Permainan Cinta

Permainan Cinta
Aku harus pergi


__ADS_3

Ketika tiba di kediamannya, Richie melihat suasana rumah yang sudah sepi.


Ia mencari-cari keberadaan Ryan. Namun, ia tak mendengar suara tangis atau celotehannya, sehingga ia berpikir, "mungkin dia sudah tidur," gumamnya.


Dalam keheningan, Richie masuk kedalam lift untuk segera menepi di lantai 2 menuju ke kamarnya.


Saat membuka pintu kamar, benar saja Ryan sudah terlelap dalam dekapan Reina.


Sesaat ia mendekat, dan memperhatikan wajah manis Reina yang tengah pulas bersama putranya.


"Padahal dia begitu polos seperti wajah tak berdosa, tetapi kenapa aku begitu membencinya?" batin Richie, tanpa sadar ia tersenyum saat menatap wajah Reina tanpa pergerakan apapun.


Tiba-tiba, Ryan menggeliat seakan ia tahu kehadiran sang Ayah.


"Ryan, suttt!" Richie meletakan jemari ke tepi bibirnya mengisyaratkan agar Ryan tak bersuara karena akan membangunkan Reina.


Tetapi, Ryan tak mengindahkan ucapan Ayahnya, ia menangis begitu saja, sehingga membangunkan Reina yang sudah terlelap sedari tadi.


Reina terbangun dan terhenyak saat melihat Richie berdiri di samping tempat tidur.


Reina segera memangku dan menenangkan Ryan yang sedang menangis, sesekali fokusnya tertuju kepada Richie yang masih berdiri dengan wajah khawatir saat mengamati putranya.


"Eh, sayang, kenapa baru pulang jam segini?" tanya Reina, ia selalu berusaha bersikap manis pada Richie seolah-olah tak pernah terjadi pertengkaran diantara mereka.


"Ehm...aku tadi sibuk!" jawab Richie ketus, lalu Ryan melirik kearahnya dan memanggil, "Pa...pa..." teriak bocah laki-laki itu dengan tangisan yang sangat kencang.


Richie mengerti jika Ryan sangat merindukannya, sehingga ia mengambil Ryan dari gendongan Reina, dan mengajaknya bermain sesaat.


Tangisan Ryan seketika mereda saat Richie memangku, dan mengajaknya bercanda dengan pesawat mainannya.


"Ngeng...ngeng..." Richie mengangkat tangannya keatas dan menggerakan pesawat mainan tersebut, membuat Ryan tertawa dengan ceria.


Begitu juga dengan Reina yang bahagia saat melihat momen dimana Richie bersama putra mereka, Ryan.


Seakan tidak ikhlas jika Elvina merusak kebahagiaan keluarga kecil mereka.


"Semoga perempuan itu sadar!" batin Reina dengan perasaan geram ketika mengingat kejadian tadi siang.


Tak beberapa lama, Ryan menguap dan tertidur di pangkuan Richie. Dengan cepat, Richie menurunkan Ryan ke atas tempat tidur.


Namun, saat Richie hendak beranjak, bocah kecil itu kembali membuka mata dan menangis, seolah tak ingin berada jauh dari sang Ayah.


"Iya Ryan, tunggu sebentar ya, Papa mau ganti pakaian dulu," kata Richie, sementara Reina menepuk-nepuk pelan bokong putranya agar sedikit tenang.


"Suut sayang, suut, jangan nangis ya, nanti ada ondel-ondel kaya tadi siang, hiy atut," kata Reina dengan kekehan ketika mengingat wajah Elvina yang sangat ia benci.


Sementara Richie tak menyadari jika perkataan Reina adalah berupa sindiran untuk Elvina.


Richie dengan terpaksa mengganti pakaiannya di hadapan Reina dan Ryan, setelah itu ia membasuh wajah, tangan serta kakinya dalam sekejap, lalu kembali untuk menenangkan putranya yang masih menangis.


Richie kini ada di sebelah kanan Ryan, dan Reina di sebelah kirinya.


Bocah itu tak lagi menangis, ia merasa nyaman berada di tengah-tengah kedua orangtuanya.


Sampai akhirnya, Ryan tertidur dengan wajah yang tenang dan damai saat kedua orangtuanya memberi pelukan hangat untuknya.


Sesaat ponsel milik Richie bergetar, ia mengintip siapa yang mengirim pesan.

__ADS_1


"Ah, siapa sih? Ganggu aja!" batin Richie sambil menyambar benda pipih tersebut.


Ketika mengetahui Elvina, ia tak menghiraukan pesan darinya karena sudah tidak mood untuk bertukar chat.


Sehingga Richie mematikan data ponselnya agar tidak mengganggu kebersamaan dengan keluarga kecilnya.


Tak bisa di pungkiri, hatinya merasa tentram berada bersama Ryan dan Reina, mereka seperti sebuah rumah untuknya. Namun, ia tak bisa menghindari ancaman Elvina, membuatnya menjadi seorang suami yang munafik bagi Reina.


Reina menyadari suaminya saat itu belum tertidur, ia berusaha berbicara padanya dari hati ke hati.


"Sayang," serunya lirih, Richie menoleh dengan gerakan angkuh.


"Hem?" tanyanya seakan malas.


"Mau sampai kapan kita seperti ini terus?" Reina meraih tangan suaminya dan menggenggam dengan lembut.


"Maafkan aku," kata Richie, lalu menghela napas kasarnya. "aku butuh waktu untuk berpikir, aku belum bisa memaafkan kesalahanmu dimasalalu!" lanjutnya, Reina menggelengkan kepala, karena ia merasa tak pernah melakukan kesalahan fatal padanya, meskipun ia sadar dulu butuh waktu untuk bisa mencintainya.


"Ya, aku akui aku pernah bersalah padamu, tapi kau memberikan balasan yang tak adil untukku, bahkan kau menghadirkan dia diantara kita. Aku tidak terima!" ungkap Reina dengan emosi, dan tak sadar ia berbicara terlalu keras membuat Richie langsung membelalakan kedua matanya.


"Kau ini, kalau Ryan bangun bagaimana?!" bisik Richie, Reina langsung terdiam.


"Sudah ya, marah-marahnya! aku cape, aku mau istirahat!" Richie segera merebahkan tubuhnya kembali dengan posisi membelakangi.


Sementara, Reina menatap punggung suaminya sambil memeluk si kecil yang sedang pulas.


"Ya Tuhan, sadarkanlah dia dari pengaruh perempuan itu," batin Reina, ia membayangkan Richie kembali seperti dulu sebelum dirinya mengalami kecelakaan dan koma yang merenggut separuh ingatannya.


***


Hari itu tepatnya hari minggu, sehingga Richie dan ayahnya, Pak Marthin tidak pergi ke perusahaan.


Sementara, Bu Lily dan Reina sedang menyiapkan hidangan untuk acara bakar-bakaran di halaman tersebut.


Mereka berdua sibuk mempersiapkan berbagai hidangan lezat, mulai dari sate, jagung bakar, hingga marshmallow untuk dessert.


Ryan begitu senang, tertawa riang ketika melihat ayah dan kakeknya bermain bersama.


"Wah, baunya enak nih," kata Airin saat membakar makanan-makanan mentah yang sudah di hamparkan diatas pembakaran.


Di tengah-tengah keceriaan keluarga, tiba-tiba, Richie beranjak ketika ponselnya bergetar, lalu mengangkatnya sedikit berjarak dari tempat tersebut.


Reina memperhatikan gerakan tubuh suaminya saat sedang menelpon di sebrang kolam renang.


Ia mendengus kesal karena pikirannya tertuju pada Elvina. "pasti si Nenek sihir itu yang menelpon!" batinnya.


Sehabis menelpon, Richie kembali untuk meminta izin.


"Mah, Pah, aku pergi sebentar. Aku titip Ryan ya," ujarnya.


"Kau mau pergi kemana? Ini acaranya mau di mulai loh, makanannya juga sebentar lagi mau matang." Bu Lily berusaha menahan putranya untuk tidak pergi.


"Hanya sebentar kok, please ya. Nanti aku pasti balik lagi, aku mau tunjukin sesuatu pada kalian," kata Richie sambil tersenyum.


Bu Lily dan Pak Marthin saling lirik satu sama lain dengan pertanyaan besar di benak keduanya.


"Mau tunjukin apa sih?" tanya Pak Marthin penasaran.

__ADS_1


"Ada deh," jawab Richie sambil berlalu.


Reina memiliki feeling yang tidak enak, sehingga hatinya gusar, karena raut wajah Richie terlihat aneh seperti tengah menyembunyikan sesuatu di belakangnya.


...


Beberapa saat kemudian, Richie kembali, kali ini ia tidak sendiri.


Ia membawa seorang wanita cantik yang di duga sekretarisnya, perempuan itu tak lain adalah Elvina.


Semua mata tertuju pada wanita itu, terlebih Reina yang harus menahan perasaanya di tengah kebahagiaan yang sedang berlangsung.


"Ya Tuhan, kuatkan aku," batin Reina dengan seluruh tubuh yang lemas ketika melihat kedekatan suaminya dengan wanita tersebut.


Bu Lily dan Pak Marthin beranjak dan menatap Elvina dengan kebencian.


"Richie, apa-apaan kau ini?" tanya Bu Lily dengan emosi pada putranya.


"Bukankah dia sekretarismu?" timpal Pak Marthin geram.


"Ya, benar, dia sekretarisku." Richie menatap Elvina dengan senyuman.


Perempuan itu berusaha berjabatan dengan kedua orang tua Richie.


"Om, Tante, perkenalkan saya Elvina, saya calon istrinya Richie," ucap Elvina dengan lantang dan berani, padahal Richie sendiri belum berani mengungkapkan di hadapan kedua orang tuanya.


"Apa?!" Bu Lily seakan tak percaya dengan semua ini, begitu juga suaminya, Pak Marthin.


Reina yang sedang saat tadi menahan sesak dan sakit di dadanya, ia berlari kearah belakang karena sudah tidak tahan dengan permainan ini.


Reina berlari kecil menuju kamar, dan kembali meluapkan rasa sakit hatinya disana.


"Tuhan...tolong aku...Tuhan, aku benar-benar tidak sanggup lagi." Reina merasa semuanya seperti mimpi buruk disiang bolong, sungguh hati tak mampu menerima pengkhianatan ini.


Sementara, Richie sedang berdebat panjang lebar dengan kedua orangtuanya, ia meminta agar Bu Lily dan Pak Marthin merestui dirinya bersama Elvina.


"Pah, Mah, aku mohon pada kalian," kata Richie dengan tegas.


"Richie, kau ini memang pria yang tak berperasaan!" bentak Bu Lily berusaha memposisikan dirinya sebagai Reina yang tengah terluka.


Dari perdebatan panjang itu, Bu Lily dan Pak Marthin akhirnya mengalah, dan acara tetap berlanjut tanpa kehadiran Reina diantara mereka.


Elvina berusaha melakukan pendekatan dengan Ryan, meski awalnya Ryan menangis, tetapi lama kelamaan bocah itu merasa nyaman.


Reina yang merasa di abaikan, ia mengantongi beberapa pakaiannya.


Ia melihat kebersamaan mereka lewat kaca jendela kamar di atas sana, entah mengapa dadanya semakin sesak melihat mereka tertawa bersama.


"Tidak ada alasan untukku bertahan! sebaiknya aku pergi saja!" batin Reina dengan emosi yang bersarang di dadanya.


Ia menghapus air mata, lalu mengikat rambut panjangnya kebelakang.


"Maafkan Mama ya Ryan," gumamnya, sesungguhnya ia tak sanggup jika harus meninggalkan putranya. Namun, keadaan sudah tak memungkinkan dirinya untuk bertahan lebih lama.


Detik itu juga ia memutuskan untuk pulang ke kediaman kedua orangtuanya.


...

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2