
Reina meraih tas yang berisi beberapa pakaian, ia mulai melangkah pergi.
Sebelumnya, ia kembali mengamati kebersamaan mereka dari jarak jauh. "Mereka sudah menemukan penggantiku," gumamnya, tak kuasa bulir bening terus memaksa untuk keluar dari tempat persembunyiannya.
Ia melihat keluarga besar itu, yang pernah menjadi tempat kebahagiaannya, kini tersenyum dan tertawa bersama orang lain. Mereka seperti menemukan pengganti Reina dalam diri Elvina.
Reina menatap nanar ke arah di mana putranya tertawa ceria dalam gendongan Elvina. Hati Reina teramat berat dan terluka. Kehilangan perasaan bahwa ia adalah pusat kebahagiaan putranya membuatnya begitu terpukul.
Kedua mertuanya pun tidak menyusul untuk mencegahnya, mereka seakan terhanyut dalam suasana riang dan bahagia di siang hari ini.
Reina pergi mengemudikan sekuter maticnya dengan kedua mata yang terus berurai. Ia sangat kehilangan dan hancur dalam keputusasaan yang mendalam.
"Pak, tolong buka pintu gerbangnya!" titahnya kepada Betran, membuat Security itu bingung saat menatap wajah Reina yang penuh dengan air mata dan putus asa.
"Memangnya, Nyonya muda mau pergi kemana?" tanya Betran penuh kekhawatiran, Reina tak sanggup menjawabnya.
"Saya tidak tahu." Reina mengusap air matanya di hadapan pria tersebut. "Tolong bukakan gerbangnya, Pak!" perintahnya dengan suara yang semakin serak dan parau.
Betran mengangguk dengan terpaksa, lalu membuka gerbang dengan pelan membiarkan Reina berlalu. Suara mesin sekuter maticnya semakin meredup, dan Reina meninggalkan mansion dengan kepedihan yang mendalam.
Reina mengendara dengan suara isakan yang seakan menjadi pelipur lara. Semilir angin menghembus lembut ke wajahnya, memberinya sedikit kenyamanan dalam suasana hatinya yang tengah kacau.
Suasana di jalanan raya ibu kota sangat ramai dan padat, tetapi entah mengapa, Reina merasa sedang sendirian di tengah kegundahannya. Kendaraan-kendaraan bergerak dengan cepat di sekitarnya, tetapi hatinya terasa hampa, terasing di antara kerumunan yang tak berujung.
Reina mempercepat laju motornya, melintasi jalan raya, di sisi kanan dan kirinya berdiri gedung-gedung pencakar langit yang menjulang tinggi.
Terkadang, di antara riuhnya lalu lintas, ia terhanyut dalam lamunannya, sambil menengadah ke atas, melihat awan-awan putih melintas di langit biru yang membawa angin sejuk.
Sesaat, ia teringat pada wajah putranya, Ryan, yang selalu penuh keceriaan dan cinta. Dalam hati, ia selalu memanggil namanya.
"Ryan sayang, maafkan Mama," gumamnya dengan suara lembut, seakan-akan berharap bahwa kata-kata itu akan sampai pada putranya meskipun mereka kini sedang berjauhan.
Sampai akhirnya Reina tiba di rumah kedua orangtuanya.
Ia memarkirkan motornya tepat di halaman rumah tua itu.
Reina memandang di sekelilingnya, sekarang sudah jauh berbeda.
Rumah yang pernah ia sebut sebagai rumah masa kecilnya telah mengalami perubahan.
Taman di depan rumah itu kini terawat dengan indah, dan terdengar suara tawa dan obrolan dari beberapa pelanggan yang datang.
Bu Eli membuka bisnis konveksi kecil-kecilan di rumah mereka. Tampaknya usahanya telah berkembang dan mendapat sambutan baik dari pelanggan.
Reina mulai melangkahkan kakinya di antara orang-orang yang disebut sebagai pelanggan Bu Eli.
"Bu," seru Reina dengan suara putus asa. Bu Eli menoleh ke arah putrinya dan menghentikan pekerjaannya sejenak.
"Nak." Wanita paruh baya itu segera membawa Reina ke dalam pelukannya.
"Ibu..." Reina terisak dalam dekapan sang Ibu, tepat di hadapan orang-orang yang sedang berada disana.
__ADS_1
"Apa yang terjadi denganmu, Nak?" tanya Bu Eli penuh kekhawatiran. Reina hanya tersenyum, berusaha memendam tangisnya.
"Tidak apa-apa, Bu. Aku hanya rindu kepada Ayah, Ibu, dan juga adikku, Benny," jawab Reina, sesekali mengusap air matanya yang tak berhenti menetes. Meskipun ia mencoba menjaga semangatnya.
Namun, dalam diamnya, Bu Eli mampu membaca isi hati putrinya. Ia tahu bahwa Reina sedang menghadapi masalah yang lebih besar daripada yang diungkapkan.
"Ya sudah, sebaiknya kau segera temui mereka di dalam. Ibu masih sibuk, maaf ya, Nak," ujar Bu Eli dengan penuh pengertian.
Reina mengangguk kemudian melangkah ke dalam untuk menemui sang Ayah dan adiknya, Benny, yang saat itu tengah belajar di dalam rumah. Bu Eli memandang pergi Reina dengan ekspresi keprihatinan.
Reina mencium punggung tangan sang Ayah, Pak Tedi, sebagai tanda kasih sayang dan penghormatan. Lalu, ia menghampiri Benny dan menyapanya dengan lembut.
"Bagaimana kabar kalian?" tanya Reina dengan suara lembut, meskipun isakan tertahan di dalam hatinya.
"Kabar kami baik, Kak," jawab Benny dengan penuh keramahan, mencoba mengangkat semangat kakaknya. Sementara itu, Pak Tedi melihat air mata di kedua mata putrinya. Ia merasa ada sesuatu yang mengganggu Reina.
"Kau kenapa, Nak? Apa kau sedang ada masalah?" tanya pria paruh baya itu dengan penuh perhatian. Reina menggeleng, berpikir, bahwa saat ini bukan waktu yang tepat untuk menceritakan semua permasalahan rumah tangganya.
Terlebih lagi, sang Ibu masih terlihat sibuk di depan sana, dan Reina ingin melindungi mereka dari kekhawatiran yang begitu besar.
Reina memutuskan untuk tidak menyentuh ponselnya. Ia benar-benar hancur dan terluka saat ini. Meskipun panggilan dan pesan dari mertua dan suaminya terus mengganggu, mencari keberadaannya. Namun, ia mencoba untuk tidak acuh, karena harus memulihkan luka di hatinya seorang diri.
Ia perlu waktu dan ruang untuk merenung, meredakan emosinya, dan mencari kedamaian dalam dirinya sendiri.
Selama berhari-hari, Reina berada di rumah kedua orangtuanya. Selama itu juga, ia belajar menjahit pakaian, merancang pola, dan mengasah keterampilan lain yang diperlukan dalam dunia konveksi.
Ia kerap membantu pekerjaan sang Ibu dengan sangat hati-hati, sebisa yang ia ketahui.
Reina yang saat itu tengah menggurat pensil di atas kertas seketika terdiam, memikirkan keadaan putranya selama hampir 1 minggu ini.
Reina menggelengkan kepala saat kembali teringat kepada Elvina, ekspektasi indahnya tiba-tiba buyar. "tidak Bu, sepertinya Ryan senang karena sudah mendapat ibu baru,"
Ungkap Reina dengan suara berat, berusaha menahan emosi di dadanya. Ia merasa kecewa dan terluka.
Sejenak ia berpikir, "mungkin, Ryan saat ini sudah lebih dekat dengan Elvina daripada denganku, ibunya sendiri."
Tiba-tiba, di depan sana, terparkir sebuah mobil yang tak asing bagi Reina. Ketika pintu mobil itu terbuka, kedua mata Reina terbelalak tajam ke arah pria yang baru saja keluar dari dalam mobil hitam itu. Dengan kegagahannya, Richie berjalan menuju rumah kedua orangtua sang istri.
"Astaga, dia kok bisa hafal jalan menuju kemari? bagaimana bisa? Sementara, ingatannya kan masih belum pulih," batin Reina bingung, tetapi ia kembali memfokuskan kedua netranya.
Reina terjebak dalam situasi yang memberatkan. Ia tak mampu bersembunyi, tetapi juga tak mampu memendam rindu yang mendalam pada suaminya.
Perasaannya bercampur aduk, di satu sisi ada keinginan untuk menghadapinya dan mencoba memperbaiki hubungan mereka, tetapi di sisi lain, masih ada luka dan kekecewaan yang mendalam.
Richie datang tanpa mengucapkan salam pada ibu mertuanya yang sedang sibuk dengan pekerjaannya.
Fokusnya langsung tertuju pada Reina yang duduk dengan kertas dan pensil di tangannya.
Ia mencoba membaca ekspresi Reina, mencari tanda-tanda apa yang ada di dalam hati dan pikirannya.
Reina, di sisi lain, merasakan ketegangan mendalam dengan kehadiran Richie yang datang secara tiba-tiba.
__ADS_1
"Reina," panggil Richie saat berdiri tepat di hadapannya.
Reina gugup, lalu ia mengangkat kepala untuk memandang suaminya, mencoba menemukan apa yang mungkin tersimpan di balik tatapan pria itu.
"Sayang, pulanglah," kata Richie, dengan nada yang penuh kelembutan. Seketika hati Reina terluluhkan ketika mendengar kalimat 'sayang' yang terucap dari mulut lelaki itu. Seperti hadiah terindah yang pernah ia dengar.
"Ryan sangat membutuhkanmu," lanjutnya dengan suara penuh rayuan. Reina masih bergeming, sambil terus mengamati ekspresi wajah Richie yang tampak tulus.
Bu Eli memfokuskan pandangannya kepada mereka berdua, mendukung Richie dalam upayanya untuk mendamaikan hubungannya dengan Reina.
"Reina, kau pulanglah bersama suamimu," ujar wanita paruh baya itu. Richie kemudian duduk di samping Reina sambil menggenggam tangannya, mencoba memberikan dukungan dan kehangatan.
"Ya, benar kata Ibu, Ryan saat ini sangat membutuhkanmu. Apa kau tak khawatir padanya?" Richie menyoroti kedua mata Reina yang berkaca-kaca.
Namun, Reina masih penuh dengan emosi. "Bukankah Ryan sebentar lagi akan memiliki ibu baru?" tanyanya dengan penuh emosi saat teringat pada sosok Elvina.
Richie tersenyum, tidak menjawab ucapannya. Alih-alih membicarakan masa depan yang tak pasti, ia terus mendesak Reina agar kembali pulang untuk putra mereka, Ryan.
Ia ingin merestorasi kebahagiaan dan keharmonisan dalam keluarga mereka, terlepas dari semua kesulitan yang mereka alami.
Reina mengangguk dengan terpaksa, meskipun hatinya masih penuh keraguan terhadap niat sebenarnya Richie. Jawaban Richie masih menyimpan tanda tanya besar di benak Reina.
Ia mulai berpikir, mungkin Richie tidak benar-benar memintanya pulang karena cinta atau kerinduan pada mereka berdua, melainkan semata-mata untuk Ryan.
Reina berpikir sejenak, merenung tentang masa depan yang tampaknya tidak sepenuhnya terang.
Namun, jika memang itu adalah jalan takdirnya, ia akan menerimanya dengan lapang dada.
Meskipun harus menahan luka akibat perlakuan suaminya yang tak setia, setidaknya ia akan berusaha menjadi seorang Ibu yang terbaik bagi putra mereka, Ryan.
Dengan kematangan pikirannya, Reina mengangguk sebagai tanda persetujuannya. Ia beranjak dan mulai mengambil tas yang berisi beberapa pakaiannya.
Setelah itu, ia berpamitan pada kedua orangtuanya dan sang adik yang saat itu baru saja pulang dari sekolah.
...
Keduanya masuk ke dalam mobil, dan saat itu cuaca sudah mulai mendung. Reina terpaku dalam kegelisahan, sementara Richie fokus mengemudi.
Benar saja, sore itu hujan turun sangat deras, membasahi jalanan ibu kota. Sekejap, aktifitas para pejalan kaki terhenti karena volume air hujan yang semakin besar.
Suasana hening dan tegang dalam mobil membuat Richie berpikir liar sejenak saat ia menatap Reina, terutama ketika itu dress yang di kenakan Reina sedikit tersingkap memperlihatkan paha mulusnya yang begitu indah.
Seketika hasratnya kembali bangkit, tak dapat di pungkiri, hari ini disaat hujan, Richie membutuhkan sentuhan kehangatan istrinya.
Reina merasa bingung ketika mobil yang mereka kendarai berbelok ke jalan yang tak seharusnya.
"Kita mau kemana?" tanya Reina.
...
Bersambung...
__ADS_1