
Situasi tersebut sangat memberatkan bagi Reina, pasalnya Richie tak bisa mengingat dirinya walau sedikitpun.
Meski begitu, tampaknya Ryan begitu nyaman berada di sisi Ayahnya, begitu juga dengan Richie. Walaupun otot-otot di tangannya masih lemah dan kaku, ia berusaha menyentuh tubuh Ryan yang saat ini usianya sudah memasuki bulan ke 4 seiring perkembangan kesembuhan Richie yang semakin membaik.
"Mah, di..dia siapa?" tanya Richie kepada Bu Lily sambil menunjuk Reina yang tengah terdiam seraya terjebak dalam suasana hati yang rapuh.
"Ini Reina, dia istrimu, sayang," jawab Bu Lily kembali meyakinkan, Richie terhentak ia berusaha mengingat dengan keras, tetapi ia kembali menggeleng karena sulit mengembalikan ingatannya secara utuh.
"Tidak, aku belum pernah menikah, kalian jangan membohongiku!" Richie tertunduk sambil memegangi kepala dengan kedua tangannya.
Semakin ia berusaha berpikir dan mengingat, kepalanya semakin terasa sakit, hingga akhirnya ia berteriak histeris.
Dengan cepat, Reina segera memanggil Dokter Qiu untuk menangani keadaan Richie.
Ia ingin Richie kembali mengingat tentang pernikahannya.
Situasi semakin rumit dengan hilangnya ingatan Richie dan kebingungannya terhadap Reina. Reina yang telah melewati berbagai rintangan selama 9 bulan lebih, kini harus menghadapi tantangan baru yang lebih berat yaitu memulihkan kondisi ingatan suaminya, Richie.
Dokter Qiu Ming hadir diantara mereka, lalu memberikan upaya ketenangan terhadap Richie yang tengah di landa kebingungan saat dapat kembali berkomunikasi.
Sang Dokter memeriksa lalu memberikan terapi dan test khusus untuk meningkatkan ingatan Richie yang hilang sebagian.
"Apa yang sudah terjadi dengan suami saya, Dok? kenapa dia tak mengingat saya sebagai istrinya?" tanya Reina, sang Dokter mengangguk lalu tersenyum seakan mengerti tentang apa yang sedang di alami pasien saat ini.
"Reina, saat ini Pak Richie belum bisa mengingat semuanya secara utuh karena cedera fatal di kepalanya. Ingatannya hanya sebagian kecil, seperti aktifitas yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari dan menjadi rutinitasnya. Dia masih bisa mengingat orang-orang terdekatnya dengan baik tetapi kau masih di kategorikan sebagai orang baru, sehingga mungkin memory yang berkaitan tentang orang-orang baru di hidupnya akan lenyap," terang sang Dokter.
Reina mendengarkan penjelasan Dokter Qiu dengan rasa cemas. Kehilangan ingatan Richie merupakan tantangan yang sangat berat baginya, tetapi ia akan berusaha untuk selalu bersabar menghadapi ujian ini.
Reina memperlihatkan photo pernikahan mereka kepada suaminya, ia berharap itu akan menjadi awal yang baik. Namun, dugaannya salah, Richie memberi reaksi yang tak mengenakan.
"Apa-apaan ini?!" Richie membentak sambil melempar ponsel Reina saat gadis itu memperlihatkan photo pernikahan mereka.
"Richie, kau jangan lancang begitu pada istrimu!" Pak Marthin geram terhadap sikap putranya yang tega menggores luka di hati sang menantu, Reina.
"Kau lebih baik pergi dari sini!" usir Richie seraya menyoroti wajah Reina dengan tajam sambil mengarahkan jari telunjuk keluar pintu.
Reina merasakan sesak yang luar biasa di dadanya, tak ada kata-kata yang sanggup ia utarakan lagi, ia benar-benar kecewa atas sikap dan perubahan Richie kali ini.
Richie menunjukan sifat dasarnya yang kasar, tegas, dan arogan.
Reina berbalik dan keluar dari ruangan tersebut, Dokter Qiu Ming langsung mengejarnya.
__ADS_1
Reina tak kuasa menahan air matanya untuk tak jatuh, membuat sang Dokter tak tega, ia langsung mendekap Reina yang tengah berduka ulah ucapan dan perbuatan Richie yang kini telah berubah.
"Dok, tolong bantu pulihkan ingatan suami saya, saya mohon!" Reina terisak dalam pelukan Qiu Ming.
Qiu Ming yang semula ingin melupakan Reina dan membuang rasa cintanya, dengan seperti ini ia tak bisa menepis rasa peduli dan sayang terhadapnya, ia semakin tak kuasa, ia tak bisa menghindari semua ini.
"Kau yang sabar, Reina, saya akan berusaha," ujar Qiu Ming.
Disaat yang bersamaan Selly hadir, Reina sudah memintanya untuk datang, karena mereka sudah lama tak berjumpa.
Namun, Selly mendapat pemandangan yang menyakiti matanya. Ia melihat pria pujaanya memeluk wanita yang merupakan sahabatnya sendiri.
Asanya kini hancur, ia tak mengira Reina dengan tega mengkhianati perasaanya.
Selly menduga Reina dan Qiu Ming memiliki hubungan gelap selama ini.
Kini Selly harus menelan pil pahit tepat di depan matanya.
Halisnya mengkerut dengan bibir yang mengatup rapat saat menyaksikan keduanya seperti tengah berpelukan mesra.
"Eugh!" Selly berbalik kemudian kembali menuju parkiran.
Ia menggerutu kesal saat kembali mengemudi. "Oh, ternyata wanita itu Reina, jadi selama ini dia menusukku dari belakang, sungguh teman yang tak punya perasaan kau Reina, aku benci padamu!"
"Astaga, Ya Tuhan, nyaris saja!" Selly yang kaget langsung mengelus dada, tetapi pikiranya kembali teralihkan.
Dalam hening, ia terus fokus menatap jendela mobil yang mengarah kejalan raya. amarahnya masih bersarang, ia geram akan tindakan Reina yang sudah tega menyakiti perasaanya.
***
Semenjak itu, Reina jadi jarang menemui suaminya kerumah sakit, ia lebih fokus mengurusi putranya, Ryan.
Richie masih mendalami proses pemulihan lebih lanjut, kali ini ia masih melakukan terapi otot untuk membantunya kembali agar bisa berjalan dengan normal.
Hal itu memakan waktu selama kurang lebih 4 bulan, meski begitu, Richie yang semangat berhasil menunjukan perkembangan yang pesat.
Singkat cerita ia sudah bisa berjalan dengan normal, dan di perbolehkan pulang oleh pihak rumah sakit.
Keluarga besar beserta para sahabat kini bisa bernapas dengan lega, selama 1 tahun lebih Richie terbaring di ranjang rumah sakit kini bisa menghirup udara bebas.
Orang-orang di mansion berikut para maid mempersiapkan acara penyambutan khusus untuk kepulangan Richie.
__ADS_1
Mereka membuat dekorasi untuk acara mewah, dan mengundang teman-teman dekat serta kerabat untuk merayakan kepulangan Richie dengan penuh sukacita. Mansion mereka dipenuhi tawa serta senyum bahagia karena akhirnya Richie bisa pulang setelah menjalani perjalanan yang sulit dalam pemulihan cederanya.
Ryan, diusianya yang menginjak 8 bulan, ia sudah mulai aktif bergerak dan berbicara serta mengikuti ucapan orang-orang dewasa jika berbicara dengannya.
"Ryan, Papamu sebentar lagi akan pulang," kata Reina sambil menggendongnya lalu mencium kedua pipinya yang mulai gembil dan sedikit berwarna merah muda seperti memakai blush-on.
"Papa..." celoteh Ryan seraya mengikuti apa yang Reina ucapkan.
Semua orang tampak gemas melihat tingkahnya yang begitu lucu, mereka berebut untuk bisa bermain dengan Ryan.
Hingga pada akhirnya, orang yang mereka nantikan keluar dari dalam pintu mobil.
Richie tersenyum saat kembali kerumahnya, semua orang menyambutnya dengan meriah.
Karangan bunga bertuliskan suka cita berjejer dari ujung jalan utama komplek hingga pekarangan rumah.
"Selamat datang kembali," ucap para maid dan semuanya termasuk Reina, meski ada rasa canggung saat menyapa Richie saat ini.
"Terimakasih," balas Richie.
"Tuan muda masih ingat saya?" tanya Yeti salah satu maid di kediamannya, Richie tersenyum dan mengangguk.
"Ya tentu saja, kau Yeti kan, dan kau Airin," jawab Richie sambil menunjuk keduanya satu per satu.
Lalu Reina hadir di belakang Airin dan Yeti, membuat Richie terdiam sesaat sambil menyunggingkan sudut bibirnya.
"Jadi, di mansion sudah menambah pelayan baru?" tanya Richie dengan nada sinis, hal itu berhasil kembali menggores luka di hati Reina, tetapi Reina berusaha untuk tetap bersabar menghadapi ujian kali ini.
"Aku ini istrimu!" kata Reina dengan tegas, Richie langsung membentangkan ke lima jemarinya seakan tak ingin mendengar ucapan Reina yang mengaku sebagai istrinya.
"Cukup! jangan coba mengaku-ngaku jika kau adalah istriku, karena aku tak pernah menikahimu!" ujarnya, sementara bukti photo pernikahan dan buku nikah mereka masih belum cukup untuk mengingatkan Richie, ia tetap tak merasa.
Richie melempar buku nikah tersebut di hadapan semuanya, lalu ia melenggang pergi menuju kamar pribadinya di lantai atas tanpa sudi menoleh kearah Reina yang tengah menangis.
"Ya Tuhan, kenapa semua cobaan ini begitu berat?" batin Reina, semua orang disana berusaha untuk menenangkan perasaanya.
Sementara di dalam kamar, Richie terduduk di tepi tempat tidur, ia berusaha kembali mengingat semuanya.
"Aku tak pernah menikahinya! TIDAK PERNAH!" gumam Richie lalu ia menghela napas kasarnya. "pasti ini hanya akal-akalan Mama, karena Mama ingin aku menikah," sambungnya mencoba mencerna pikirannya sendiri.
"Soal photo pernikahan, itukan bisa saja hanya rekayasa, zaman sekarang sudah canggih kok. Pasti mereka hanya ingin memanfaatkan keadaan selama aku sakit,"
__ADS_1
...
Bersambung...