Permainan Cinta

Permainan Cinta
Kelahiran


__ADS_3

Dengan cepat para petugas medis langsung menangani Reina yang sedang membutuhkan pertolongan darurat.


Hingga tubuh Reina di baringkan di atas brankar, lalu beberapa petugas medis membawanya ke ruang persalinan.


Bu Lily yang masih di selimuti rasa panik dan tegang, ia berusaha menghubungi kedua orang tua Reina.


...


Reina, di ruang bersalin, ia di tangani oleh beberapa suster dan juga Dokter Rachel yang bertugas membantu proses persalinan.


Semua pihak bekerja sama untuk memastikan proses persalinan berjalan sebaik mungkin, dengan harapan bahwa Reina dan bayinya akan selamat.


Anggota keluarga menunggu di luar dengan cemas dan was-was, sementara di dalam sana, Reina sedang berjuang diantara hidup dan mati.


"Ayo sedikit lagi, Reina..." kata Bu Eli yang menemani dan menyemangati Reina selalu disisinya.


Lengan Reina tak lepas menggenggam lengan sang Ibu ketika berusaha mengeluarkan sang jabang bayi.


Reina terus menarik napas agar bayinya bisa segera keluar, tetapi ia merasa sudah sangat kesakitan dan kelelahan, sehingga terjadi sedikit kendala.


Namun, ia tak ingin menyerah ketika membayangkan wajah suaminya, dan ia bertekad untuk bisa melalui proses persalinannya dengan selamat.


Sampai akhirnya terdengar suara tangisan bayi memenuhi sekitar ruangan, bayi yang mungil begitu lucu dan menggemaskan baru saja terlahir kedunia.


Semua orang tersenyum seraya berucap syukur, doa-doa terus di panjatkan atas kelahiran bayi laki-laki tersebut.


Dokter Rachel dengan penuh kehati-hatian memeriksa dan membersihkan bayi tersebut sebelum menunjukkannya kepada Reina. Reina, yang masih terengah-engah akibat usaha persalinannya, melihat bayinya dengan mata penuh cinta dan haru.


"Selamat, Bu Lily, Pak Marthin. Anda memiliki cucu yang sehat dan tampan," ucap Dokter Rachel dengan senyum di wajahnya.


Begitu juga dengan Bu Eli dan Pak Tedi yang tampak antusias melihat cucu pertama mereka.


Selly yang mengetahui kabar tersebut, ia langsung bergegas untuk menemui sahabatnya.


Seusai itu, Reina di pindahkan keruang perawatan, lalu sang bayi di pertemukan dengan Ibunya.


Reina tersenyum saat memandang wajah putranya, ia tak menyangka kini dirinya sudah resmi menjadi seorang Ibu untuk bayi yang di beri nama Ryan Richardo.


"Wah, gantengnya anak Mama," kata Reina sambil bercanda dengan sang bayi yang sedang tertidur dalam gendongannya.


"Mirip sekali dengan Papanya," kata Bu Lily sambil mengusap kepala Ryan.


"Reina, selamat atas kelahiran Baby Boy yang ganteng ini," ucap Selly penuh rasa haru, ia gemas melihat wajah Ryan yang begitu lucu.


"Mirip sekali dengan Kak Richie," sambungnya, semua orang berpendapat sama dengan Selly.


Tiba-tiba, Reina kembali teringat pada suaminya, tetapi ia sedikit merasa lega karena Richie dinyatakan berangsur sembuh dari koma meski belum sepenuhnya.


"Bagaimana keadaan suamiku?" tanya Reina yang masih menggendong Ryan.


"Richie baru saja di pindahkan keruang perawatan, dan sepertinya dia ingin mengatakan sesuatu, tetapi masih belum dapat berbicara," papar Bu Lily, hal itu membuat Reina tersenyum, karena sebentar lagi semua akan kembali normal, pikirnya.


"Aku ingin memperlihatkan Ryan kepada Richie," kata Reina, padahal ia juga belum sanggup bangkit dan berjalan pasca melahirkan.


"Iya, nanti saja, sekarang kau fokus pemulihan dulu, Nak," ujar Bu Eli memperingatkan, lalu Reina memberikan Ryan pada sang Ibu untuk di baringkan di dalam box bayi.


Tiba-tiba, Dokter Qiu hadir diantara mereka sambil membawakan bucket bunga untuk Reina.

__ADS_1


"Selamat atas kelahiran Baby R," ucap sang Dokter sambil mempersembahkan bucket bunga cantik itu ke tangan Reina, sementara disitu ada Selly juga.


Mereka saling tatap dan terdiam, terlebih Selly masih terauma dan canggung atas penolakan sang Dokter beberapa bulan yang lalu.


"Wah, terimakasih Dokter," balas Reina, semua orang disana tak berpikir curiga atas perhatian sang Dokter kepada Reina sejak lama ini, karena memang Dokter Qiu di kenal sebagai orang yang humble dan ramah kepada pasiennya.


"Boleh saya gendong Baby R?" tanya Qiu Ming, semua orang mengangguk termasuk Reina.


"Ya, silahkan, Dok," kata Reina, pria itu langsung mengangkat tubuh mungil itu dengan penuh kehati-hatian, lalu membelai wajahnya.


Baby R tampak nyaman berada dalam pangkuan Dokter Qiu, sesekali ia tersenyum, tetapi Qiu Ming tak ingin berlama-lama menggendongnya karena ia merasa sang Bayi butuh istirahat.


"Reina, jangan lupa susui Baby R sesuai jadwal, ya," kata Dokter Qiu memperingati, Reina mengangguk.


"Ya , tentu saja Dok," balas Reina, melihat kedekatan dan bentuk perhatian yang di berikan Qiu Ming pada Reina, membuat Selly cemburu dan berpikir, "apa mungkin perempuan itu adalah Reina?" dalam batinnya bertanya-tanya, hingga timbul rasa curiga pada sahabatnya sendiri.


"Reina," seru Selly, saat itu Reina hendak merebahkan tubuhnya karena harus beristirahat total pasca melahirkan, ia masih kesakitan.


"Ya, Sell," sahutnya.


"Aku permisi pulang, ya," pamit Selly, padahal ia sedang di landa ketidak nyamanan berada dalam situasi tersebut.


Reina tak bisa menahannya untuk terus tinggal, meski ia masih membutuhkan Selly disisinya.


"Ngomong-ngomong, kau hari ini gak ke kampus?" tanya Reina, dan Selly menggeleng.


"Hari ini sedang tak ada jadwal," jawabnya, sesekali Selly melirik Qiu Ming yang masih mengamati Baby R.


Saat Qiu Ming meliriknya, dengan cepat Selly memutar kedua matanya jengah, meski dalam hatinya menolak untuk bersikap seperti itu.


"Ya, hati-hati, Nak," balas Bu Eli mewakili.


Sehabis mencium punggung tangan ke 4 orang tua yang berada di ruangan itu, Selly langsung keluar.


Tak beberapa lama, Qiu Ming juga berpamitan, lalu ia berjalan tepat di belakang Selly.


Awalnya terjadi kecanggungan diantara mereka, tetapi dengan penuh keberanian Qiu Ming berusaha memulai percakapan.


"Selly," panggilnya dari arah belakang.


Deg!


Selly terhenyak, lalu menoleh, kemudian bergeming dengan perasaan tak menentu.


"Ehm...eh, Dokter," kata Selly dengan suara lirih, ia tak pernah berpikir akan mendapat sapaan lagi darinya.


"Apa kabar?" tanya Qiu Ming berbasa basi sambil mengulurkan lengannya, dengan cepat, Selly menyambut.


"Baik," balas Selly, hingga akhirnya mereka melanjutkan pembicaraan sambil melangkah perlahan.


Qiu Ming tetap menjaga sikapnya dengan baik terhadap Selly, membuat Selly merasa sangat bersalah karena sudah berpura-pura membencinya.


Hingga akhirnya, Selly memberanikan diri bertanya pada Qiu Ming, "saya jadi penasaran, sebenarnya siapa sih perempuan yang sedang di nantikan oleh Dokter?" tanya Selly, membuat Qiu Ming canggung untuk menjawabnya.


"Hmm..."


"Kenapa? Dokter malu?" tanya Selly seakan terus mendesak dengan pertanyaanya.

__ADS_1


"Bukan begitu, hanya saja ini bukan saat yang tepat untuk membahas itu semua," ujar Qiu Ming.


Ia mengantar Selly sampai depan lobi, lalu keduanya kembali berpisah, karena Qiu Ming harus melanjutkan tugasnya.


Selly melangkah sendirian menuju basement untuk mengemudikan mobilnya yang terparkir disana.


Pertanyaan yang belum sempat terjawab masih bersarang di benaknya, membuat Selly semakin penasaran.


"Apa mungkin Dokter Qiu suka sama Reina? Ah, tapi gak mungkin sih!" di sepanjang jalan, Selly terus berpikir dan menebak.


...


Sementara Qiu Ming kali ini tengah menangani Richie yang sudah di pindahkan ke ruang perawatan.


Ia di bantu beberapa suster melepas alat-alat medis yang selama ini terpasang di tubuh Richie pasca koma.


"Permisi ya Pak, saya lepas sekarang," ujar Qiu Ming saat hendak melepas alat-alat medis tersebut.


Richie memberi respon dengan kedipan tanpa pergerakan apapun.


Pak Marthin menggendong Ryan ke ruangan perawatan putranya, lalu mendekatkan sang Bayi dengan Ayahnya, Richie.


Ryan menangis sesaat dalam dekapan sang Kakek.


"Richie, lihat Nak, ini putramu," kata Pak Marthin.


Richie, meskipun masih dalam tahap pemulihan yang belum sempurna, berusaha menatap bayi mungil yang digendong oleh ayahnya, Pak Marthin. Meskipun tidak bisa memberikan reaksi yang jelas, tatapannya begitu hangat karena ikatan batin dengan bayi tersebut.


Bu Lily menghampiri Richie, lalu mengusap pucuk rambutnya.


"Nak, cepat sembuh ya, Ryan ingin bermain denganmu," ujarnya sambil menitikan air mata bahagia, karena penantian selama 9 bulanlebih telah usai setelah Richie menunjukan tanda-tanda kesembuhan.


Ryan kembali menangis, kali ini suaranya semakin kencang.


"Pak, Bu, maaf, sepetinya Ryan kehausan, bukankah sebaiknya Bapak dan Ibu memberikan Ryan pada Reina supaya disusui." Qiu Ming menyarankan dengan bahasa yang santun, hingga mereka mengangguk, lalu mengembalikan Ryan ke ruangan Ibunya.


"Reina, Ryan menangis, dia lapar katanya," kata Pak Marthin dengan nada gurauan.


"Loh, memangnya Ryan bisa ngomong kalau dia lapar?" tanya Selly sembari terkekeh.


Semua orang tertawa di ruangan itu, Bu Eli mengambil Ryan dari gendongan Pak Marthin lalu memberikannya pada Reina.


"Reina, ayo susui anakmu," titah Bu Eli. Pak Marthin dan Pak Tedi beranjak keluar ruangan, kini hanya ada Bu Eli dan Reina disana beserta Baby R yang akan di susui oleh Reina.


Saat Reina mengarahkan pu-tingnya pada mulut sang bayi, awalnya Ryan mengisap tetapi ia kembali menangis.


"Duh, kenapa ya?" Reina kebingungan menghadapi situasi seperti ini, karena baru pertama kalinya.


"Coba susui yang benar, Reina!" kata Bu Eli dengan tegas sambil membantu memompa payu-dara Reina agar ASi-nya keluar, tetapi hasilnya nihil.


Ryan semakin mengeluarkan suara tangisan yang sangat kencang.


Reina yang panik tak bisa berbuat banyak, sampai Bu Eli memanggil Dokter Rachel untuk membantu kesulitan yang sedang Reina hadapi.


...


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2