
Satu bulan berlalu, hubungan Reina dan Richie semakin dingin.
Reina terus melakukan apa yang semestinya. Namun, hanya kalimat caci maki yang selalu ia terima setiap harinya.
Hingga pada saat itu, tepatnya pukul 11 siang, Reina berencana untuk datang ke perusahaan suaminya sambil membawa Ryan.
Ryan begitu tenang dalam Baby Wrap dengan posisi di gendong menghadap depan.
"Ma, aku mau ke kantor Richie," pamitnya kepada Bu Lily, dan fokusnya pada Ryan yang sedang tertawa.
"Bawa Ryan?" tanya wanita paruh baya itu, Reina mengangguk sambil mengelus kepala putranya. "iya, Ma," jawab Reina yang sudah tak sabar untuk mengajak Richie makan siang bersama Ryan.
"Ya sudah, hati-hati di jalan," kata Bu Lily sambil memakaikan topi di kepala cucunya.
"Dah, Oma." Reina menggerakan tangan Ryan saat berlalu dari hadapan Bu Lily.
Reina saat itu pergi mengenakan motor maticnya, ia menjalankannya dengan sangat hati-hati karena membawa Ryan.
"Hati-hati," tutur Betran sambil membukakan pintu gerbang, ia sangat khawatir terhadap Ryan, meski Ryan tengah bersama ibunya, Reina.
"Jangan ngebut-ngebut ya," sambungnya memperingatkan, betapa sayangnya ia kepada Ryan.
"Iya Pak," balas Reina sambil berlalu dari hadapan Security tersebut.
Ryan sangat senang di sepanjang jalan, tingkah lucunya yang ceria dan senyumannya yang tak henti-henti menyita perhatian pengendara lain ketika Reina berhenti di lampu merah, membuat orang-orang di sekitarnya tersenyum melihat kebahagiaan anak kecil itu.
"Duh, gemoy sekali anak itu," ungkap seorang ibu muda saat berada di dalam mobil.
Reina yang menyadari putranya menjadi pusat perhatian, ia tersenyum dengan bangga.
...
Sementara itu, saat jam istirahat kantor, Elvina datang ke ruangan Richie sambil membawa paperbag berisi bekal makanan.
"Sayang," seru Elvina dengan manja, Richie terperangah dan menatapnya, lalu ia tersenyum.
"Sudah waktunya makan siang," kata Elvina sambil bergelayut mesra dan melingkarkan kedua lengannya di bahu Richie yang masih duduk di kursi kebesarannya.
"Wah, bawa apa nih?" tanya Richie, kedua matanya fokus pada paperbag berwarna coklat yang masih di genggam oleh Elvina.
"Aku bawa bekal makan siang untukmu." Elvina membuka isi paperbag itu, lalu mengeluarkan kotak makanan, dan memperlihatkannya kepada Richie.
"Ini aku yang masak, loh," ujar Elvina, dan Richie langsung menyunggingkan sudut bibirnya.
"O, ya?" tanyanya, Elvina mengangguk, lalu mengambil sendok.
"Mau coba?" tawar Elvina, Richie mengangguk.
"Boleh, boleh."
Elvina menatap bibir Richie yang begitu menggoda, dengan berani ia mendekatkan tubuhnya, dan hampir mendekatkan tepi bibirnya.
Entah mengapa, Richie seakan tak menyambutnya. Saat Elvina hendak mendaratkan bibirnya, dengan cepat, Richie menghindar.
__ADS_1
"Maaf, Elvina," ucapnya dengan canggung, sedangkan wanita itu terlihat kikuk.
"Kenapa kau menghindariku? Bukankah kita ini sepasang kekasih?" tanya Elvina seakan tak puas karena tak berhasil mendapatkan ciuman itu.
"Tapi ini belum saatnya!" jawab Richie dengan tegas, jauh di lubuk hatinya merasa sangat berdosa.
"Hmm...baiklah." Elvina menyerah, dan ia akan terus berusaha untuk menaklukan Richie dengan caranya sendiri.
***
Tak beberapa lama, Reina sampai di perusahaan, ia memarkirkan motor maticnya, lalu membuka helm, seketika rambut panjangnya tergerai dengan indah tersibak angin.
Kedua mata Ryan menggeliat, ia melihat tempat yang sangat asing baginya.
"Kita ada dimana?" tanya Reina dengan candaan pada Ryan yang terlihat bingung. "kita ada di perusahaan Papa," lanjutnya, Ryan tertawa dan meniru ucapan Reina.
"Pa...pa...pa..pa.." celotehnya terus mengulang kalimat itu.
"Ryan mau ketemu Papa, ya?" Reina kembali bertanya, bocah laki-laki itu seakan memahami ucapan ibunya.
Ryan terus tertawa dengan ceria ketika Reina mulai memasuki kantor perusahaan.
Kehadiran Ryan seperti magnet, semua mata tertuju padanya.
"Wah, lucunya." Anita mendekati Ryan dan bercanda dengannya, begitu juga pegawai lainnya ketika mereka tengah beristirahat.
Ryan seperti selebriti cilik, ia terlihat begitu memukau. Pesonanya menyebarkan kebahagiaan di sekitarnya, dan suasana di kantor menjadi lebih hangat berkat kehadirannya. Reina tersenyum melihat bagaimana putranya bisa membawa senyuman kepada semua orang.
"Hai, Bu Nisa," sapa Reina pada Anisa, kedua mata Anisa berbinar saat menatap Ryan yang begitu lucu.
"Tumben gak rewel? waktu itu saja saya gendong langsung nangis." Anisa asyik bercanda dengan bocah laki-laki lucu itu, dan Reina yang melihatnya tersenyum lebar.
Ia senang, karena Ryan mudah akrab dengan siapapun mengingat sebentar lagi usia Ryan akan menginjak satu tahun.
Setelah puas bermain dengan Ryan, Anisa mengembalikan Ryan pada gendongan Ibunya.
"Bu Nisa, suami saya ada di ruangannya, kan?" tanya Reina, Anisa tampak bingung, ia ingin menutupi aktifitas Richie yang tengah berdua bersama Elvina di ruangannya.
"Ehm...sebaiknya kau tunggu disini dulu," kata Anisa, hal itu membuat Reina bertanya-tanya.
"Lah, memangnya kenapa? ini kan jam istirahat," tanyanya yang semakin penasaran.
"Ehm....ya...soalnya..." Anisa bingung harus menjawab apa, ia tak ingin membuat Reina syok dan hancur.
"Ah, Bu Nisa ini bagaimana sih." Reina yang tak mendapat jawaban dari kepala kebersihan itu, ia langsung beranjak dan melangkah menuju ke ruangan suaminya sambil menggendong Ryan dalam Baby Wrap.
Tanpa mengetuk pintu, Reina langsung meraih handle pintu yang terasa dingin.
Dan, betapa terkejutnya ia ketika menyaksikan kedekatan Richie dan Elvina.
Perempuan itu tengah menyuapi Richie dengan mesra, dan mereka tertawa seakan berbahagia diatas penderitaan yang tengah Reina rasakan saat ini.
Dengan penuh keberanian, Reina berusaha menjauhkan Elvina dari suaminya.
__ADS_1
Reina sekuat tenaga mendorong tubuh Elvina lalu mendaratkan satu tamparan keras di pipinya.
"Dasar wanita penggoda!" hardik Reina dengan emosi. Richie yang tak terima, ia berusaha pasang badan untuk melindungi Elvina dari amukan Reina saat itu.
Richie dengan tega mendorong tubuh Reina, hingga Ryan yang masih di gendong turut menangis.
"Jangan bikin onar di tempatku!" bentak Richie, lalu ia mengambil Ryan dari pangkuan Reina.
"Berani-beraninya kau bawa putraku kesini!" kata Richie, ia berusaha menenangkan Ryan yang menangis semakin kencang.
"Kau tega ya!" bentak Reina, lalu fokusnya kembali pada Elvina yang sedang berakting kesakitan.
"Ini semua gara-gara dia!" Reina kembali melancarkan aksinya, ia menjambak rambut Elvina sekuat tenaga.
"Sayang, tolong aku!" jerit Elvina histeris, kegaduhan itu menyita perhatian banyak orang.
Richie menyerahkan Ryan pada Anisa, lalu ia berusaha memisahkan Reina yang tengah mengamuk pada Elvina.
"Dasar perempuan mura-han, tak tahu diri, penggoda suami orang!" hardik Reina, kali ini menarik blazer yang di kenakan Elvina.
Richie, lagi dan lagi ia menarik Reina dan mendorong, hingga tubuhnya jatuh tepat keatas permukaan sofa.
Tanpa malu, Richie mencaci maki Reina di hadapan banyak orang.
"Kau ini tidak tahu malu, berani-beraninya berbuat kekacauan di kantorku!" bentak Richie dengan kasar.
"Apa aku salah? aku datang kemari hanya ingin mengajakmu pergi makan siang dengan putra kita. Tapi apa yang aku dapat? Kau tega-teganya bermesraan dengan dia!" Reina menunjuk Elvina dengan emosi.
"Arg! sudah, berisik! sebaiknya kau pulang! Aku benar-benar muak kepadamu! kau selalu saja membuatku marah dan malu!" Richie tak mampu meredam emosinya terhadap Reina.
Sampai akhirnya, ia menghubungi sopir pribadi untuk mengantarkan putranya kembali.
"Kau tak perlu meminta sopir untuk mengantar Ryan, Ryan pulang bersamaku!" kata Reina dengan tegas.
"Kau bawa Ryan pakai motor? Tidak! aku tak ingin putraku kenapa-kenapa di jalan, apa lagi cuaca sedang terik! Dasar, kau ini Ibu yang tak mengerti, kau mempertaruhkan keselamatan Ryan!"
Reina tak mampu berkata-kata lagi, ia lebih memilih untuk angkat kaki dari ruangan Richie dengan beribu luka dan kecewa yang ia dapatkan.
Reina berjalan menuju ruangan pantry, dan mengambil kursi.
Ia sesegukan seraya melupakan seluruh emosinya, dan tiba-tiba, Anisa langsung menghampirinya.
"Reina, yang sabar." Anisa mengusap punggung Reina dengan lembut dan penuh perhatian.
Reina mengangkat wajahnya, lalu memeluk Anisa.
"Bu, dadaku rasanya sakit," rintih Reina dengan kedua mata yang sembab.
Anisa mencoba menenangkan Reina, "Reina, kau yang tenang, semuanya akan baik-baik saja. Ini memang sulit, tetapi tak baik menghadapi semuanya dengan emosi."
Reina menghela nafas dalam-dalam, mencoba meredakan amarahnya. Ia tahu bahwa pertengkaran ini merupakan salah satu tahap sulit dalam perjalanan mereka.
...
__ADS_1
Bersambung...