Permainan Cinta

Permainan Cinta
Menyenangkanmu


__ADS_3

Pergumulan diantara Richie dan Reina kian memanas, terlebih saat itu di luar sedang turun hujan yang lumayan besar.


Terdengar rintik deras yang menghantam atap bangunan, sementara Richie tengah mengungkung tubuh Reina seraya mendominasi permainan yang sedang berlangsung.


Kedua lengan kekarnya melingkar di pinggang Reina ketika menghentak tubuh sensualnya dari arah belakang.


Reina semakin tak bisa mengontrol ritme yang di berikan Richie, sungguh membuatnya kian melayang, seakan semua ini tak ingin segera berakhir.


Inilah momen yang di tunggu-tunggu oleh Reina setelah sekian lama, hasrat kerinduan yang sudah lama ia pendam kini tersalurkan dengan bahasa tubuh yang saling bersambut.


Kedua bibir mereka kembali bertemu dan saling bertukar saliva, kecupan yang di berikan Richie semakin turun mencapai leher jenjangnya dan meninggalkan jejak kepemilikan disana.


Richie semakin mempercepat gerakannya ketika mencapai puncak kenikmatan itu, dan Reina tak bisa menahan diri untuk tak mengeluarkan lenguhan yang begitu indah memenuhi sudut ruangan seirama dengan alunan riak hujan terdengar jelas dari luar jendela.


"Aku mencintaimu," teriak Reina ketika inti tubuhnya mengeluarkan pelumas cinta. Namun, Richie tak membalas satu katapun, ia kembali membungkam mulut Reina dengan mulutnya.


Seusainya, mereka yang sama-sama berlumur keringat, hingga keduanya ambruk di atas pembaringan.


Reina tersenyum puas dengan napas yang terengah-engah seusai menuntaskan kewajibannya besama Richie.


"Sayang, terimakasih," ucap Reina dengan tulus di akhir permainan panas mereka yang baru saja terjadi, tetapi Richie seakan enggan membalasnya, ia memilih menghindar sambil tidur membelakangi sang Istri.


Biar begitu, Reina merasa di anggap kembali oleh Richie.


Reina, dengan penuh keragu-raguan memeluk pinggang suaminya dari belakang dengan posisi yang sama-sama menyamping.


"Sayang, aku harap setelah ini kau bisa kembali mencintaiku," bisik Reina, Richie pura-pura tak mendengar, ia sudah sangat kelelahan, dan akhirnya memilih untuk memejamkan kedua matanya.


Reina, ia pun merasakan hal yang sama, tetapi ia tak lupa dengan kewajibannya sebagai seorang ibu.


Ia memilih untuk beranjak dan membersihkan diri, karena ia merasa, Ryan sangat membutuhkannya.


Seusainya, Reina kembali ke dalam kamar, kali ini ia mengenakan bathrobe dengan handuk kecil yang melilit rambut panjangnya yang masih basah.


Ia melihat Richie yang tertidur pulas dalam keadaan polos, Reina melangkah menghampiri lalu membalut tubuh suaminya dengan selimut.


Ia melihat titik-titik keringat di dahi dan pelipisnya, lantas ia segera mengusapnya dengan tisyu.


Reina melakukan pergerakan itu dengan penuh perasaan dan kehati-hatian.


Ia kini memberikan seulas senyum manis yang begitu tulus pada tubuh yang telah terlelap itu.


Tiba-tiba, ia mendengar pintu kamar di ketuk dari luar, dengan langkah cepat, Reina beranjak dan membukanya.


Benar saja, si kecil menangis karena merindukannya.


"Ryan, sini Nak." Reina mengambil Ryan dari gendongan Bu Lily.

__ADS_1


Reina dan Ryan seperti tak bisa terpisahkan, Ryan sangat dekat dengan Ibunya.


Gadis itu belum sempat mengenakan pakaian, hingga ia memangku Ryan dalam keadaan masih mengenakan bathrobe.


"Reina, sepertinya kau terlihat sangat bahagia, Nak," ujar Bu Lily saat memperhatikan raut wajah menantunya itu.


Reina tersenyum mendengar ucapan sang Mama mertua. "ya, tentu saja aku sangat bahagia, karena suamiku mau menyentuhku lagi," tuturnya, Bu Lily tersenyum merasakan kelegaan di hatinya, karena inilah yang ia harapkan, yakni, keharmonisan keluarga kecil yang sedang di bina Reina dan putranya, Richie.


"Syukurlah, sayang. Mama senang mendengarnya," kata Bu Lily dengan haru.


Reina tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini, ia ingin melayani suaminya sepenuh hati.


Ia menanyakan makanan kesukaan suaminya kepada sang Mama mertua, karena hari ini ia ingin memasak makanan untuknya.


Reina memutuskan untuk memasak wantan ayam untuk Richie setelah mengetahui bahwa dia menyukai Chinese food. Meskipun Reina tidak memiliki pengalaman yang cukup dalam memasak hidangan ini, dia bersemangat untuk mencoba.


Reina mencari panduan memasak di internet dan mulai menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan. Meskipun mungkin tidak akan menjadi hidangan yang sempurna, niatnya dan usaha untuk menyenangkan hati Richie terpancar dalam setiap langkahnya.


Dapur dipenuhi dengan aroma makanan yang menggugah selera saat Reina berusaha memasak hidangan yang akan membuat suaminya senang. Tidak hanya hidangan yang sedang dimasaknya, tetapi juga usaha dan niat baik Reina yang dicurahkan ke dalam setiap langkahnya, semuanya ia lakukan dengan cinta.


"Nyonya, biar saya saja." Yeti berusaha mengambil alih pekerjaan Reina saat itu, tetapi Reina melarangnya.


"Tidak usah Mbak, saya ingin memasak untuk suami saya," kata Reina penuh perhatian, Yeti mengerti, ia membalasnya dengan anggukan.


Yeti berdiri di belakang Reina dan terus memperhatikan pergerakannya, Reina juga tak sungkan untuk menanyakan apa kekurangannya kepada Yeti, sehingga mereka saling berdiskusi satu sama lain untuk menghasilkan hidangan yang sempurna.


"Coba di cicipi hasil masakanku, Mbak," titah Reina, Yeti langsung mengambil sendok kemudian menyeruput kuahnya.


Seusai memasak, Reina membuatkan susu jahe, lalu ia sajikan gelas tersebut di atas nampan.


Ia membawanya dengan penuh kehati-hatian menuju ke dalam kamar, kebetulan saat itu suaminya baru saja membuka kedua mata.


Richie menguap sambil menggeliat dengan gerakan malas, Reina menghampiri dirinya, lalu meletakan gelas susu tersebut di atas nakas.


"Sayang, aku sudah buatkan susu jahe untuk menghangatkan tubuhmu, ayo diminum!" titahnya, Richie memutar kedua bola matanya malas kearah Reina.


"Siapa suruh?" tanya Richie dengan nada miring.


"Aku yang insiatif, oya, aku juga sudah masak makanan special untukmu," kata Reina dengan rasa percaya diri.


"Memangnya kau bisa masak?" tanya Richie menatap remeh, Reina mengangguk pelan sambil tersenyum tipis.


"He'em," balasnya.


"Oh," balas Richie. "awas ya, kalau masakanmu tidak enak, aku akan lempar ke wajahmu!" sambungnya dengan kasar, Reina hanya bisa menghela napas kasar mendapat ucapan tak mengenakan dari suaminya.


Namun, ia menganggap semua itu seperti candaan, Reina tak ingin terlalu ambil hati karena hanya akan menghasilkan kecewa, ia akan selalu sabar menghadapi sikap Richie yang sudah berubah 180 derajat.

__ADS_1


Richie meraih gelas jangkung itu, lalu meneguk susu yang sudah di sajikan oleh sang istri, ia meminumnya sampai habis tak tersisa.


Reina tersenyum, setidaknya dengan hal itu usahanya di hargai.


"Nih!" Richie menyodorkan gelas kosong itu pada Reina. "bawa lagi keluar, aku tidak suka di kamar taruh peralatan kotor! sana!" usir Richie dengan kasar, Reina mengangguk pelan dan melangkah kembali keluar.


Namun, Reina menghentikan langkahnya sejenak ketika sampai di ambang pintu.


"Sayang, aku tunggu kau di ruang makan ya, segeralah mandi," perintahnya, Richie mendengus kesal mendengar ocehan wanita itu. "iya, bawel!"


"Dia memasak makanan untukku? Hmm...aku tak yakin dia bisa melakukannya," batin Richie yang menganggap remeh pada istrinya.


Richie sudah tak sabar untuk mencicipi hasil masakan Reina, ia bangkit untuk segera mandi.


...


Beberapa saat kemudian, ia kembali, kali ini ia mengenakan piama tidur yang terlihat sangat elegan.


Richie turun kelantai bawah menggunakan lift, kehadirannya mendapat sapaan hangat dari anggota keluarga dan para maid, terutama Reina dan juga putranya, Ryan juga hadir disana.


"Sayang, ayo kemari!" Reina melambaikan tangan kearah suaminya. Richie melangkah dengan gerakan malas.


Reina dengan begitu cekatan melayani suaminya, ia menyajikan makanan dengan penuh kehati-hatian.


Semua orang yang melihatnya turut mengembangkan senyuman, mereka terkesan dengan sikap Reina yang begitu sigap dalam memanjakan suami dan juga putranya.


"Ayo di coba," kata Reina saat mangkuk yang berisi makanan berkuah itu tersaji tepat di depan meja Richie berada saat itu.


Matanya penuh harap, menunggu reaksi suaminya terhadap hidangan yang ia siapkan dengan begitu teliti.


Richie mulai menyecap hasil masakan Reina, dan ia mengangguk puas dengan hasilnya. "lumayan," kata Richie, Reina tersenyum bangga pada dirinya sendiri saat itu.


"Ini kau yang memasak?" tanya Richie seolah tak yakin jika itu pekerjaan Reina, karena hasil masakannya tak berbeda jauh seperti hidangan restoran berbintang, tetapi Richie terlalu gengsi untuk mengungkapkannya.


"Ya, tentu saja," jawab Reina dengan suara lantang.


"Lumayan sih, tapi, bukan berarti sesuai dengan lidahku, ini masih jauh dari kata sempurna," kritiknya, Reina bergeming sedikit putus asa.


Tiba-tiba getar ponsel menyita perhatian Richie, ia memeriksa untuk mengetahui siapa yang mengirim pesan singkat padanya.


Didapati nomber yang tak di kenal menyapa secara pribadi padanya.


[Selamat malam Pak Richie,]


ucapan dari kontak yang mengenakan photo profil seorang wanita, ia mengirim chat lengkap dengan emot finger love di ujung kalimatnya, sontak kedua mata Richie langsung membola dengan sempura.


"Kau kenapa, sayang?" tanya Reina penasaran.

__ADS_1


...


Bersambung...


__ADS_2