
Reina berusaha menjauhkan Elvina dari Richie, ia mendorong bahu perempuan itu dengan kasar.
"Jangan coba-coba dekati suamiku!" Reina menunjuk wajah Elvina dengan tatapan mengancam.
Sontak, perbuatan Reina menyita perhatian para pegawai yang tengah bekerja serius.
Elvina berpura-pura tak melawan Reina, ia berlindung di balik tubuh Richie. Dengan cepat, Richie menarik lengan Reina dan membawanya ke tempat yang jauh dari suasana bising sekitar pabrik.
"Kau ini apa-apaan sih?! Bikin malu saja, tahu!" bentak Richie, sementara lengannya masih mencengkram kuat pergelangan tangan Reina.
"Aku tidak suka perempuan itu dekat-dekat denganmu, dia berusaha menggodamu!" Reina terlihat emosi dan berusaha melepaskan cengkraman tangan suaminya yang semakin kuat.
"Tidak usah berlagak kampungan deh! Dia itu hanya sekretarisku!" bentak Richie dengan kedua mata yang membelalak kearah Reina. "kau sudah lancang mengikutiku hanya untuk berbuat onar! sebaiknya kau pulang, tidak usah mengganggu aktifitasku!" sambungnya mencoba mengusir.
Di saat Richie tengah memarahi Reina, Elvina hadir diantara mereka.
"Sudahlah Pak, tidak apa-apa, mungkin istri Bapak hanya salah paham mengartikan kedekatan kita," ucapnya yang sok bijak, sesekali melayangkan tatapan sinis pada Reina yang tengah menahan rasa dongkol.
"Elvi, maafkan kelakuan istri saya, ya. Saya jadi malu," kata Richie yang merasa sangat bersalah pada Elvina. Namun, wanita itu pandai berakting di hadapannya seolah-olah tak menyimpan dendam pada Reina.
"Sudah lah, mungkin memang saya yang salah," ungkapnya berusaha merendah, kini fokusnya tertuju pada Reina yang masih berdiri mengawasi mereka berdua. "Bu Reina, maafkan saya ya, sudah membuat Ibu salah paham," lanjutnya, Reina memicingkan kedua mata ke arahnya, tanpa banyak berkata-kata, ia lebih memilih angkat kaki dari tempat tersebut.
Reina berlari kecil sambil mengusap air mata yang sejak saat tadi terbendung, ia merasa sakit hati karena suaminya lebih membela wanita lain di banding dirinya.
"Apa yang terjadi, Bu?" tanya Titus seorang Security di pabrik tersebut.
Reina menggeleng sambil mengusap air matanya yang semakin deras.
"Tidak apa-apa Pak, saya permisi," pamitnya sambil memacu sepeda motor.
Reina kembali ke rumah dengan suasana hati yang hancur, ia tak menyangka dengan perubahan Richie saat ini, bukanlah Richie yang ia kenal sebelumnya.
Reina merasa, posisinya terancam. Namun, ia akan berupaya mempertahankan pernikahannya apapun yang terjadi.
***
Reina menepikan motornya di garasi, lalu ia bergegas untuk menemui si kecil karena ia membutuhkan Ryan sebagai pelipur lara disaat hatinya sedang gundah.
Saat itu, Ryan sedang di gendong oleh Bu Lily.
Wanita paruh baya itu heran saat melihat kedua mata Reina yang sembab, lantas ia khawatir padanya.
"Kau kenapa, Nak?" tanyanya, Reina tak bisa menceritakan apa yang baru saja terjadi, ia merasa harus tahu diri, karena ia tak mungkin menjelek-jelekan kelakuan Richie pada Ibunya sendiri.
Sesaat, Reina mengingat semua kebaikan Richie dimasalalu, hal itu mengurungkan niatnya untuk memendam permasalahannya.
"Tidak apa-apa, Ma, kedua mataku hanya iritasi gara-gara debu jalanan," kilahnya sambil mengambil Ryan dari gendongan Bu Lily.
Ryan tampak sangat tenang, dan bobot tubuhnya terasa bertambah. "Ma..ma..." celotehnya.
"Apa sayang? kangen ya sama Mama?" tanya Reina seraya mengecup pipi putranya dengan gemas.
__ADS_1
Reina duduk di sebelah Bu Lily sambil terus bercanda dengan Ryan.
"Nak, tadi bagaimana terapinya?" tanya Bu Lily penasaran, Reina langsung terdiam.
"Tadi dia sibuk, jadi tidak bisa di ganggu," jawab Reina yang tak berani mengatakan yang sesungguhnya.
Reina tak ingin membahas lebih lanjut, ia beranjak dari duduknya. "Ma, kami permisi ke kamar dulu," pamitnya hendak membawa Ryan.
"Ya, kau istirahat saja, Mama tahu, kau pasti cape lama di perjalanan," titah Bu Lily yang sama-sama bangkit dari duduknya. "Mama mau masak makan siang untuk kita," sambungnya.
"Maaf ya Ma, aku tidak bisa bantu dulu, aku ingin tidur." Reina merasa tak enak karena tak bisa membantu Bu Lily menyiapkan hidangan makan siang. Namun, ia juga butuh untuk menenangkan pikiran dan hatinya.
"Tidak apa-apa sayang, kan ada Yeti dan Airin. Sudah, kau istirahat saja sama Ryan," ujarnya dengan bijak.
Reina merasa beruntung memiliki Mama mertua yang baik dan perhatian seperti Bu Lily.
***
Reina merebahkan tubunya di atas tempat tidur, sementara Ryan terus berceloteh sambil menggenggam pesawat mainan.
Reina berbicara kepada Ryan seolah-olah Ryan paham apa yang di katakan olehnya.
"Nak, sebenarnya Mama sangat mencintai Papamu, tetapi Mama juga sakit hati oleh ucapannya barusan," ungkap Reina, Ryan menanggapinya dengan tawa dan celotehan yang tak ia pahami.
"Mama ingin semuanya baik-baik saja, sayang," kata Reina sambil mengelus rambut putranya yang masih tipis. "Tapi kadang-kadang, kita harus sabar dan kuat, ya. Kita akan mencoba yang terbaik agar semuanya berjalan dengan baik."
Ryan merespons dengan geli dan senyuman yang menggemaskan. Ia benar-benar tak tahu apa yang sedang diceritakan oleh sang Ibu, tetapi ia merasa bahagia saat mendengarnya.
***
Sebelum kembali ke kantor, Richie mengajak Elvina untuk makan siang di restoran favoritnya.
Saat mereka masih di dalam mobil, keduanya terlibat dalam obrolan ringan terutama penampilan Elvina yang terkesan berlebihan dimata Richie.
"Besok kau harus pakai pakaian yang lebih sopan, dan juga jangan pakai make-up yang tebal seperti ini, saya lihatnya gerah!" Richie mengomentari penampilan Elvina dengan ucapan yang pedas.
Elvina mengangguk. "baiklah Pak, saya akan mengikuti perintah Bapak," balasnya.
"Apapun itu, asal kau tertarik padaku," batin Elvina dengan seulas senyuman jahat yang terbit dari sudut bibirnya.
Hingga akhirnya mereka berdua sampai di restoran mewah tersebut.
Seperti biasa, jika bertandang ke restoran itu, Richie selalu memesan ruang VVIP, dan di ruangan tersebut hanya ada dirinya bersama Elvina.
Wanita itu berupaya menarik perhatian Richie dengan berbagai cara. Namun, hal itu sama sekali tak membuat Richie terkesan, karena pada dasarnya, Richie adalah pria yang tak mudah di taklukan.
Sejauh ini hanya Reina yang mampu mengisi relung hatinya, hanya saja ia belum mampu mengingat semuanya.
Richie duduk di kursi yang nyaman sambil memeriksa menu makanan. Elvina duduk di depannya.
"Kau mau pesan apa?" tanya Richie sambil memperlihatkan daftar menu pada Elvina di depan, Elvina menunjuk salah satunya.
__ADS_1
"Wah, sama dong, saya juga suka Char Siu," ujar Richie, Elvina tersenyum karena mereka menyukai menu yang sama.
Setelah memilih menu makanan dan minuman, Richie langsung memanggil seorang pramusaji.
Saat pramusaji pergi untuk menyiapkan pesanan mereka, Richie dan Elvina melanjutkan percakapan mereka.
Keduanya melakukan pembicaraan yang lebih profesional setelah tadi obrolan ringan dalam mobil. Richie membahas tentang rencana ekspansi perusahaannya ke luar negeri dan berbagai proyek besar yang sedang dijalankan. Elvina mencatat dengan teliti, ia berusaha memahami dan memberikan masukan yang diperlukan.
Kini mereka terlihat lebih serius, tetapi sesekali Elvina mencuri-curi pandang kearahnya.
"Ganteng banget dia," batinnya sambil melayangkan senyuman, tak di sadari, Richie juga memperhatikan senyumannya.
"Tidak usah memandangi saya seperti itu, Elvina!" ucapnya dengan tegas, Elvina kembali menegakan posisi duduknya.
Tak beberapa lama, hidangan mendarat di atas meja, dan obrolanpun terjeda.
Mereka bersama-sama menyantap makan siang masing-masing.
***
Seusai makan siang, Richie teringat pada putranya, Ryan.
Hingga terbesit di pikirannya untuk melakukan panggilan video, ia lalu meraih ponselnya dan menghubungi Reina.
Saat itu Reina dan Ryan sedang tidur siang, dan Reina di kejutkan dengan getar ponsel yang ia simpan di atas nakas.
Dengan kedua mata yang masih menyipit ia meraih benda pipih itu, sesaat ia terkejut saat Richie menghubunginya.
Dengan antusias, gadis itu menggeser layar ponselnya untuk menerima panggilan video dari pria terkasihnya.
"Ryan mana?" tanya Richie, Reina tersenyum lalu mengarahkan kamera kearah putranya yang sedang pulas.
Ryan seperti memahami, tiba-tiba ia membuka kedua matanya, dan langsung terlihat ceria ketika melihat wajah ayahnya memenuhi layar ponsel.
"Hai Ryan anak Papa yang ganteng," sapa Richie dari sebrang Video Call, Ryan menyapanya dengan tawa.
"Pa...pa..." kata Ryan dengan riang gembira.
Ketika Richie tengah asyik bercanda dengan putranya, Elvina yang sedang duduk di sebrangnya memanggil. "Pak Richie,"
Richie mengangkat wajahnya merespon panggilan Elvina. "Ya, apa?"
"Saya boleh lihat putra Bapak?" pintanya, Richie mengangguk, lalu mengarahkan ponselnya pada Elvina, sehingga Elvina bisa melihat wajah Ryan secara jelas.
"Hai Ryan," sapanya dengan ceria, Ryan langsung terdiam dan menangis ke pelukan Ibunya.
Reina yang melihat, raut wajahnya seketika berubah.
"Ryan di lihatin ondel-ondel ya dia takutlah," batin Reina tersenyum kecut kearah Elvina lewat layar ponselnya.
"Udah dulu ya, Ryan nangis nih!" ucap Reina ketus, ia langsung mematikan ponselnya dengan rasa kecewa terhadap Richie.
__ADS_1
...
Bersambung...