Reina. Namun tampaknya Richie masih belum puas bermain dengannya sambil memanjakan tubuh istrinya dengan kasih sayang.


"Iya, sebentar, 5 menit lagi, oke." Richie terus menciumi istrinya dengan gemas seperti orang yang sudah tak bertemu dalam waktu yang sangat lama.


"Sayang, kau ini jahil sekali." Reina kembali berteriak manja saat jemari Richie tak bisa berhenti mengeksplor tubuhnya.


"Kau adalah canduku, sayang," balas Richie yang seakan tanpa ampun.


Sementara di luar sana, Ryan mencari-cari keberadaan Ayah dan Ibunya, ia yang baru mulai belajar berjalan. Namun, masih dalam pengawasan sang pengasuh, perlahan melangkah ke kamar kedua orangtuanya.


Reina menyadari ketika mendengar irama sepatu bunyi yang di kenakan putranya, sehingga ia ingin segera menemui Ryan.


"Sayang, cepat, kasian anak kita, dia pasti cariin kita!" Reina yang kesal mencebik bibirnya manja.


"Iya, sayang," balas Richie, dan keduanya segera menyelesaikan ritual mandi mereka yang sudah terlalu lama.


...


"Hay Ryan, anak Mama, sini sayang." Reina langsung menggendong Ryan yang berat badannya semakin bertambah, hingga ia kepayahan.


"Aduh, berat ya cayang, ya," kata Reina sambil menurunkan kembali tubuh putranya.


Ryan langsung mendongak menatap wajah sang Ayah dengan gestur ingin di gendong.


"Pa...pa...pa...pa," celotehnya dengan suara cadel yang menggemaskan.


"Ya, sayangnya Papa, jagoan Papa." Richie turut mengangkat tubuh putranya, lalu mereka turun ke lantai bawah dengan lift.


Saat keluarga kecil itu turun dari lift, mereka langsung di sambut hangat oleh kedua orang tua Richie. Hidangan sarapan sudah tersedia di meja makan. Richie, Reina, serta putranya, Ryan bergabung menikmati hidangan sarapan pagi yang sudah di persiapkan oleh maid kepercayaan mereka, Yeti dan Airin. "Selamat pagi Tuan dan Nyonya muda," sapa Airin dan Yeti secara serentak. Richie dan Reina membalasnya dengan senyum lebar.


Pagi itu, suasana keluarga kecil Richie dan Reina tampak begitu bahagia. Mereka berbagi waktu berkualitas bersama di meja makan dengan Ryan yang riang.


Bu Lily dan Pak Marthin tersenyum melihat cinta di antara mereka.


"Mama senang lihat kalian akur," kata Bu Lily.


"Ya, kami harap, kalian akan selamanya seperti ini, lihatnya adem," tambah Pak Marthin sambil menatap wajah tampan cucu mereka, Ryan, yang semakin tumbuh dan ceria.


"Terimakasih ya, Ma, Pa, kalian selalu mendukung kami," ucap Richie penuh rasa syukur, lalu ia merangkul pundak Reina mesra di hadapan semuanya.

__ADS_1


"Kalian sangat cocok sekali." Bu Lily mengamati wajah anak dan menantunya dengan kasih sayang.


"Ya, semoga tidak ada helo kitty diantara kalian lagi, ya," harap Airin dengan guyonan, dan semuanya tertawa.


"Nah, gitu dong! Suami istri harus akur dan saling mencintai satu sama lain," tambah Yeti memberi dukungan semangat pada pasangan Richie dan Reina.


"Terimakasih," balas Reina sambil membawa Ryan di atas lahunannya.


Seusai sarapan, Richie berpamitan pada semuanya terutama sang istri, Reina.


"Sayang, aku berangkat dulu, ya." Richie memberi kecupan singkat di kening Reina, lalu Reina balas mencium punggung tangannya.


"Ya sayang, hati-hati, awas! jangan sampai tergoda lagi sama si Elvina nenek sihir itu!" Reina memperingatkan, dan Richie balas mengacak kasar pucuk rambutnya.


"Iya sayang, tenang saja, di hatiku cuma ada kau seorang," jawabnya dengan penuh keyakinan, dan Reina langsung jatuh dalam pelukannya karena rasa bahagia yang tak terkira.


"Terimakasih Tuhan, karena kau telah mengembalikan ingatan suami hamba," ucapnya dalam hati penuh rasa syukur yang sangat besar.


***


Ketika di perusahaan...


Meski dalam kondisi wajah yang hancur, Elvina tetap datang ke perusahaan sambil mengenakan masker.


Namun, darah dan nanah yang keluar dari hidungnya yang luka terus merembes hingga permukaan maskernya tampak basah dan sangat menjijikan.


Kemerahan di kulit wajahnya tetap terlihat meski mengenakan masker, hal itu membuat rasa percaya dirinya hancur.


Hingga semua orang yang berpapasan menatap sinis dengan ekspresi jijik padanya.


"Bu Elvi, mukanya kenapa tuh?" tanya Andri saat bertemu dengannya, Elvina tak mampu menjawab.


Ia langsung berjalan menuju ruangan Richie, dan berharap masih mendapat sapaan baik darinya.


"Sayang," serunya lirih saat membuka handle pintu, membuat Richie terkejut dan mengumpat.


"Dasar sinting! kau masih berani datang ke perusahaanku?!" Richie bangkit dari duduknya sambil berkaca pinggang dengan emosi yang bergejolak.


"Sayang, jangan marah begitu dong! Aku ini kan, calon istrimu." Elvina berjalan mendekatinya.


"Enak saja kau ngaku-ngaku calon istriku! ngaca! Lihat wajahmu!" bentak Richie dengan amarah.


"Tapi ini bisa sembuh, kok." Elvina terus memohon, hingga terjadilah perdebatan panjang di ruangan Richie.


"Pergi kau dari sini, wanita gila!" umpat Richie. Namun, Elvina yang tak terima langsung mengamuk dan hendak mencakar tangan Richie.


Dengan cepat, Richie langsung menghubungi security.


...

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2