
Anisa begitu peduli kepada Reina, ia sudah menganggapnya seperti adik sendiri.
Tetapi tidak dengan Romlah, ia yang melihat Reina tengah menangis merasa puas dan bersorak tepuk tangan dalam hati. "Huh, rasain, emang enak!" batin Romlah dengan lirikan jahat pada Reina. Namun, Reina tak begitu mempedulikannya karena ia sudah hafal tabiat Office Girl satu ini.
Reina mencurahkan semua penat dalam hatinya pada Anisa, dan Anisa senantiasa memberikan masukan-masukan positif, dan bersedia untuk memantau aktifitas Elvina bersama Richie.
"Aku mohon ya Bu," kata Reina menatap Anisa penuh keresahan, dan Anisa menganggukan kepala.
"Ya Reina, saya akan melakukannya sebisa saya, kau jangan khawatir ya." Anisa kembali mendekap Reina dengan penuh kasih sayang.
...
Sementara, Elvina saat itu masih berada di ruangan Richie.
Ia menggunakan berbagai macam cara untuk menarik simpatiknya dan membuat Richie semakin membenci istrinya, Reina.
"Kau lihat kan barusan?" Elvina mencoba kembali mengingatkan Richie akan amukan Reina yang membabi buta.
"Ya, maafkan sikap istriku," balas Richie, Elvina kembali bermanja-manja di bahu lelaki itu sambil melinting dasi yang di kenakan Richie dengan gerakan pelan.
"Tidak ada alasan kau bertahan dengannya, sebaiknya kau ceraikan saja dia!" bisik Elvina.
Mendengar kalimat 'cerai' kedua mata Richie langsung membola, karena ia tak sampai berpikir sejauh itu.
"Apa? cerai?" Richie menoleh kearah Elvina, dan ia mengangguk manja.
"Ya, kau segeralah ceraikan dia, dan menikah denganku. Tidak mungkin kan kau punya dua istri?" Elvina terus berusaha meracuni pikiran Richie.
"Aku tidak mungkin bisa menceraikannya, Elvina. Dia itu ibu dari anakku, Ryan." ucap Richie dengan tegas, Elvina langsung bangkit dan merajuk.
"Oh, jadi kau masih cinta padanya?! Jadi, aku ini kau anggap apa?! Tidakkah kau ingat? kau sudah menghancurkan masa depanku, dan kau lebih memilih penjahat itu?" cerocos Elvina, membuat Richie terdiam sesaat dan berpikir sehingga rasa sakit di kepalanya kembali menjalar.
"Cukup Elvina, cukup!" bentak Richie sambil memegangi kepalanya yang terasa sakit bekas luka operasi. "sebaiknya kau keluar, biarkan aku sendiri!" lanjutnya.
Elvina mencebik bibirnya, lalu keluar sambil menghentakan kedua kakinya kesal.
"Awas ya, kalau kau sampai ingkar janji, kau akan terima akibatnya!" ancam Elvina sambil menunjuk Richie.
...
Kini Richie sendirian di ruangannya sambil menahan rasa sakit di belakang kepalanya.
"Mengapa semakin aku mencoba mengingat semuanya, rasanya semakin sakit dan tak nyaman!" gumamnya dengan emosi.
Sampai-sampai pandangannya berkunang-kunang. Namun, ia berusaha untuk rileks dan tak terlalu keras mengingat separuh kenangan masalalunya yang kabur.
"Apa aku salah sudah kasar terhadap Reina?" batinnya dengan rasa bersalah, tetapi pikirannya kembali di kuasai oleh ucapan-ucapan Elvina yang berhasil mempengaruhinya.
__ADS_1
"Ya, dia itu jahat, untuk apa juga aku merasa bersalah? toh, aku tidak salah, karena dia pantas di perlakukan seperti itu!" batin Richie dengan seringai yang terbit di sudut bibirnya.
...
Saat pulang, Elvina meminta Richie untuk mengantarkannya.
"Kau memangnya tidak bawa mobil?" tanya Richie, dan Elvina menggeleng.
"Mobilku sedang di servis, sayang." Elvina memeluk lengan Richie manja.
"Antarkan aku pulang, ya," pintanya, Richie mengangguk dengan cepat. "Baiklah, ayo!" ajak Richie, dan mereka jalan beriringan menuju basement.
Mereka masuk ke dalam mobil Richie, dan selama perjalanan, suasana terasa agak canggung. Richie merenung sejenak, memikirkan pertengkaran dengan Reina tadi siang.
Elvina mencoba mengalihkan perhatian Richie. "Sayang, aku tahu kita punya banyak masalah, tapi aku harap kita bisa melupakan semuanya dan bersenang-senang bersama."
"Ya, kau benar," balas Richie, sesekali memijit pelipisnya saat mengemudi.
...
Tak beberapa lama, keduanya sampai di tempat tujuan, lebih tepatnya di depan kontrakan Elvina.
Perempuan itu sejenak melirik kearah Richie sambil membuka safety belt.
"Ayo turun!" ajaknya sedikit memaksa, awalnya Richie menolak karena saat itu sudah pukul 10 malam.
"Ayolah, kau mampir dulu! kau juga bisa menginap di tempatku kalau kau ingin," ajaknya, kali ini terus memaksa.
"Aku tidak bisa menginap di tempatmu. Maaf, aku punya keluarga, dan aku juga sangat merindukan anakku, Ryan." Richie berusaha menolak dengan berbagai alasan, tetapi Elvina terus memaksa dengan berbagai upaya.
Sampai akhirnya Richie mengangguk mengikuti apa maunya. "Baiklah, tapi aku tidak bisa berlama-lama, kasihan Ryan, dia pasti sudah menungguku."
"Astaga, Ryan itu kan masih kecil, mana mungkin dia menunggumu selarut ini!" bibir Elvina langsung mengerucut.
"Tapi Ryan selalu menungguku, Elvi! dia tak akan tidur sebelum aku pulang," terang Richie, dan Elvina seolah tak mempedulikan kata-katanya.
Keduanya melangkah menuju rumah, dan Richie langsung mendaratkan bokongnya diatas sofa.
Kedua matanya mengedar ke berbagai sudut ruangan tersebut.
Elvina menyewa rumah di sebuah perumahan elit, dan tentu saja bayaran perbulannya sangat menguras isi dompet.
Perempuan itu segera mengambilkan minuman untuk Richie, lalu kembali sambil menaruhnya diatas meja, setelah itu ia duduk dengan jarak yang sangat dekat sehingga kedua gunung kembarnya menempel dengan dada Richie.
"Sayang." Elvina mendekap tubuh Richie, dan Richie yang merasa risih mencoba melepas dekapan Elvina.
"Elvi, aku mohon, kita jangan seperti ini!" tolak Richie, kini duduk sedikit berjarak dengan Elvina.
__ADS_1
"Kau tak usah munafik!" Elvina membelai lembut wajah Richie dan berusaha mendaratkan kecupan disana. Namun, lagi dan lagi, Richie berhasil menepisnya.
"Elvi!" bentaknya, tetapi Elvina tak mengindahkan seruannya.
Elvina membuka blazer yang masih melekat di tubuhnya, lalu membuka anak kancing kemejanya satu persatu di hadapan Richie.
"Apa yang akan kau lakukan?!" Richie semakin gelisah dan geram, entah mengapa meski Elvina cantik dan memiliki bentuk tubuh aduhai, Richie sama sekali tidak tergugah sedikitpun.
"Kau tak usah berpura-pura." Elvina menatap Richie penuh goda dan rayu, hingga seluruh kain yang melekat di tubuhnya terlepas, ia kini polos di hadapan Richie.
"Kau ini tidak waras!" Richie beranjak dari duduknya, dan berusaha keluar dari rumah Elvina, dengan cepat perempuan itu menarik lengannya.
"Apa kau tak ingin menyentuhku?" Elvina dengan berani menawarkan diri, Richie menggeleng dengan wajah datar.
"Lepas, Elvina!" Richie berusaha melepaskan genggaman tangannya.
"Bukankah kau pernah menyentuhku waktu itu?" Elvina merengek manja, membuat Richie mendengus karena tak ingat.
"Bagaimana bisa aku melakukannya? sementara aku tak berhasrat sedikitpun," batin Richie sambil menatap tubuh polos Elvina.
Jika saja pria itu bukan Richie, mungkin Elvina sudah menjadi santapan nikmat malam itu. Tetapi sayang, Richie tak tergoda melihat keindahan tubuh Elvina, ia malah balik ilfeel dibuatnya.
"Elvi, biarkan aku pulang!" Richie bersikeras untuk keluar dari rumah kontrakan Elvina meski perempuan itu terus menahannya.
"Tidak! kau harus menemaniku malam ini!" paksa Elvina.
"Elvina, kau ini sudah gila?! aku punya anak yang sedang menantikanku di rumah!" bentak Richie.
"Baiklah, tapi ingat! kau jangan pernah ingkari janjimu, kau harus menikahiku!" ancam Elvina, Richie semakin terjebak dengan kata-katanya, terlebih Elvina menyimpan photo itu di ponselnya sehingga Richie tak mampu mengelak.
"Iya, aku akan tanggung jawab! tapi tidak sekarang, please!" kata Richie sambil menggenggam handle pintu dan bersiap untuk keluar.
...
Saat di perjalanan pulang, Richie menyetir sambil melamun memikirkan, "apakah aku pernah menyentuhnya?" batin Richie bertanya-tanya.
Ia berusaha tenang dan fokus menatap jalan.
Sejatinya, ia tak suka perempuan yang bertingkah agresif, terlebih Richie tak ada minat sedikitpun pada Elvina.
Ia melakukannya karena di hantui rasa bersalah dan ancaman Elvina.
"Tapi, aku harus belajar mencintainya," gumam Richie sambil menghela napas kasarnya dalam-dalam.
Kehidupan rumah tangganya dengan Reina masih dalam keadaan bergejolak, dan ia merasa bertanggung jawab untuk memperbaikinya, tetapi ia juga bingung menyikapi Elvina.
...
__ADS_1
Bersambung...