Permainan Cinta

Permainan Cinta
Wanita misterius


__ADS_3

Richie mendapat sambutan hangat dari karyawannya, mereka menebar tulisan dengan hiasan bertabur bunga yang sangat cantik.


"Selamat datang kembali di perusahaan, Pak Richie." Semua orang serentak memberi ucapan tersebut. Sapaan dan senyuman yang hangat terus bersahutan.


Anisa mengalungkan rangkaian bunga warna warni yang melambangkan kebahagiaan, dan suka cita saat kembalinya Richie dalam mengemban tugasnya, setelah sekian lamanya ia terbaring di ranjang rumah sakit pasca peristiwa yang hampir saja merenggut nyawanya.


"Terimakasih semuanya," balas Richie sambil melambaikan tangan dan kiss jarak jauh yang ia persembahkan untuk seluruh karyawan yang setia menantikannya.


Christian meraih microphone, ia berbicara diantara orang-orang dengan suara lantang dan penuh semangat.


Ia memberikan sambutan penghormatan atas kembalinya pemimpin besar mereka di perusahaan XiuMeiCouture.Corporation.


Beberapa kolega yang berasal dari Tiongkok turut serta dalam hari penyambutan ini.


Khusus hari ini pekerjaan di hentikan, mereka menggelar pesta yang sangat meriah yang diadakan di ballroom khusus yang sering di jadikan ruang pertemuan tamu-tamu agung.


Semua orang tampak bahagia, dan Richie mendapat banyak ucapan selamat dan tanda kasih dari kolega-koleganya.


Suara tepuk tangan yang meriah tak henti-henti bergema ketika Richie menyampaikan pidatonya di atas panggung. Ia membagikan kata-kata yang penuh inspirasi, menceritakan pengalamannya selama masa pemulihan, dan mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada seluruh tim perusahaan yang telah memberikan dukungan tak terbatas.


"Saya ucapkan terimakasih kepada rekan-rekan yang semala ini selalu mendukung dalam upaya kemajuan perusahaan," ucapnya dengan tegas dan lantang di hadapan para audience. "Kami adalah keluarga besar XiuMeiCouture.Corporation, dan bersama, kita akan terus berkembang dan mencapai prestasi yang lebih besar. Terimakasih lagi, dan mari bersama-sama wujudkan visi dan impian kita!" lanjutnya dengan penuh semangat.


Di akhir acara, semua rekan-rekan di persilahkan menaiki panggung untuk memberikan ucapan selamat secara langsung kepada pemimpin mereka.


"Selamat ya Pak Richie atas kesembuhannya." ucap rekan-rekan silih berganti berjabatan.


Di momen akhir, ia berjabatan dengan seorang wanita yang asing baginya.


"Selamat ya, Pak Richie Richard," ucapnya bahkan ia terdiam selama beberapa detik sedangkan jemarinya masih menggenggam.


Richie membalas sapaannya dan tersenyum sopan. Namun, saat ia mencoba memperhatikan wajah wanita itu dengan lebih baik, ia merasa ada sesuatu yang aneh menguasai pikirannya. Namun, kerumunan orang segera menghalangi pandangannya.


"Dia siapa? sepertinya aku baru melihatnya," batin Richie.


Ingin rasanya ia mempertanyakan tentang identitas wanita itu, tetapi sebagai seorang pemimpin ia terlalu gengsi untuk mengetahui lebih lanjut.


Richie tertahan dengan pandangan lurus ke depan seraya terus mencari celah di antara hilir mudik orang-orang yang berlalu lalang.

__ADS_1


"Mana ya dia?" gumam Richie sambil mencari-cari wanita misterius yang mampu mengalihkan fokusnya.


"Pak." Christian menepuk pundak Richie, hingga ia tersadar dari lamunan.


"Eh, ya," balas Richie, kini ia mencoba bersikap lebih serius dengan tubuh yang tegap seakan tak ingin kehilangan kewibawaan.


"Acara selanjutnya kita potong tumpeng," ujar Christian memberi tahu, Richie menanggapi dengan anggukan.


"Ya sudah, silahkan kau atur-atur saja semuanya," titah Richie.


"Baiklah," kata Christian, sementara Richie mencoba mencari jejak wanita itu.


Hingga ia tak sengaja menabrak tubuh Anisa yang sedang mempersiapkan acara berikutnya.


"Astaga, Pak Richie ini kenapa? baru juga sembuh kok masih seperti orang linglung?" Anisa heran melihat tingkah atasannya yang aneh, Richie menggeleng dan terdiam sesaat sambil mengigit tepi bibir bawahnya, ia gengsi untuk mengatakannya kepada Anisa.


"Ehmm..Nisa," serunya, wanita itu mengangkat dagunya keatas.


"Apa kau melihatnya?" tanya Richie membuat Anisa mengerutkan keningnya.


"Lihat siapa? Setan?" Anisa balik bertanya dengan guyonan ringan, dan ia sedikit menahan tawa tetapi wajah Richie tampak serius.


"Ck! sepertinya Pak Richie belum benar-benar pulih deh," batin Anisa, ia kembali melanjutkan tugasnya dan tak terlalu memikirkan tingkah Bossnya yang terlihat aneh.


Hingga acara pemotongan tumpeng pun dimulai, semua orang berkumpul di sekitar meja tumpeng yang dihiasi dengan indah. Richie berdiri di depannya sambil mengembangkan senyuman, seakan tidak terganggu oleh perasaan bingungnya sejak tadi.


"Acara pemotongan tumpeng ini adalah simbol rasa syukur kita kepada Tuhan yang telah memberikan kesembuhan kepada saya dan keselamatan kepada semua rekan-rekan saya di perusahaan ini. Saya tidak akan pernah bisa membalas semua dukungan dan doa yang kalian berikan selama saya berjuang untuk sembuh. Ini adalah momen yang sangat istimewa bagi saya, dan saya ingin mengucapkan terima kasih dari lubuk hati saya yang paling dalam kepada semua rekan-rekan yang berada disini," ungkap Richie dengan tulus.


Ketika ujung tumpeng itu berhasil di potong, semua orang bertepuk tangan dengan meriah.


Mata kamera terus menyorot kearah Richie yang sedang berbahagia.


...


Reina yang sedang berada dirumah, ia melihat status WA milik Anisa, dan betapa terkejutnya melihat potret suaminya bersinar diantara orang-orang saat acara tersebut masih berlangsung, serta caption yang bertuliskan ucapan serta doa-doa untuknya. Reina tersenyum dan bersyukur meski ia tak hadir di acara besar tersebut karena ia tahu acara itu diadakan eksklusif oleh rekan kerjanya dan tak ada undangan khusus semuanya diadakan secara mendadak.


Reina memberi komentar pada isi status Anisa.

__ADS_1


[Wah, sepertinya meriah sekali]


send...


Anisa membuka pesan dari Reina, lalu ia menghubunginya.


"Halo Reina, kenapa kau tak hadir di acara ini?" tanya Anisa ia sangat berharap Reina ada bersama Richie.


"Maaf Bu, saya sibuk urusin Ryan dirumah," jawab Reina yang menyesal tak ada di sisi suaminya saat ini.


"Hmm, ya sudah kalau begitu, titip salam untuk Ryan ya," pesannya, setelah itu obrolan berakhir.


Reina terus memantau status rekan-rekan kerja suaminya satu per satu.


Sambil melihat foto-foto tersebut, Reina juga memperlihatkannya kepada Ryan, putra mereka yang masih bayi.


"Ryan ini siapa?" Reina menunjuk gambar Richie bersama rekan-rekannya, dalam photo itu Richie berdiri di tengah-tengah sebagai pemimpin.


Ryan merespons dengan tawa yang menggemaskan, dan menjawab, "Pa...pa..pa.." Ryan berceloteh seakan-akan ia juga turut merasakan kebahagiaan dan cinta dalam keluarganya. Reina tersenyum dan mencium kening bayinya.


"Ryan sayang sama Papa dan Mama?" tanya Reina sambil mengangkat tubuh Ryan, membuat bayi itu kembali tertawa dengan suara yang menggemaskan.


Airin dan Yeti langsung menghampiri dan ikut bermain dengan Ryan.


Yeti memberikan mainan kepada Ryan, dan dengan cepat, Ryan meraihnya dan mencoba memasukkannya ke dalam mulutnya. Reina dengan sigap mengambil benda tersebut, khawatir bahwa Ryan mungkin akan mencoba mengigitnya dan cedera. Ketika Reina melarangnya, Ryan mulai menangis. Reina segera menghibur dan menenangkan bayinya.


Reina sangat over protective pada Ryan, meski usianya terbilang sangat muda tetapi Reina berhasil menjadi Ibu yang siaga bagi putra kesayangannya.


***


Sementara di acara itu, Richie kembali di pertemukan dengan wanita yang sedari tadi ia cari.


Wanita itu mendekat dan tersenyum dengan senyuman menggoda.


"Sepertinya aku tak asing dengan wajahnya, tapi siapa ya?" Richie terus mengamati wajah wanita itu dengan seksama.


"Pak, perkenalkan, saya sekretaris Bapak yang baru," ujar wanita tersebut sambil mengulurkan tangan. Richie merasa gemetar dan bingung dalam hatinya. "Sekretaris baru? Tapi Mariana kemana? Mengapa dia mengundurkan diri tanpa memberi tahuku?" Richie merasa bingung dengan pergantian sekretaris ini.

__ADS_1


...


Bersambung...


__ADS_2