
Sampai akhirnya Dokter Rachel tiba di ruangan rawat Reina, lalu memeriksanya.
Terlihat raut yang tak menyenangkan terpancar dari wajah Dokter cantik itu, membuat Bu Eli bertanya-tanya tentang apa yang terjadi dengan kondisi Reina.
"Jadi bagaimana, Dok? Apa yang terjadi dengan Reina?" tanya Bu Eli cemas.
"Maaf, sepertinya ASi Bu Reina kering, jadi tak bisa keluar," jawab Dokter Rachel dengan berat hati, Reina langsung menghembuskan napas beratnya, ia benar-benar kecewa terhadap dirinya sendiri.
"Tapi, Ibu tak usah khawatir, kami akan membantu merangsang ASI supaya bisa keluar," ujar Dokter Rachel, mendengar hal itu ada sedikit kelegaan di hati Reina dan juga Bu Eli.
"Tapi, kami tak yakin kalau semua ini bisa berhasil. Meski begitu, kami akan berusaha untuk itu." Dokter Rachel terus meyakinkan Reina, dan Reina mengangguk mencoba untuk tenang menghadapi situasi seperti ini.
Untuk sementara, sang bayi di berikan susu formula sampai Reina dapat menyusuinya.
Mengetahui hal itu, Reina berkecil hati, ia menangis di hadapan Ibu dan Mama mertuanya karena tak dapat menyusui bayinya.
"Nak, sudahlah." Bu Eli mengusap lembut punggung Reina, dan Reina langsung meletakan kepalanya di bahu sang Ibu.
"Aku merasa tak berguna untuk bayiku, Bu, kasihan dia," isak Reina, Bu Lily yang peduli, ia meletakan telapak tangannya di bahu Reina, lalu menepuknya pelan.
"Kau yang sabar, sayang, semua akan baik-baik saja. Susu formula juga baik untuk bayi mu," ujar Bu Lily, Reina mengangguk dan menghapus air matanya, ia berusaha untuk tetap rileks dan tak terlalu keras memikirkan hal ini, karena akan berpengaruh buruk pada kondisinya.
Hari-hari berlalu, Dokter Rachel dan tim medis terus bekerja untuk membantu merangsang produksi ASI Reina. Meskipun ada ketidakpastian apakah semua upaya ini akan berhasil, Reina mencoba untuk tetap tenang dan percaya pada perawatan yang diberikan.
Ia ingin selalu memberikan yang terbaik untuk Ryan, meski tak bisa menyusuinya.
Hingga akhirnya, ia kembali harus menelan kekecewaan, karena proses tersebut tak berhasil, Reina di vonis tak dapat menghasilkan ASi.
Tetapi sang Ibu dan Mama mertua selalu memberikan semangat agar selalu bisa bersabar menghadapi kenyataan.
Dukungan dan harapan mengalir dari beberapa teman beserta keluarga yang datang menjenguk Reina dan bayinya.
Mereka turut merasakan suasana bahagia atas kehadiran Ryan di tengah-tengah keluarga sebagai pelengkap kehidupan pasangan Richi dan Reina.
"Terimakasih ya, kalian sudah datang menjenguk," ucap Reina kepada Mirza, sepupu Richie.
"Iya, sama-sama, aku harap dengan adanya Ryan, Richie bisa secepatnya pulih dan bisa beraktifitas seperti semula," harap Mirza dengan rona bahagia.
"Amin," balas Reina yang saat itu tengah menimang Ryan yang sedang tertidur pulas.
***
Semua rekan sejawat Richie di tempat kerja yang datang untuk menjenguknya membawa karangan bunga yang bertuliskan "Semoga lekas sembuh." Mereka berbicara dengan Bu Lily dan Pak Marthin, memberikan dukungan moral, dan berharap yang terbaik bagi pemulihan Richie.
"Pak Richie, kami merindukanmu," ucap Christian mewakili, Richie meresponnya dengan memberi sedikit senyum karena belum bisa berkata-kata, dan otot-otot di tubuhnya masih lemah dan kaku.
Tak terasa air mata mengalir di pipi Richie, menandakan ia telah memberi respon yang positif.
Namun, separuh ingatannya hilang pasca koma, karena mengalami cedera kepala serius. Ini adalah tantangan baru yang harus dihadapi oleh Richie dan keluarganya. Meskipun telah pulih dari kondisi koma, pemulihan ingatannya akan memakan waktu lama untuk kembali normal.
"Pak Richie." Mariana melambaikan tangannya, tetapi Richie hanya terdiam dengan tatapan kosong.
"Pak, masih ingat saya, kan? Sekretaris Bapak yang paling cantik." Mariana mencoba mencairkan suasana dengan gurauannya, membuat orang-orang tertawa sambil mendorong pelan tubuh Mariana.
"Huh, Pede amat!" cibir Anita, suasana menjadi hangat.
"Pak Richie, kami kangen di marahi olehmu," kata Anisa dengan tatapan menggoda, Namun, Richie tetap bergeming.
"Kalian bantu doa, ya untuk pemulihan Richie," kata Pak Marthin, semuanya mengangguk dengan cepat, karena sangat berharap Richie sembuh supaya dapat kembali memimpin perusahaanya.
"Pak Richie, selama Bapak sakit, saya jadi kerepotan mengambil alih posisi Bapak, lihat nih kepala saya jadi tambah botak." Christian memperlihatkan kepala pelontosnya di hadapan Richie, semua orang kembali tertawa.
__ADS_1
"Lah, emang situ dari dulu juga botak!" cetus Mariana seakan merasa puas atas ledekannya.
"Eh, ngomong-ngomong, gimana Reina dan bayinya?" tiba-tiba Anisa teringat akan Reina karena ia sudah lama tak berjumpa dengannya.
Setelah menjenguk Richie, semuanya berbondong-bondong menuju ruangan Reina.
Saat itu Reina tengah memberi susu formula untuk sang Bayi sambil berceloteh.
"Hai Reina..." sapa Anisa yang datang secara tiba-tiba, Reina langsung terperanjak, kedua matanya membola dengan sempurna.
"Bu Nisa..." balasnya, Anisa langsung mendekapnya.
"Reina, saya kangen," kata Anisa, lalu fokusnya tertuju pada sang bayi yang sedang di gendong oleh Reina.
Dengan penuh kehati-hatian, Anisa menggendongnya, tetapi Ryan malah menangis.
"Cup-cup-cup," kata Anisa, ia langsung memberikannya kembali ke tangan Reina, beberapa orang turut masuk, tetapi dibatasi.
Mariana dibuat tak percaya, Richie bisa memiliki seorang bayi yang tampan, karena selama ini ia mengira Richie tak berhasrat pada wanita.
Namun, dengan kehadiran Ryan, semua terbantahkan.
"Ganteng sekali bayimu, Reina. Mirip seperti Pak Richie, dari matanya, hidungnya, bibirnya." Mariana mengamati wajah sang bayi dengan seksama, ia merasa gemas sendiri dibuatnya.
"Terimakasih ounty," balas Reina yang menirukan suara anak kecil.
Mereka sesaat berbincang-bincang, Anisa dan Mariana memberikan petuah dan nasihat kepada Reina bagaimana caranya mengurus bayi, karena mereka pernah ada di posisi itu.
Reina mendengar dengan seksama ucapan keduanya, dan ia akan mempraktekannya saat merawat Ryan setelah pulang nanti.
***
Dokter Qiu Ming juga terus memantau kondisi Richie dan memberikan perawatan terbaik untuknya. Meskipun ada kesedihan dalam hati Qiu Ming karena cinta yang tak terbalas pada Reina, ia tetap fokus pada tugasnya sebagai Dokter yang berkomitmen untuk menyelamatkan nyawa pasien.
"Kau begitu beruntung memiliki seorang istri seperti Reina," ungkapnya lalu memberikan seulas senyuman, ia tahu Richie tak memberikan respon yang berarti. Namun, ia merasa harus mengatakannya.
"Aku harap kau bisa menjaga Reina dengan baik, jangan pernah sakiti perasaanya, karena dia adalah wanita setia yang sudah memberimu keturunan," sambungnya lagi, Qiu Ming berusaha ikhlas melepas perasaan yang belum sempat terungkapkan kepada Reina, karena ia sadar, cinta tak harus memiliki.
***
Hari itu, Reina di perbolehkan untuk pulang pasca perawatan sehabis melahirkan.
Bu Lily dan Pak Marthin ingin Reina tinggal bersama di mansion keluarga.
Kedatangan Reina mendapat sambutan hangat dari para maid, mereka begitu antusias menyambut kehadiran anggota keluarga baru yang begitu menggemaskan.
Semua orang berebut untuk memangku tubuh mungil itu.
Airin yang selama ini selalu bertingkah menyebalkan, dengan adanya Ryan ia menunjukan sikap yang berubah kepada Reina.
Kini keduanya semakin dekat dan akrab, mereka bersama-sama merawat sang bayi dengan penuh perhatian.
Airin senantiasa membantu Reina dalam menjaga dan merawat Ryan, karena Airin sangat menyukai anak-anak, apa lagi bayi yang menggemaskan seperti Ryan.
"Mbak, sepertinya dia betah di gendong sama Mbak Airin." Reina tersenyum saat Airin memperlakukan Ryan seperti bayinya sendiri.
Airin terus menimangnya sampai Ryan tertidur, sementara Reina mengelus kepalanya.
"Si ganteng udah bobo aja." Airin kembali meletakan tubuh Ryan di dalam box bayi, ia terus memperhatikannya, terkadang tersenyum saat melihat kepolosan wajah Ryan.
***
__ADS_1
Di sisi lain, Richie terus menunjukkan kemajuan dalam pemulihannya. Meskipun masih memiliki kehilangan ingatan sebagian, ia semakin stabil dan mampu berkomunikasi dengan isyarat dan ekspresi wajah.
Semua orang terus memberikan dukungan dan harapan pada Richie terutama kedua orang tuanya, Pak Marthin dan Bu Lily.
Mereka selalu memutarkan lagu favorit Richie sehari-hari untuk merangsang daya ingatannya.
Hingga bulan demi bulan, Richie menunjukan perkembangan yang pesat tak terduga dari perkiraan, sungguh suatu keajaiban.
Kini ia mulai bisa berbicara meski masih terdengar kaku.
"Richie," seru Bu Lily sambil mengusap kepalanya, Richie menoleh, dan kini bisa duduk di atas ranjang.
"Ma...Mama..." kata Richie, Bu Lily langsung mendekap tubuh putranya erat karena rindu.
Begitu juga dengan Pak Marthin, iapun melakukan hal yang sama seperti di lakukan istrinya.
"Coba panggil Papa," titah Pak Marthin, Richie mengangguk.
"Pa...Papa..." Richie menggenggam erat kedua tangan orang tuanya.
"Nak, siapa namamu?" Pak Marthin mencoba mengetest.
"A...aku...aku...Richie," jawab Richie yang masih terbata.
"Nama lengkap?" tanya Bu Lily sambil tersenyum.
"Richie Richard." kini Richie bisa berbicara sedikit fasih membuat keduanya merasa amat bersyukur.
Bu Lily langsung menghubungi Reina untuk segera datang ke rumah sakit setelah menyampaikan tentang perkembangan Richie.
Reina semakin tak sabar untuk segera menemuinya.
Ia datang ke rumah sakit diantar oleh Chandra, sopir pribadi keluarga.
Reina berlari kecil, sementara Ryan di bawa oleh Airin.
Setibanya, Reina langsung menghampiri Richie yang sedang duduk bersandar di ranjang rumah sakit.
"Sayang." Reina langsung memeluk tubuh Richie, tetapi Richie tak memberi respon apapun, ia seperti orang linglung yang tak mengenali Reina.
"Sayang, aku senang kau sudah bisa berbicara." Reina masih mendekap tubuh suaminya, tetapi, tiba-tiba Richie mendorong tubuhnya seakan menolak untuk di peluk lalu ia bergeming dalam keadaan bingung.
"Richie, kau ini kenapa? Dia Reina, istrimu, apa kau tak ingat?" tanya Bu Lily, Richie seperti menunjukan raut marah di wajahnya, ia menggelengkan kepala.
"Sayang, ini aku, istrimu," kata Reina mencoba untuk meyakinkannya, tetapi Richie kembali menggeleng.
Richie terdiam kembali sambil membuang muka seakan enggan menatap Reina.
"Mah, Pah, dia kenapa bersikap begitu?" tanya Reina, ia merasa kecewa dan sakit hati.
"Sabar sayang, mungkin ingatan suamimu belum sepenuhnya pulih," ujar Bu Lily menenangkan perasaan Reina.
Tiba-tiba, Ryan menangis dalam pangkuan Airin, membuat Richie langsung menengok kearah sang bayi.
"Richie, lihatlah itu putramu," kata Pak Marthin yang mengambil Ryan dari gendongan Airin, lalu mendekatkan bayi itu pada Richie.
Richie menggerakan tangannya secara perlahan, lalu mengelus kepala putranya.
"A...anakku?" tanya Richie, ia merasa aneh dengan keadaan ini karena ia tak ingat jika dirinya sudah menikah. Namun, karena kuatnya ikatan batin antara seorang Ayah, dan anak, Richie merasa ada ketertarikan pada sang bayi saat pertama kali melihatnya.
...
__ADS_1
Bersambung...