Permainan Cinta

Permainan Cinta
Aku Akan Menyiksamu


__ADS_3

Tak ingin semakin terhanyut dengan pertanyaan yang masih bergelayut dalam benaknya, Richie mencoba untuk menepis rasa keingin tahuan itu.


Ia kembali berfokus dengan beberapa ucapan dan obrolan dari rekan-rekannya sambil menggenggam gelas syirup berwarna merah di tangan kanannya.


Singkat cerita, acara pun berakhir tepat sesudah makan siang.


Richie merasa rindu kepada putranya, sehingga ia memutuskan untuk segera pulang sehabis memberikan pidato penutupan acara.


Wanita itu kini berdiri di barisan paling depan dengan kedua sorot manik indah yang tajam.


Sesekali Richie menangkap arti tatapan itu. Namun, lama-lama semua terasa biasa saja, ia hanya sedikit terperangkap dalam sebuah dejavu saat pertama kali bertemu dengannya.


Wanita itu gencar menunjukan bahasa tubuh yang seakan berusaha untuk menggoda dan menarik perhatian Richie saat ini.


"Jangan lupa ya, besok kita kembali bekerja seperti biasa," kata Richie kepada rekan-rekan semuanya.


...


Setelah selesai, ia bergegas untuk kembali ke rumah.


Tetapi, ia berinisiatif ingin membelikan sesuatu yang berkesan untuk putranya.


Richie menyambangi sebuah toko mainan, dan ia memilih salah satunya.


"Aku harap Ryan suka," gumamnya, hingga akhirnya, setelah usai memilih dan membayar, ia menjinjing beberapa kantong yang berisi mainan untuk menyenangkan hati putranya.


...


Saat tiba di mansion, Reina kebetulan tengah duduk santai di kursi taman sambil bercanda dengan Ryan, ia berdua di temani Airin, sang asisten.


Ryan selalu terlihat ceria, ia semakin lucu mengenakan topi di kepalanya.


Mengetahui kehadiran Richie, Reina beranjak dari duduknya sambil memangku tubuh si kecil, dan berjalan menuju ke arah garasi.


Richie keluar dari dalam mobil sambil membawa jinjingan kantong yang berisi mainan untuk Ryan.


"Tuh, Papa pulang," kata Reina sambil mengarahkan Ryan pada Ayahnya.


Ryan kembali tertawa, Richie menyambutnya dengan senyuman.


"Sini anak Papa." Richie mengambil Ryan dari gendongan Reina.


Kini fokus Richie hanya pada Ryan, sementara Reina merasa diabaikan dan tersingkirkan.


"Ryan, lihat, Papa bawakan apa buatmu." Richie memperlihatkan salah satu mainan, dan Ryan langsung meraihnya, kemudian Richie mengecup pipinya yang semakin bertambah gembil.


"Makin ndut ya kamu," tutur Richie, dan Ryan terus tertawa sambil berceloteh dengan bahasa yang tak di mengerti oleh orang dewasa.


"Sayang," seru Reina kepada Richie, Richie menatap sinis pada Reina, lalu menyodorkan kantong-kantong mainan itu padanya.


"Nih, bawa sana!" titahnya, Reina merasa seperti seorang pelayan di hadapan suaminya sendiri.


Tetapi Reina berusaha terlihat baik-baik saja dan menuruti semua keinginannya, ia merasa senang melihat keakraban Richie dengan Ryan, seperti sesuatu yang sangat berharga tak dapat di ganti dengan apapun.

__ADS_1


Richie memangku Ryan, lalu berjalan menuju rumah, sementara Reina berjalan di belakangnya, terkadang ia juga ikut bercanda dengan Ryan saat bayi itu menoleh dan memanggilnya.


"Ma...ma...ma..." celoteh Ryan, Reina langsung mendekat dan mencubit pelan pipi putranya.


"Ryan kau tambah ganteng aja, bahkan kau jauh lebih ganteng dari Papamu," cibir Reina karena kesal akan sikap Richie terhadapnya. mendengar itu, Richie menghentikan langkah sambil menatap tajam kearah Reina.


"Apa kau bilang?!" tanya Richie dengan bentakan, dan Reina terkekeh dengan sikapnya.


"Memang iya, Ryan lebih ganteng dari Papanya, Papanya kan sudah tua, tambah keriput tambah jelek!" ledek Reina sambil melangkah mendahului Richie.


"Tuh perempuan lama-lama nyebelin!" batin Richie. Namun, Ryan seperti mengerti apa yang dikatakan Richie sehingga ia menangis.


"Sut, Ryan sut, jangan nangis sayang." Richie mengelus lembut punggung putranya itu, lalu ia segera menyusul langkah Reina.


"Ryan, kau lapar ya, sayang?" tanya Richie berusaha menghibur Ryan tetapi bayi itu malah menangis semakin kencang.


"Reina!!!" teriaknya ketika mereka sudah sampai di dalam rumah.


"Apa sih pake teriak-teriak segala?" tiba-tiba Bu Lily menghampiri, ia terkejut dengan tangisan Ryan yang semakin bertambah kencang.


"Itu Ryan kau apakan sampai nangis begitu?" tanya Bu Lily cemas, Richie tak sempat menjawab pertanyaan sang Ibu, ia lalu naik ke lantai 2 untuk menyusul Reina.


"Reina!!! kau ini budek ya? Dari tadi aku panggil-panggil juga!" Richie bersikap ketus pada Reina.


"Biasa aja dong panggilnya!" Reina memberanikan diri melawan tindakan kasar Richie, ia sebagai seorang istri tak ingin di tindas.


"Eugh!" Richie kembali membelalakan kedua matanya kearah Reina.


"Apa? Kau mau memukulku? silahkan! paling nanti aku laporkan kamu atas tindakan KDRT, mau?!" ancam Reina sambil berkaca pinggang.


Lagi-lagi Bu Lily mencoba menjadi penengah diantara mereka berdua.


"Sudah cukup!!!" teriak Bu Lily mencoba memisahkan keduanya. "kalian ini sudah seperti kucing dan anjing saja!" lanjutnya.


"Habisnya, dia yang mulai duluan!" Richie menunjuk Reina sebagai biang masalah. Namun, Reina tak terima dengan cepat ia menarik dasi yang masih melekat di kemeja Richie, hingga Richie merasa tercekik dengan benda itu.


"Rasain tuh!" pekik Reina yang merasa puas atas tindakannya, Richie dengan cepat menarik lengan Reina dan membawanya masuk kedalam kamar.


Saat itu Richie masih menggendong Ryan yang masih menangis.


"Ih, gak usah di tarik-tarik begini!" pekik Reina karena Richie terlalu kasar menarik perggelangan tangannya.


"Nih, susuin Ryan!" Richie menyerahkan Ryan pada Reina kembali.


"Apa, di susuin?" tanya Reina bingung pasalnya ia tak bisa menghasilkan ASI.


"Kenapa malah bengong begitu?" Richie kembali tersulut emosi sambil terus mengawasi Reina.


"Tapi kan, ASI-ku tidak keluar," jawab Reina, Richie tersenyum menyeringai.


"Masa?" tanyanya, dan Reina mengangguk.


"Coba aku buktikan!" tantangnya, kedua mata Reina langsung membola dengan sempurna.

__ADS_1


"Apa?!" Reina sedikit berada dalam suasana hati yang bingung, tetapi sesudahnya ia tersenyum dan mengangkat bajunya keatas hingga terpampanglah 2 bola berharga yang masih terbungkus bra.


"Apa nih?" tanya Richie pura-pura, Reina menatapnya dengan menggoda.


"Cepat, katanya mau coba!" pinta Reina sambil mengarahkan 2 buah bukit kembarnya yang masih terbungkus.


Richie tertegun mematung selama beberapa saat sambil menelan salivanya dengan susah payah.


"Astaga, apa yang kau lakukan, Reina?!" tanyanya geram, dan Ryan yang sedang merangkak di atas tempat tidur turut menertawakan tindakan kedua orang tuanya yang terbilang konyol.


"Bahaya, ada Ryan," bisik Richie, dengan cepat ia memangku tubuh mungil itu, dan membawanya keluar, lalu menyerahkan Ryan pada sang Ibu.


"Ma, aku titip Ryan," kata Richie, Bu Lily langsung mengambil Ryan dari pangkuannya.


"Pa...pa..." Ryan kembali memanggil saat Richie hendak berlalu dari hadapannya.


"Ryan sama oma dulu ya, sayang," balasnya.


...


Sementara di dalam kamar, Reina merasakan degup jantung yang semakin memacu tak terkendali.


Ia duduk di tepi ranjang menantikan Richie, hingga akhirnya pria itu kembali ke dalam kamar.


Richie berdiri tepat di hadapan Reina, lalu membuka dasi serta anak kancing kemejanya satu per satu.


"Reina," serunya, gadis itu mengangkat wajahnya dengan senyuman.


Tak dapat di pungkiri, Richie kembali terpikat pada pesonanya, meski ingatan yang sebelumnya masih belum pulih.


Ia seperti telah membuka lembaran kisah baru dengan Reina. Namun, rasa cinta itu belum tumbuh yang ada hanyalah dorongan kebutuhan sebagai seorang pria.


Reina masih terduduk dalam gelisah yang menguasai relung hatinya, Richie semakin mendekat, lalu meraih dagunya kali ini dengan lembut dan perlahan.


Reina merasakan deru hembusan napasnya kian terasa hangat, yang sudah sekian lama ia rindukan, kini hadir kembali.


"Sayang," seru Reina lirih, Richie membalasnya dengan kecupan manis sambil menggerakan lidah tak bertulang itu memasuki celah bibirnya yang lembut.


Kedua jemarinya berhasil mengeksplor dan menjamah dua bukit kembar milik Reina yang sudah sekian lama tak tersentuh olehnya.


Reina terlihat sangat pasrah menerima sentuhan yang di berikannya.


"Kau sudah berhasil membuat adik kecilku bangun, Reina. Kau harus bertanggung jawab!" kata Richie, dan Reina mengangguk.


"Dengan senang hati, karena aku adalah istrimu," balas Reina, Richie menatap sambil melempar seringainya mengisyaratkan jika permainan panas akan segera dimulai.


Kecupan dan sentuhan itu semakin gila, Reina tak dapat menahan bibirnya untuk tak bersuara.


"Sayang, pelan-pelan," bisik Reina, ketika Richie tak mampu menahan nafsunya.


"Diam! Aku akan menyiksamu!" kata Richie.


Hasrat keduanya kian menggelora karena sore itu Richie berhasil mengeksekusi Reina dalam buaian cintanya.

__ADS_1


...


Bersambung...


__ADS_2