
Semenjak penolakan itu, Selly jadi jarang menemui Reina ke rumah sakit.
Biasanya Selly selalu menyapa Qiu Ming lewat pesan, tetapi kali ini ia merasa malu dan lebih memilih untuk menjaga jarak, meski rasa, hasrat, dan perasaan itu masih ada untuknya hingga saat ini.
...
Tibalah hari pertandingan voly antar kota yang melibatkan Selly, dan timnya untuk bermain.
Reina menyesal tak bisa memberikan dukungan secara langsung di tempat, karena keadaanya tak memungkinkan.
Saat pertandingan akan berlangsung, Reina dan Selly terlibat percakapan singkat di telpon.
"Sell, maafkan aku ya, karena aku tak bisa datang untuk menyaksikan pertandinganmu, aku harap tim-mu menang," ucapnya kepada Selly di telpon.
"Ya, Reina, terimakasih atas dukungan dan doamu. Jangan lupa ya, saksikan kami di acara televisi," balas Selly, sesaat kemudian obrolanpun berakhir.
Selly, sebelum memulai pertandingan, ia dan kawan-kawannya harus mendengarkan arahan dari pelatih, Jackson.
Jackson senantiasa memberikan arahan-arahan berarti kepada anak-anak didiknya mengenai apa saja yang musti di lakukan untuk melumpuhkan lawan. Tetapi, sesekali Jackson mencuri-curi pandang pada Selly. Selly yang menyadari, mencoba menghindari tatapannya, ia tak ingin terlalu intens dan tetap fokus pada sikap profesionalisme.
Seusainya, mereka melepas jaket masing-masing, lalu turun ke lapangan.
Antar tim saling menyapa dan memberi dukungan semangat satu sama lain sebelum peluit di bunyikan.
Suara yel-yel menggema di area tribun penonton, serta kamera yang terus mengarah kepada para pemain.
Selly, sebagai pemain tercantik, ia yang paling banyak mendapat sorotan kamera. Karena selain cantik, ia juga paling jago di antara yang lainnya, hingga banyak kaum Adam yang mengidolakannya bak seorang selebritis di lapangan voly.
Selly bermain dengan penuh semangat dan aksi aksi menakjubkan, ia berusaha memberikan yang terbaik untuk timnya. Di antara kegembiraan penonton dan intensitas pertandingan, ia mencoba melupakan penolakan dari Dokter Qiu yang masih menghantui pikirannya.
Di awal babak, Selly dan timnya menang di poin terunggul, semua penonton bersorak dengan meriah, berharap tim Selly menang.
Begitu juga dengan Reina yang sedang menyaksikannya lewat televisi di ruang rawat suaminya.
Ia begitu takjub pada penampilan briliant sahabatnya itu.
Bergelimang kata-kata pujian dalam hati, hari ini ia begitu bangga pada Selly.
Hingga tibalah di akhir babak set penentuan, itu adalah hal yang paling di nanti dan sangat mendebarkan.
Beberapa saat kemudian, Reina terperanjak saat Qiu Ming hadir di ruangannya, pria itu membawakan bingkisan cemilan untuk Reina.
"Selamat sore, Reina." Qiu Ming meletakan bingkisan itu di atas meja.
Reina beranjak, lalu melangkah kearahnya, tetapi sorot matanya terus tertuju pada layar televisi.
"Kau sedang menonton pertandingan voly putri, ya? sepertinya asyik sekali." Qiu Ming kini ikut menyaksikan acara televisi tersebut.
"Ya tentu saja, karena tim Selly sedang bermain," ujar Reina, kini keduanya sama-sama fokus menatap layar televisi tersebut.
Mata kamera terus mengarah pada Selly dan aksi-aksinya yang menakjubkan.
"Wah, itu kan, Selly." Qiu Ming tak menyangka ternyata ia tengah menyaksikan Selly saat ini, dan ia juga terkejut Selly bisa sehebat itu dalam bermain voly.
"Iya, memangnya Selly tidak bilang ya, kalau dia mau tanding hari ini?" tanya Reina, ia berpikir jika mereka berdua masih intens saling bertukar pesan.
"Tidak Reina," jawab Qiu Ming.
__ADS_1
Sampai saatnya, mereka menyaksikan kemenangan yang gemilang, reflek Reina langsung meloncat dan memeluk tubuh Qiu Ming.
"Yeah, akhirnya tim Selly menang, hore!!!" Reina tampak antusias sekali, tetapi hal itu justru membuat Qiu Ming tertegun dan terpaku saat mendapatkan pelukan secara tiba-tiba yang di berikan Reina padanya, meski itu adalah gerakan reflek semata.
Di saat yang bersamaan pula, Airin hadir, pada waktu itu ia baru saja tiba, dan entah habis dari mana.
Airin menyaksikan dengan jelas ketika Reina memeluk tubuh Qiu Ming.
Reina yang menyadari itu, ia langsung melepas dekapannya, membuat kesalah pahaman besar diantara mereka ber 3.
"Suaminya lagi sekarat, eh malah asyik-asyikan pacaran sama Dokter. Berani sekali mereka bermesraan di depan Tuan muda yang lagi koma!" batin Airin, ia mengira Reina dan Qiu Ming ada hubungan khusus. "wah, coba saja tadi aku potret mereka berdua, lalu aku kirim ke Nyonya besar, pasti bakal ada perang dunia nih, hmm...tapi sayang sekali, aku telat!" sambungnya lagi sambil memutar kedua matanya.
Qiu Ming merasa tak nyaman kali ini, sehingga ia memutuskan untuk keluar.
"Reina, saya permisi dulu, ya," pamitnya. "jangan lupa makanannya di makan," sambungnya, Reina mengangguk.
Kini ketegangan melanda pada dirinya disaat Airin berhasil memergokinya bersama Qiu Ming.
"Nyonya muda, sejak kapan dekat dengan Dokter ganteng itu?" tanya Airin seakan memancing kebencian.
"Ih, apa sih Mbak? orang kami tidak ada hubungan apa-apa, kok! Jangan bikin gosip yang tidak-tidak, ya. Apa lagi sampai mengadukan kepada Papa dan Mama!" ucap Reina dengan tegas terhadap Airin, tetapi wanita itu tampak mengikuti pergerakan bibirnya seolah sedang mengejek.
"Hei, Mbak Airin ini kenapa sih? Saya sedang berbicara sama Mbak, loh!" Reina merasa jengah atas sifatnya, karena kini Airin jauh lebih berani dan seenaknya.
"Alah, bohong ya bohong saja, istilahnya ya, mana ada maling ngaku! Eh, Nyonya muda yang terhormat, dengar ya! Suamimu sedang sekarat, tunggu dia lewat, baru cari pengganti!" ujar Airin membuat Reina murka atas ucapannya.
"Mbak, jaga ya ucapanmu! Saya tidak pernah berpikiran seperti itu, saya ini cinta dan ingin setia pada suami saya." Kedua mata Reina kini terlihat berkaca-kaca, ia tak menyangka Airin tega berbicara hal yang berhasil memperburuk suasana hatinya.
Reina berusaha meredakan amarahnya, ia tak ingin terpancing karena sedang mengandung.
Gadis itu duduk di atas sofa sambil sesegukan, tetapi Airin tak ada rasa iba dan peduli sedikitpun padanya, ia semakin bertingkah kurang ajar.
Tanpa intruksi dari Reina, wanita itu langsung menyambar dan membuka, kemudian mengeluarkan isinya.
"Ehmm...sepertinya enak nih, strawberry cake, yumm, yumm, yummy!" Airin langsung saja melahap cake tersebut dengan rakus membuat Reina semakin kesal dan tak betah berada bersamanya.
"Dasar, pembantu tak tahu diri!" batin Reina, ia tak bisa berbuat banyak, dan juga tak mampu mengadukan perbuatan Airin pada mertuanya karena hanya akan percuma, pikirnya.
Airin pintar bersilat lidah dan bermain kata, bisa saja ia menjebak Reina dan membawanya pada masalah yang lebih besar.
"Aku tak tahan kalau tiap hari bersama Airin!" gumam Reina, sampai akhirnya ia menerima pesan singkat dari Qiu Ming.
Reina langsung membuka pesan darinya.
[Reina, cake yang tadi sudah kau makan?]
Reina dengan cepat membalas, ia mengatakan jika cake-nya sudah habis.
"Nah kan, pasti lagi chat sama Dokter Qiu," celetuk Airin yang sok tahu, Reina yang merasa, ia berusaha menyembunyikannya.
"Mbak, berisik! Saya sedang chat dengan Selly, tahu!" balas Reina sambil mendengus karena kesal, Airin terlalu mencampuri urusannya.
...
Bulan berganti begitu cepat, singkat cerita, kini usia kandungan Reina sudah memasuki bulan ke 9, dan Reina sudah merasakan berat di awal detik-detik bayi-nya akan lauching ke dunia.
Saat itu, Reina beserta Papa dan Mama mertuanya tengah berkumpul di ruangan perawatan Richie.
__ADS_1
Seperti biasa, Reina selalu berdialog dengan Richie dan calon bayinya.
Reina meletakan tangan Richie di perutnya, di saat yang bersamaan ia melihat pergerakan jemari Richie menyentuh dan sedikit memberi tekanan pada perutnya.
"Pah, Ma..." seru Reina kepada Mama dan Papa mertuanya.
"Ada apa, sayang?" tanya Bu Lily seraya menghampiri Reina.
"Lihatlah, jemari Richie bergerak-gerak," kata Reina, lalu Pak Marthin memperhatikan pergerakan kelopak mata Richie.
Richie mengeluarkan suara seperti orang mengigau pada saat itu. Dengan cepat, Reina menekan bel urgensi, ia memanggil petugas medis untuk memeriksa kondisi suaminya lebih lanjut.
Petugas medis segera datang setelah bel urgensi ditekan oleh Reina. Mereka langsung melakukan pemeriksaan cepat pada Richie untuk memastikan kondisinya stabil.
"Ini awal yang baik," ujar suster Abigail yang sudah memeriksa kondisinya, mendengar pernyataanya, Reina beserta kedua mertuanya tampak antusias.
"Benarkah?" tanya Reina, kedua matanya langsung berbinar mendengar berita baik itu.
Suster Abigail segera menghubungi Dokter Qiu Ming detik itu juga.
Dengan cepat, sang Dokter tiba di tempat, lalu memeriksa lebih lanjut dan untuk menentukan hasil yang lebih akurat.
Disaat yang bersamaan pula ia harus merasakan patah hati, pasalnya Richie sebentar lagi akan pulih dari koma, dan itu artinya peluang untuk memiliki Reina sangat kecil.
Sang Dokter yang menyadari akan adanya tanda-tanda kesembuhan pada pasien, ia langsung memberikan stimulasi pemulihan berupa terapi rangsangan.
Hingga akhirnya, Richie perlahan membuka kedua matanya, semua orang merasakan haru bahagia, dan ucapan rasa syukur mengalir begitu saja, baik itu dari pihak keluarga dan juga tim medis yang selama ini membantu proses perawatan Richie selama koma.
"Puji Tuhan," ungkap Bu Lily dengan rasa haru, ia percaya mukjizat Tuhan itu nyata, begitu juga Reina dan Pak Marthin tak henti-hentinya mengembangkan senyum kemenangan.
Namun, proses pemulihan akan memakan waktu lama, Richi baru dapat membuka matanya tetapi belum merespon apa-apa.
Ia masih terbaring sambil berkedip, dan terus mengeluarkan suara yang tak jelas seperti mengigau.
"Richie," panggil Bu Lily, tetapi belum ada reaksi apa-apa.
"Sayang," panggil Reina, ia memberi dekapan hangat pada tubuhnya.
"Maaf, ini baru permulaan awal kesadaran pasien, karena masih ada tahap-tahap yang harus dilalui pada proses pemulihannya," jelas Dokter Qiu Ming kepada keluarga Richie, mereka mengangguk dan paham.
Semua orang menyadari bahwa pemulihan Richie akan memakan waktu dan kesabaran. Proses ini tidak akan mudah, tetapi mereka semua bersatu untuk mendukungnya dalam setiap langkah perjalanan menuju kesembuhan.
"Tapi Dok, dari film-film yang pernah saya tonton, orang yang sembuh dari koma bisa langsung berbicara dan berjalan," kata Reina dengan polosnya, sang Dokter dan tim medis tertawa mendengar ucapannya.
Dokter Qiu Ming menjelaskan dengan kerendahan hati, "Reina, film-film seringkali menggambarkan kisah dramatis untuk hiburan. Tetapi, dalam kehidupan nyata, proses pemulihan dari koma bisa sangat bervariasi dan memerlukan waktu yang berbeda-beda untuk setiap individu. Yang terpenting, Pak Richie sudah menunjukkan kemajuan yang sangat positif dalam pemulihannya, dan itu adalah hasil dari perawatan dan dukungan yang luar biasa dari kita semua."
"Memangnya, proses pemulihan suami saya kira-kira akan memakan waktu berapa lama, sih?" tanyanya lagi, ia sudah tak sabar menanti suaminya pulih seperti sedia kala, karena sudah sangat lama, sudah sembilan bulan lebih ia terbaring koma.
"Saya tidak bisa memprediksi, mengingat Pak Richie sudah hampir 10 bulan melewati koma, tetapi saya akan membantu proses pemulihannya. Mungkin pada awal pemulihan, pasien akan kesulitan menggerakan otot-ototnya dan juga akan kesulitan berbicara, maka dari itu terapi sangat disarankan," jelas Dokter Qiu memberi pemahaman kepada Reina dan lainnya.
Sampai tiba-tiba, Reina merasakan keram di perutnya.
"Aduh," teriak Reina sambil memegangi perut, semua orang panik, dan langsung mendekat.
"Reina, apa yang terjadi denganmu?" Bu Lily panik luar biasa.
"Sepertinya Bu Reina akan melahirkan," ujar Suster Abigail, hingga suasana yang semula tenang penuh haru kini berubah menjadi tegang.
__ADS_1
Bersambung...