Permainan Cinta

Permainan Cinta
Sebuah Photo


__ADS_3

Richie berbicara panjang lebar di telpon bersama Elvina, terkadang di selingi dengan gelak tawa yang memuakan bagi Reina.


"Pak, aku cocoknya pakai lipstick warna apa?" tanya Elvina dari sebrang telpon.


"Apa saja, asal jangan mencolok," jawab Richie, Reina sedari tadi terdiam di balik selimut yang membalut tubuh polosnya sambil memunggungi Richie.


"Tahan, Reina, tahan!" batin Reina mencoba meredam amarah, terkadang ia menggerutu dalam diam sambil menahan air matanya.


Sampai akhirnya, Richie mulai menguap, dan mengakhiri perbincangan di telpon bersama Elvin.


"Elvi, sudah dulu ya, lanjut besok di kantor," ujarnya, sesaat mematikan ponsel, lalu ia taruh diatas nakas.


Richie tidur menjaga jarak dengan Reina, setelah saling merasakan tubuh masing-masing, dan keintiman yang sempat terjalin, kini mereka kembali asing.


"Dia hanya mendekatiku disaat butuh, tetapi sekarang sudah tak ada perhatiannya sama sekali. Aku ini dianggap apa?" batin Reina, ia melirik ke arah kanan dimana suaminya tengah terlelap beberapa detik yang lalu.


Fokus Reina teralihkan, kali ini ia menatap ponsel milik Richie yang tergeletak di atas nakas. Sesaat benda itu menyala, dengan gerakan yang tak menimbulkan suara, Reina berusaha mengintip.


Ia memperhatikan chat yang baru di kirim seseorang di beranda ponsel milik suaminya.


[Nite Bossku 😘]


Deg!


Hati Reina bagai tersambar petir, saat membaca pesan mesra dari Elvina.


Lututnya seketika terasa lemas, jemarinya gemetar hebat dengan suhu yang berubah dingin dalam sekejap.


"Ya Tuhan, kuatkan aku," batinnya, rasa ingin melempar benda pipih itu, tetapi Reina berusaha menahan emosinya.


Sesaat ia menatap kembali wajah yang sedang terlelap itu, seperti menyiratkan kebahagiaan.


Malam itu, Reina gelisah, ia sulit untuk memejamkan kedua matanya.


Tepat pukul 3 dini hari, kedua matanya yang sudah lelah, terpejam tanpa permisi.


...


Hingga pukul 5, Reina kembali terbangun dari tidurnya, ia merasa cukup puas mengistirahatkan kedua matanya yang terlalu lama memendar tangis dan duka.


Ia sedikit kaget ketika Richie tanpa sadar melingkarkan lengan di pinggangnya, Reina terdiam sesaat merasakan hangatnya pelukan itu, meski ia tahu bahwa Richie melakukannya tanpa sadar.


Reina mengelus lembut lengan suaminya dengan penuh perasaan, dan berharap akan lebih lama lagi memeluk tubuhnya.


Tak beberapa lama, Richie terbangun, dengan cepat ia mendorong tubuh Reina sedikit berjarak.


"Sayang, aku mau di peluk lagi seperti tadi." Reina bangkit dari berbaringnya, dan Richie meresponnya dengan gerakan malas.


"Apaan sih!" Richie turut bangkit untuk segera bergegas membersihkan tubuhnya, dan Reina langsung menyusul.

__ADS_1


"Sayang, aku juga mau mandi!!" teriak Reina, tetapi Richie sudah menutup pintu kamar mandi terlebih dulu tanpa menghiraukan teriakan sang istri yang memanggilnya dari luar.


Reina merasa sudah terlambat, harusnya ia bangun sebelum Richie, tetapi karena terbawa perasaan oleh pelukannya, hingga ia lupa jika dirinya harus mempersiapkan kebutuhan suami dan juga putranya.


"Astaga!" tak ingin membuat Richie kecewa, lantas ia berlari menuju kamar mandi lain yang berada di luar kamar.


Ia tak ingin di dahului oleh suaminya, lantas ia mempercepat ritual mandinya sesegera mungkin, lalu berjibaku di dapur untuk menyiapkan hidangan sarapan.


Saat itu, Reina tak terlalu di repotkan oleh si kecil, karen Ryan sedang di asuh oleh Airin di ruangan lain.


Ryan terbiasa bangun pagi-pagi, mengikuti aktifitas kedua orang tuanya.


Sampai akhirnya, Reina selesai menjalani tugasnya, beberapa hidangan sudah tersusun rapih di atas meja makan.


"Selamat pagi, sayang," sapa Reina dengan ceria, Richie tak membalas sapaannya, ia langsung duduk di atas kursi.


"Richie, kau tak boleh begitu, Nak," kata Pak Marthin memperingatkan.


"Habisnya dia terlalu lebay!" balas Richie memutar kedua matanya jengah kearah Reina.


Bu Lily memberi gestur pada Reina agar bersabar menghadapi sikap Richie, dan Reina mengangguk.


Mereka menikmati sarapan pagi bersama-sama tanpa gangguan apapun.


Sehabis menikmati sarapan, Richie langsung menemui putranya yang sedang di asuh oleh Airin.


"Sayangnya Papa, sini." ia mengambil Ryan dari gendongan Airin.


"Iya, kan 2 bulan lagi mau satu tahun," kata Airin sambil tersenyum pada Ryan.


"Oh, iya ya, duh, saya tidak ingat hari ulang tahun anak sendiri." Richie menatap kedua pipi putranya yang menggemaskan. "Anak Papa cebental lagi mau ulang tahun, ya?" Lanjutnya bercanda sebentar dengan Ryan saat mengawali aktifitas di pagi hari.


"Rin, ajak Ryan jalan-jalan ya," titahnya, dan Airin mengangguk.


"Iya, Tuan, tiap hari juga Ryan sering di ajak jalan sama Mama dan Omanya," papar Airin, Richie sendiri tak pernah menanyakan hal itu, karena fokusnya terbagi antara keluarga dan pekerjaan, terkadang ia lebih condong mengurusi pekerjaannya.


"Hmm..baguslah." Richie menyerahkan kembali Ryan pada Airin, lalu mengecup pucuk rambut putranya.


"Dah, Ryan, Papa pergi dulu ya. Ryan jangan nakal sama Mbak Airin. Dah!" Richie melambaikan tangan, dan Ryan meresponnya dengan ciuman jarak jauh.


"Uh, pintar anak Papa," balas Richie, dan ia melangkah menuju garasi.


Rein berlari kecil menghampiri suaminya. "sayang..." panggilnya sedikit berteriak, lalu berusaha meraih tangannya, dengan cepat Richie mengibaskan dan tak ingin tersentuh oleh Reina.


"Ck! Apaan sih?! gak usah lebay!" cibirnya, membuat Reina mendengus tetapi berusaha menahan emosi.


"Aku hanya ingin mencium tanganmu saja sebelum kau berangkat," pintanya, tetapi Richie seakan dingin tak ingin menanggapi.


Dengan cepat ia segera naik ke dalam mobil, dan langsung menyalakan mesin mobil tersebut.

__ADS_1


Reina masih bergeming dengan rasa kecewa, Richie langsung menekan klakson karena Reina berdiri tepat di depan mobilnya.


"Hei, minggir!!!" teriak Richie dengan kasar, Reina yang tak tahan berlari kecil dari arah garasi, dan kembali menuju rumah untuk menemui Ryan dan menemaninya jalan-jalan di pagi ini.


...


Saat Richie sampai di perusahaan, ia kaget melihat perubahan yang ada pada penampilan Elvina saat ini.


Ia terlihat lebih anggun dan elegan di balik blazer dan celana kantor yang menjuntai sebatas mata kaki, dengan pakaian dasar yang tidak terlalu ketat, kali ini tampak sopan menutupi belahan dadanya.


Riasan di wajahnya pun terlihat natural, tak seperti kemarin.


"Nah, kalau seperti ini kan enak di lihatnya." Richie berkomentar dengan kalimat positif, membuat Elvina tak bisa menahan senyumannya.


"Bapak suka?" tanya Elvina sambil memperagakan langkahnya seperti seorang pragawati.


"Ya," jawab Richie, dan mereka berjalan secara beriringan menuju kantor, kedekatan mereka mampu menyita perhatian para pegawai lainnya.


"Dasar ulet keket!" batin Anisa yang menentang kedekatan Richie dan Elvina, sedangkan ia tahu jika Richie adalah suami dari Reina.


"Ya Tuhan, mudah-mudahan Pak Richie tidak sampai tergoda olehnya," lanjutnya, seketika Anisa memposisikan dirinya sebagai Reina.


"Kalau aku jadi dia, sudah aku bejek-bejek tuh si ulat keket!" Anisa tampak geram kali ini. Tetapi, ia berusaha bersikap profesional.


"Nisa...!" teriak Richie memanggil dari balik pintu ruangannya yang terbuka, Anisa dengan cepat segera menghampirinya.


"Ya, Pak," jawabnya.


"Tolong buatkan minuman untuk kami berdua!" titahnya secara tegas, Anisa mengangguk.


"Baiklah Pak, oya, Bu Elvi mau dibuatkan apa?" tanya Anisa karena ia belum tahu apa kesenangan Elvina.


"Bikinin lemon tea saja!" pintanya.


"Baiklah, tunggu sebentar," kata Anisa sambil berlalu. Namun, hatinya menggerutu.


Elvina duduk di sofa ruangan tersebut, dari sorot matanya ia seperti ingin menyampaikan sesuatu kepada Richie.


"Pak," serunya, Richie yang saat itu tengah menyalakan monitor langsung teralihkan.


"Ya, ada apa?" tanya Richie, dan Elvina melambai ke arahnya. "kemari! ada yang ingin saya sampaikan, penting," ujarnya, Richie mengangguk dan mendekat, lalu duduk di sebelahnya.


"Kau ingin mengatakan apa?" Richie kembali bertanya, Elvina terdiam sambil memfokuskan pandangan pada ponsel yang di genggamnya.


"Coba lihat di ponsel Bapak, saya sudah mengirim beberapa photo kita," ungkap Elvina, Richie yang tak mengerti langsung mengerutkan keningnya. "photo kita? apa maksudmu?"


Belum terjawab pertanyaannya, Richie meraih ponselnya dan memeriksa photo yang baru saja di kirim oleh Elvina, sontak ia terkejut dengan kedua mata yang membelalak sempurna.


Sungguh tidak percaya, ia adalah pria yang ada dalam photo tersebut.

__ADS_1


...


Bersambung...


__ADS_2