
Richie dengan tega melontarkan kalimat umpatan pada Reina tepat di hadapan Elvina.
"Sayang, tapi semua itu tidak seperti yang kau lihat! Tadi Elvina_" ucapan Reina terhenti.
"Cukup! aku tidak butuh penjelasan apa-apa lagi darimu, perbuatanmu ini sudah membuatku yakin jika kau memang jahat, Reina!" kata Richie dengan tegas dan tatapan tajam seakan menoreh luka di hati Reina.
Richie merangkul pundak Elvina tepat di hadapan Reina yang tengah meratapi hatinya.
"Ya Tuhan." Reina hanya bisa mengelus dada.
Sesaat ia teringat akan ucapan ketiga sahabat Richie, yakni Albert, Steven, dan Zico, ia merasa perlu menemui mereka untuk meluruskan masalah ini.
Namun, Reina kesulitan menelusuri jejak ketiganya walaupun ia berusaha mencari lewat sosial media.
***
Satu bulan kemudian...
Tibalah hari yang dinanti-nanti, saat Ryan merayakan hari ulang tahun pertamanya. Semua orang di rumah tampak begitu sibuk mempersiapkan acara meriah yang dijadwalkan akan dimulai pukul 10 pagi. Suasana rumah begitu hidup dan penuh kebahagiaan.
Reina, dengan senyum cerah di wajahnya, sedang sibuk mendandani Ryan dengan pakaian yang khusus dipilih untuknya. Ryan, di usianya yang baru genap satu tahun, terlihat semakin aktif dan ceria.
Ketika Reina masih sibuk dengan bedak yang akan dikenakan pada putranya, dia berkata, "Gantengnya anak Mama." Namun, Richie berdebat, "Jangan terlalu tebal pakein bedaknya! Ryan itu kan anak laki-laki!" Richie berbicara dengan nada ketus yang membuat Reina merasa terganggu.
Reina menghela napas dalam-dalam dan menjawab, "Aku pakeinnya tipis-tipis kok, lagian kau tahu apa?! Bukankah selama ini kau sibuk mengurusi Elvina?!"
Richie, yang mulai marah, berkata, "Cukup ya! Tak usah bawa-bawa Elvina dalam masalah ini, tidak ada sangkut pautnya sama sekali!" Reina tetap pada pendapatnya, "Tapi memang benar kok, selama ini kau sibuk dengan perempuan itu,"
Tensi semakin tinggi, sampai akhirnya Bu Lily hadir di antara keduanya dengan usaha memisahkan anak dan menantunya yang sedang cekcok.
Dengan nada tegas, Bu Lily berkata, "Sudah hentikan! Kalian ini apa-apaan? Ini tuh hari ulang tahun anak kalian!" Suaranya mengingatkan mereka bahwa saat ini adalah saat yang seharusnya diisi dengan kebahagiaan, bukan percekcokan.
Reina tak bisa menahan air mata yang sudah menggenang di matanya. Dengan gerakan pelan, dia mencoba menghapus air matanya, namun sayangnya, makeup yang baru saja tertata di wajahnya menjadi rusak.
Reina memberikan Ryan pada Bu Lily, berharap bahwa anaknya akan merasa lebih nyaman dalam dekapan sang nenek. Ia kemudian berusaha menenangkan hati dan pikirannya yang tengah kacau akibat sikap suaminya.
Reina memandang wajahnya di depan cermin, air mata semakin tak tertahan. "Ya Tuhan, sampai kapan cobaan ini?" batinnya dalam keheningan, mencari kekuatan dalam iman dan ketabahan.
Dengan tangan yang gemetar, dia menata kembali riasan di wajahnya dengan lembut dan perlahan, sementara acara ulang tahun anaknya akan segera dimulai.
Saat itu, Selly tiba bersama tunangannya, Qiu Ming, dengan kado istimewa untuk putra Reina dan Richie. Namun, Selly mencari-cari Reina dan tidak menemukannya di tengah kerumunan tamu.
"Tante, Reina ada di mana?" tanya Selly, kedua matanya mencari-cari di sekeliling. Bu Lily menjawab, "Reina masih di kamar." Tanpa ragu, Selly segera bergegas ke kamar itu.
__ADS_1
Ketika Selly membuka pintu kamar, dia melihat Reina masih berdiri di depan meja rias, menunduk, dan berbicara sendiri untuk meluapkan semua emosinya. Selly berjalan mendekatinya dan memanggil, "Re..."
Selly sudah tahu permasalahan yang sedang dihadapi Reina dan memberikan pelukan yang hangat dan penuh ketenangan untuk sahabatnya.
Reina membalas pelukan sahabatnya dengan erat, tak terasa air matanya jatuh dan membasahi gaun yang dikenakan Selly. "Sudahlah, Re," kata Selly sambil mengusap lembut punggung Reina.
Dengan penuh perhatian, Selly berusaha memberikan semangat dan dukungan kepada Reina.
Melalui kata-kata yang lembut dan kehadirannya yang hangat, ia mencoba meredakan kesedihan Reina. Hingga akhirnya, Reina berhasil menghentikan tangisnya.
Kedua matanya sudah bengkak, menjadi bukti betapa berat kesakitan yang dia rasakan.
Selly menuntun lengan Reina, dan bersama-sama mereka keluar dari kamar. Di luar, tamu-tamu telah memenuhi ruangan, beberapa membawa anak-anak mereka yang juga turut meramaikan acara ulang tahun.
Reina kembali bertemu dengan Elvina yang sedang memangku Ryan. Meskipun dalam hati Reina merasa kesal. "tak seharusnya dia hadir di acara besar putraku," batin Reina, ia berusaha menjaga ketenangan dan menyikapinya dengan dewasa.
Di tengah keramaian acara yang akan berlangsung, Selly terkejut dengan kedatangan Melvin dan istrinya, Julia, keduanya hadir membawa serta putri mereka yang masih bayi.
"Hah? Itu kan Melvin," bisik Selly, seolah tak percaya dengan kehadiran teman lamanya. Reina tersenyum pada Selly. "Aku yang mengundang mereka," ungkapnya dengan santai.
Selly tak bisa menyembunyikan rasa penasaran, "Loh, kok bisa?" Ia meminta penjelasan, dan Reina pun menjelaskan pada Selly mengapa dia kembali akrab dengan Melvin dan keluarga kecil mereka.
Setelah mendengar cerita Reina, Selly mengangguk paham, dan mereka melanjutkan perayaan ulang tahun Ryan dengan kehadiran teman-teman lama yang telah kembali menjadi bagian dari hidup Reina.
"Sama-sama ya, terima kasih kalian sudah mau datang," balas Reina, sambil tersenyum tulus. Namun, fokusnya tertuju pada bayi perempuan yang tengah digendong oleh Julia. Bayi itu terlihat begitu tenang dalam balutan kain bedong.
"Hai cantik, siapa namamu?" tanya Selly, yang turut penasaran dengan nama bayi perempuan sahabatnya.
"Namanya Alea," jawab Julia dengan bangga, sambil mengelus lembut kepala bayinya.
"Rein, mana putramu?" tanya Melvin, membuat Reina menjawab dengan gemetar saat ia melirik putranya yang berada di atas panggung bersama Elvina dan Richie.
Julia dan Melvin saling pandang satu sama lain saat mereka melihat Richie dan Ryan bersama wanita lain yang bukan ibu dari Ryan.
"Loh, itu siapa?" tanya Julia sambil menimang putrinya. "Ehm..." Reina ragu untuk menjawab, dengan cepat ia mengalihkan pembicaraan ke topik lain, mencoba menghindari situasi yang semakin tegang.
Dari sudut lain, ketiga sahabat setia Richie, yaitu Zico, Albert, dan Steven, akhirnya tiba di acara ulang tahun Ryan yang telah dinanti-nantikan.
Ketiganya saling bergantian memberikan selamat pada putra sahabat mereka.
Reina, yang melihat kedatangan ketiga teman suaminya, merasa bahwa saatnya untuk menyampaikan sesuatu kepada mereka.
Ia menyadari bahwa Zico, Albert, dan Steven memegang kunci utama untuk mengungkap siapa sebenarnya Elvina kepada Richie.
__ADS_1
Meskipun ketegangan masih ada, acara berlanjut dengan meriah, dan keluarga bahkan telah menghadirkan badut sulap untuk menghibur semua anak-anak yang hadir. Suasana menjadi ceria, dan gelak tawa anak-anak memenuhi ruangan.
Namun, Reina tidak bisa sepenuhnya menikmati keceriaan tersebut. Dia terus mengawasi suaminya yang semakin dekat dengan Elvina, yang tengah memangku putra mereka.
"Seharusnya aku yang ada di sana, bukan perempuan itu!" batin Reina dengan kesal yang tersimpan dalam hatinya.
Meskipun rasa cemburu dan ego mungkin merayapi pikirannya, Reina memilih untuk menahan perasaannya demi menjaga keharmonisan acara ulang tahun putranya.
Di tengah acara, MC memberi kesempatan kepada Reina dan Richie untuk memberikan pidato singkat kepada putra mereka.
Reina meraih mikrofon dengan tegas dan mulai berbicara, suara cerianya memenuhi ruangan.
"Kepada putraku tercinta, Ryan, terimakasih telah hadir di antara kami. Mama sangat bahagia memilikimu. Kau adalah kebanggaan kami, dan kami akan selalu mendukungmu untuk menjadi anak pintar dengan cita-cita yang tinggi. Doa-doa Mama akan selalu menyertaimu, Nak," ucap Reina dengan penuh cinta dan haru, disambut dengan sorak tepuk tangan meriah dari para tamu yang hadir.
Kini giliran Richie untuk berbicara. Reina dengan lembut menyerahkan mikrofon pada suaminya, dan semua mata tertuju padanya untuk mendengar kata-kata yang akan diucapkannya.
"Untuk putraku Ryan, Papa sangat sayang sekali padamu, tidak ada kata-kata yang mampu mendeskripsikan rasa cinta dan sayang Papa terhadapmu, semoga Tuhan selalu melimpahkan berkat untukmu seiring bertambahnya usiamu, dan semoga kau panjang umur dan sehat selalu, doa Papa selalu menyertaimu," kata Richie dengan ketulusan, Reina kembali berurai air mata, ia ingin keluarga kecilnya utuh.
Pidato dari kedua orang tua ini menjadi harapan dan doa untuk masa depan yang cerah bagi Ryan.
Tiba-tiba, Elvina hadir di tengah-tengah acara, dan dengan berani ia mengambil mikrofon dari tangan Richie.
Sepertinya dia tidak ingin melewatkan kesempatan untuk menjadi bagian penting dalam acara ulang tahun Ryan.
Dengan lugas dan penuh keyakinan, Elvina turut berbicara di hadapan para tamu undangan.
Ucapannya berhasil menghibur para tamu, dan sorak tepuk tangan pun terdengar. Reina, meskipun merasa kesal di dalam hatinya, harus menahan perasaannya dan tetap bersikap dewasa dalam situasi ini.
Reina turun dari panggung dan mengajak Zico, Albert, dan Steven untuk berbicara di tempat yang lebih tenang dan pribadi. Sambil menuntun lengan suaminya, Reina mencari kesempatan untuk berbicara ketika Elvina masih berdiri di atas panggung.
"Saya minta kepada kalian, tolong bicara dengan jujur!" Reina berbicara dengan tegas pada ketiga pria tersebut. "Tolong jelaskan siapa itu Elvina!" tanyanya dengan nada yang penuh kebingungan.
Ketiga pria itu saling lirik satu sama lain, kemudian serentak menggeleng. "Kami tidak kenal!" kata Albert dengan tegas, membuat Reina terkejut.
"Apa?! Bukankah waktu suamiku koma, kalian yang mengaku telah menjebak suamiku bersama Elvina? Cepat katakan!" Reina mendesak, tetapi ketiganya terus mengelak, menggoyahkan keyakinan Reina. Situasinya semakin rumit.
"Sudah, hentikan semua ini, Reina!!!" Richie berteriak dengan amarah yang mendalam, merasa frustasi oleh percakapan ini.
"Tapi, sayang, kau harus tahu yang sesungguhnya!" Reina mencoba untuk menjelaskan dan menggenggam erat jemari Richie, tetapi Richie dengan cepat melepaskan genggamannya dan meninggalkan Reina, diikuti oleh ketiga temannya.
Kini Reina kembali sendirian, dalam kecewa dan kebingungan. Ia tak menyangka bahwa ketiga sahabat suaminya mampu tega untuk menyembunyikan sesuatu yang teramat penting.
...
__ADS_1
Bersambung...