
Pagi itu Selly terbangun dalam posisi tengkurap di atas tubuh Qiu Ming, ia berusaha sadar sambil membuka kedua mata secara perlahan.
"Eugh!" Selly melepas dekapan Qiu Ming, sementara mereka dalam keadaan polos.
Di saat yang bersamaan, Qiu Ming yang masih terjaga langsung terbangun, ia sadar apa yang sudah terjadi semalam bersama Selly.
Saat keduanya sama-sama tersadar, dengan cepat Selly meraih jaket denim yang tercecer di bawah lantai, lalu ia berusaha menutupi area pribadinya.
"Semalam kita habis ngapain?" tanya Selly mencoba mengingat aktifitas panas yang terjadi bersama Qiu Ming.
Sedangkan Qiu Ming memperlihatkan ekspresi datar dan ia kembali mengenakan ****** ********.
Qiu Ming duduk sembari memegangi kepalanya, terkadang ia berteriak seperti sedang melepas emosi.
"Selly maafkan aku, tak seharusnya ini semua terjadi!" ungkapnya dengan penyesalan.
"Tapi ini semua bukanlah kesalahanmu, aku yang sudah berani memaksamu," tutur Selly ia duduk berdekatan dengan Qiu Ming sambil menempelkan dagunya di bahu lelaki itu.
"Kau tenang saja, aku tak akan minta pertanggung jawaban darimu," bisik Selly, Qiu Ming melirik dan menatap kedua matanya.
"Apa maksudmu berbicara seperti itu?" tanya Qiu Ming, Selly tersenyum dan menggeleng meski hatinya tengah merasakan luka karena ia merasa tahu diri, ia tahu Qiu Ming tak akan membalas perasaan untuknya.
"Anggap saja tak pernah terjadi apa-apa diantara kita." Selly berusaha menahan air matanya agar tak jatuh.
Qiu Ming berbalik, ia meletakan kedua telapak tangannya di kedua pipi Selly.
"Kau pikir aku ini pria berengsek yang takan mempertanggung jawabkan semua perbuatanku terhadapmu?" sorot mata Qiu Ming begitu tajam saat memandang kedua mata Selly.
"Tapi kau tak pernah membalas perasaanku!" ucap Selly dengan emosi.
"Meski begitu, aku berjanji akan bertanggung jawab, dan aku akan menikahimu." Qiu Ming berbicara dengan suara yang lantang, sedang kedua mata Selly langsung membola dengan sempurna mendengar ucapan itu, meski ia tahu bahwa Qiu Ming belum bisa mencintainya. Namun,dengan ini ia berhasil memiliki raganya.
Tetapi, Selly sangat berharap Qiu Ming dapat memberikan cinta dan ketulusan Meskipun Qiu Ming menawarkan untuk menikahinya sebagai tanggung jawab atas tindakan yang sudah mereka perbuat, tetapi Selly merasa bahwa cinta sejati adalah apa yang dia inginkan, bukan hanya pernikahan yang didasarkan pada kewajiban.
"Apa kau tak menyesal karena aku sudah merenggut mahkota berharga milikmu?" tanya Qiu Ming dengan tatapan sendu tetapi penuh arti di dalamnya, Selly menggelengkan kepala dan tersenyum.
"Aku tidak menyesalinya, aku senang bisa melakukannya denganmu untuk pertama kali dalam hidupku," jawab Selly dengan suara serak dan kedua mata yang berkaca-kaca, hal itu membuat Qiu Ming merasa sudah menjadi seorang pengecut.
Dengan cepat, Qiu Ming meraih tubuh Selly dan membawa kedalam pelukannya.
"Maafkan aku Selly, aku akan berusaha untuk membuka hatiku untukmu," ungkapnya dengan tulus meski cinta itu mungkin butuh waktu dan proses, Namun, Qiu Ming sebagai seorang pria sejati tak ingin lari dari tanggung jawab.
Selly terkesan dengan kata-katanya, sedikitnya hal itu mampu meredakan gundah di hatinya selama ini, karena ia terlalu terobsesi pada Qiu Ming seakan tak ada pria lain yang mampu memikat hatinya.
"Terimakasih," balas Selly, ia kembali mengecup bibir Qiu Ming sambil terus memeluknya dalam keheningan.
Percikan emosi yang tadi malam kini berubah menjadi momen keintiman yang tulus antara mereka.
Selly tak henti-hentinya memandang wajah Qiu Ming yang saat ini resmi menjadi miliknya meski hanya sebatas ucapan.
__ADS_1
"Sayang, kau akan bertugas pagi ini?" tanya Selly yang kini tak lagi canggung.
"Kepalaku rasanya pusing dan tubuhku juga lelah sehabis permainan semalam bersamamu," jawab Qiu Ming, ia beranjak dari duduknya.
"Kau mau kemana?" tanya Selly dengan manja.
"Aku mau mandi," jawabnya, Selly bangkit dan mengikuti langkahnya dari belakang.
"Aku ikut." Selly mensejajarkan langkahnya, membuat langkah Qiu Ming terhenti sejenak.
"Ya sudah, kau mandi duluan," titahnya dengan wajah datar.
"Kenapa tidak mandi berdua saja?" Selly kembali merayunya dan bergelayut dengan manja pada Qiu Ming.
"Selly, kau sudah membuatku gila tadi malam, dan sekarang kau ingin aku mengulanginya lagi?" tanya Qiu Ming yang semakin terpancing dan berhasrat kembali, Selly mengangguk dan tersenyum.
"Ya, aku suka permainanmu, sayang," jawab Selly, Qiu Ming menatap tubuh Selly dari atas kepala hingga ujung kaki dengan tatapan tajam yang sulit diartikan.
Dengan cepat, Qiu Ming memangku tubuh Selly menuju kamar mandi.
Kini yang terdengar hanyalah suara erangan dan lengu-han kecil dari balik pintu.
"Ayo sayang gerakan lagi," pinta Selly ketika Qiu Ming tengah memacunya.
"Apa ini masih belum cukup, hah?!" Qiu Ming semakin semangat menghentak tubuhnya atas permintaan Selly.
Keduanya sama-sama mengatur posisi untuk mencapai keintiman yang lebih, perbuatan Qiu Ming berhasil membuat Selly melayang mencapai titik kenikmatan.
"Kau sangat hebat sayang," balas Qiu Ming. Selly melihat sisi maskulin yang kuat dalam diri Qiu Ming yang mungkin sebelumnya tersembunyi di balik image dan profesinya sebagai seorang Dokter yang penuh wibawa dan berdedikasi.
Ia semakin terhanyut dalam cintanya, seakan tak ingin begitu saja mengakhiri pertemuan panjang dirinya dan Qiu Ming.
"Sayang, aku ingin menghabiskan hari ini bersamamu," kata Selly dengan suara lirihnya.
Qiu Ming tersenyum iapun merasa demikian, ia ingin merasakan lebih dekat dan belajar menghargai perasaan Selly sebagai upaya mempertanggung jawabkan semua perbuatannya.
"Ya, hari ini aku takan pergi bertugas," balas Qiu Ming membuat Selly bernapas lega.
"Tapi, bagaimana dengan kedua orang tuamu? Kalau mereka mencarimu, bagaimana?" Qiu Ming kali ini menatap penuh khawatir, tetapi Selly menggeleng.
"Nanti pulang, kau lamar aku di hadapan kedua orang tuaku, apa kau berani?" tanya Selly menantang, Qiu Ming terdiam sejenak karena baginya ini terlalu singkat. Namun, ia tetap memegang komitmen atas semua perkataannya.
"Baiklah, aku akan melakukannya," kata Qiu Ming sambil mengecup punggung tangan Selly setelah permainan mereka usai.
***
Sementara di tempat lain...
Richie kini akan memulai aktifitasnya kembali, ia sudah terlihat rapih dengan pakaian formalnya.
__ADS_1
Pagi itu ia menikmati sarapan bersama anggota keluarga, suasana kembali hangat terlebih dengan kehadiran anggota baru di mansion yakni Reina dan Ryan.
Seolah menjadi atmosfer baru yang memberi warna dalam kehidupan mereka.
"Ryan, Papa berangkat kerja dulu ya." Richie sejenak menggendong Ryan dan mengecup kepalanya dengan kasih sayang, lalu ia mengembalikan Ryan ke pangkuan Reina.
"Kau jaga dia baik-baik, awas! kalau sampai Ryan kenapa-kenapa kau yang akan aku salahkan lebih dulu! ingat itu!" Richie menunjuk Reina dengan ancaman seakan hilang rasa cinta dan sayang yang di bangun selama ini.
Ia kehilangan sosok Richie yang lembut dan penuh cinta, kini Richie berubah.
"Mungkin ini cobaan, aku harus menerima dengan ikhlas," batin Reina, tiba-tiba ia teringat janji Qiu Ming.
"Oh ya, katanya kan Dokter Qiu bersedia untuk memberikan terapi lanjutan, sebaiknya aku coba hubungi dia." Reina bergegas menelponnya.
"Ah, kok gak di angkat? hmm, mungkin dia masih tidur," batin Reina.
"Kau kenapa, sayang?" tanya Bu Lily saat melihat Reina diam mematung sambil memangku Ryan.
"Eh, Mama, aku tidak apa-apa, hanya saja aku coba telpon Dokter Qiu tapi tak di angkat, soalnya dia janji mau memberikan terapi lanjutan buat memulihkan ingatan Richie." Reina kembali menekuk wajahnya, Ryan kini tertawa dalam gendongan Reina membuat Reina sedikit terhibur dengan tingkah lucu Ryan.
"Reina, maafkan suamimu ya, mungkin butuh waktu untuk Richie agar bisa mengingat semuanya." Bu Lily mengusap lembut punggung Reina.
Reina mengangguk yakin berusaha untuk tetap tegar dan bersiap menghadapi tantangan memulihkan ingatan Richie, "Aku berharap bahwa suatu hari nanti kami bisa kembali menjadi keluarga yang bahagia dan harmonis," kata Reina kepada Bu Lily.
"Ya sayang, Mama juga ingin Richie bisa kembali mencintamu, sepertinya indah jika melihat kalian akur," harap Bu Lily dan Reina mengangguk.
...
Selepas Richie dan Pak Marthin pergi untuk bertugas, sementara Bu Lily dan Reina mengajak Ryan jalan-jalan di sekitar komplek menggunakan trolley bayi.
Ryan tertawa bahagia diajak jalan-jalan oleh Nenek dan Ibunya.
"Mamam dulu ya cayang." Reina menyuapi Ryan makan, sedangkan Bu Lily yang mendorong trolley bayi.
Semua orang yang berpapasan terpana melihat kelucuan Ryan.
"Ganteng ya cucunya, Bu," puji seorang Ibu kepada Bu Lily saat sedang berolahraga pagi itu.
"Hehe..." Bu Lily tersenyum dan mengangkat tubuh Ryan dari trolley bayi.
Beberapa orang lainnya yang juga berpapasan dengan mereka tidak bisa menahan diri untuk memberi pujian pada kelucuan Ryan. Bu Lily dan Reina tersenyum dengan bangga dan merasa senang atas komentar komentar tersebut.
Di sisi lainnya, Reina melihat sepasang suami istri yang sedang berjalan-jalan mengajak anak balita mereka.
Seketika Reina tertegun menatap momen keasyikan mereka.
"Kapan aku bisa seperti itu?" batin Reina,
Memang situasinya saat ini sangat berat. Namun, Reina mempunyai harapan bahwa suatu hari keluarganya bisa kembali seperti dulu, bahagia dan utuh.
__ADS_1
...
Bersambung...