Permainan Cinta

Permainan Cinta
Karma


__ADS_3

Karena tak enak membiarkan Elvina harus jalan sendirian menuju kantor, lantas Richie mengajaknya naik kedalam mobil. "mari, saya antar biar sekalian," kata Richie dengan santun pada sekretaris barunya itu.


Elvina berpikir, bahwa ini kesempatan baginya untuk bisa lebih dekat dengan Richie. "emh...tidak usah Pak, saya bisa jalan sendiri, lagian gak jauh kok," tolaknya berpura-pura, tanpa sadar, Richie meraih tangannya dan mereka pun saling melayangkan tatapan selama beberapa detik.


"Eh, maaf." Richie yang tersadar segera melepas genggaman tangannya. "sudah, tidak apa-apa, yuk!" ajak Richie, Elvina mengangguk pelan, lalu naik kedalam mobil.


"Ini baru langkah awal." Elvina melempar seringai saat mengencangkan safety belt, lalu ia berpura-pura meringis kesakitan membuat Richie khawatir dan semakin merasa bersalah atas perbuatannya itu.


"Sshhh...aduh," keluh Elvina sambil memijat lututnya yang memar, Richie melirik kearahnya cemas.


"Elvi, sekali lagi maafkan saya," kata Richie, Elvina menggelengkan kepala. "tidak apa-apa Pak Richie, tak usah merasa bersalah, saya yang kurang hati-hati saat menyebrang tadi," ujar Elvina, ia berusaha menarik simpati Richie.


Hingga terjadi obrolan ringan saat di mobil, dan tak lama kemudian mereka sampai.


"Pak Richie, terimakasih ya sudah kasih tumpangan gratis," ucap Elvina saat keluar dari dalam mobil, Richie mengangguk seraya tersenyum.


"Ya, sama-sama Elvi," balas Richie, dan lagi-lagi Elvina kembali berpura-pura meringis.


"Elvi, sebaiknya lukamu segera di obati," kata Richie dengan penuh kekhawatiran, padahal luka tersebut hanya berupa goresan kecil.


"Iya Pak, saya bisa menanganinya sendiri kok." Elvina berjalan terpincang-pincang, membuat Richie tak tega, hingga ia memapah langkahnya.


"Gara-gara saya, kau jadi seperti ini." Richie hendak membawa Elvina ke ruangan pribadinya.


Kedekatan mereka berdua menyita perhatian banyak pegawai, tak sedikit pula yang berbisik-bisik.


"Wah, pemandangan baru nih," bisik Riky kepada Andri saat menatap Richie dan Elvina.


"Sut! mulai deh!" Andri menepis, ia tak ingin ikut terpengaruh ucapan Riky, tetapi ia juga merasa risih melihat kedekatan Boss-nya dengan sekretaris baru itu.


"Mudah-mudahan gak sesuai apa yang sedang aku pikirkan," batin Andri sambil menggelengkan kepala, pasalnya ia tahu jika Richie sudah beristrikan Reina.


Richie memapah Elvina ke ruangannya, lalu membantunya duduk di atas sofa.


"Tunggu sebentar ya! saya mau bawakan kotak p3k dulu." Richie beranjak dan membuka laci meja, lalu meraih kotak tersebut.


"Elvi, mana yang sakit?" tanya Richie, ia berupaya memberikan pertolongan pertama pada luka Elvina.


Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Elvina menaikan rok mininya agak keatas membuat Richie yang hendak turun tangan menanganinya langsung ilfeel seketika.


Richie menyerahkan kapas yang sudah di lumuri obat merah itu kepada Elvina. "Nih, kau tangani sendiri saja!" titah Richie, Elvina menghembuskan napas beratnya, dengan terpaksa ia meraih kapas tersebut dari tangan Richie.


Alih-alih berusaha menggodanya, kini ia melihat Richie yang sedang kesal.


"Setelah ini, kau segera keluar!" usirnya dengan lantang, Elvina mengangguk karena melihat perubahan dalam diri Richie.

__ADS_1


Richie terdiam dengan tatapan lurus memandangi tembok dinding. "luka segitu saja kok reaksinya berlebihan!" batin Richie yang tak habis pikir.


Elvina bergeming dalam kebingungan, ia terus berusaha memandangi Richie dengan gestur menggoda.


"Kenapa kau masih saja diam disitu?!" tanya Richie dengan tegas, Elvina terhentak seketika, ia tak menyangka dengan sikap Richie yang dingin dan angkuh.


"Eh, maaf Pak." Elvina bangkit dari duduk sambil membenahi rambutnya yang dibuat sedikit ikal.


"Heh, kau tahu kan apa saja tugas-tugasmu?!" Richie menyorot tajam kearahnya, Elvina mengangguk. "tahu Pak, sebelum Bu Mariana resign, dia memberi tahu rules dan tugas-tugas saya di perusahaan ini sebagai sekretaris Bapak," ujarnya, membuat Richie mengangguk yakin.


"Ya sudah, tunggu apa lagi? asal kau tahu, saya tidak suka pekerja yang banyak gaya dan berleha-leha!" ucapnya dengan tegas, Elvina mengangguk tak berani mengangkat wajahnya. "iya Pak," balasnya.


"Dan besok-besok, kau jangan pakai pakaian yang terlalu ketat, ini tuh perusahaan bukan rumah bordil!" ucapnya lagi dengan penuh penekanan sehingga wajah Elvina langsung memerah seketika.


Kini ia melangkah menuju pintu, tetapi Richie merasa aneh saat melihat Elvina bisa berjalan normal. "oh, jadi yang tadi itu hanya akting? Hmmm...luar biasa!" batin Richie mencibir, ia cukup tahu karakter Elvina seperti apa.


Namun, Elvina akan melakukan berbagai cara untuk menaklukan hati Richie, karena ia sudah memiliki kartunya.


***


Sementara pada saat itu, tepatnya pukul 9 pagi, Reina sudah mengadakan janji temu dengan Qiu Ming untuk memberikan terapi lanjutan kepada Richie.


"Ma, aku mau ke kantor suamiku dulu," kata Reina sambil menggendong Ryan, lalu menyerahkan Ryan pada Mama mertuanya. "aku titip Ryan ya, Ma," lanjutnya.


"Ya sudah, kau hati-hati di jalan, mudah-mudahan Richie setuju di ajak untuk melakukan terapi," harap Bu Lily sambil menimang tubuh Ryan.


Tiba-tiba, kehadiran kedua orangtua dan sang Adik, menghentikan langkah Reina dalam sekejap.


"Eh, Ibu, Ayah, Benny," kedua mata Reina berbinar saat menyambut kedatangan anggota keluarganya, begitu juga dengan Bu Lily.


"Silahkan masuk," titah Bu Lily, hingga terjadilah obrolan ringan diantara mereka.


"Duh, maaf ya, bukan Reina kurang sopan, tetapi Rein ada keperluan penting," pamitnya, semuanya mengangguk dan memaklumi, terlebih kedua orangtua Reina datang untuk menjenguk cucu mereka.


Reina bahagia melihat kedua orangtua dan Mama mertuanya hidup rukun meski ada perbedaan status sosial diantara mereka.


***


Saat itu Reina pergi mengendarai motor matic. Namun, baru saja setengah perjalanan, tiba-tiba ban motor belakangnya melindas paku, sehingga ia berhenti sejenak.


"Ah, sial!" pekiknya sambil menendang body motor tersebut. "pake bocor segala lagi!" lanjutnya kesal.


Ia mengedarkan pandangan kearah sekitar. "kira-kira, dimana ya tukang tambal ban?" gumamnya seraya merasakan panasnya cuaca meski masih pukul 9 pagi.


Reina terlalu genggsi untuk bertanya pada orang-orang yang berlalu lalang, sehingga ia mendorong motornya dan berharap menemukan bengkel tambal ban.

__ADS_1


Dari jarak beberapa meter, ia melihat kios tambal ban dan akhirnya bisa bernapas lega.


Reina semakin bersemangat mendorong motornya menuju kearah kios.


Tak butuh waktu lama ia sampai, lalu men-standarkan motor tersebut tepat di sebelah seorang pria yang sedang berjongkok memunggunginya.


"Bang, tambal, Bang," seru Reina kepada pria berbaju coklat yang masih berjongkok membelakanginya.


"Iya," sahutnya, lalu menoleh, keduanya langsung terperanjak.


"Hah?" Reina yang kaget langsung membuka kedua matanya lebar-lebar.


"Re...Reina," ujar Pria tersebut.


"Ka..kau, hah?" Reina masih tak habis pikir dan tak percaya, hingga keduanya masih bergeming saling tatap satu sama lain.


Ya, pria tersebut adalah Melvin, kini penampilan Melvin jauh dari kata modis.


Ia terlihat kurus, hitam, kumel, dengan rambut yang di cat pirang.


Reina menggelengkan kepala melihat perubahan yang terjadi pada diri Melvin, pria itu menatap penuh keraguan pada Reina saat ini.


"Ehm...ban motormu bocor?" tanya Melvin berusaha memecah ketegangan, Reina mengangguk.


"I...iya, Vin," jawab Reina, lalu Melvin berjongkok dan memeriksa ban motor milik Reina.


"Oh, ini sih musti di tambal," kata Melvin, Reina mengangguk, lalu duduk di kursi yang sudah di sediakan.


Melvin berjibaku membetulkan kerusakan ban motor tersebut, sementara Reina terus mengamatinya. "aku tak percaya Melvin jadi seperti ini," batin Reina, dan Melvin sesekali mencuri-curi pandang kearahnya.


Tiba-tiba, wanita yang tengah hamil besar berjalan kearahnya. "Heh, udah dapat duit belum?" tanya wanita itu dengan ketus pada Melvin. lagi dan lagi Reina menggelengkan kepala melihat fenomena di luar dugaanya.


"Lah, itukan Kak Julia, perempuan yang waktu itu memarahiku saat jalan di mall bersama Melvin," batin Reina, dan kini ia tak ingin wanita itu sampai melihat, karena ia takut terjadi salah faham.


Reina berpura-pura sibuk dengan ponselnya sambil menatap ke arah lain, tetapi indra pendengarannya menangkap kalimat caci maki yang keluar dari mulut Julia.


"Dasar laki gak berguna! jam segini cuma dapat uang 100 ribu? ini masih kurang! sedangkan bedak dan lipstikku sudah habis!" bentak Julia sambil memukul punggung Melvin.


"Ya sabar dong, aku juga lagi usaha!" balas Melvin yang jengah atas sikap Julia yang selalu kasar.


"Oh, jadi mereka itu sudah menikah," batin Reina, ia merasa tak tega, lantas Reina berusaha memberikan bayaran lebih untuk Melvin sehabis motornya di tambal.


"Kasihan hidup Melvin sekarang," sambungnya lagi, tetapi ia berpikir Melvin dan Julia sedang menerima hasil dari perbuatan masalalu mereka.


...

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2