
Richie tak sempat menghindari amukan Elvina yang semakin membabi buta, ia menjatuhkan benda-benda dari atas meja Richie dengan amarah yang semakin brutal.
"Elvina, hentikan!!!" teriak Richie, ia berusaha menghentikan amukannya sambil menunggu petugas keamanan, dan Elvina berhasil mencakar lengannya sampai berdarah.
"Richie, kau harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu!!!" teriak Elvina dengan ancaman.
Tak lama setelah itu, tibalah Christian dan 2 orang Security, mereka dengan cepat menangani Elvina yang tengah di kuasai emosi.
"Bawa dia keluar!" perintah Richie kepada kedua petugas keamanan itu.
Elvina berusaha melepaskan cengkraman tangan keduanya. "Eugh, lepas!" Elvina tak bisa berhenti bergerak. "Richie bang-sat kau, dasar baji-ngan! kau sudah meni-duriku, kau harus bertanggung jawab!!!" teriaknya kembali saat dua orang security itu membawanya pergi, sontak teriakannya terdengar oleh para pekerja di luar sana.
"Aish!" Richie mendengus kesal sambil merasakan perih di lengannya akibat luka cakaran Elvina.
"Bapak tidak apa-apa?" tanya Christian dengan nada khawatir, Richie menggeleng sambil menenangkan pikiran, ia duduk di atas sofa.
Christian dengan sigap mengambilkan kotak p3k dari dalam laci, lalu membantu Richie menangani luka-lukanya.
"Apa yang sebenarnya terjadi, Pak? Bukankah sebelumnya hubungan kalian baik-baik saja?" tanya Christian dengan wajah serius.
"Ah, sudahlah, kau tak perlu tahu. Ini urusan pribadi! Tapi, satu hal yang harus kau ketahui, Elvina itu wanita ular! Setelah ingatan saya pulih, saya baru sadar kalau dia berusaha merusak keluarga kecil saya, dia mengancam saya dengan bukti palsu!" Richie menghela napas kasarnya dalam-dalam seraya mengingat perbuatan Elvina yang sudah berlebihan.
"Andai saya belum di beri kesembuhan, entahlah apa yang akan terjadi. Mungkin saya tega menyakiti perasaan istri saya, Reina. Astaga, suami macam apa saya ini!" Richie terpaku dengan beribu penyesalan terhadap istrinya, Reina, karena sudah menoreh luka berkali-kali di hati wanita itu.
Christian mengangguk mencoba memahami, ia turut prihatin dengan apa yang sudah menimpa pada keluarga kecil atasannya tersebut. "ya, mungkin itu merupakan cobaan yang di beri Tuhan untuk keluarga Bapak, dan akhirnya kalian bisa melalui ujian ini, kalian hebat." Christian tersenyum penuh rasa bangga, Richie membalas senyumannya.
"Ya, kau benar, setelah kejadian ini, hubungan kami semakin lengket dan harmonis, saya harap akan tetap seperti ini." Richie kembali tersenyum ketika membayangkan wajah istri dan juga putranya.
Richie menunjukkan sikap yang berubah setelah kejadian tersebut, dia semakin menghargai keluarganya dan menyadari betapa pentingnya keharmonisan dalam rumah tangga yang sedang ia bina. Ia teramat bersyukur telah melewati ujian ini dan bisa menjadi lebih kuat dalam menjaga hubungan dengan Reina, serta putra mereka, Ryan.
Setelah puas berbincang-bincang, keduanya kembali melanjutkan tugas masing-masing.
Richie berusaha untuk fokus, meski terauma itu masih bersarang dalam pikiran.
***
Sementara, Elvina yang saat itu tengah mengemudi, ia terus melontarkan kalimat makian dan sumpah serapah kepada Richie.
Umpatan-umpatan yang terus keluar dari dalam mulutnya seperti tak berkesudahan.
Ia memendam beribu kekecewaan, otomatis rencana penikahannya harus batal.
"Argh, kenapa semuanya harus seperti ini?!" Elvina kembali emosi, terkadang ia tertawa dan menangis seorang diri sambil mengemudi.
"Awas kau Richie, aku akan balas perbuatanmu!" sumpahnya dalam hati.
Ia hendak mendatangi klinik kecantikan langganannya untuk menuntut ganti rugi atas wajahnya yang rusak akibat suntikan, dan operasi kecil yang ia lakukan untuk memperindah bentuk hidung, bibir, serta dagunya. Namun, alih-alih menjadi semakin cantik, justru wajahnya menjadi bengkak dan mengerikan.
Ketika Elvina mencapai klinik kecantikan langganannya, ia menghadapi para dokter dan staf yang kaget melihat perubahannya. Wajah yang tadinya cantik kini terlihat bengkak dan mengerikan. Elvina marah besar dan menuntut.
"Wajah saya jadi hancur! kalian harus bertanggung jawab! atau klinik ini saya tuntut!" ancam Elvina geram sambil berteriak-teriak, beberapa pasien lainnya menatap ngeri pada wajah Elvina, tak sedikit pula yang mengurungkan niat untuk mempercantik diri di klinik tersebut karena tak ingin bernasib sama seperti Elvina.
"Ibu tenang dulu, kita jelaskan di dalam!" ajak salah satu staf yang bertugas di klinik tersebut, dan Elvina menangis meratapi kondisi wajahnya.
__ADS_1
"Kalian harus bertanggung jawab, kembalikan wajah saya!" rintih Elvina, dan para staf itu berusaha menenangkannya.
"Iya, Bu, sebelumnya kami harus memeriksa dulu kondisi Ibu, karena Ibu tidak bisa asal menuntut kami!" ujar seorang staf petugas.
Dokter menjelaskan dengan tegas bahwa semua masalah yang terjadi bukanlah kesalahan pihak klinik. Mereka telah mengikuti protokol dan prosedur medis yang sesuai.
Dokter juga mengingatkan bahwa Elvina telah gagal mematuhi rekomendasi dokter setelah operasi, termasuk panduan perawatan pascaoperasi dan larangan mengonsumsi makanan tertentu yang bisa memicu alergi.
"Sebelum terjadi reaksi alergi, makanan apa yang Ibu konsumsi?" tanya sang Dokter sambil mengamati luka serius di wajah Elvina.
"Saya makan sup seafood, Dok," jawabnya sambil terisak dengan rasa malu yang luar biasa, bahkan ia tak berani menatap cermin.
"Dokter, apa yang dapat Anda lakukan untuk mengatasi kondisi wajah saya?" tanya Elvina dengan nada khawatir.
Dokter memberikan penjelasan yang tulus, "Baiklah, kami akan segera mengatasi masalah Anda, tetapi saya harus memberitahu Anda bahwa kerusakan di wajah Anda cukup serius. Ini memerlukan operasi plastik yang berat untuk memperbaikinya."
Ucapan sang Dokter terasa seperti pukulan yang berat bagi Elvina. Ia terduduk lesu, tersentak oleh kenyataan bahwa masa depannya dipenuhi dengan prosedur operasi dan pemulihan yang sulit.
Ia tahu bahwa dia tak bisa menyalahkan pihak klinik atas apa yang telah terjadi, karena sebagian besar kesalahan ada pada dirinya sendiri. Elvina sangat marah pada diri sendiri karena sudah terlalu ceroboh.
Wajah cantik yang pernah menjadi pujian banyak orang, sekarang berubah menjadi sesuatu yang memalukan, dan tentunya operasi itu akan memakan biaya yang tak sedikit.
Sementara itu, ia sudah mulai kehabisan uang untuk biaya sehari-sehari, dan ia baru saja di keluarkan dari perusahaan.
"Argh!" Elvina menjerit dalam hati, ia terus mengumpat menyalahkan Richie atas peristiwa ini.
***
Hari demi hari, Richie menjalani hari-harinya dengan penuh suka cita dan limpahan kebahagiaan bersama istri dan putranya.
"Sayang, aku mau nambah 1 lagi," pinta Richie saat tengah membelai manja rambut istrinya.
"Minta apa, sih?" tanya Reina yang bingung.
"Minta adik buat Ryan," jawab Richie, dan Reina langsung memukul dada suaminya.
"Ih, kamu tuh bagaimana sih?! Aku kan ingin lanjut kuliah, aku ingin kejar cita-citaku mumpung usiaku masih 20 tahun," papar Reina dengan tekad, ia tak ingin menambah momongan terlebih dulu.
Richie mengangguk, ia mencoba mengerti keinginan sang istri.
Ia melingkarkan kedua lengannya dari arah belakang Reina sambil menempelkan dagu di bahunya.
"Memangnya kalau kau kuliah mau ambil jurusan apa?" tanya Richie, Reina sesaat berpikir.
"Tadinya aku mau ambil jurusan Fisika, tapi setelah aku pikir-pikir, aku ingin ambil Tata busana saja, aku ingin mengembangkan usaha konveksi Ibu." Reina bertekad, lalu menghela napas beratnya. "aku ingin menjadi seorang designer," lanjutnya.
"Hmm..ya, apapun itu, aku dukung," kata Richie, Reina dengan cepat membalikan tubuhnya, hingga kedua wajah mereka saling berhadapan.
"Makasih ya, Sayang. Kamu luar biasa!" Reina tersenyum dan mencium bibir Richie.
Hubungan mereka semakin erat, dan rencana masa depan mereka mulai terbentuk. Richie akan mendukung cita-cita Reina untuk mengejar karier di dunia tata busana, sementara mereka juga merencanakan untuk menambah anggota keluarga di masa depan.
***
__ADS_1
Singkat cerita...
Hingga suatu ketika, tepatnya saat berada di kantor, Richie mendapat laporan keuangan yang anjlok, para investor yang membatalkan kerja sama, serta karyawan pabrik yang belum menerima gaji mereka alias di pending.
"Loh, kok bisa? Perasaan, aku berkerja maksimal setiap harinya." Richie terpaku selama beberapa saat sambil memandang berkas laporan kerugian drastis tersebut.
Seketika tubuhnya lemas, kepalanya menjadi pusing memikirkan itu semua.
Hingga, ia mendapat telpon dari perusahaan cabang yang mengatakan bahwa karyawan pabrik semuanya demo dan mogok kerja karena hak-haknya tidak terpenuhi, serta barang-barang yang di return dari luar negri semuanya berakibat kerugian besar.
Richie tegang dan khawatir. Ia tahu bahwa saat-saat sulit telah tiba, dan ia harus mencari solusi dengan cepat. Di tengah krisis ini, ia harus bertanggung jawab tidak hanya kepada perusahaannya tetapi juga kepada karyawan dan keluarganya.
Richie semakin terperangkap dalam misteri ini. "aku yakin pasti ada orang dalam yang ikut bermain," gumamnya, tetapi tanpa bukti yang cukup, sulit untuk menyalahkan siapa pun.
Dengan berat hati, ia mulai mengamati perilaku setiap anggota timnya lebih detail, mencari petunjuk yang mungkin mengarah pada siapa yang bisa bertanggung jawab atas situasi ini. Ia juga mulai memeriksa catatan keuangan dan komunikasi internal perusahaan. Namun, ia tetap tak menemukan yang mencurigakan.
***
Bulan demi bulan terus berlalu, ia semakin mengalami kemerosotan, hingga mencapai kerugian yang sangat besar. Ia di kenai tuntutan karena di tuding tak mematuhi pedoman hukum usaha di negri ini, sampai pada akhirnya, perusahaan tersebut terpaksa gulung tikar.
"Ya Tuhan, cobaan apa lagi ini?" batin Reina, ia merasa tak henti-hentinya Tuhan menguji kesabaran mereka.
Sampai akhirnya, mereka harus meninggalkan mansion yang mereka tempati dan tinggal di hunian yang lebih sederhana.
Mereka menjual beberapa kendaraan untuk modal usaha, karena hartanya semakin habis.
Richie terus berusaha mengumpulkan bukti dan menghubungi profesional hukum untuk membantunya menjalani proses tuntutan hukum yang dihadapinya. Ia juga mulai mendekati beberapa mantan rekan bisnis yang mungkin memiliki motivasi tersembunyi.
"Aku jadi penasaran, siapa orang yang tega berbuat seperti ini?" gumamnya, dan Reina sempat mendengar ucapan suaminya ketika berbicara sendiri.
"Sayang, biasanya yang melakukan ini orang yang selalu berpura-pura baik di depan kita," ujarnya.
Richie mengangguk, merenungkan kata-kata Reina. Ia menyadari bahwa kadang-kadang penjahat yang tersembunyi dapat bersembunyi di antara orang-orang yang tampak baik dan bisa dipercaya.
"Ya, sulit untukku percaya, tapi, aku tidak bisa menaruh prasangka buruk pada orang lain," ucap Richie.
Meski mereka tinggal di rumah yang lebih sederhana, tatapi tak menyurutkan cinta dan kasih sayang Reina terhadap Richie yang semakin tumbuh setiap harinya.
Dan, karena keluarga mereka memiliki basic berbisnis, Bu Lily dan Pak Marthin membuka toko kelontong di depan rumah untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari.
Reina, terkadang ia membantu usaha konveksi ibunya, ia mengumpulkan biaya untuk kuliah dari hasil yang di dapat.
***
Sampai suatu ketika, Richie dengan keisengannya ia terpengaruh beberapa teman di salah satu tongkrongan.
Ia tertarik dengan judi online karena hasil yang menggiurkan. Memang, awalnya ia mendapat menang dengan hasil yang sangat besar, hingga ada keinginan untuk mengulanginya lagi dan lagi. Sampai ia tega berniat untuk menjual motor matic milik sang istri demi mencapai ambisinya.
"Sayang, jangan di jual, ini kendaraanku satu satunya!" cegah Reina saat Richie terus memaksanya.
"Nanti aku ganti sama motor yang baru, aku janji, kali ini pasti menang lagi!" paksanya, Reina dengan berat hati menuruti apa maunya Richie, ia tak ingin berdebat karena kasihan kepada putra mereka.
...
__ADS_1
Bersambung