Permainan Cinta

Permainan Cinta
Pengganggu


__ADS_3

Saat kembali ke mansion, motor yang Reina kendarai beriringan dengan mobil Richie yang baru menepi di garasi.


Reina membuka helmnya, lalu turun dari motor, kemudian menghampiri mobil suaminya.


Richie membuka pintu mobil, tetapi menatap Reina dengan angkuh dan dingin, bahkan ia tak bertanya sama sekali.


Reina memberanikan diri mendekat kearahnya. "Sayang," panggil Reina, lalu menyentuh lengan suaminya, dengan cepat Richie menepiskan lengannya seakan enggan bersentuhan dengan Reina.


"Kau baru pulang?" Reina mencoba berbasa-basi, dan Richie berbalik sambil melayangkan tatapan intimindasi terhadapnya.


"Tidak usah banyak tanya, aku cape!" jawabnya dengan nada bentakan, Reina menghela napas dalam-dalam dan berusaha untuk tak terpancing emosi.


Kali ini, ia berupaya untuk membawakan tas kerja milik suaminya. "ya sudah, sini." Reina menggenggam tas persegi berwarna hitam yang masih di jinjing oleh Richie.


Namun, lagi dan lagi, Reina mendapat penolakan pedas, membuatnya lelah dan menyerah.


"Heh, kau itu sudah bikin malu waktu di pabrik tadi siang!" Richie menunjuk Reina geram. "Minggir!" lanjutnya sambil menyingkirkan tubuh Reina yang menghalangi jalannya.


Reina menggeleng sambil mengelus dada mendapat perlakuan tak patut dari suaminya.


"Ya Tuhan," batin Reina, ia merasa seperti orang asing di depan suaminya sendiri.


Meski begitu, ia bertekad untuk merebut dan memenangkan hatinya lagi.


Setelah tiba di ruang utama mansion, Richie merobohkan tubuhnya di atas sofa sambil berbalas pesan entah dengan siapa, karena hal itu berhasil membuat Reina menaruh curiga, pasalnya Richie terlihat begitu serius sambil mengembangkan senyum di bibir tipisnya.


Reina berlutut, lalu berusaha membuka sepasang sepatu yang masih terpasang di kedua kaki suaminya.


Ia melakukannya dengan sangat hati-hati, dan ia tak mendapat protes kali ini.


"Sayang, kau pasti lelah, kan?" tanya Reina, sesaat Richie menatapnya. Namun, fokusnya kembali pada benda pipih yang sedang ia genggam.


Sesudah itu, Reina berlalu untuk membuatkan minuman favorit Richie, yakni susu rendah lemak.


Reina sangat berusaha untuk menjaga ketenangan dalam situasi yang semakin sulit dengan Richie. Meskipun diperlakukan dengan kasar, ia berusaha tenang di hadapan suaminya. Setelah menyiapkan susu rendah lemak favorit Richie, Reina membawanya ke ruang tamu, lalu meletakan gelas dengan sangat hati-hati di atas meja. "Silahkan, sayang," ujar Reina seraya menyerahkan minuman tersebut kepada Richie yang masih asyik dengan ponselnya.


Richie menerima susu tersebut dan kemudian menjauhkan dirinya dari Reina.


"Dia sedang asyik chat siapa sih?" batin Reina bertanya-tanya, ingin rasanya ia memeriksa isi ponsel suaminya. Namun, ia tak ingin semakin sakit hati dan terluka.


Hingga akhirnya Reina berlalu dari hadapan Richie saat mendengar suara tangisan si kecil, dengan cepat ia menggendong Ryan dari pangkuan Bu Lily.


"Cup, cup, sayang...maaf ya, Mama pergi kelamaan." Reina memangku tubuh Ryan dengan penuh perasaan, biarpun ayah dari sang Anak memperlakukan kasar terhadapnya.


Richie yang sama-sama mendengar tangisan putranya, ia langsung beranjak dan segera menemuinya.


"Dasar, Mama yang tidak becus!" hardik Richie tanpa perasaan terhadap Reina.


"Richie, jaga bicaramu!" Bu Lily berusaha membela menantunya.

__ADS_1


"Udah deh, Mama jangan belain dia terus, lama-lama dia ngelunjak dan keenakan! Dia pikir, dia ini siapa?!" Richie berlagak angkuh saat menatap Reina yang tengah memangku Ryan, membuat Reina tertunduk tak mampu membalas ucapannya yang sangat pedas.


"Dia ini istrimu, Ibu dari anakmu!" Bu Lily berupaya menjawab.


"Alah, bela aja terus!" Richie berlalu dari hadapan kedua wanita itu. Reina semakin tak kuasa untuk mengeluarkan rasa sesak dan air matanya yang masih tertahan, sudah membendung dan membuat kedua netranya menjadi rabun.


"Ma," seru Reina pada Bu Lily, dan wanita paruh baya itu menoleh dengan rasa khawatir terhadap kondisi emosional Reina atas ucapan Richie barusan.


"Maafkan Richie ya, Reina," ujar Bu Lily, Reina mengangguk, dan kembali menyerahkan Ryan padanya.


"Ma, Reina titip Ryan lagi." Reina terisak di hadapan Bu Lily, dan ia memahami apa yang tengah di rasakan oleh Reina saat ini.


Setelah menyerahkan Ryan, Reina berlari kecil menaiki anak tangga, lalu masuk kedalam kamar.


Reina mengunci pintu kamar dan membiarkan air mata tumpah bebas. Setiap kali dia merasa tertekan oleh Richie, dia mencari pelarian di kamar ini. Ini adalah tempat di mana ia bisa melepaskan emosinya tanpa khawatir mengganggu orang lain.


"Tuhan, cobaan ini begitu berat, aku tidak sanggup," batin Reina, ia menangis dalam suasana hening yang menyelimutinya.


Setelah beberapa saat, Reina mengambil napas dalam-dalam dan mencoba menguasai emosinya. Ia tahu ia musti kuat, terutama untuk anak mereka, Ryan. Reina bersumpah untuk memberikan yang terbaik bagi anaknya, bahkan jika situasinya sulit.


Reina bangkit dari duduknya, lalu melangkah ke kamar mandi, dan membasuh wajah berusaha menenangkan diri sebaik mungkin.


Setelah itu, ia melepas seluruh pakaian, dan menggantinya dengan kimono tidur, lalu kembali merebahkan tubuhnya di atas pembaringan.


Rasanya sangat lelah setelah mengeluarkan air mata, hingga akhirnya ia tertidur dalam posisi menyamping.


***


Di antara angka-angka dan grafik, ia mencoba mengabaikan permasalahan dengan Reina, meskipun sebenarnya masalah itu tengah mengganggu fokusnya.


2 jam sudah ia mengerjakan tugas, dan akhirnya ia bisa menghela napas sambil membunyikan sepuluh jarinya karena sudah sekian lama beradu dengan keyboard.


Richie keluar dari ruang tersebut dengan perasaan lega.


"Kau ini kebiasaan deh, tugas yang seharusnya cukup di kerjakan di kantor, masih saja di lanjut ke rumah!" omel Bu Lily yang menghadapi Richie dengan berbagai kesibukannya.


Karena Richie dari dulu menerapkan prinsip totalitas, dan tidak bisa menunda pekerjaan.


"Udah deh, Mama tak usah ngerecokin aku terus, ya." Richie berlalu dari hadapan sang Ibu.


Saat itu ia melihat putranya sedang bermain bersama Pak Marthin di ruang keluarga, lantas ia langsung menghampiri Ryan.


"Sayangnya Papa, kau belum ngantuk, Nak?" Richie menggendong Ryan dan mengecupnya.


Ryan tampak senang saat berada dalam dekapan ayahnya. Dia tertawa kecil dan mencubit hidung ayahnya. Richie tersenyum dan mengecup pipi anaknya.


"Apa Papa harus membacakan buku dongeng sebelum tidur malam ini?" tanya Richie dengan suara lembut, dan Ryan mengangguk dengan senang hati.


"Richie, sebaiknya kau mandi dan beristirahat, biar Ryan Papa yang urus," ujar Pak Marthin yang merasa gerah melihat Richie masih lengkap dengan pakaian kerjanya.

__ADS_1


"Ehm, iya deh." Richie kembali menyerahkan Ryan pada Pak Marthin. Kini Ryan nyaman berada dalam dekapan Kakek dan Neneknya.


Richie melangkah menuju kamar sambil bersiul. Saat membuka pintu tersebut, ia melihat Reina sudah terlelap, sementara di bawah lantai berserakan tisyu bekas air matanya sejak menangis tadi.


Awalnya Richie tak peduli. Namun, ia tak bisa menahan hasrat ketika melihat paha mulus Reina saat pakaian itu tersingkap.


Richie mematikan sakelar lampu, lalu membuka kancing kemejanya satu persatu, hingga bertelanjang dada memperlihatkan otot kekar di perut dan kedua lengannya.


Ia mendekat kearah Reina yang masih terjaga, lalu mengecup leher jenjangnya dengan lembut.


Kecupan itu beralih, kali ini tepi bibir Richie menjalar ke area wajah Reina, sementara lengannya memberi sentuhan lembut di bagian paha.


Reina merasakan sensasi aneh, tetapi terasa nikmat, sehingga ia membuka kedua matanya secara perlahan.


"Sayang," serunya, Richie tak membalas ucapannya, ia terus melancarkan serangan di tubuh Reina.


Kali ini, Richie membuka tali kimono yang melekat di tubuh istrinya, hingga Reina terlihat lebih seksi dan menggoda di balik sepasang underware berwarna merah.


Tak ada sejengkalpun yang terlewatkan, Richie mengetahui titik sensitif dan kelemahan yang ada pada tubuh Reina.


Hingga Reina tak bisa menahan diri untuk tak bersuara, dengan cepat Richie membungkam mulut Reina menggunakan mulutnya, hingga lidah keduanya saling menyapa dan berbelit.


Sentuhan bibirnya terus menjalar, kali ini Richie melahap kedua gunung kembar milik Reina satu per satu, hingga Reina langsung menggenggam sebagian rambut Richie karena tak dapat menahan sensasi geli dan kenikmatan yang di rasakannya.


"Shhh, sayang," rancau Reina ketika lidah Richie terus bergerak.


Ia terus melakukan gerakan itu sambil membuka kedua paha istrinya lebar-lebar dan siap untuk melancarkan serangannya, karena adik kecilnya sudah berdiri dan siap untuk melakukan pertempuran.


Richie melakukannya dengan sangat lembut, hal itu membuat Reina terbang melayang mencapai surga dunia.


Beberapa menit mereka melakukan dalam posisi itu, Reina lalu mengambil alih posisi, ia mengungkung tubuh suaminya dari atas.


Tiba-tiba, keduanya di kejutkan oleh dering ponsel yang begitu mengganggu.


Awalnya, Richie berusaha mengabaikannya dan terus fokus pada gerakan yang di berikan Reina dari atas sana. Namun, lama-kelamaan fokusnya teralihkan.


Dengan cepat, ia menyambar benda pipihnya itu, lalu mengangkat panggilan dari seseorang. Sementara, Reina masih menghentakan tubuhnya di atas sana.


"Ya, halo Elvi, ada apa?" sapanya di telpon kepada wanita yang di duga sekretaris barunya itu.


Mendengar nama Elvi, sontak membuat Reina hilang selera untuk melanjutkan permainannya.


Reina yang kecewa langsung menghela napas, dan beranjak dari tubuh suaminya.


Sementara Richie sedang fokus berbicara di telpon bersama wanita itu, dan Reina merasa diabaikan.


Sesak itu kembali menjalar di dadanya, ia terpaksa harus mendengarkan percakapan suaminya dengan wanita lain saat mereka tengah asyik menelpon.


"Kenapa dia tega sekali?" batin Reina, meski begitu, ia berusaha untuk tetap tegar.

__ADS_1


...


Bersambung...


__ADS_2