
Di tengah suasana gundah, Reina terus mendekap tubuh Ryan, meski Richie bersikap dingin dan angkuh terhadapnya, tetapi ia ingin Ryan dekat dengan Ayahnya.
Semua orang simpatik terhadap Reina, mereka tak henti-hentinya selalu memberikan suport agar tak menjadi beban pikiran bagi Reina, terlebih saat ini ia tengah mengalami syndrom baby blues, hal itu wajar terjadi pada ibu yang baru saja melahirkan dan menghadapi situasi yang rumit seperti yang Reina alami saat ini.
Sementara, Richie masih terdiam sendiri dalam keheningan di dalam kamar. Ia tak terlalu memikirkan soal Reina yang mengaku sebagai istrinya. Namun, ia tak bisa menolak sosok putranya, tiap kali melihat Ryan seperti ada daya tarik tersendiri.
Richie, di tengah kerisauan hatinya, ia kembali keluar untuk mencari udara segar.
Ia berdiri di tepi balkon sembari memandangi pemandangan di sekitarnya.
Tiba-tiba, ia mendengar suara celotehan anak kecil dari arah belakangnya, sontak ia menoleh, di dapati sang Ibu sedang menggendong putra kecilnya, Ryan.
"Papa..." begitulah Ryan memanggilnya, Richie awalnya tak bisa terima, karena ia tak ingat kapan dirinya menyentuh Reina.
Namun, ia tetap menyambut Ryan dengan cinta.
"Richie, ini Ryan, dia ini adalah putramu," ujar Bu Lily sambil mendekatkan Ryan kepada Richie. "coba kau perhatikan baik-baik, wajahnya sangat persis sepertimu," lanjut Bu Lily, Ryan terus memberikan senyuman dan celotehan cadel saat memandang wajah Ayahnya, Richie.
Kedua mata polosnya berhasil mencuri perhatian dan kasih sayangnya, hingga akhirnya Richie bersedia menggendong Ryan.
Awalnya ia enggan dan canggung, tetapi setelahnya ia menjadi semakin nyaman saat menimang-nimang tubuh bayi berusia 8 bulan tersebut.
"Pa...pa...cu," celoteh Ryan dengan suara cadelnya yang begitu lucu membuat Richie tersenyum dan bertanya kembali dalam hati.
"Masa iya dia ini putraku?" Richie tampaknya sedikit ragu. Namun, kedekatan diantara mereka seperti ada tarikan.
Ryan duduk di lahunan Ayahnya sambil bercanda, membuat Richie merasa rileks dan terhibur.
"Richie, bagaimana dengan Reina?" tanya Bu Lily di tengah keseruan Richie bersama Ryan saat itu, sesaat hening yang ada hanyalah ocehan-ocehan Ryan yang tak beraturan.
"Aku tidak tahu Ma, sumpah aku tak ingat apapun tentangnya." Richie kembali berpikir keras untuk mengingat tetapi sulit ia lakukan, semakin memasuki pikirannya maka kepalanya akan terasa sakit.
"Kau kenapa, Nak?" tanya Bu Lily ketika Richie tengah meringis sambil memegangi belakang kepalanya tepat di bekas luka cedera.
"Sudahlah, jangan terlalu kau paksakan jika memang itu sulit kau lakukan, kami memaklumi keadaanmu. Tapi Mama mohon, kau jangan bersikap seperti itu pada Reina, dia itu istrimu, perlakukanlah dia sebagai mana mestinya." Bu Lily memberikan nasihat pada Richie, tetapi Richie menggeleng karena kehilangan ingatan tentang Reina, itu berati rasa cinta di hatinya juga ikut menghilang tak meninggalkan jejak sedikitpun.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Richie dalam kebingungan yang menguasainya.
__ADS_1
"Kau harus memberi nafkah lahir dan batin untuknya, dan itu wajib!" kata Bu Lily dengan tegas, membuat Richie harus menghembuskan napas beratnya, karena ia tak bisa.
"Ma, tolong ya, aku ini baru saja sembuh dari sakit, aku minta jangan bahas soal Reina dulu! Please, Ma!" Richie beranjak dari duduknya, lalu menyerahkan Ryan kembali ke pangkuan sang Ibu.
Ketika itu, Richie berpapasan dengan Reina. Tanpa banyak berkata, ia langsung menarik kasar lengan Reina, dan membawanya masuk kedalam kamar.
"Sayang," seru Reina ketika Richie menatap tajam kearahnya, dengan cepat Richie mendorong tubuh sang Istri hingga terbentur dinding lalu menahannya dengan satu tangan.
"Apa benar kita pernah menikah dan aku pernah menyentuhmu?" tanya Richie, hal itu membuat Reina tersenyum karena pikirnya Richie memiliki minat untuk mengingat masalalu bersamanya.
"Ya, itu benar, dari hasil pernikahan kita, aku melahirkan Ryan," jawab Reina dengan lantang, Richie langsung melempar seringai.
"Baiklah, aku percaya kali ini." Richie mengangguk tetapi masih menatap kedua mata Reina dengan tajam.
Reina merasakan getaran kerinduan yang mendalam, ia langsung melingkarkan kedua lengannya di pinggang Richie.
"Sayang, aku sangat merindukanmu, sungguh!" ungkap Reina dengan suara lirihnya.
Richie dengan segera melepas pelukan yang diberikan Reina, lalu menghempaskan tubuhnya dengan kasar ke arah samping.
"Jangan kau pikir aku memiliki perasaan terhadapmu meski statusmu adalah istriku, karena aku sama sekali tak mencintaimu!" ungkapnya membuat sesak di dada Reina, gadis itu bersimpuh di kedua kaki suaminya, lalu memohon. "sayang, jangan berbicara seperti itu, bukankah kau ini sangat mencintaiku, kenapa sekarang kau berubah?" Reina terisak di hadapan Richie yang masih berdiri dengan angkuh.
"Cukup pertanyaan dariku, sekarang kau keluar dari kamarku!" usirnya, Reina mengangguk lemah sambil menghapus sisa air matanya lalu melangkah keluar secara perlahan, sesekali ia menoleh kearah suaminya yang masih berdiri mengawasi dengan lagak angkuh.
Reina berlari kecil kearah kamar lain, ia tak kuasa merasakan kehancuran seorang diri.
Di dalam sana ia bebas meluapkan segenap kekesalannya, ternyata semua tak seindah yang ia duga.
Ia selalu membayangkan jika kehidupan keluarga kecilnya bersama Richie akan kembali harmonis, tetapi nyatanya? ia harus menelan kekecewaan bertubi-tubi yang menguras emosi jiwa dan raga.
Di tengah kekacauannya, ia berupaya mengubungi sahabatnya, Selly, karena hanya ia yang bisa menjadi penenang jiwanya disaat hancur dan rapuh.
"Halo Sell," sapanya di telpon sambil terisak ketika Selly mengangkat panggilan darinya.
"Heh Reina, ternyata kau ini serigala berbulu domba ya, kau tega menyakiti perasaanku!" balas Selly yang secara tiba-tiba membuat Reina mengerutkan keningnya.
"Apa maksudmu, Selly? kenapa kau tiba-tiba marah padaku?" tanya Reina yang tak paham, dan ia tak pernah merasa memiliki masalah dengannya.
__ADS_1
Selama ini hubungan persahabatan keduanya baik-baik saja, Reina tak tahu jika Selly bersikap seperti itu karena rasa cemburunya terhadap Qiu Ming.
"Alah, kau tak usah berpura-pura!" jawab Selly dengan nada ketus, Reina semakin mengencangkan suara tangisannya.
"Kau tak usah berpura-pura menangis! aku benar-benar muak kepadamu, Reina!" dengan cepat Selly memutus panggilan, hal itu berhasil membuat Reina semakin dilanda perasaan yang campur aduk.
"Halo, Sell?" Reina tak menyadari jika layar ponselnya sudah menghitam, ia semakin frustasi, karena kesal ia membanting ponsel yang di genggamnya keatas tempat tidur.
Reina membaringkan tubuhnya, tatapannya kosong mengarah ke langit-langit ruangan kamar tersebut, ia masih tak mengerti dengan semua persoalan pelik yang tengah menimpanya.
Sebagai wanita muda yang sudah menjalani rumah tangga, sungguh ini bukanlah perkara mudah untuk di laluinya.
Pikirannya masih sangat rentan dan labil tetapi ia di paksakan untuk bisa bersikap lebih dewasa dalam menghadapi situasi yang menimpanya, terlebih saat ini ia sudah memiliki seorang putra.
"Ya Tuhan, kenapa kau memberi cobaan seperti ini?" batin Reina tak terasa air matanya mengalir membasahi permukaan batal. "apakah semua ini karma di masalalu, karena aku sudah menyia-nyiakan suamiku," sambungnya mencoba merenungi semua kesalahan dimasalalunya terhadap Richie, dan kini ia sungguh sangat menyesal, benar-benar menyesal.
"Seandainya waktu bisa kuputar kembali, aku takkan pernah menyia-nyiakan kasih sayang dari seseorang yang tulus mencintaiku." Reina mengubah posisinya, kini ia tidur menyamping sambil memeluk tubuhnya sendiri.
Disaat ia memikirkan tentang hubungannya dengan Richie yang belum membaik, kini ia juga di hadapkan dengan persoalan baru dengan Selly.
"Dia itu sebenarnya kenapa?" Reina merasa membutuhkan seseorang untuk mengutarakan kekesalannya, hingga ia mencari kontak seseorang untuk itu.
Reina awalnya ragu dengan keputusan ini, ia memilih untuk menghubungi Qiu Ming, karena ia tahu dia adalah seseorang yang bijak dan dewasa, selama ini ialah yang selalu ada menjadi penenang untuknya selain Selly.
Qiu Ming mengangkat panggilan Reina dengan antusias di sela-sela kesibukannya.
"Reina, ada apa?" tanya Qiu Ming dengan nada yang penuh perhatian ketika dia mendengar Reina di seberang sambungan telepon yang tengah terisak dengan suara yang cukup memilukan.
Reina langsung mengungkapkan semua penat dan permasalahan yang mendera pikirannya, ia dengan emosi mengungkapkannya pada Qiu Ming, dan Qiu Ming bersedia menjadi pendengar yang baik, ia mendengar semua keluh kesah Reina pada saat ini.
"Kau yang tenang, Reina," ujar Qiu Ming dengan nada pelan. "bisakah kita berbicara private di luar?" tanya Qiu Ming, ia yang tak tega dengan kondisi Reina ingin mengajaknya jalan.
Reina merasa itu adalah solusi yang terbaik untuk menenangkan pikiran dan rasa sakit di hatinya.
"Baiklah, atur saja waktunya," balas Reina, hingga Qiu Ming mengatur jadwal pertemuan mereka setelah dirinya usai bertugas di rumah sakit.
...
__ADS_1
Bersambung...