
Di tengah kegalauannya, sahabat-sahabat Reina langsung menghampiri. Selly bersama Qiu Ming, serta Melvin dan Julia, keempat orang itu tampak simpatik terhadap keadaan Reina.
Reina tersenyum saat melihat mereka mendekat. "Reina, apa kau baik-baik saja?" tanya Melvin dengan nada khawatir. Reina mengangguk, mencoba meyakinkan mereka, "Ya, aku... aku baik-baik saja."
Namun, meskipun dia mencoba untuk tersenyum, kedua matanya tidak dapat menyembunyikan rasa sedih dan kebingungannya yang begitu mendalam.
Mereka tahu apa yang terjadi padanya meskipun tanpa penjelasan yang di ungkapkan. ke empatnya menyaksikan secara langsung kedekatan antara Richie dan Elvina di sudut sana.
"Reina, kau harus kuat!" kata Melvin dengan penuh empati. Sebagai mantan kekasih Reina, ia seakan tidak tega melihat pengkhianatan yang dilakukan oleh suami Reina. Meskipun dia sadar bahwa dahulu dia dan Reina pernah berbuat salah kepada Richie, dia berpikir bahwa apa yang sedang dialami oleh Reina jauh lebih kejam dan sangat tidak adil.
Begitu pula dengan Qiu Ming yang masih memendam cintanya kepada Reina, sangat terbatas dalam memberikan dukungan kepada wanita yang dicintainya. Ia tahu bahwa dirinya akan segera melangsungkan pernikahan dengan Selly, dan ia harus menjaga hatinya agar tidak menimbulkan masalah dalam hubungan mereka.
Namun, untuk saat ini, Qiu Ming hanya bisa menyemangati Reina tanpa bisa berbuat banyak untuknya. Ia mencoba memberikan motivasi positif kepada Reina dalam menghadapi cobaan yang sedang dialaminya. Meskipun hatinya bergejolak, Qiu Ming mengutamakan kebahagiaan Selly di atas segalanya.
Selly berada di sisi kanan Reina, dan Melvin di sisi kirinya. Keduanya kini sama-sama menjadi sahabat terbaik bagi Reina. Mereka mengusap lembut punggung Reina dengan penuh empati.
"Yang tabah, ya," kata Selly dengan suara lembut, mengungkapkan dukungan sejati.
"Kami akan selalu ada untukmu," tambah Melvin, dengan tulus ingin memberikan ketenangan pada sahabatnya. Reina tersenyum saat melihat ketulusan dan cinta dari kedua sahabatnya.
"Terima kasih, kalian memang sahabatku yang paling baik," ucap Reina dengan penuh syukur. Dia lalu menatap ke arah Julia dan Qiu Ming, yang merupakan pasangan mereka masing-masing. Meskipun cobaan tengah melanda, Reina merasa damai dan bersyukur melihat keempat pasangan ini karena mereka terlihat kompak dan harmonis tidak seperti dirinya yang berselimut duka.
Sementara itu, Elvina pura-pura berkenalan dengan ketiga sahabat Richie. Mereka diam-diam seperti saling memberi kode yang tidak diketahui oleh Richie. Reina melihat dari kejauhan dan merasa yakin bahwa mereka bersekongkol.
"Oh, jadi ini yang bernama Elvina," kata Albert, sambil sesekali mencuri-curi pandang dan bermain mata dengan Elvina. Semua tindakan ini mengisyaratkan suatu persekongkolan yang sangat kelam.
Elvina berbicara dengan ketiga pria itu seolah baru saja saling mengenal. Zico berbisik pada Richie, "Calon istrimu cantik sekali, sangat berbeda dengan yang itu..." Zico menunjuk Reina dengan gerakan matanya, dan Richie menanggapinya dengan senyuman.
Meskipun di dalam hati Richie ada keraguan, Elvina dan ketiga sahabatnya telah berhasil mempengaruhi pemikirannya, sehingga dia menutup mata terhadap kualitas sejati Reina yang sebenarnya telah dikenal sejak lama.
Sampai tiba waktu jamuan makan siang, semua berkumpul dengan gembira untuk menikmati hidangan lezat yang tersedia. Hidangan tersebut beragam bentuk dan warnanya, dirancang khusus untuk menyenangkan hati anak-anak yang hadir.
Richie dengan perhatian mengambilkan hidangan untuk Elvina, sementara Reina tetap bersama teman-temannya. Semua orang tampak menikmati hidangan yang lezat.
Namun, tiba-tiba, Elvina merasakan bibirnya berkedut. "Duh," keluh Elvina, dan Richie melihatnya dengan khawatir. "Kau kenapa, sayang?" tanya Richie penuh perhatian.
"Entahlah, bibirku rasanya sakit," jawab Elvina dengan nada gurauan. Namun, ia sebenarnya merasa tidak nyaman akibat efek samping dari suntikan yang ia terima di klinik kecantikan. Dia menganggapnya sebagai reaksi terhadap kuah panas yang sedang dia makan.
Elvina berbisik dengan iseng pada Richie, "Sepertinya aku butuh sentuhan bibirmu." Richie yang mendengarnya langsung terbelalak dan terkejut oleh kata-kata Elvina.
__ADS_1
"Astaga!" batin Richie, dan Elvina hanya tertawa kecil atas reaksi spontan kekasihnya.
Richie kembali menatap Elvina dengan keterkejutan yang lebih besar, lalu ia berkata, "Sayang, lihat deh!" Richie menunjuk dengan serius ke tepi bibir Elvina yang bengkak.
Elvina melirik kearah Richie dengan kedua mata yang membola dengan sempurna. "Apa?" tanyanya yang juga dengan keterkejutan yang sama.
"Bibirmu jadi bengkak, dan..." jawab Richie, lalu matanya kembali terfokus pada ujung hidung Elvina yang ikut memerah. "Kau ini alergi?" tanyanya, mencoba mencari penjelasan atas kondisi yang tak terduga ini.
Elvina, yang kaget oleh kondisi hidung dan bibirnya, segera meraih cermin kecil dari dalam tas, lalu mengarahkan benda kecil berbentuk bundar itu ke wajahnya. Ekspresinya segera berubah menjadi cemas.
"Hah???" Elvina yang kaget melihat kondisi hidung dan bibirnya secara spontan langsung menutup wajahnya dengan telapak tangan.
Richie yang masih bingung bertanya, "Kau kenapa?" Namun, Elvina semakin tak nyaman dengan situasi ini dan merasa perlu segera mencari bantuan medis.
"Sepertinya aku harus pergi ke klinik untuk konsultasi. Kenapa hidung dan bibirku jadi bengkak dan merah?" batin Elvina yang semakin gelisah.
"Sayang, aku harus segera pulang!" pamitnya tergesa-gesa.
"Loh, kan acaranya belum selesai!" protes Richie berupaya menahannya.
Tanpa banyak bicara, Elvina berlari meninggalkan Richie sambil menutupi wajah dengan tas kecil yang sedang di genggamnya.
"Elvina..." teriak Richie memanggil, tetapi Elvina tak menghiraukannya.
Acara masih terus berjalan dengan penuh keceriaan, kali ini tanpa kehadiran Elvina di antara Richie dan Reina. Mereka memberikan sambutan penutupan acara dengan penuh rasa syukur dan bahagia, lalu membagi-bagikan bingkisan khusus kepada para tamu, terutama anak-anak yang hadir.
"Terima kasih atas kedatangannya di acara ulang tahun Ryan Richardo," ucap Reina dengan senyuman tulus di wajahnya. Kehadiran dan dukungan para tamu memberikan limpahan doa dan kasih sayang yang tak pernah surut untuk Ryan, ia adalah cahaya hati bagi Richie dan Reina saat ini.
***
Singkat cerita...
Beberapa hari berjalan dengan ketegangan yang menghiasi hubungan Reina dan Richie. Keduanya masih belum menemukan solusi yang bisa memperbaiki hubungan mereka.
Saatnya malam itu, Reina bersiap-siap untuk menghadiri pesta pernikahan Selly dan Qiu Ming, sahabatnya. Ia telah berdandan secantik mungkin untuk menghadiri acara tersebut, dan berharap agar suaminya, Richie, akan mendampinginya.
"Sayang, kau bisa kan ikut bersamaku ke acara pernikahan Selly dan Dokter Qiu?" Reina mencoba merayu Richie untuk ikut dengannya. Namun, Richie tampaknya memiliki rencana yang berbeda.
"Tapi, aku punya janji dengan Elvina. Kami akan merundingkan rencana pernikahan kami nanti," jawab Richie enteng, tanpa mempertimbangkan perasaan dan hati Reina.
__ADS_1
Reina kian terhimpit dan frustasi. "Elvina, Elvina, Elvina, terus yang ada di pikiranmu!" bentaknya pada Richie, yang membuat ketegangan di antara mereka semakin memuncak.
Reina terus memancarkan emosi yang membara, "Kapan sih otakmu akan kembali waras?!"
Richie, meskipun terlihat kesal, tetap mencoba memberikan penjelasan, "Cukup ya! Kau tak perlu cemburu berlebihan seperti ini. Aku sudah memberikan janji kepadanya. Aku tidak ingin menjadi seorang laki-laki pengecut yang lari dari tanggung jawab! Setidaknya kau pahami situasi ini!"
Namun, Reina semakin frustasi dan enggan menerima penjelasan Richie. Dia tahu betul bahwa Elvina tengah menjalankan taktik jahat untuk mempengaruhi suaminya.
"Buka mata hatimu! Kau sedang di bawah pengaruh kata-katanya! Kau harus sadar, dia tengah mengendalikanmu!" bentak Reina, dan kembali terlibat dalam percekcokan yang tidak berkesudahan.
Seperti biasa, Bu Lily selalu hadir untuk menjadi penengah dan mencoba mendamaikan keduanya, menghadapi konflik yang semakin parah.
"Sudah, hentikan!!!" teriak Bu Lily dengan amarah kepada menantu terutama anaknya, Richie, karena ia sadar Richie adalah sumber masalah yang terjadi. "Kapan kalian ini berhenti bertengkar?!" Bu Lily menyoroti wajah anak dan menantunya secara bergiliran, hingga keduanya langsung terdiam dan saling berpikir, tetapi amarah masih tertanam di hati keduanya. Dari perdebatan panjang, akhinya Richie bersedia ikut bersama Reina ke acara pernikahan Selly dan Qiu Ming.
"Ayo cepat!" Richie menuntun lengan Reina dengan kasar menuju ke arah garasi.
Saat berada di dalam mobil, suasana hening, Reina masih menahan kekesalan di hatinya. "Apa jadinya kalau suamiku benar-benar menikahi perempuan itu?" batin Reina, begitu juga dengan Richie. Jauh di lubuk hatinya ia tak ingin menduakan Reina. Namun, ia di hantui oleh rasa tanggung jawabnya terhadap Elvina. Reina berharap, kejahatan Elvina segera terungkap.
...
Mereka tiba di acara pernikahan Selly dan Qiu Ming, tetapi keduanya masih duduk di dalam mobil, menyaksikan keramaian acara dari kaca jendela mobil.
Reina membuka sabuk pengamannya dan mengajak Richie untuk turun. "Ayo, cepat!" ajak Reina dengan nada tegas. Namun, Richie masih belum bergerak dari tempat duduknya, kedua tangannya masih memegang erat kemudi seperti bersiap untuk pergi.
"Kau bisa pergi sendiri!" tolak Richie dengan keras. Reina, yang semakin kesal, menarik kemeja suaminya. "Jangan membuatku malu! Aku tidak akan pergi ke sana sendirian!" protes Reina, sementara Richie tetap enggan untuk beranjak. Ia merasa terikat oleh janjinya kepada Elvina, yang menunggunya di restoran.
"Setidaknya temani aku sebentar saja!" Pinta Reina dengan nada yang semakin tinggi. Richie semakin tersulut emosinya.
"Aku bilang tidak bisa, ya tidak bisa!" balasnya dengan keras, dan Reina yang sudah penuh emosi langsung mendorong kasar bahu Richie hingga sampai mengenai pintu mobil.
"Eugh!" Reina menghela napas kesal, lalu akhirnya turun dari mobil seorang diri. Richie langsung memacu mobilnya tanpa pamitan, meninggalkan Reina yang tengah terluka.
Reina berusaha dengan keras menahan air matanya agar tidak menetes, karena ia tidak ingin memperburuk penampilan di wajahnya yang sudah dihiasi make-up. Dengan hati berat, ia berjalan seorang diri menuju acara pernikahan yang masih berlangsung.
Ia masih tak habis pikir dengan perlakuan suaminya yang semakin tak memiliki hati.
Reina berjalan sendirian menuju pengantin, lalu memberikan ucapan selamat kepada Selly dan Qiu Ming yang tengah berbahagia. Reina berbicara dengan suara yang lirih dan gemetar, dan Selly merasakan dingin di telapak tangan sahabatnya saat itu.
Qiu Ming, sang pengantin, bertanya, "Reina, di mana suamimu?" Pertanyaan itu memicu rasa sakit hati Reina yang semakin tak tertahankan. Tubuhnya tiba-tiba melemah, hingga ia jatuh pingsan di hadapan pengantin dan tamu undangan lainnya.
__ADS_1
...
Bersambung...