
Pada waktu itu, Richie mendapat tamu spesial ketiga sahabatnya yakni: Steven, Albert, dan juga Zico.
Richie menyambut kehadiran mereka dengan suka cita, seakan tak mengingat kesalahan tempo hari yang pernah dilakukan ke 3-nya terhadap Richie.
"Hai," sapa Richie sambil merangkul ketiga sahabatnya satu persatu, lalu mempersilahkan mereka duduk di sofa ruang utama.
Yeti dan Airin berinisiatif membawakan minuman dan cemilan untuk tamu majikannya itu.
"Silahkan, Tuan-Tuan, di cicipi hidangan dan minumannya," kata Yeti mewakili setelah menata minuman dan berbagai jenis cemilan di atas meja.
"Terimakasih," ucap ke 3-nya secara serentak, lalu mereka kembali berbincang ria dengan Richie seraya membahas pengalaman selama koma di rumah sakit.
"Bro, bagaimana rasanya koma? menurut cerita yang pernah aku baca, arwah orang yang koma itu bisa melanglang buana dengan bebas, benar tidak?" tanya Zico yang penasaran tentang apa yang pernah di rasakan Richie saat koma.
"Aku sih tak merasakan apa-apa," jawab Richie sambil mengingat saat-saat tersadar dari koma. "tapi, saat aku bangun, pandangan mataku buram, aku tidak bisa menggerakan badanku, kaya tertahan gitu, kalo di pikir lagi, lelahnya setelah sadar, butuh perjuangan untuk keluar dari masa yang menyulitkan itu," lanjutnya memaparkan, ke 3 nya serentak mengangguk.
"Dari drakor yang pernah aku tonton, pas koma itu kita bisa melihat tubuh kita yang sedang terbaring, terus kita bisa melihat orang-orang yang lagi nangisin keadaan kita, berarti itu gak bener dong, ya? Aku pikir kau juga sama, waktu koma merasakan seperti itu." Albert menambahkan, Richie menggeleng dan tertawa mendengar pemaparannya.
"Bro, itu kan cuma film, jelas berbeda dengan realita! Tapi, entahlah, aku hanya menceritakan pengalamanku saja sebagai mantan pasien koma. Ya mungkin, pengalaman orang lain berbeda." Richie merasa senang bisa berbagi pengalaman tersebut kepada ke 3 kawannya, supaya menambah pengetahuan mereka.
"Ada juga katanya, orang yang koma di perlihatkan akherat nih bro!" timpal Steven lagi-lagi mereka mendapatkan informasi dari sumber yang tidak akurat, atau pengalaman orang-orang secara random.
"Entahlah, tapi yang aku rasakan tidak begitu, yang jelas rasanya seperti tidur panjang tanpa bermimpi," ujar Richie kembali mengutarakan, mereka mengangguk sambil mengamati pergerakan bibir Richie saat berbicara serius ketika melanjutkan cerita kepada teman-temannya dengan penuh ketulusan. Meskipun pengalaman koma yang ia alami sangat pribadi dan sulit dijelaskan, ia berusaha untuk menjelaskan sebaik mungkin kepada mereka.
Obrolan mereka terkadang di selingi dengan tawa dan canda membuat suasana menjadi lebih hangat dengan kehadiran ke 3 pemuda tersebut.
Reina yang mendengar suara tawa beberapa pria, ia langsung beranjak melangkah untuk mengetahui siapa yang datang.
Secara mengendap-ngendap ia mendengarkan obrolan Richie dan ke 3 kawannya tersebut.
"Itu kan mereka yang pernah bermasalah dengan suamiku," batin Reina, ia tak bisa protes meski belum bisa menerima maaf dari mereka karena sudah menjebak suaminya tempo hari bersama seorang wanita dari penuturan mereka sendiri secara langsung.
Reina takut jika Zico, Albert, dan Steven kembali membawa pengaruh buruk pada Richie, sehingga ia terus menguping percakapan mereka secara diam-diam.
"Bro, bagaimana ingatan terakhir sebelum koma? Apa kau ingat orang-orang yang sudah mencelakaimu?" tanya Zico, Richie sesaat terdiam untuk merenung dan memutar memori di otaknya kembali.
"Ehm...terakhir kali aku ingat, waktu itu aku habis menghadiri pertemuan di restoran mall, lalu aku berjalan di tengah keramaian mall saat akan pulang, lalu..." sesaat Richie kembali terdiam sambil memegangi kepalanya karena kembali merasakan sakit dan ngilu.
"Bro, bro, kau kenapa?" tanya Albert dengan nada cemas, Richie yang merasa kuat langsung membentangkan kelima jemarinya kearah Albert.
__ADS_1
"Tidak, aku tidak apa-apa, ini hanya sakit biasa di luka bekas operasi." Richie kembali mengingat potongan cuplikan sebelum ia tak sadar.
"Oh ya, aku ingat, waktu itu aku di rampok," kata Richie, ke 3 temannya begitu antusias untuk mendengar kelanjutannya, begitu juga dengan Reina, ia begitu penasaran tentang hari kejadian yang mengakibatkan suaminya cedera dan koma.
"Terus-terus, gimana lagi?" tanya Albert karena ucapan Richie sempat terputus.
"Yang aku ingat, perampoknya perempuan, dia mengambil dompet dari saku jas-ku," jawab Richie, ke 3 kawannya langsung tertawa terbahak, pasalnya apa yang di katakan Richie tak sesuai dengan kejadian yang sebenarnya.
Padahal memori ingatan Richie terputus, ia hanya mengingat saat dirinya di rampok oleh Reina dan itu sudah sangat lama.
"Hah, masa dirampok sama perempuan?" Zico terkekeh begitu juga 2 orang lainnya, sementara Richie kembali terdiam untuk mengingat wajah perempuan itu.
"Sepertinya aku tak asing dengan wajah perempuan itu!" kali ini terpancar emosi di wajah Richie ketika mengingat peristiwa saat Reina merampok dompetnya.
Tiba-tiba, Steven memotong pembicaraan.
"Eh Bro, BTW, dimana istri dan anakmu?" tanya Steven, Richie langsung menghela napas kasarnya dalam-dalam ia seakan menunjukan kebencian mendalam jika seseorang mencoba membahas tentang Reina dan juga status hubungan mereka.
"Sebaiknya kita bahas yang lain saja!" kata Richie, dan tema obrolanpun berubah.
Zico dan ke 2 kawan lainya bisa bernapas lega, mereka bersyukur, karena Richie tak mengingat tentang kesalahan yang pernah mereka perbuat pada malam itu.
***
Setelah kepulangan ke 3 kawannya, Richie bergegas mencari Reina, sampai akhirnya ia menemukannya.
"Oh, kau disini rupanya," kata Richie yang muncul secara tiba-tiba, saat itu Reina tengah menggendong putranya sehabis memberikannya susu.
Richie langsung memangku tubuh Ryan, dan membawanya ke kamar, lalu membaringkan tubunya di dalam box bayi.
Kini ia kembali fokus pada Reina dengan tatapan tajam yang sulit diartikan.
"Ada apa?" tanya Reina, wajah Richie kali ini terlihat tegas.
Ia mengangkat dagu Reina dengan kasar sambil menyoroti kedua matanya.
"Sayang, kau kenapa memandangiku seperti ini?" Reina kembali bertanya dengan suara gemetar.
"Aku baru ingat sekarang, kau ini seorang pencopet!" kata Richie dengan seringai sinisnya, Reina langsung membuka kedua matanya lebar-lebar.
__ADS_1
"Astaga, tapi kan, itu kesalahanku di masalalu, dan kau juga sudah memaafkan kesalahanku, akhirnya kita berjodoh dan menikah." Reina tertunduk lesu karena hanya itu yang bisa Richie ingat darinya.
"Bagaimana bisa aku menikahi seorang pencuri sepertimu?!" Richie kali ini mencengkram rahang Reina dengan kasar sampai kuku-kuku di jarinya hampir menancap permukaan kulit wajah Reina yang mulus.
Reina hanya terdiam dan gemetar, ia tak bisa membalas ucapan Richie.
"Richie, apa yang sedang kau lakukan?!" Bu Lily tersentak ketika melihat Richie memperlakukan Reina dengan kasar.
"Ma, dia ini bukan perempuan baik-baik, dia ini pencuri!" kata Richie sambil mengarahkan jari telunjuknya tepat ke wajah Reina yang sedang tertunduk.
"Apa maksudmu, Richie?!" tanya Bu Lily tak paham, sementara Reina menggelengkan kepala.
Padahal sebelumnya Richie tak pernah mengungkit kesalahan yang pernah Reina perbuat kepada Ibunya, Richie bahkan selalu menjaga reputasi Reina di hadapan keluarga.
Kali ini, Richie dengan tega mengorek luka dimasalalu, ia membuka keburukan yang pernah Reina lakukan.
Membuat Reina tak berdaya, ia langsung bersujud di kedua kaki Ibu mertuanya, tepat dihadapan Richie.
"Mah, maafkan aku, tapi aku melakukan itu karena terpaksa," papar Reina yang sudah tak berdaya.
Beberapa maid menyaksikan kejadian itu, mereka menggeleng seakan tak percaya dan tak habis pikir akan masalalu Reina saat pertama kali berjumpa dengan Richie.
Bu Lily awalnya kaget dan kecewa, tetapi ia mencoba mengertikan keadaan. Karena walau bagaimanapun, Reina adalah menantunya, ibu dari cucu kesayangan satu-satunya.
"Sudahlah!" Bu Lily membantu Reina bangkit dari bersujudnya.
"Mama memaklumi, Reina," kata Bu Lily sambil mengusap punggung Reina.
Reina kali ini benar-benar hancur, malu, dan terluka di hadapan semuanya.
"Ma, Mama kok malah belain dia sih? dia ini pencuri!" Richie bersikeras mengecam perbuatan Reina dimasalalu.
"Cukup Richie! Dia ini istrimu, wanita yang sudah melahirkan keturunanmu, sebaiknya kau maafkan kesalahannya." Bu Lily tampak geram terhadap putranya karena terus menyudutkan Reina yang sudah tak berdaya.
"Ah, aku benci sama Mama!" Richie melenggang pergi karena merasa ucapannya tak di bela oleh sang Mama.
...
Bersambung...
__ADS_1