Permainan Cinta

Permainan Cinta
Semakin kasar


__ADS_3

Setelah usai mengurusi semuanya, Reina dan Bu Lily berpamitan kepada Melvin dan Julia, karena mereka harus mengambil belanjaan di swalayan.


"Sekali lagi kami ucapkan terimakasih," ucap Julia dengan linangan air mata, ia tersentuh dengan kebaikan Reina dan Bu Lily.


Reina menggenggam tangan Julia dengan senyuman tulus. "Ya, kak, sama-sama, kapan-kapan aku akan berkunjung ke rumah kalian untuk menjenguk si cantik." Reina menatap kedua mata bayi perempuan yang baru di lahirkan oleh Julia.


"Ya, kami akan sangat senang," kata Julia sambil mendekap putri kecilnya.


...


Reina dan Bu Lily bergegas meninggalkan rumah sakit untuk kembali ke swalayan.


Reina sungguh tak menyangka dengan peristiwa ini. Namun, ia sangat bersyukur karena bisa membantu orang lain di saat keadaan darurat.


"Memangnya mereka itu siapamu, Reina?" tanya Bu Lily yang belum mengetahui hubungan yang pernah terjalin antara Reina dengan Melvin pada masa sekolah.


"Ehm...laki-laki itu Melvin, dia mantan pacarku, Ma," jawab Reina sedikit ragu-ragu, dan tampaknya Bu Lily menanggapinya biasa saja, karena ia pikir itu hal yang wajar dimasa remaja.


"Kalian bukan jodoh, ya." Bu Lily menoleh kearah Reina dan tersenyum.


"Iya, Ma. jodohku kan, anak Mama," tutur Reina sambil membayangkan wajah suaminya yang begitu tampan.


"Iya sayang, Mama sangat bersyukur memiliki menantu sepertimu," kata Bu Lily, Reina terenyuh dengan kata-katanya, karena sikap sang Mama mertua berbanding terbalik dengan sikap suaminya.


Sampai akhirnya terjadi perbicangan ringan pada saat kembali menuju swalayan, Reina terus membahas ingatan suaminya yang belum benar-benar pulih.


***


Sementara di tempat lain...


Elvina kembali keruangan Richie sambil membawa buku catatan.


"Pak, sekarang ada jadwal bertemu dengan Mr. Zhou," ujar Elvina, Richie sesaat mengehentikan aktifitasnya, dan mengangkat wajahnya keatas menatap senyum di wajah Elvina.


"Oke." Richie bangkit dari duduknya, dan melangkah kearah ball room perusahaan.


Saat itu Elvina sedikit kesulitan membawa laptopnya. Dengan sigap, Richie mengambilnya dari genggaman Elvina. "Sudah, biar aku saja yang bawa." Elvina merasakan bentuk perhatian secara perlahan dari Richie, membuatnya tersenyum puas.


"Ini baru langkah awal," batin Elvina dengan seringai tipis.


Sampai akhirnya mereka tiba di ruang khusus pertemuan orang-orang penting di perusahaan tersebut. Richie menyambut kehadiran Mr. Zhou. "Selamat siang, Tuan Zhou," sapa Richie menggunakan bahasa mandarin yang begitu fasih.

__ADS_1


Lalu ia memperkenalkan Elvina kepada Mr Zhou. "perkenalkan, ini Elvina, dia adalah sekretaris baru saya."


Elvina yang tak mengerti bahasa mandarin, ia seakan memahami dengan gestur tubuh Richie, sehingga Elvina langsung menyambut Mr. Zhou dengan berjabatan.


"Ni hao?" tanya Elvina mencoba berkomunikasi dengan kata-kata dasar yang ia ketahui.


"Wo hen hao," jawab Mr. Zhou dengan senyuman, lalu ia berbisik pada Richie. "cantik sekali."


Richie tersenyum, lalu mempersilahkannya untuk duduk.


Begitu juga dengan Elvina, ia duduk sambil membuka laptopnya untuk mencatat apa saja yang di perlukan dalam pertemuan Richie bersama Mr. Zhou pada siang hari ini.


Mr. Zhou, sebagai seorang investor terbesar dalam perusahaan yang dipimpin oleh Richie, memainkan peran yang sangat penting dalam menjaga stabilitas dan pertumbuhan bisnis. Ia memiliki pengaruh besar dalam pengambilan keputusan strategis dan alokasi sumber daya perusahaan. Keberhasilan dalam menjalin hubungan baik dengan Mr. Zhou akan sangat memengaruhi masa depan perusahaan dan kesuksesan Richie sebagai pemimpin.


Si satu sisi, pria berwajah oriental itu diam-diam terus memperhatikan gerak gerik Elvina, membuat Elvina salah tingkah berada bersama dua pria berwajah tampan di dekatanya.


Setelah semuanya usai, mereka mengganti tema obrolan menjadi lebih santai.


"Tuan Richie, apakah sekretaris barumu ini masing single?" tanya Mr. Zhou penuh goda sambil melirik Elvina.


Sementara Elvina tampak bingung karena tak paham apa yang di katakan pria tersebut.


"Ehm...tentu saja dia sudah ada yang punya," jawab Richie, dan Mr. Zhou merasa harapannya pupus.


"Dia bicara apa?" tanyanya, Richie langsung menjelaskan apa adanya, hal itu membuat Elvina puas seakan di perdebatkan oleh kedua pria tampan saat ini.


"Ya iya lah, aku kan cantik," batin Elvina yang merasa tinggi.


Elvina juga sedikit ada ketertarikan pada Mr. Zhou sehingga ia berupaya memberi kode-kode khusus padanya tanpa sepengetahuan Richie.


"Aku deketin, ah!" batin Elvina dengan lirikan menggoda pada Mr. Zhou, dan lelaki itu seolah memberi respon padanya.


***


Singkat cerita, saat itu Richie baru saja pulang.


Seperti biasa, Reina selalu menyambutnya dengan ceria seolah melupakan sikap suaminya yang kasar.


"Kau tak usah cari muka di depanku, aku muak! sana pergi!" hardik Richie dengan tegas, Reina tak mengerti seolah Richie menganggapnya seperti seorang penjahat.


"Kenapa kau pulang tiba-tiba membentakku dengan kasar?" tanya Reina bingung, pasalnya saat ini Richie semakin menunjukan ketidak senangannya kepada Reina.

__ADS_1


"Tidak usah banyak tanya, bisa gak sih?!" Richie yang marah melempar tas kerjanya di depan Reina.


Dengan cepat, Reina mengambil dan menyimpannya.


Richie segera menemui Ryan, lalu bercanda dengannya. Tetapi ia mengabaikan ibu yang sudah mengandung dan melahirkan Ryan ke dunia.


Reina hanya bisa menangis dalam diam mendapat perlakuan kejam dari suaminya.


Tampaknya perkataan Elvina sudah berhasil merasuki pikirannya, dan membawa pengaruh buruk terhadap hubungannya dengan Reina.


"Sayang, aku sudah masak makanan kesukaanmu," kata Reina saat menghampiri suaminya yang sedang memangku putra mereka.


"Gak! aku sedang gak selera makan masakanmu! Jadi, kau tak perlu repot-repot masakin buat aku, dasar perempuan jahat!" hardiknya, mendengar kalimat itu membuat Reina menggeleng dan mengelus dada.


"Apa maksudmu mengataiku perempuan jahat? Memangnya apa yang sudah aku perbuat?! apa karena kesalahan dimasalalu yang selalu kau ungkit?! Tapi kenapa kau sampai semarah ini?" cecar Reina dengan emosi.


"Cukup! kau ini memang benar-benar jahat, bahkan kau sudah merusak hubunganku dengan Elvina!" papar Richie yang sudah teracuni oleh kata-kata Elvina, hal itu membuat Reina semakin jengah, emosi, dan cemburu.


Hingga percekcokan pun tak bisa terhindarkan.


Bu Lily dan Pak Marthin mendengar perdebatan keduanya, Pak Marthin langsung membawa Ryan menjauh.


Bu Lily berusaha menenangkan keadaan. Namun, tampaknya Richie tak ingin mendengar nasihat ibunya ia tetap emosi terhadap Reina.


"Kalian ini sama saja!" pekik Richie, kemudian melenggang pergi begitu saja.


Reina terisak dalam dekapan Bu Lily. "Kalau seperti ini terus, aku tak tahan lagi, Ma. aku ingin pisah saja darinya," isaknya, Bu Lily terus menenangkan sambil mengusap rambutnya.


"Sabar sayang, kau ini sedang emosi, jangan berbicara seperti itu, apa kau tak kasihan dengan Ryan? bagaimana nasibnya kalau kalian berpisah," ujar Bu Lily dengan bijak.


Reina menengadahkan wajahnya sambil menatap kedua sorot mata wanita paruh baya itu dengan ketulusan.


"Tapi Ma, dia semakin kasar padaku." Reina tak bisa menghentikan tangisnya, membuat Bu Lily menghela napas kasarnya dalam-dalam.


"Nak, sejatinya ingatan suamimu itu masih belum pulih, apa jadinya kalau kau memutuskan untuk bercerai tiba-tiba dia sembuh, apa tak menyesal nantinya? Mama harap kau tetap bersabar, setidaknya kau lakukan ini untuk Ryan, ya." Bu Lily mengusap air mata di kedua pipi Reina dengan lembut, dan Reina mengangguk setelah mencerna perkataan Bu Lily.


Reina merasa terjebak antara keinginannya untuk menjaga keluarganya tetap utuh dan perasaan kesedihannya terhadap perlakuan suaminya yang semakin kasar.


Bagaimana mereka akan menghadapinya?dan apakah Richie akan pulih sepenuhnya dari cedera dan memperbaiki hubungannya kembali dengan Reina adalah pertanyaan besar.


...

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2