
Hari-hari mereka lalui dengan perdebatan, karena Richie semakin terbuai dalam aktifitas yang merugikan dan menyita waktunya.
Ia kerap kali di pergoki bermain judi online, dan beberapa game, sehingga ia tak banyak memiliki waktu untuk mengajak putranya bermain.
"Mau sampai kapan kau seperti ini terus?!" Reina sudah jengah, bukan karena kondisi mereka yang berubah drastis, tetapi jengah terhadap aktifitas suaminya yang kini selalu menunda tanggung jawab.
"Kau tak usah ganggu aku!" bentak Richie, sifat dasarnya memang keras, sehingga di saat kehidupan sedang berada di bawah, ia menunjukan sikap dan sifat aslinya.
"Mana motor yang kau janjikan? katanya mau di ganti." Reina meminta janjinya pada Richie, membuat Richie mendengus kesal karena ia baru saja kalah berjudi. Namun, seperti tak ada kapoknya, ia selalu mengulanginya lagi dan lagi, bak menjadi candu baginya.
"Iya, aku ganti tapi nanti!" jawabnya dengan emosi karena pikirannya sudah kacau. Bukan hanya memikirkan keuangan mereka, tetapi juga memikirkan tentang klaim perusahaan yang juga belum ada kabarnya sama sekali, padahal ia dan kedua orang tuanya sudah menyewa seorang pengacara terbaik untuk mengurusi semuanya.
Reina mulai jenuh dan frustasi dengan situasi saat ini. Tetapi, ia tetap berpegang teguh pada prinsipnya, ia akan selalu setia mendampingi suaminya disaat suka dan duka, serta menerima segala kekurangannya, berikut sifat buruknya.
Jika wanita itu bukan Reina, mungkin sudah kabur meninggalkannya di saat seperti ini.
Bukan hanya harta yang habis terkuras, dari kerugian perusahaan ia memiliki hutang yang tak sedikit.
Sehingga, Richie dan kedua orangtuanya di jauhi oleh beberapa keluarganya, seperti tersingkirkan.
Memang benar, jabatan dan kedudukan bisa membuat seseorang lebih dihargai, tapi dengan begitu kita bisa melihat mana yang tulus dan mana yang hanya modus.
...
Suatu ketika, saat Richie bertugas menjadi driver taxi online, ia menyambangi kediaman Tantenya.
Alih-alih di sambut dengan baik, justru kalimat caci maki dan hinaan yang di dapat dari Tante dan juga adik sepupunya.
"Untuk apa Koko datang kemari?" tanya Elisa dengan sinis kepada Kakak sepupunya itu.
"Ya, aku ingin silaturahmi saja, memangnya tidak boleh?" kata Richie merasa heran dengan sikap sepupunya saat ini.
"Alah, tak usah pura-pura, pasti mau pinjam duit, kan?! Kau sekarang sudah miskin!" ucapan sang Bibi membuat hatinya terluka, ia seperti tak dianggap lagi oleh mereka.
Hingga akhirnya, Richie memilih untuk memutuskan hubungan dengan keluarga yang sudah berani menghina dan mengucilkannya.
"Disaat aku kaya raya, kalian baik, eh, disaat aku melarat, aku seperti di buang!" gumam Richie dengan rasa kecewa terhadap sikap sang Bibi dan sepupunya tersebut.
...
Di saat Richie tengah menjemput seseorang sebagai driver, ia kerap kali mendapat sanjungan dari para pelanggan karena ketampanan dan keramahannya.
Tak sedikit pula wanita yang menggodanya lalu meminta nomer ponsel. Saat itu, Richie tak bisa menolak karena tak ingin memiliki citra buruk di mata pelanggan.
Dengan terpaksa, ia memberikan nomber ponsel pada mereka yang meminta. Namun, Richie tak sedikitpun tertarik pada salah satunya meski mereka memiliki wajah cantik dan bentuk tubuh yang menarik, karena setianya hanya pada istrinya, Reina.
Reina selalu memberinya dukungan dan semangat meski terkadang banyak perdebatan karena perbedaan pendapat di antara keduanya, tetapi selalu berakhir dengan damai dan canda.
***
__ADS_1
Di saat bisnis keuangan keluarga suaminya sedang terpuruk, hal itu berbanding terbalik dengan usaha konveksi yang sedang di geluti oleh Ibunya.
Reina, selalu membantu usaha sang Ibu sambil melanjutkan pendidikannya.
Ia juga yang membantu kesulitan keluarga suaminya dengan jerih payahnya sendiri.
Ia merasakan sendiri, jika roda kehidupan telah berputar.
Usaha sang Ibu setiap harinya mengalami kemajuan pesat, hingga Bu Eli memperkerjakan beberapa orang di tempatnya.
Seperti tak ada waktu luang ataupun istirahat bagi Reina saat itu, seluruh waktu dan tenaganya ia kerahkan untuk bekerja dan menganyam pendidikan.
Serta di waktu senggang ia gunakan untuk mengurusi putranya.
Kesabarannya benar-benar di uji.
Di usia yang masih terbilang muda, Reina harus disibukan dengan segalanya. Tetapi, ia ikhlas melakukan semua itu, semata-mata untuk putranya, Ryan yang semakin tumbuh dengan kepintaran dan bakatnya.
Ryan sangat senang sekali bernyanyi saat mendengarkan irama lagu kesukaanya.
***
Singkat cerita...
4 tahun kemudian, Reina telah lulus kuliah. Ia mampu mengembangkan bisnis dan cita-citanya sebagai designer mendampingi profesi sang Ibu sebagai tailor dan memiliki usaha konveksi sendiri. "Aku bangga pada diriku sendiri," batin Reina dengan senyuman yang mengembang di bibirnya.
Begitu juga dengan suami dan mertuanya, mereka terharu dan bangga atas pencapaian Reina selama ini. Si kecil, Ryan sudah berusia 5 tahun, ia tumbuh menjadi anak yang pintar dan berbakat dalam bermusik dan kesenian lainnya.
"Apa ini?" tanya Reina sambil menerima pemberian dari putranya, Ryan.
"Mama buka saja, aku yang buat lho, Ma," jawab Ryan yang sudah semakin pintar berbicara.
Reina membuka kado tersebut, dan ia melihat sebuah gambar keluarga yang utuh.
"Ini kau yang gambar, sayang?" tanya Reina, dan Ryan mengangguk. Tetapi, Richie yang melihat hasil karya putranya malah tertawa.
"Haha, astaga, Ryan, masa gambar papa kaya capung gini sih?" protes Richie, Ryan mendengar ejekan Ayahnya langsung berubah ekspresi.
"Papa jahat!" Ryan bergelayut manja pada Reina.
"Maaf sayang, Papa gak bermaksud jahat, gambar kamu bagus kok." Richie berusaha menghibur putranya yang sedang merajuk.
Hingga mereka kembali bercanda dan ceria bersama-sama.
"Ryan.." seru Richie, dan Ryan menoleh.
"Apa?!" jawabnya ketus.
"Ryan mau adik ga?" tawar Richie, mendengar hal itu Reina langsung membulatkan kedua mata kearah suaminya.
__ADS_1
"Mau," jawab Ryan dengan antusias dan Richie langsung bertepuk tangan.
"Yeah..."
"Mau perempuan atau laki-laki?" Richie memberi pilihan, dan Ryan sesaat berpikir.
"Hmm...perempuan," jawab Ryan, Richie segera menghampiri Reina dengan tatapan menggoda.
"Tuh, kau dengar kan, Ryan minta adik katanya." Richie memeluk pinggang Reina dari belakang, dengan cepat Reina menghempaskan lengan suaminya yang jahil.
"Itu karena kamu yang tawarin!" kata Reina sambil mengerucutkan tepi bibirnya, membuat Richie semakin gemas.
"Kau itu makin cantik dan seksi," pujinya, membuat Reina memutar kedua matanya malas mendengar ucapan suaminya yang selalu merayu di hadapan putra mereka, Ryan.
"Haha...Mama dan Papa lucu," cetus Ryan.
***
Akhirnya, Richie dan kedua orangtuanya mendapat kabar baik dari pengacara mereka. Pengumuman tersebut menandakan bahwa urusan perusahaan mereka telah menemukan titik terang yang memberikan mereka harapan untuk mengklaim kembali semuanya.
Mengungkap seluruh kasus tersebut memakan waktu bertahun-tahun dalam perjuangan hukum yang tak kenal lelah. Pengacara berhasil menemukan bukti-bukti licik yang melibatkan mantan staf Richie, yaitu seseorang bernama Christian.
Kepahitan melanda Richie ketika ia menyadari bahwa orang yang selama ini ia percayai telah tega mengkhianatinya. Namun, dengan kembalinya perusahaan, Richie bersikeras akan menyerahkan Christian kepada pihak yang berwajib untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Richie memulai lembaran baru dalam hidupnya, merintis kembali bisnis yang sempat terpuruk. Namun, kali ini berdampingan dengan Reina.
Bersama-sama, mereka merintis bisnis di dunia garment, dengan Richie sebagai desainer busana utama dan Reina sebagai perancang busana.
Perusahaan mereka mendapat sentuhan personal dengan pergantian nama menjadi 'Triple R Corporation', menggabungkan inisial Richie, Reina, dan Ryan. Keberhasilan mereka menjadi bukti nyata kekuatan keluarga dan semangat untuk bangkit dari kesulitan.
"Sayang terimakasih ya atas kesetiaanmu." Richie memberi kecupan singkat di kening Reina sebagai bentuk kasih sayang.
"Ya, sama-sama, terimakasih juga kau selalu mendukungku," balas Reina sambil mendekap tubuh suami tercintanya.
"Kau sukses menjadi seorang Istri, Ibu, dan wanita karir, pokoknya paket lengkap, aku beruntung memilikimu sayang," ungkap Richie dengan kejujuran dan ketulusan membuat Reina terharu berkali-kali mendengar kata-katanya.
"Aku juga." Reina kembali menitikan air mata, kali ini air mata kebahagiaan yang tak terkira.
"I love You," kata Richie.
"I Love You Too, Pak suami," balas Reina.
"Papa Mama, kapan mau kasih aku adik?" tiba-tiba Ryan hadir di antara kedua orangtuanya yang sedang bermesraan, membuat Richie kembali menatap Reina penuh rayu untuk mengabulkan keinginan Ryan.
...
TAMAT
Terimakasih ya sudah mengikuti kisah ini dari awal sampai akhir.
__ADS_1
Maaf kalau kurang berkenan, semoga bisa mengambil hikmahnya.
❤️❤️❤️❤️