Permainan Cinta

Permainan Cinta
Penggoda


__ADS_3

Reina tak kuasa melihat ketidak berdayaan pada diri Melvin, Julia terus saja mencaci maki suaminya di depan umum tanpa rasa malu.


Semua rekan kerja seprofesi Melvin tertegun, tetapi mereka tak dapat berbuat banyak untuk ikut campur dalam masalah rumah tangga antara Melvin dan istrinya, Julia.


"Awas ya, kalau sampai kau tak mendapat uang banyak, jangan harap pintu rumah akan terbuka!" ancam Julia dengan suara yang sangat keras, Melvin tak mampu melawan amarah istrinya, karena ia berpikir itu tak baik untuk kondisi Julia yang sedang mengandung buah hati mereka.


"Iya, aku akan berusaha!" balas Melvin dengan penekanan. Setelah puas memaki Melvin, wanita itu berbalik dan pergi dengan rasa kecewa.


Sementara itu, Melvin kembali fokus dengan pekerjaanya. Reina yang tak tega, ia langsung menitikan air mata. Namun, ia tak ingin berbicara dengan Melvin kalau bukan karena hal mendesak.


...


Beberapa saat kemudian, motor Reina berhasil di betulkan.


"Rein," seru Melvin lirih, Reina menoleh kearahnya dengan mata sembab.


"Ya, Vin, sudah selesai?" tanya Reina, Melvin mengangguk sambil menyeka keringat di dahinya.


"Ya." Melvin mengangguk, Reina menatap nanar kearahnya, ia menjaga air matanya untuk tidak jatuh di hadapan Melvin.


Reina segera menyodorkan uang untuknya. "Nih bayarannya," kata Reina, kedua mata Melvin membola ketika Reina memberikan jumlah uang yang cukup besar. "Rein, ini kebanyakan." Melvin berupaya mengembalikan sisa uang tersebut setelah ia mengambil haknya.


"Tidak apa-apa, Vin, terima saja, aku ikhlas," ujar Reina yang memaksa Melvin untuk menerima uang tersebut.


"Tapi..." kata Melvin, Reina langsung memotong.


"Sudah, ambil saja!" sambung Reina memaksa, sampai akhirnya Melvin menerimanya dengan haru.


"Terimakasih, Reina," ucap Melvin sendu, Reina mengangguk. "ya, sama-sama, Vin." Reina kembali mengenakan helm, lalu menyalakan mesin motornya.


"Kalau begitu, aku permisi dulu ya, Vin," pamitnya, dan Melvin menganggukan kepala. "Ya, kau hati-hati di jalan ya, Rein," balasnya.


Reina langsung tancap gas menuju perusahaan suaminya, di sepanjang jalan ia terus memikirkan kehidupan Melvin yang begitu memprihatinkan.


Meski Melvin memilliki kesalahan padanya di masalalu, tetapi Reina sudah lama melupakannya, dan ia sudah memaafkannya juga.


"Ya Tuhan, berilah kehidupan yang sejahtera untuk Melvin dan keluarga kecilnya." Reina berharap, sedikitnya hati nuraninya tergerak mendoakan yang terbaik bagi Melvin, mantan kekasihnya di masalalu.


...


Tak beberapa lama, ia sampai di perusahaan, setelah memarkirkan motor maticnya, ia bergegas untuk menemui Richie di ruangan pribadinya.


Kehadiran Reina mendapat sapaan hangat dari semua karyawan, dan hanya segelintir orang yang usil karena mereka merasa jika Reina beruntung bisa menikah dengan Richie.


"OKB, alias orang kaya baru!" celeuk Romlah yang saat itu sedang memandanginya tepat depan pintu menuju pantry, ucapannya tak sengaja di dengar oleh Ato. "Hus! kalau terdengar sama orangnya, bagaimana?! kau mau sampai di adukan sama Pak Richie, terus di pecat!" Ato membelalakan kedua matanya pada Romlah.


Wanita itu langsung melirik sinis pada Ato, dan tanpa menanggapi peringatannya, Romlah pergi dari hadapan pria itu.


"Hai, Bang Ato," sapa Reina dengan ceria, Ato tersenyum ramah padanya.


"Hai juga, Bu Reina," balas Ato, mendengar sapaan baru untuknya, membuat Reina terkekeh.

__ADS_1


"Lah, kok aku jadi di panggil Ibu, sih?" protes Reina, karena ia merasa belum pantas mendapat sapaan itu mengingat usianya masih sangat muda, dan karena Reina mantan Office Girl juga disana.


"Itu kan panggilan formal, Bu," jawab Ato, dan Reina mengangguk.


"Hmm, baiklah Bang, semangat ya kerjanya." Reina terus melangkah menuju ke ruangan suaminya.


Saat Reina membuka pintu, ia di kejutkan dengan kedekatan Richie dan Elvina, sekretaris barunya.


Saat mendengar derit pintu terbuka, keduanya menoleh secara serentak.


Saat itu, Elvina sedang berdiri di sebrang meja dengan posisi tubuh sedikit agak membungkuk tepat kearah Richie yang tengah duduk di kursi kebesarannya. Belahan dada Elvina yang montok nyaris terlihat dengan jelas di balik pakaian dasarnya yang ketat.


Reina terhentak ketika melihat pemandangan tersebut, dengan cepat, Elvina menegakan tubuhnya dan melayangkan senyuman sedikit sinis pada Reina.


"Sayang," seru Reina pada Richie.


"Ck! apa sih?!" Richie saat itu tengah fokus menatap berkas-berkas yang baru saja di berikan oleh Elvina.


Reina langsung menghampiri suaminya, sambil membalas tatapan sinis yang di layangkan Elvina.


"Dia siapa, sih? kok penampilannya seperti itu!" batin Reina menatap heran karena pakaian Elvina tak sangat tak pantas dan terkesan murahan.


Begitu juga dengan Elvina, ia menggerutu dalam hati ketika melihat penampilan Reina yang terkesan biasa saja, sangat berbeda jauh dengannya.


Karena, Reina terkesan natural, wajahnya hanya di poles make-up tipis, tidak seperti Elvina yang selalu mengenakan make-up bold.


Terlebih, Elvina melakukan oplas di bagian bibir, hidung, dan juga beberapa benang dan suntikan untuk menambah kesempurnaan parasnya, sehingga cantiknya tidak natural.


Elvina tak beranjak sedikitpun, sedangkan Reina berusaha membujuk Richie.


"Sayang, dengar aku gak sih?!" Reina kali ini mendekat dan memeluk pundaknya.


"Apaan sih?! ganggu orang saja!" pekik Richie, ia melepaskan pelukan istrinya, Elvina yang melihatnya langsung tertawa puas.


Reina merasa sedang di ledek oleh wanita tersebut, ia melayangkan tatapan ancaman pada Elvina.


"Kurang ajar, dia berani menertawakanku!" batin Reina dengan emosi. "dasar ondel-ondel!" lanjutnya terus mengawasi riasan di wajah Elvina yang berlebihan.


"Itu alis sudah mirip ulet bulu!" ledek Reina dalam hati saat memperhatikan bentuk alis Elvina yang terlalu besar dan hitam.


Seketika ia terkekeh, dan Elvina merasa sedang di ledek balik menatap dengan ancaman pada Reina.


"Sepertinya dia sedang menertawakanku!" batin Elvina, ia tak terima saat Reina menertawakannya. "lihat saja, suamimu akan jatuh ke tanganku!" ancamnya dalam hati.


Kini Reina kembali fokus pada suaminya, Richie.


"Sayang, kau ada waktu sebentar tidak?" tanya Reina, Richie tampak jengah, dengan cepat ia menggebrak meja kerjanya.


"Kau ini tidak lihat, apa?! aku sedang sibuk!" bentaknya, Reina yang kaget hanya bisa mengelus dada.


"Asal kau tahu, aku tidak butuh terapi! aku sudah sembuh!" lanjutnya penuh penekanan.

__ADS_1


"Kau belum sembuh total sayang, ingatanmu masih belum pulih, kau butuh terapi lanjutan!" Reina memohon pada suaminya. "please, mau ya!" Reina menarik lengan Richie, pria itu menarik kembali lengannya dengan kasar.


"Kau itu tuli ya?! aku bilang tidak, ya tidak! kenapa kau terus memaksaku?!" Richie menolak. Namun, Reina terus memaksanya. "Aku tidak enak sama Dokter Qiu karena sudah janji padanya untuk mengajakmu," desak Reina dan bibirnya terlihat mengerucut. Namun, Richie terus menolak dengan berbagai upaya.


"Sebaiknya kau pulang!" usirnya sambil mengarahkan jari telunjuk ke arah pintu yang sedikit terbuka.


Elvina bagai menyaksikan hiburan di depan matanya, ia tertawa puas dalam diam.


"Rasain!" batin Elvina.


Reina enggan beranjak sedikitpun, ia tetap mematung di sisi suaminya dengan harapan Richie bersedia untuk mengikuti terapi lanjutan.


Richie yang merasa jengah, ia langsung beranjak. "Elvi ayo, sekarang kita harus cek ke pabrik!" ajaknya pada Elvina.


"Ayo Pak!" perempuan itu mengikuti langkah Richie terlebih dulu, dan ketika berpapasan dengan Reina, ia menyenggol bahu Reina dengan kasar.


"Aish!" Reina mendesis kesal mendapat perlakuan seperti itu, dan Elvina seakan puas atas tindakannya tersebut.


Elvina berusaha mensejajarkan langkahnya dengan Richie, sementara Reina berjalan di belakang mereka. Pemandangan itu menyita beberapa pasang mata yang melihatnya.


"Astaga!" Anisa menggeleng tak habis pikir, ia lalu menghampiri Reina.


"Reina, kau jangan diam saja! Sekretaris baru itu berusaha menggoda Pak Richie, Loh!" ujar Anisa, Reina terpaku sambil mencebik bibirnya.


"Aku tak akan biarkan itu terjadi!" kata Reina penuh tekad.


"Cepat kejar!" titah Anisa, Reina mengangguk, ia langsung mempercepat langkah kakinya untuk menyusul mereka berdua.


Tetapi terlambat, mereka sudah jalan, dengan cepat Reina mengemudikan skuter maticnya untuk menyusul mobil Richie.


Saat itu, Richie hendak menyambangi pabrik yang menjadi bagian dari perusahaannya.


Pabrik yang bergerak dalam industri garmen, sudah berdiri selama 30 tahun lamanya.


...


Singkat cerita, mereka sampai di halaman parkiran, begitu juga dengan Reina yang datang secara sembunyi-sembunyi untuk menguntit suaminya.


Richie dan Elvina mulai memasuki kawasan pabrik garmen yang terbilang sangat besar, dan merupakan salah satu cabang di Ibu kota.


Saat memasuki gedung, terdengar bising suara mesin yang memekakan telinga.


Mereka berdua melangkah melewati lantai produksi yang penuh dengan mesin jahit dan peralatan lainnya. Para pekerja bergerak dengan cekatan, mengoperasikan mesin, memotong kain, dan menjahit pakaian. Semua itu merupakan bagian dari proses pembuatan produk garmen yang akhirnya akan tersedia di pasaran.


Richie melihat keseriusan di wajah para karyawan tersebut, mereka bekerja penuh kehati-hatian.


Richie berbicara dengan beberapa staf pengelola pabrik, memeriksa berbagai aspek operasional, termasuk produksi, kualitas, dan efisiensi.


"Pak..." seru Elvina, tetapi suara berisik mesin-mesin mengganggu pendengaran Richie saat itu, sehingga Elvina berdiri dengan jarak yang sangat dekat dengan Richie ketika mereka berbicara.


Reina tak kuasa menahan kecemburuan, dengan cepat ia melangkah dan menghampiri suaminya.

__ADS_1


...


Bersambung...


__ADS_2