Permainan Cinta

Permainan Cinta
Emosi


__ADS_3

Sementara, di tempat lain, Richie bertemu dengan Elvina di sebuah restoran biasa.


Richie melihat, kali ini Elvina mengenakan masker hitam yang menutupi area hidung dan bibirnya.


Elvina saat itu membawa seorang petugas dari Wedding Organizer (WO) yang akan membantu mengatur acara pernikahan mereka berdua nanti.


Ketika tiba di restoran, Richie disuguhi sebuah buku besar yang berisi berbagai tema acara pernikahan. Elvina dengan antusias memilih tema yang ia inginkan, dan Richie hanya bisa melihat dengan agak tidak bersemangat. Meskipun harga paket pernikahan yang ditawarkan sangat fantastis, Richie tampaknya tidak mempermasalahkannya.


"Ya, terserah kau saja," kata Richie dengan nada yang agak acuh. Ia tidak ingin terlalu dipusingkan oleh detail-detail perencanaan pernikahan, dan ia merasa lebih tertarik untuk menyelesaikan konflik dengan Reina.


Setelah selesai berbicara dengan petugas Wedding Organizer yang bernama Rudy, ia pun berpamitan kepada Richie dan Elvina. "Terima kasih banyak, semoga semua rencana kalian berjalan dengan lancar sampai hari H," ucap Rudy dengan ramah.


Richie menjawab, "Tentu, terima kasih atas bantuannya."


Setelah Rudy pergi, Richie dan Elvina kembali duduk bersama di meja nomor 4 di restoran tersebut. Suasana mereka tampak tenang.


Richie menikmati minumannya yang telah dipesan oleh Elvina sejak tadi. Saat ia memperhatikan Elvina yang masih mengenakan masker, muncul keinginan untuk melihat wajahnya.


"Coba buka maskermu! aku ingin lihat wajahmu!" pinta Richie, membuat Elvina agak gugup dan enggan melakukannya. Ia mencoba mencari alasan, "Emm... eh..." Elvina meraba belakang tengkuknya seolah-olah sedang gatal, tetapi Richie mulai merasa kesal karena Elvina tampak menghindari perintahnya.


"Kenapa?!" Richie berseru dengan suara yang meninggi, dan Elvina hanya bisa geleng-geleng kepala pelan sebagai tanggapan. Namun, kesal dengan situasi ini, Richie akhirnya mengambil inisiatif dan membuka masker Elvina dengan paksa.


Richie sangat terkejut ketika melihat kondisi wajah Elvina yang sebenarnya. Ia melihat bibir dan hidung Elvina membengkak dan memerah, bahkan terlihat gumpalan nanah di sekitar ujung hidungnya yang merah.


"Apa yang terjadi dengan wajahmu?" Richie meringis ngeri saat melihat kondisi tersebut, membuat Elvina dengan cepat menutupinya kembali dengan masker.


"Emh... ini hanya... ini... ehmm... hanya terkena iritasi karena alergi," dalih Elvina, meskipun sebenarnya ia adalah korban malpraktik dari seorang dokter di klinik kecantikan langganannya.


Kini, Richie terjebak dalam dilema. Dia sudah berjanji kepada Elvina untuk menikahinya, tetapi melihat kondisi wajah Elvina yang mengerikan, membuatnya merasa ragu.


Richie sangat tidak nyaman dan mual melihat kondisi wajah Elvina. Ia menggelengkan kepala dengan rasa jijik dan memutar kedua matanya dengan malas saat memandang Elvina.


"Sayang, ini akan sembuh, hanya perlu dikompres saja." Elvina mencoba merayu Richie sambil meraih lengannya, tetapi Richie dengan cepat menghindar.


"Kau seharusnya mengobati infeksi itu! Lihatlah, wajahmu telah menjadi mengerikan seperti monster!" Richie menyindir dengan nada yang penuh kejengkelan.


Elvina mencoba meyakinkan Richie, "Aku akan berusaha mengobati wajahku," tetapi Richie tetap skeptis, "Aku tidak yakin wajahmu akan sembuh dalam waktu cepat."

__ADS_1


Elvina mencoba mencari solusi dengan berkata, "Semuanya bisa diakali dengan make-up, sayang!" Tetapi Richie dengan jujur menyatakan, "Ya, memang bisa, tetapi aku tidak nyaman melihatmu seperti ini. Jujur, aku merasa sangat jijik!"


Komentar jujur Richie membuat Elvina merasa terluka dan marah.


Richie dengan keras menolak rayuan Elvina. "Aku mau pulang, aku malas lihat muka kamu yang rusak!" ucapnya dengan nada pedas, tanpa perduli dengan usaha Elvina yang terus mencoba meyakinkannya.


Richie beranjak setelah menghabiskan sisa minumannya. "Sayang, kau mau kemana?" Elvina berusaha melarang Richie yang tampak tergesa-gesa, tetapi lelaki itu dengan kasar mendorongnya. "Minggir! Jangan halangi aku!" kata Richie sambil melanjutkan langkahnya menuju pintu keluar, meninggalkan Elvina yang kesal dan putus asa di tempat.


Elvina berteriak emosi, dan orang-orang menatapnya dengan aneh, memperhatikan kejadian yang sedang terjadi. Kemarahannya tidak terbendung membuatnya semakin frustasi.


Richie langsung memacu mobilnya untuk kembali ke mansion. Di satu sisi, ia teringat kepada Reina dan rasa bersalah yang mendalam karena tak mengindahkan keinginannya.


Di sepanjang jalan, ia terus teringat pada kesalahannya. Namun, ia terlalu gengsi untuk menghubungi Reina terlebih dulu.


"Dia sudah pulang atau belum, ya?" gumamnya dalam diam.


Tak beberapa lama, ia sampai di kediamannya, dan langsung menepikan mobil di dalam garasi. Ia bergegas masuk kedalam rumah. Di ruang utama, ia menyaksikan kejadian yang tak pernah ia duga sebelumnya. Beberapa orang tampak sedang memegangi Reina yang tengah mengamuk. "Apa yang terjadi?" tanya Richie panik, Reina terus meraung-raung. Pada saat itu, Reina sedang mengalami kondisi emosional yang berlebihan, sehingga ia tak bisa memendamnya terlalu lama. "Reina, sadarlah, Nak." Bu Lily berusaha menyadarkan menantunya yang sedang mengamuk seperti kerasukan.


Richie dengan refleks mendekati kerumunan orang yang berusaha meredakan Reina dan memberikan pelukan penuh ketenangan. Ia mencoba menenangkan istrinya yang masih dihantui emosi yang berlebihan. Reina merasakan kehadiran dan pelukan Richie, tetapi ia masih terlalu terguncang untuk segera mereda.


Reina memukul-mukuli punggung Richie sekuat tenaga. "Kau jahat! Kau suami tak berperasaan! Aku benci!" Reina mengatakannya dengan marah. "Reina sadarlah sayang, aku akui aku sudah bersalah. Mohon ampuni aku, aku akan mengurungkan niatku, aku tak akan menikahi Elvina, aku janji!" kata Richie dengan suara rendah berusaha meredakan situasi.


Richie kembali memeluknya selama beberapa detik, hingga Reina terlelap dalam pelukannya. Setelah itu, Richie memangku tubuh Reina dan membaringkannya di atas tempat tidur. "Maafkan aku, ya." Ia meraih lembut jemari Reina sambil mengusap rambutnya. Reina sudah menutup kedua matanya. Namun, isakannya masih terdengar.


Setelah merawat Reina, ia kembali berbicara. "Aku janji, Reina, aku tidak akan menikahi Elvina. Kamu adalah yang paling penting dalam hidupku. Maafkan aku." Richie menunggu sambil mengusap perlahan tangan Reina yang masih gemetar.


Richie terdiam beberapa saat menunggu respon dari Reina. Namun, tampaknya ia sudah mulai tenang, sehingga Richie memutuskan untuk keluar dari kamar.


Ia terduduk diatas sofa sambil menghela napas panjang merenungi semua yang sudah terjadi pada dirinya.


Ia terdiam sambil mengusap kasar wajah dan rambutnya yang sudah basah oleh keringat keputus asaan.


Di tengah kebimbangan, ia meraih minuman beralkohol lalu meneguknya berkali-kali sampai pandangannya kabur dan pusing.


Richie melihat beberapa pesan dan panggilan tak terjawab berbaris di beranda ponselnya, dan itu semua adalah Elvina.


"Dasar iblis!" umpat Richie sambil melempar ponselnya karena geram akan perbuatan Elvina.

__ADS_1


Disaat dirinya tengah mabuk, ia kembali kedalam kamar.


Ia melihat Reina tengah menangis sambil memeluk lutut diatas tempat tidur, Richie tersenyum miring kearahnya.


"Sayangku, Permaisuriku," rancau Richie yang tengah mabuk berat, lalu menghampirinya secara perlahan.


Reina mengangkat wajah kearahnya, dan Richie kembali memeluknya.


"Ayo kita bermain sayang," ajaknya sambil melepas pakaian yang masih melekat di tubuh Reina, ia pun sepertinya tak menolak.


Malam itu mereka kembali melakukannya, saling merasakan tubuh masing-masing, dan mencurahkan kasih sayang yang sempat memudar.


Richie tak dapat melepas pelukannya walau sebentar, rasa bersalahnya begitu besar, hingga keduanya terlelap setelah mencapai titik pelepasan yang begitu nikmat.


Richie tiba-tiba merasakan sensasi aneh yang menghantam pikirannya, ia mendapatkan potongan ingatannya yang kabur.


Saat itu pula, ia semakin erat memeluk tubuh Reina yang masih polos.


"Reina, aku sangat mencintamu," rancaunya saat kedua matanya masih terpejam.


"Aaaa...tidaaakkk!" Ia berteriak, ketika separuh ingatannya melayang terbawa dalam peristiwa pembegalan yang mengakibatkan dirinya koma.


Lalu ia terbangun dengan napas yang terengah-engah sambil memegangi belakang kepalanya.


"Arrg!" Richie kembali berteriak dengan amarah, kali ini amarah kepada para penjahat yang sudah membuatnya celaka.


"Kau kenapa?" Reina terbangun mendengar suara teriakan suaminya, Richie kembali melirik kearahnya, lalu memeluknya berkali-kali dengan rasa haru.


"Sayang, aku sangat merindukanmu," kata Richie dengan antusias, Reina keheranan melihat perubahan suaminya yang begitu drastis.


"Penjahat itu sudah membuat kepalaku cedera!" ungkapnya mengingat peristiwa saat itu.


Reina bahagia menyadari ingatan suaminya sudah kembali, ia tak henti-hentinya mengucap syukur.


Namun, mereka harus menghadapi ancaman yang lebih berbahaya.


...

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2