
Sementara itu, Reina pulang sendiri menuju kediaman suaminya, Richie.
Suasana sekitar komplek sudah lumayan sepi, hanya di terangi lampu jalanan di setiap sudut. Meski begitu, tempat tersebut sangatlah aman dan tak pernah terjadi tindakan kriminal, karena penjagaannya sangat ketat.
Sopir taxi tersebut mengantar Reina sampai halaman utama mansion.
"Terimakasih ya, Pak," ucap Reina seusai membayar ongkos, lalu ia keluar.
"Sepertinya semua orang sudah tidur." Reina mengedarkan pandangan ke sekitarnya, yang ia lihat hanyalah 2 orang Security penjaga pintu gerbang.
Reina melangkah perlahan ke arah pintu, dan membuka daun pintu secara perlahan.
Ia bahkan tak menyadari seseorang sedang mengawasinya di balik pintu tersebut, sontak Reina langsung terperanjak.
"Astaga!" Reina yang kaget langsung mengelus dada.
"Dari mana kau jam segini baru pulang?!" tanya Richie sembari berkaca pinggang dengan tatapan tajam dan suara lantang.
Bukannya takut mendapat pertanyaan seperti itu, Reina justru merasakan lega di hatinya. "Terimakasih Tuhan, akhirnya dia mulai perhatian lagi," batin Reina, ia terdiam dan mengembangkan senyum di bibir mungilnya.
"Malah senyam-senyum!" bentak Richie yang masih berdiri tegak mengawasinya, Reina dengan cepat langsung mendekap tubuh lelaki itu.
"Eh, lepas!" Richie berusaha melepaskan kedua tangan yang tiba-tiba melingkar di pinggangnya.
Tak sengaja, tubuh Reina tersungkur hingga menghantam permukaan lantai.
"Aduh." Reina memekik sambil memegangi sikutnya yang ngilu karena benturan tadi.
"Tak usah lebay!" cetus Richie, ia bukannya membantunya bangkit malah terus mengumpat dengan kalimat-kalimat kasar yang tak mengenakan.
Reina berusaha tegar, kali ini ia tak ingin terlihat lemah di hadapan Richie.
Gadis itu berusaha bangkit dari posisinya sambil terus mengembangkan senyum seakan semuanya baik-baik saja.
"Sayang, maafkan aku ya, karena aku pulang larut malam," ucap Reina sambil melangkah masuk mengekor suaminya dari belakang.
"Terserah, aku tak peduli! Tuh Ryan nangis terus, kau ini tak becus jadi seorang Ibu!" umpat Richie, mendengar hal itu Reina berlari menaiki tangga untuk segera menemui putranya.
Dan benar saja, Ryan sedang menangis di pangkuan Airin.
"Uh cayang, cayang." Reina langsung mengambil Ryan dari gendongan Airin.
"Ryan sudah di kasih susu?" tanya Reina kepada Airin sambil menimang tubuh mungil itu.
"Sudah nyonya, mungkin Ryan kangen sama nyonya soalnya dari tadi nangis terus," papar Airin, lalu ia melenggang pergi dari hadapan Reina karena sudah mengantuk.
Saat sedang menggendong Ryan, Reina melihat Richie yang masih berdiri mengawasinya.
"Sayang, kau belum mau tidur?" tanya Reina, Richie memutar kedua matanya malas mendapat pertanyaan seperti itu.
"Gimana aku bisa tidur, sementara Ryan nangis terus dari tadi! dasar Ibu tak bertanggung jawab, ngurusin anak saja tidak becus!" jawab Richie dengan nada ketus, lalu ia mendekat dan mengusap tubuh Ryan.
Sampai akhirnya Ryan sedikit tenang, dan Richie langsung merebut Ryan dari gendongan Ibunya.
"Ryan-nya mau di bawa kemana?" tanya Reina heran.
"Ya mau aku bawa tidur lah!" jawab Richie sambil menggendong Ryan ke kamarnya, Reina dengan cepat mengikuti langkah suaminya menuju kamar mereka.
__ADS_1
Tetapi, setelah sampai di dalam, Richie langsung menutup kasar daun pintu itu, ia tak mengizinkan Reina untuk masuk.
"Sayang, buka pintunya!" teriak Reina seraya menggedor pintu dan Richie kembali membukanya.
"Berisik tau, nanti Ryan bangun!" kata Richie, Reina memasang wajah iba di hadapannya, ia berharap Richie memberinya masuk.
"Kenapa?!" tanya Richie ketus.
"Aku mau masuk," jawab Reina memasang wajah memelas.
"Kau tidur di kamar lain, atau tidur di luar!" Richie menutup pintunya kembali, sementara Ryan sudah pulas saat Richie membaringkannya.
Richie tidur sambil membelai putranya, sedangkan Reina merasa tersingkirkan, ia akhirnya tidur di atas sofa dekat pintu kamar suaminya.
"Sabar Reina, sabar," gumamnya menyemangati diri sendiri, dan baru juga memejamkan mata, Richie sudah berteriak memanggil.
"Reina!!!" teriaknya dengan lantang. Reina bergerak cepat langsung mengetuk pintu kamar, secara bersamaan Richie membuka daun pintunya, reflek Reina terjatuh tepat ke pelukan Richie.
Mereka saling tatap satu sama lain, tetapi semuanya buyar ketika Ryan menangis semakin kencang, Richie langsung menghempas tubuh Reina.
"Tuh Ryan buang air, urusin gih!" titahnya, Reina dengan cepat segera mengganti popok Ryan dan segala macamnya.
"Ryan sebaiknya tidur denganku saja, aku kasihan kepadamu, nanti tidurmu terganggu gara-gara tangisan Ryan," kata Reina sambil menaburi bedak di selang-kangan Ryan sehabis di ganti popok baru.
"Tidak! Ryan tetap disini bersamaku!" kata Richie bersitegas, Reina hanya bisa menghela napas kasar.
"Ya sudah, kalau begitu izinkan aku tidur disini juga," pinta Reina dengan rengekan berharap ingin berkumpul bersama anak dan suaminya.
"Tidak! aku tidak sudi tidur satu kamar dengan pencuri sepertimu! aku tidak mau ya Ryan sampai ketularan sifatmu yang jelek itu! tugasmu hanya mengurusi Ryan, tetapi kalau Ryan sudah agak besar, aku tak ingin dia dekat denganmu!" ancam Richie, ucapanny bagai mata pisau yang menyayat hati.
"Kenapa? Aku ini kan Mamanya, kau tidak bisa memisahkan aku dengan Ryan sampai kapanpun!" Reina merasa tak terima kali ini, karena ia merasa lebih berhak atas Ryan.
...
Sedangkan di tempat lain, Qiu Ming membawa Selly yang semakin tak berdaya.
Gadis itu terus merancau tak jelas seakan hilang kesadaran, pandangannya diisi oleh halusinasi.
"Selly, sadarlah!" Qiu Ming memapah tubuh Selly menuju unit apartemen pribadinya, lalu lelaki itu membaringkan tubuh Selly di atas sofa.
Ketika Qiu Ming hendak beranjak untuk membawa peralatan medis, dan air minum untuk Selly, gadis itu langsung menarik kerah bajunya.
"Selly, tolong jangan seperti ini." Qiu Ming berusaha melepaskan cengkraman jemari Selly, tetapi gadis itu seakan enggan dan membawa tubuh Qiu Ming kedalam pelukannya.
"Sell, lepaskan saya!" Qiu Ming berusaha berontak. Namun, Selly semakin liar dan gila.
Tak dapat di pungkiri, sebagai pria normal Qiu Ming sedikit berhas-rat padanya, terutama saat merasakan kedua bukit kembar milik Selly yang menempel dengan dadanya.
Saat itu Selly mengenakan baju atasan yang menonjolkan keindahan bentuk tubuhnya dan paduan dengan jeans denim, semakin menambah ketegangan dalam situasi yang sedang terjadi malam ini.
Qiu Ming semakin tak dapat mengontrol diri, tetapi ia berusaha menjaga kewarasannya saat menghadapi Selly yang semakin tak terkendali akibat pengaruh minuman yang di beri Jackson.
"Qiu Ming, aku sudah lama menyukaimu." Di tengah ketidak sadarannya, Selly semakin berani, ia membuka jaket denimnya di hadapan Qiu Ming hingga menampilkan tubuh seksi yang hanya terbalut tanktop yang tak sampai menutupi perutnya yang rata.
Qiu Ming tertegun sambil menelan salivanya dengan susah payah ketika menyaksikan pemandangan indah tepat di depan matanya.
"Ah, apa yang sudah aku pikirkan!" Qiu Ming mengalihkan pandangannya, berusaha tersadar dari pikiran kotornya.
__ADS_1
"Dokter Qiu Ming, tolong aku, aku semakin tak tahan!" rancau Selly ia semakin meninggikan rok mini yang di kenakannya, hingga pa-ha mulusnya terexpose sempurna.
"Iya Selly, saya akan menolongmu," kata Qiu Ming, lalu beranjak. "tunggu sebentar, saya akan ambilkan alat medis untuk memeriksa kondisimu."
Namun, lagi dan lagi, Selly kembali menahannya untuk tak pergi.
"Aku tak butuh di periksa, yang aku butuhkan itu, kau!" ucap Selly dengan tatapan sayu berusaha menggoda. Qiu Ming mengerti apa yang Selly butuhkan, tetapi ia tak ingin sampai itu terjadi.
"Please, sentuhlah aku!" Selly kini lebih berani lagi, Qiu Ming yang gelisah semakin tak karuan, ia langsung mengusap kasar wajahnya ketika Selly melorotkan tali tanktopnya.
Qiu Ming semakin tak tahan dengan godaanya, ia mendekatkan wajahnya dengan wajah Selly sehingga tak ada jarak di antara mereka.
Keduanya merasakan hembusan napas masing-masing hingga Selly semakin pasrah ketika Qiu Ming merasakan tepi bibirnya.
Selly membuka celah bibirnya untuk memudahkan lidah tak bertulang itu mengeksplor mulutnya.
"Apa ini yang kau inginkan dariku?" bisik Qiu Ming saat menghentikan pagutannya. Namun, Selly mengangguk seakan masih ingin merasakan sentuhannya bahkan lebih dalam lagi.
"Maaf Selly, aku tak bisa melakukannya." Qiu Ming tampak frustasi dalam situasi saat ini, tetapi Selly semakin tak berdaya karena pengaruh obat tersebut membuatnya tak dapat mengontrol diri sendiri.
Selly membuka seluruh kain di tubuhnya dan terus menggoda Qiu Ming, sementara Qiu Ming sebagai pria sejati tak bisa membendung hasratnya lebih lama lagi.
Gai-rahnya semakin bergejolak ketika menyaksikan pemandangan indah yang begitu nyata tepat di hadapannya.
"Selly, kau sudah gila!" Qiu yang tak tahan, ia terkesima sambil melu-mat tepi bibirnya sendiri.
"Ayo!" ajak Selly sambil meliuk-liukan tubuhnya, Qiu Ming menggelengkan kepala, ia terus molak meski hatinya ingin.
Qiu Ming, di tengah kegelisahan, ia langsung meraih wine dari dalam lemari es, ia meneguk dan membiarkan dirinya tenggelam dan mabuk.
Meskipun ia memiliki wibawa yang tinggi sebagai seorang Dokter yang selau terlihat bijaksana dan profesional dalam bekerja, tetapi di dalam kehidupan sehari-harinya ia juga manusia biasa yang bisa merasakan reaksi alami pada tubuhnya apa lagi saat berhadapan dengan wanita dalam situasi pribadi.
Semakin lama ia semakin tenggelam dan terbuai, dalam keadaan tak sadar, ia mendekap Selly.
Kedua bibir mereka kembali bertemu dan bersambut dengan gerakan yang jauh lebih agresif.
"Selly, maafkan aku," bisiknya lirih, gadis itu tersenyum puas sambil terus menikmati belaian dan sentuhan yang diberikan Qiu Ming padanya.
Situasi yang semakin intens ini membuat keduanya terbuai dalam percikan gai-rah dan hasrat yang kian bergejolak. Selly, yang tersenyum puas, membalas kecupan Qiu Ming dengan penuh semangat. Mereka saling mencari kehangatan dan kenyamanan satu sama lain di tengah situasi yang membingungkan.
"Terus sayang, jangan berhenti," rancau Selly, ketika Qiu Ming terus mengexplore tiap jengkal lekuk tubuhnya.
Namun, Qiu Ming segera menyadari bahwa ini adalah suatu kesalahan besar saat ia hendak melakukannya.
Ia menarik diri dengan lembut dari pelukan Selly, mencoba mengembalikan kejernihan pikirannya.
"Kau tega!" isak Selly sambil melingkarkan kedua lengannya di pinggang Qiu Ming.
"Tega bagaimana? bahkan aku belum sampai melakukannya," kata Qiu Ming sedang kancing kemejanya sudah terbuka.
Selly membalikan tubuh Qiu Ming, kali ini ia duduk di lahunannya, membuat adik kecil Qiu Ming bangkit.
"Cepat lakukan!" Selly mendorong dada Qiu Ming lalu melepas kemeja yang masih melekat di tubuhnya.
Selly seperti orang yang kesetanan, ia benar-benar membuka seluruh kain yang melekat di tubuh Qiu Ming.
Kali ini Qiu Ming tak dapat menolak, ia menikmati setiap gerakan dan sentuhan yang di berikan Selly terhadapnya, hingga malam itu mejadi malam panas bagi mereka berdua.
__ADS_1
...
Bersambung...