
Richie menatap ponselnya dengan jemari yang lemas dan raut wajah yang menyiratkan ketidak percayaan. "apa maksudnya ini?" tanya Richie, rasa ingin mengutuk diri sendiri.
"Kita pernah tidur bersama." Elvina terisak di hadapan Richie, pria itu menggeleng tak habis pikir.
"Sulit untukku percaya!" batin Richie, lalu ia berusaha menutupi wajah bersalahnya dengan kedua telapak tangan.
"Apa benar dengan apa yang kau katakan itu?" tanya Richie, ia menghirup napas dan kembali berbicara tenang sambil menatap kedua mata Elvina.
"Ya, apa bukti photo itu masih belum jelas? bahkan kita pernah ada hubungan. Tapi, kau dengan tega meninggalkanku dan lebih memilih perempuan itu!" Elvina berakting di hadapan Richie, dengan berbagai upaya ia berusaha mempengaruhi Richie, dan photo tersebut adalah senjata andalannya.
Dimana saat itu Richie di jebak oleh ke 3 sahabatnya, dan Elvina yang saat itu akrab di sapa Vina berhasil memotret dirinya bersama Richie dalam keadaan tak berbusana.
Hingga Elvina berhasil memanfaatkan situasi disaat Richie di kabarkan sembuh dari koma dan kehilangan separuh ingatannya, disitulah ia mulai mengatur rencana.
"Mungkin ini sulit untuk kau percaya, tetapi inilah faktanya, aku menjadi sekretarismu dan berharap kau bisa mengingat semuanya," papar Elvina dengan akal liciknya berupaya meracuni pikiran Richie yang belum pulih.
Dengan ini, Richie terjebak dalam perasaan bersalah padanya. "Jika memang itu benar, betapa berengseknya sikapku ini, maafkan aku Elvina." Richie meraih lengan Elvina, meski ia tak ada perasaan apapun terhadapnya. Namun, kata-kata Elvina mampu menjebaknya dalam dilema besar.
Elvina meletakan kepalanya di bahu Richie, dan Richie balas mengelus punggungnya.
Ia melakukannya penuh dengan keragu-raguan, karena ia sendiri tak ada minat sedikitpun pada Elvina.
"Kau harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu, karena kau sudah merusak masadepanku, Richie!" Elvina terus menempelkan tubuhnya dengan Richie, dan pria itu pun mengangguk perlahan, dengan berbagai pertanyaan besar yang muncul di benaknya.
Tiba-tiba, Anisa yang baru saja kembali, ia terkejut dan terperangah ketika melihat kedekatan antara Richie dan Elvina yang semakin tak wajar.
Ia yang kaget tanpa sengaja menjatuhkan nampan yang tengah di genggam, sontak kedua gelas minuman itu jatuh dan pecah hingga berserakan di bawah lantai.
"Astaga!" Richie langsung melepas dekapannya pada Elvina, ia menyoroti Anisa dengan kedua mata yang membelalak tajam, kemudian bangkit dan menghampirinya.
"Ma...ma...maafkan sa..saya...Pak," ucap Anisa terbata, terlihat rahang Richie yang tegas dengan sorot mata tajam mengintimindasi.
"Dasar ceroboh! Kau sudah mengotori ruangan saya! kau sudah berapa lama bekerja disini, hah?!" bentak Richie dengan penekanan, Anisa tertunduk lemah di hadapannya sambil menahan geram dalam hati saat memergoki Richie dan Elvina bermesraan, karena ia teringat kepada Reina.
"Sekali lagi maafkan saya, Pak." Anisa berjongkok untuk memunguti serpihan kaca di bawah lantai.
Baru kali ini ia menerima bentakan yang menusuk hati dari mulut atasannya, sebelumnya Richie tak pernah semarah ini.
Biarpun marah. Namun, ujung-ujungnya selalu berakhir dengan gurauan yang jenaka.
"Bersihkan semuanya dan ganti dengan yang baru!" Richie kembali memerintah, Anisa mengangguk berusaha untuk tegar di hadapannya.
Setelah Anisa berlalu, Richie kembali berbicara dengan Elvina, dan rencana selanjutnya.
Sementara Anisa melangkah dengan kaki yang gemetar. "ingin rasanya aku adukan semua ini kepada Reina," batinnya. Namun, ia menyadari jika Reina terlalu lemah, ia takut Reina tak bisa mengontrol emosinya, sehingga Anisa mengurungkan niatnya untuk tak memberi tahu Reina, dan berharap hubungan keduanya akan baik-baik saja.
"Tuh perempuan benar-benar tak tahu malu!" umpat Anisa memendam amarah kepada Elvina.
***
Sementara itu, Elvina tengah menangis di pelukan Richie, membuat Richie semakin bersalah atas sesuatu yang tak pernah ia perbuat sama sekali.
"Elvina, maafkan aku, aku akan mempertanggung jawabkan semua perbuatanku, sungguh!" tuturnya dengan tegas, Elvina tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini.
"Baiklah, kau harus menikahiku, Richie!" ucapan perempuan itu seperti sebuah jebakan, Richie tak bisa menghindarinya.
"Tapi, bagaimana dengan Reina? aku ini sudah beristri, Elvi!" Richie tampak bingung menghadapi situasi yang sulit di pahami.
"Kau musti tahu satu hal, Reina itu tak sepolos yang kau kira! Dia itu jahat, dia mendekatimu hanya ingin hartamu saja!" papar Elvi terus memperdaya Richie, sampai-sampai Richie menelan mentah-mentah ucapan Elvina yang terus berusaha memperdaya.
__ADS_1
Hingga timbul rasa benci yang semakin besar pada Reina.
"Keterlaluan sekali dia!" gumamnya.
"Dia juga yang merusak hubungan kita, sayang." Elvina bergelayut manja di bahu Richie, membuat pria itu berpikir keras. Namun, ia tak dapat mengingat semuanya.
"Ya, aku percaya kata-katamu. maafkan aku ya, aku berjanji, aku akan bertanggung jawab terhadapmu, aku tidak ingin menjadi seorang pengecut." Richie membawa Elvina dalam pelukannya, dan Elvina yang merasa rencananya berhasil, ia tersenyum jahat dalam dekapan Richie.
"Kena juga, kau!" batin Elvina dengan seringai lebar.
***
Sementara itu, setelah usai mengajak Ryan jalan-jalan.
Reina merencanakan untuk berbelanja bersama Mama mertuanya, Bu Lily.
Mereka sudah lama tak pergi keluar, selama ini hanya mengandalkan Airin dan Yeti. Namun, Bu Lily merasa suntuk sehingga ia mengajak menantunya belanja kebutuhan pokok, terlebih keperluan untuk si kecil.
"Rin, kami titip Ryan ya," ujar Bu Lily pada Airin yang sedang menyuapi Ryan.
"Siap Nyonya," balas Airin dengan sikap siaga, dan Ryan tertawa pada sang Nenek.
"Hei, gantengnya Oma." Bu Lily mengusap lembut pipinya, dan Ryan menangis ketika Bu Lily hendak pergi.
"Cup, Cup, sayang, jangan nangis, Nak." Airin berusaha menenangkan.
...
"Ayo Reina!" ajak Bu Lily pada Reina yang sudah menunggu di halaman, dan Reina masuk ke dalam mobil, sementara Bu Lily yang mengemudi.
Keduanya segera pergi meninggalkan halaman.
"Reina, memangnya kau tak ingin belajar mengemudi?" tanya Bu Lily, Reina berpikir sesaat.
"Ya, lain waktu saja Ma, aku terauma soalnya," papar Reina, dan Bu Lily langsung menoleh kearahnya.
"Terauma?"
"Ya, aku pernah mengemudikan mobil milik Selly, aku salah menginjak pedal, dan akhirnya menabrak benteng lapangan." Reina tertawa ketika mengingat peristiwa itu.
Tak berselang lama, keduanya menepi di sebuah swalayan yang ramai. Bu Lily dan Reina keluar dari dalam mobil dengan semangat untuk brbelanja.
Keduanya terlihat kompak, sementara Reina yang aktif berusaha mencari produk-produk makanan dan perlengkapan khusus untuk Ryan, seperti popok dan susu bayi. Bu Lily mendorong trolley sambil memilih beberapa produk kecantikan dan perawatan yang dia butuhkan.
Tibalah di salah satu lorong yang terdapat aneka macam jenis susu. Tiba-tiba, Reina dan Bu Lily terkejut ketika melihat seorang wanita hamil tengah merasakan kontraksi diperutnya.
"Ya Tuhan." Reina dengan sigap berlari kearah wanita hamil itu, begitu juga dengan Bu Lily.
"Tolong...perut saya sakit sekali," rintih wanita tersebut, dan Reina kaget ketika mengetahui wanita tersebut adalah istri dari mantan kekasihnya.
"Kak Julia?" tanya Reina sambil memegangi lengannya.
"Re, tolong saya!" rintih Julia yang sudah tak bisa menahan rasa sakit di perutnya karena ia sudah waktunya untuk melahirkan.
"Kau kenal dia?" tanya Bu Lily heran, dan Reina mengangguk.
Beberapa orang tampak mengerumuni, dan berusaha menolong Julia yang semakin tak berdaya.
"Pak, Pak, tolong bawa ke mobil saya, ya!" perintah Bu Lily kepada beberapa orang pria yang membantu mengangkat tubuh Julia.
__ADS_1
Reina dan Bu Lily dengan sigap membantu Julia. Beberapa pria yang ada di sekitar segera menaikkan Julia dan membawanya ke mobil Bu Lily.
Reina duduk di samping Julia sambil mencoba memberinya semangat. "Tenang, Kak Julia, semuanya akan baik-baik saja. Kami akan membawamu ke rumah sakit sekarang."
Julia mengangguk. Namun, ia tetap merasa tak nyaman pada saat itu. "Terimakasih, ya," ucapnya. "Reina, tolong hubungi suami saya!" Julia menyodorkan tas yang di bawanya, Reina mengangguk, dan segera menghubungi Melvin di hadapan Julia.
Mobil Bu Lily segera meluncur ke rumah sakit terdekat, dan di tengah perjalanan, Julia mulai merasa lebih nyaman karena mereka sudah dalam perawatan yang baik.
Setelah tiba di rumah sakit, tim medis segera menangani Julia.
Sementara Reina dan Bu Lily menunggu kedatangan Melvin.
...
Tak berselang lama, ia datang dengan wajah bingung dan khawatir.
"Vin..." seru Reina, saat Melvin melihatnya, ia langsung mendekat dengan langkah yang tak santai.
"Bagaimana keadaan Julia?" tanya Melvin dengan tegang.
"Sabar Nak, istrimu sedang di tangani tim medis," Bu Lily bantu menjawab, dan Reina mengangguk sambil menatap kedua mata mantan kekasihnya itu.
"Kau doakan dia, ya, semoga istri dan anakmu selamat," kata Reina dengan semangat.
"Terimakasih banyak karena kalian sudah membantunya." Melvin menghela napas sambil mengusap keringat di dahinya.
Pakaiannya terlihat lusuh dan noda hitam bekas oli memenuhi lengan serta pipinya, karena ia saat itu sedang bekerja di bengkel.
Melvin berusaha tenang, ia mendaratkan bokongnya di atas kursi ruang tunggu.
Ia tak bisa menahan diri untuk tak menangis meratapi nasibnya. "ya Tuhan," isaknya lirih.
"Kenapa, Vin?" tanya Reina dengan khawatir.
"Aku belum bisa membayar biaya persalinan Julia," jawabnya, ia tak lagi berpikir gengsi saat ini karena keadaanya mendesak dan sangat darurat.
"Soal itu, kau tenang saja, saya sudah membayar administrasinya, dan kalau ada biaya tambahan, saya akan tanggung semuanya," kata Bu Lily dengan kerendahan hatinya.
Melvin langsung meraih kedua lengan Bu Lily dan menciumnya. "Terimakasih banyak, Bu."
Melvin sangat bersyukur atas bantuan yang diberikan oleh Reina dan Bu Lily. Ia tahu bahwa mereka membantu Julia dengan tulus hati dan tanpa pamrih.
Beberapa saat kemudian, seorang dokter keluar dari ruang operasi bersama berita baik. "Ibu dan bayi dalam keadaan baik. Kelahiran berjalan lancar, meskipun ada sedikit kendala, dan sekarang sedang dalam tahap pemulihan."
"Puji Tuhan," ucap Bu Lily dan Melvin penuh rasa syukur, begitu juga dengan Reina.
"Syukurlah," kata Reina dengan senyum lebar.
Mereka di izinkan untuk masuk setelah dokter usai menjalankan tugasnya.
Julia berbaring dengan bayinya, dan Melvin langsung mendekat dan melihat wajah bayi mungil itu.
"Laki-laki, atau perempuan, Nak?" tanya Bu Lily sambil tersenyum kepada bayi lucu itu.
"Perempuan, Bu," jawab Julia, Melvin merasa lega setelah mengetahui bayinya lahir dalam keadaan selamat.
"Cantik ya, persis seperti ibunya," puji Reina.
...
__ADS_1
Bersambung...