
Richie tak menjawab pertanyaan Reina, ia tampak serius mengemudi terkadang melempar seringai kearah Reina yang sedang duduk manis di sampingnya.
Tidak lama kemudian, keduanya memutuskan untuk menepi di sebuah jalanan sepi yang diapit oleh pepohonan dan tumbuhan rimbun di kanan dan kirinya. Tempat yang memberikan mereka privasi, dan keduanya berada dalam suasana yang lebih intim.
Sementara, hujan terus menghantam atap mobil mereka, mereka berdua duduk di dalam mobil.
Richie tiba-tiba, membuka safety belt, hal itu membuat Reina semakin kebingungan.
"Kau mau kemana? diluar hujan," tanya Reina dengan nada melarang, karena ia pikir Richie akan keluar dari mobil mereka.
"Aku tidak akan keluar," jawab Richie dengan santai.
"Lantas? kenapa kita berhenti di tempat ini?" Reina masih dalam mode bingung, Richie membuka sabuk pengaman yang masih membentang di tubuh Reina.
"Sudah, tidak usah banyak tanya!" Richie tiba-tiba menatap tajam pada Reina sambil mengelus paha mulusnya, sentuhan itu semakin naik menyentuh sesuatu di balik dress yang di kenakan oleh Reina.
Wajahnya semakin dekat, dan berhasil meraup tepi bibirnya dengan gerakan yang semakin lama semakin liar, terkadang disertai dengan gigitan lembut yang mampu membangkitkan hasrat.
Barulah Reina menyadari apa yang di inginkan lelaki ini, ia tersenyum, dengan senang hati bersedia melayaninya.
"Kenapa kita harus melakukannya disini?" Reina merasa aneh.
"Aku maunya disini, karena cuaca di luar juga mendukung," jawab Richie nyaris berbisik, dan terus melepas seluruh kain yang melekat di tubuhnya satu per satu.
Begitu juga dengan Reina, ia mengangkat dressnya semakin atas agar Richie bebas melakukan pergerakannya.
Richie meminta Reina duduk di lahunannya, gadis itu naik secara perlahan dan hati-hati keatas tubuhnya, hingga milik Richie terasa hangat berada di dalam tubuh istrinya.
Setiap kali melakukan, Reina tak bisa berhenti mengeluarkan suara ketika Richie menghentakan tubuhnya dari bawah.
Dengan cepat, ia membungkam mulut Reina dengan mulutnya.
Suara bibir keduanya saling berdecakan, seketika Reina melupakan permasalahan yang sedang terjadi, kini tergantikan dengan kenikmatan yang di berikan oleh Richie padanya.
...
Setengah jam sudah mereka melakukan kewajiban, setelah usai, keduanya kembali merapihkan pakaian masing-masing. Seusai keintiman yang baru saja tejadi, kini suasana kembali canggung.
Namun, getaran di hati Richie kembali hidup saat ia memandang Reina dengan cinta yang tulus.
Ia merasa begitu dekat dengan wanita yang ada di sisinya, dan kali ini ia merasa lebih siap daripada sebelumnya untuk membuka hatinya.
Richie merengkuh tubuh Reina dan mengusap pucuk rambutnya dengan lembut. "Aku minta maaf, karena selama ini aku sudah berbuat kasar padamu," ungkapnya dengan ketulusan yang membuat hati Reina terenyuh. Ia merasa seperti terbang dalam mimpi yang indah.
__ADS_1
Reina dengan suara gemetar balas, "Ya, aku harap setelah ini kita bisa membuka lembaran baru." Air mata bahagia mengalir di wajahnya.
Namun, suasana hangat ini terputus saat Reina bertanya tentang Elvina. Richie tetap teguh dalam keputusannya untuk tetap menikahi wanita itu, menyiratkan bahwa masalah ini belum berakhir.
Reina begitu kecewa dan terpaku dalam pikirannya. Suasana intim yang baru saja terjadi, ternyata bukan awal kebahagiaan mereka, melainkan awal dari kisah yang masih rumit.
Reina melanjutkan, "Tapi kenapa kau harus menikahinya?" Suara isakan dalam pertanyaannya menggambarkan kekecewaan yang begitu mendalam. Richie, terjebak dalam situasi rumit antara dirinya dan Elvina, tidak mampu memberikan jawaban yang memuaskan pada saat itu. Ia benar-benar tidak bisa berpikir dengan jernih.
Richie seharusnya bisa mencari dukungan dan berbicara dengan keluarganya, termasuk Reina, tentang masalah ini.
Namun, ia memilih untuk memendam semua ini seorang diri, dan pengaruh ucapan Elvina terus bersarang di pikirannya, membawanya ke dalam dilema besar yang tampaknya tak dapat dihindari.
Richie menghela napas dalam-dalam, berusaha menjelaskan inti permasalahannya dengan emosi yang mendalam. "Karena aku harus mempertanggung jawabkan perbuatanku di masa lalu!" ungkapnya dengan intensitas yang memenuhi ruang mobil.
Reina menggelengkan kepala, terkejut dan tak mengerti dengan ucapannya. "Memangnya apa yang pernah kau perbuat padanya di masa lalu?" tanya Reina dengan suara gemetar.
Baginya, ia adalah wanita satu-satunya dan pertama dalam hidup Richie, sehingga pengakuan Richie tersebut adalah pukulan besar yang tak pernah ia duga.
Richie tampak terhantui oleh masa lalunya, dan pernyataannya ini membuka kotak Pandora yang tak pernah ia ungkapkan sebelumnya.
Reina bungkam, tak mampu lagi meluapkan emosinya. Dalam hati, ia mulai merenung dan berpikir, "Mungkin Elvina sedang merencanakan sesuatu yang tak baik." Perasaan cemas dan curiga terus menyusup dalam pikirannya, membuatnya menelan saliva dengan susah payah.
Richie tahu apa yang tengah di rasakan istrinya, ia mengelus lembut punggungnya, dan mengangguk, menyiratkan jika Reina jangan berpikir terlalu keras. Sampai akhirnya, Richie kembali mengencangkan sabuk pengaman dan melaju.
Beberapa saat kemudian, mobil mereka tiba di mansion. Reina disambut dengan hangat oleh kedua mertuanya, Bu Lily dan Pak Marthin.
"Nak, maafkan kami ya," kata Bu Lily langsung mendekap tubuh menantunya dengan hangat. Reina merasa terharu oleh sambutan ini.
Saat itu, Ryan sedang di gendong oleh Airin. Fokus Reina langsung tertuju pada si kecil yang sudah beberapa lama merindukannya.
"Ryan, kangen ya sama Mama?" Reina memangku tubuh mungil putranya dengan sangat hati-hati. Mereka berdua akhirnya bisa bersatu lagi setelah beberapa hari yang penuh ketegangan.
Reina asyik melepas rindu dengan putranya, Ryan. Sementara itu, Richie bergegas untuk membersihkan diri, lalu kembali dengan keadaan segar.
Namun, alih-alih mengajak bermain Ryan dan Reina, Richie justru terlihat sangat buru-buru. Reina merasa kebingungan dan tak nyaman dengan perubahan suasana hati Richie.
"Kau mau kemana?" tanya Reina dengan nada khawatir.
"Aku mau menjemput Elvina, dia mau datang kemari," jawabnya tanpa ragu. Mendengar nama wanita itu, Reina merasa seperti pisau yang menyayat hati kembali menghantamnya.
Perasaannya yang rumit semakin meruncing dengan adanya Elvina dalam hidup mereka.
Tak lama setelah Richie pergi, ia kembali bersama Elvina.
__ADS_1
Saat Elvina mendekati Ryan yang sedang bermain dengan ibunya, Reina, suasana di mansion menjadi semakin tegang.
"Hai Ryan," sapa Elvina dengan manis pada putra Richie, tetapi Ryan yang masih balita hanya tertawa tanpa mengerti siapa wanita itu.
Reina merasa perlu menjaga jarak antara Ryan dan Elvina. "Maaf ya, Ryan tak butuh dua ibu!" ucap Reina dengan tegas sambil mencoba menjauhkan Ryan dari Elvina.
Namun, Elvina, dengan akal bulusnya, bergelayut manja pada papanya Ryan. "Kau lihat kan, sayang? Reina itu benar-benar jahat!" rengek Elvina dengan nada mempengaruhi pikiran Richie. Suasana semakin rumit pada saat itu.
Meskipun hatinya sedang gundah, Reina berusaha untuk tetap tegar dan mengajak Ryan bermain.
Ia berusaha menciptakan momen bahagia untuk putranya, meski suasana di sekitarnya begitu sulit.
Sesekali, Reina melirik ke arah Richie dan Elvina yang tengah duduk berdua sambil tertawa. Pemandangan itu bak sembilu yang menikam hati.
"Ya Tuhan," batin Reina yang mencoba untuk tetap tegar, setidaknya ia bertahan untuk Ryan.
Reina akhirnya memberanikan diri untuk menarik Elvina yang masih berduaan dengan Richie. Dia meminta Elvina untuk bicara sebentar di tempat yang lebih privat.
Elvina bangkit dari tempat duduknya dan mengikuti Reina, tetapi ekspresinya menunjukkan ketidaksetujuan dan kejengahan terhadap situasi ini.
"Udah deh, tak usah basa-basi!" cetus Elvina sambil melinting rambut panjangnya dengan jari, dengan nada yang tak menyenangkan.
Reina mencoba bicara dengan tegas, "Saya mohon, tolong jangan ganggu keluarga kecil kami." Ia berharap Elvina akan memahami situasi ini sebagai sesama perempuan.
Namun, Elvina justru tertawa mendengar permintaan Reina, tanpa memperlihatkan keinginan untuk memahami atau berbicara dengan baik.
Reina semakin yakin, jika Elvina memiliki niat tak baik untuk merusak keluarga kecilnya.
Dari gerak-geriknya, Elvina tak benar-benar mencintai Richie, ia memiliki tujuan untuk memenuhi egonya saja.
"Tolong jangan kau ambil Ayah dari anakku!" ucap Reina kembali dengan tegas, Elvina menanggapinya dengan tawa seakan tengah meledek larangan yang diucapkan Reina.
"Tidak ada yang bisa menghentikan langkahku, siapapun, termasuk KAU!" Elvina langsung memperlihatkan sebuah photo intim dirinya bersama Richie, hal itu bertujuan untuk memanas-manasi hati Reina.
Kedua mata Reina terbelalak saat menatap layar ponsel Elvina.
Dengan amarah yang tak terbendung ia berhasil mendorong tubuh Elvina, sialnya lagi saat itu Richie hadir disana bersama mereka.
Elvina dengan cepat meminta perlindungan pada Richie.
"Sayang, lihatlah, dia sudah berbuat kasar padaku!" rengek Elvina, kedua mata Richie menatap tajam kearah Reina.
"Reina!!!" bentaknya.
__ADS_1
Bersambung...