Permainan Cinta

Permainan Cinta
Dejavu


__ADS_3

Richie tak menanggapi sapaan itu, ia lebih memilih kembali fokus menyantap hidangannya.


"Sayang..." seru Reina yang sejak tadi belum di jawab, Richie yang sedang asyik makan langsung mengangkat wajahnya dengan gerakan angkuh.


"Apa sih?!" tanya Richie malas, sementara tingkah Ryan yang ceria di lahunan Reina mampu menyita perhatian Richie, hingga Richie tersenyum kepada putranya.


"Ryan, kau sudah makan?" tanya Richie sembari memasang ekspresi wajah lelucon untuk membuat Ryan tertawa.


Alhasil, bukan hanya Ryan yang tertawa melihatnya, semua orang ikut terbahak-bahak, karena mereka tak menyangka Richie bisa sehumoris ini.


Reina terus memperhatikan gerak suaminya sambil menyantap hidangan berkuah itu, sampai-sampai Richie tak sadar jika makanannya sudah habis, sehingga ia memasukan sendok yang sudah kosong ke mulutnya.


Reina terkekeh melihat kekonyolan suaminya, hal itu membuat Richie yang salah tingkah berpura-pura menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Mau tambah lagi?" tawar Reina. Tanpa menjawab, Richie meraih centong dan menyendok wantan dari dalam panci kecil, ia tuangkan kedalam mangkuk.


"Katanya masakanku gak enak," cetus Reina, Richie terus melahap sambil memutar kedua matanya jengah kearah Reina.


"Emang, masakanmu itu sangat jauh dari kata enak!" balasnya, membuat Bu Lily dan Pak Marthin saling lirik dan menggelengkan kepala.


"Tidak enak, kok nambah?" celetuk Pak Marthin, Richie bagai mendapat skak mat atas pertanyaanya.


"Ya terpaksa, aku kan harus menghargai Reina," jawabnya.


"Huh, ngeles aja bisanya!" timpal Bu Lily sambil menyenggol lengan suaminya menggunakan sikut.


Suasana pun menjadi semakin hangat dan ceria pada malam itu.


Sesudah menyantap hidangan makan malam, keluarga yang tengah berbahagia itu berkumpul di ruang keluarga.


Ryan duduk di lahunan Ibunya, sementara Richi tak henti-hentinya memberikan candaan jenaka, tingkahnya berhasil membuat Ryan tertawa ceria.


Reina tersenyum dan terus memangku tubuh putranya. "ya Tuhan, aku harap keadaan bisa terus seperti ini. Biarpun suamiku belum membuka hati untukku, tapi aku bahagia melihat mereka berdua bersatu," batin Reina sambil menatap dua lelaki yang di cintainya yakni Richie dan putranya, Ryan.


"Richie," seru Bu Lily, Richie dengan cepat merespon panggilan sang Ibu. "ya, Ma?"


"Kau jangan biarkan Reina tidur di luar, kalian ini suami istri, jadi musti tidur berdua." Bu Lily menatap Richie dengan serius, Richie terdiam dan berdecak kesal, tampaknya ia sedikit keberatan dengan perintah Ibunya.


"Aku tidur dengan Ryan aja mah," kata Richie dengan enteng.


"Terus kalau Ryan nangis karena butuh aku, gimana?" tanya Reina, Richie merasa tak ingin berdebat dengan kedua wanita berbeda generasi itu.


"Ya sudah, iya aku nanti tidur dengan Reina!" ujar Richie ketus.


"Yang ikhlas dong!" sindir Bu Lily.


"Dasar, dua emak-emak bawel!" batin Richie, ia yang merasa tak nyaman langsung beranjak menuju ke kamarnya.


"Reina, cepat susul suamimu!" titah Bu Lily, Reina mengangguk, kemudian melangkah menyusul Richie ke kamar.


Saat Richie hendak menutup pintu, Reina berusaha menahan.


"Aku mau masuk juga." Reina menerobos, hingga keduanya berdiri di hadapan satu sama lain, jarak mereka hanya sebatas beberapa langkah.


Richie mengawasi gerakan Reina, membuat gadis itu sedikit canggung seperti baru merasakan awal cinta pada pandangan pertama.


"Kok, rasanya lain, ya," batin Reina ketika kedua mata Richie terus menyorot kearahnya.

__ADS_1


"Kemari!" Richie membawa Reina kedalam pelukan, lalu menutup pintu.


Tak dapat di pungkiri, Richie merasakan ketentraman saat mendekap tubuh istrinya, begitu juga dengan Reina, ia meraskan kehangatan dan aroma tubuh pria yang sangat di cintainya.


"Kok aku jadi deg-degan begini?" gumam Richie dalam hati, seakan semua yang ia lakukan di bawah kesadarannya.


Setelah merasakan kesadaran penuh, ia dengan cepat menghempaskan tubuh Reina.


"Astaga, apa-apaan aku ini? Kok, aku bisa sampai berpelukan dengannya?" Richie tak habis pikir, pasalnya semenjak sembuh dari koma ia sering terperangkap dalam dejavu yang sulit diartikan oleh tubuhnya.


Richie merasa bingung dengan dirinya sendiri. Ia tidak bisa memahami mengapa Ia begitu terpengaruh dan terdorong untuk mendekap Reina. Perasaan ini begitu kuat, meskipun ia masih merasa ragu untuk melakukannya.


Sementara, Reina melihat ada keanehan dalam diri suaminya, tetapi ia tak ingin terlalu menekannya, ia membiarkan semua berjalan dengan semestinya.


"Tuhan, pulihkanlah kondisi ingatan suamiku," batin Reina, kini ia terpaku, sementara Richie duduk di tepi tempat tidur sambil memegangi kepalanya yang terasa pening bekas luka operasi.


Ia merasa seolah-olah sedang hidup dalam kenangan yang kabur dan tidak lengkap, dan itu membuatnya semakin frustasi, dan memicu suasana hati secara random.


Reina duduk di samping suaminya, lalu mengusap punggung Richie secara perlahan.


"Aku tahu ini sulit bagimu, kau jangan terlalu memaksakan untuk membuka ingatan masalalumu," kata Reina dengan bijak, Richie langsung menegakan posisi duduk dan memandang Reina di sebelahnya.


"Apakah aku pernah mencintaimu?" tanya Richie, Reina mengangguk dan tersenyum tipis.


"Ya, itu benar. Kita pernah saling mencintai, dan itulah pertama kita melakukan..." ujar Reina yang tak melanjutkan perkataanya, karen ia merasa Richie pahan maksudnya.


"Tapi, sekarang aku tak bisa mengingat semuanya, aku sama sekali tak ada rasa padamu, Reina!" kilah Richie, karena semakin ia berusaha untuk membangkitkan rasa cintanya kembali, semua semakin menyulitkan.


Reina terisak sambil mendekap tubuh suaminya yang sedang bingung, dengan cepat Richie melepas dekapan Reina.


"Baiklah, aku minta maaf," kata Reina, Richie langsung merobohkan tubuhnya keatas pembaringan dengan pandangan kosong, sepertinya ia sedang berusaha membuka ingatannya kembali.


Reina tak ingin mengusiknya kali ini, ia beranjak, dengan cepat Richie kembali memanggil, "Reina!!!"


"Ya," Reina menoleh.


"Tolong, bawa Ryan kemari!" titahnya, Reina mengangguk dan segera memenuhi permintaan itu. Ia tahu bahwa saat-saat bersama putra mereka adalah momen yang paling berharga. Reina membawa Ryan masuk ke kamar, dan si kecil dengan senang hati menghampiri ayahnya.


"Ryan, hei, jagoan Papa yang paling ganteng." Richie menyambut putranya dengan hangat, lalu membaringkannya, karena Ryan sudah mulai mengantuk.


Reina tersenyum penuh kebahagiaan saat melihat putra mereka, Ryan, yang terbaring di antara mereka. Mereka adalah kedua orang tua yang utuh bagi si kecil Ryan, dan saat itulah Richie merasakan betapa berartinya memiliki seorang putra yang mewarisi ketampanannya.


Dengan penuh kasih sayang, keduanya secara kompak mencubit pelan pipi putranya pelan karena gemas. Ryan kembali terbangun langsung tertawa riang merasakan cinta dan perhatian dari kedua orang tuanya.


"Pa...pa..." Ryan menatap wajah Richie dengan polosnya, lalu tatapan itu beralih pada sisi kirinya tepat Reina berada saat itu. "Ma..ma..."


"Apa, cayangku yang ganteng?" tanya Reina sambil mengecup kening Ryan.


Richie mengambil mainan pesawat kecil, lalu ia melakukan gerakan seolah-olah sedang bermanuver di udara.


"Neng....ngeng...." kata Richie dengan imajinasi tinggi, membuat Ryan tertawa riang gembira.


Hingga akhirnya Ryan tidur, begitu juga dengan Richie yang kelelahan usai menghibur putranya.


Richie tidur dengan posisi menyamping seakan sedang melindungi Ryan.


"Dia begitu tampan," batin Reina saat menatap dalam-dalam wajah suaminya yang begitu damai saat tertidur.

__ADS_1


Reina perlahan bergerak, dan mengecup pipi suaminya dengan lembut, lalu kecupan itu beralih, kali ini mengecup pipi dan kening putranya, setelah itu ia ikut berbaring sambil memeluk tubuh putranya.


***


Tibalah keesokan paginya, Reina bangun lebih awal.


Kali ini ia merasa Ryan jauh lebih tenang, sehingga ia tak begitu terganggu, karena Ryan tenang dalam dekapan ayahnya.


Reina kembali mengembangkan senyuman melihat dua orang yang sangat di cintainya masih terjaga.


Reina merasa harus melakukan kewajibannya sebagai seorang istri dan juga seorang ibu, Ia langsung berjibaku dengan urusan perdapuran pada pagi hari itu.


Meski ada beberapa maid yang bersedia membantu tugas-tugasnya, tetapi ia ingin melakukannya sendiri. ia ingin melayani suaminya dengan totalitas tanpa campur tangan para maid.


"Duh, menantu Mama pagi-pagi sudah sibuk di dapur," kata Bu Lily yang saat itu hendak menyiapkan sarapan untuk suaminya.


"Iya ni, Ma," jawab Reina, ia begitu gesit menata semuanya.


"Udah Ma, biar aku saja yang mengerjakan," kata Reina berupaya mengambil alih pekerjaan Mama mertuanya.


"Udah biarin, kau siapin untuk Richie, dan Mama siapin untuk Papa," tolak Bu Lily, Reina mengangguk sepakat.


...


Hingga pada akhirnya Richie terbangun, ia heran saat melihat baju kerjanya sudah di persiapkan dengan rapih. Namun, ia tak begitu peduli.


Setelah menyiapkan sarapan, Reina kembali ke dalam kamar untuk mengambil Ryan, karena ia mendengar tangisannya.


Dengan sigap, Reina segera mengurusi keperluan putranya.


***


Singkat cerita, seusai menikmati sarapan, Richie dan Pak Marthin menjalankan rutinitasnya.


Richie pergi ke kantor cabang, sedangkan sang Ayah mengurus kantor pusat. Mereka adalah mitra kerja yang sangat baik di luar jam keluarga. Keduanya pergi ke tempat masing-masing untuk menjalankan tugas-tugas yang telah menjadi bagian penting dalam hidup mereka.


Tiba-tiba, tanpa sengaja saat di perjalanan menuju ke kantor yang tinggal beberapa jarak. Richie tak sengaja menyerempet seorang wanita, dan wanita itu tak asing lagi baginya.


Dengan cepat, ia keluar dari dalam mobil untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.


"Aduh," wanita itu mengeluh karena cedera kecil tepat di bagian lututnya.


"Maafkan saya," kata Richie menyesal, wanita itu menoleh dan tersenyum.


"Hai, Pak Richie," sapanya.


"Eh, kau," balas Richie yang sudah mengenal sosok wanita tersebut.


"Maafkan saya karena sudah tak sengaja menyerempetmu," ucapnya lagi, wanita itu kembali tersenyum dan berusaha bangkit tetapi kesulitan, hingga reflek Richie meraih pinggangnya.


"Hati-hati," ujar Richie, sedikitnya agak risih dengan situasi saat ini. "oya, kau sekretaris baru saya, kan?" tanyanya mencoba memecah keheningan.


"Ya," jawabnya, lalu wanita itu mengulurkan tangan. "saya belum memberi tahu nama saya pada Bapak. Jadi, perkenalkan nama saya Elvina," ucapnya memperkenalkan diri.


...


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2