
Pagi yang dingin, hawanya cukup membuat 2 gadis di bawah selimut menggeliat dan terus berebut menggulung badan ke dalam selimut, berharap mendapat banyak bagian. Keduanya terus beradu dalam gerakan kecil. Hingga akhirnya Ratu mulai kesal, karna mendapat bagian yang hanya menutupi sebelah badannya saja.
"Jangan di tarik terus dong ca! dingin tau," mengaduh pada Caca yang bahkan tidak bergeming untuk melonggarkan selimutnya. "Ca, kamu dengar gak sih. Jangan pura-pura deh, bangun Ca bangun. Caca … ih bangun dong. Ya sudah gak usah bangun, tapi di longgarin dong selimutnya, CAAA!" Ratu yang kesal akhirnya memukul Caca dengan guling, Ia menggulingkan tubuh Caca agar terlilit selimut, mendekatkan ke pinggir ranjang "Kalau kamu gak lepas, aku dorong. Kamu akan jatuh ke bawah, mau?" menekan kata-katanya.
"Ra, kamu ngapain? Lepasin gak Ra, lepasin ih. Sesak tau, aku susah napasnya," Caca terus berbicara dengan susah payah, bahkan sempat tersengal akibat lilitan selimut yang membuatnya kesulitan bergerak melakukan perlawanan.
Caca dan Ratu terus berdebat, hingga suara Ratu sudah memenuhi ruangan dan bergema di dalam rumah. Karena hal itu tiba-tiba saja ada suara yang mengagetkan dua gadis itu.
BUUGGHH
Caca terjatuh dari ranjang.
Sakin kagetnya, Ratu tak sengaja melepaskan Caca, spontan Ratu membantu Caca berdiri sambil mengelus-elus bahu Caca, tetapi yang di elus malah mendesah kesal.
"Apa yang kalian lakukan?" Ibunya Ratu kesal, dia yang sedang buat sarapan untuk suami dan anaknya, tetapi Ia harus terganggu dengan suara berisik 2 gadis itu.
"Kenapa pagi-pagi sudah buat ulah sih, hari ini masih panjang. Kenapa harus bertengkar di pagi hari, orang rumah bahkan tetangga bisa mendengar suara kalian, bla bla bla bla…" Keluarlah ceramah panjang yang terkadang di selingi pekik Ibu, yang karena ceramah Ibu pagi ini, hawa dingin nya sudah tak di rasa lagi. "Caca, kamu sarapan dulu baru pulang ya, Nak!" permintaan Ibu Ratu.
"Gak usah bi, nanti Caca makan di rumah, Caca pulang dulu ya bi," jawab Caca menolak dengan sopan.
"Ya sudah, Nak. Kalau begitu, kamu balik, terus ke sekolah yah," sahut bibi.
"Iya, bye Ra," menyapa Ratu yang sibuk dengan handphone nya.
Rumah Ratu dan Caca berhadapan, hanya 5 langkah saja sudah sampai.
Kini Caca sudah bersiap ke sekolah,setelah menyiapkan keperluan sekolah adik-adiknya.
"Lah kok, sepi banget," Caca heran dengan kondisi ruangan kelas sangat sepi.
"Ini jam berapa sih? Kok belum ada yang datang, tumben, " Caca memutuskan untuk keluar kelas, dan tiba-tiba saja ada suara dari belakang.
"Hey, kamu ngapain di situ? Mau bolos apel pagi ya? Sini kamu!" teriak satpam penjaga sekolah.
"ya ampun sudah apel pagi ternyata, pantesan sepi, aaaa malas banget kena hukuman, " pikir Caca malas.
"Iya Pak. Saya datang," mendekat ke arah Satpam.
__ADS_1
"Mmm Pak maaf, tadi saya lewat gerbang belakang, jadi gak tahu kalau udah apel pagi, " Pembelaan untuk dirinya sendiri.
"Memangnya kamu gak liat jam apa?" bentak
satpam. "Ya sudah sana, kamu masuk barisan. Ada penyampaian penting untuk murid kelas 12," Perintah Satpam, yang langsung menerima tundukan sopan dari Caca.
"aaaaa aku aman, " pikir Caca bahagia.
"Nama-nama yang bisa mengikuti pendaftaran universitas melalui jalur bebas tes, akan saya umumkan, dengarkan baik-baik!" pinta Guru dengan suara menegaskan, yang di jawab dengan wajah para siswa yang tegang, serta penasaran, yang juga bercampur harapan ada nama mereka di list itu.
"Baik Ibu mulai. Agata Wijaya, Norma Salsabila, Ainun, Fitri Ogita, Marcha
Marchella Viona, ....bla bla bla. "
Semua siswa bersorak senang, terlebih Caca yang merasa bangga. Tapi dia tidak luput dari bisikan-bisikan teman kelasnya yang mengatakan kenapa harus dia, tapi Caca tidak menggubrisnya, dia berlalu pergi meninggalkan orang-orang itu.
"Cie, kamu masuk. Diiiihh pasti senangkan, traktir makan dong!" celetuk Via dari
balik pintu yang mengagetkan Caca. "Ayo dong … cepetan."
"Gak deh, jajan aku pas-pasan buat makan siang, nanti aja yah…" Tolak Caca sambil
"Hey, kamu senangkan bisa daftar masuk universitasnya lewat jalur bebas tes, kamu
deketin guru mana lagi, kamu janjian apa dia, mau kamu suap pake apa, emang kamu udah punya banyak uang, atau mau kamu kasih semua isi kebun kamu ke guru-guru, hahaha." Fita seperti biasa mengganggu Caca. "Ayo jawab, gak punya kuping apa?" Fita jengkel karena tidak mendapat respon, terlebih saat Caca membalas perlakuannya dengan senyuman.
"Aku gak nyuap guru, aku juga gak janjiin apapun, selama ini kan aku cukup rajin dan nilai aku juga bagus kok, aku rasa itu cukup buat jadi pertimbangan masuk dalam list itu, " jawab Caca yang mulai jengah dengan Fita yang terus-terusan mengganggu nya.
"Apa? kamu bilang apa barusan? Kamu berani ya sekarang ngejawab aku, mau aku gampar kamu,ha?" Fita sudah mengangkat tangannya ke udara, tetapi tiba tiba saja ada yang menangkap tangannya. "Ibu." Fita kaget melihat gurunya yang sedari tadi rupanya mendengarkan di belakangnya.
"Kamu berdiri di tengah lapangan sekarang, sampai mata pelajaran Ibu selesai!" Guru itu
langsung masuk,sengaja tidak menutup pintu, agar bisa sekalian memantau Fita. "Marcha kamu bagikan buku-buku ini ke teman kelas kamu sekarang."
Caca melakukan tugasnya, Fita menjalankan hukumannya tanpa protes, takut hukumannya di tambah.
Tak terasa jam pulang sekolah tiba, Caca dan teman-temannya pulang dari sekolah barengan. Seperti biasa mereka di ganggu di depan gerbang sekolah.
__ADS_1
"Marcha sayang, aku boncengin ya. Kita balik
bareng, mau kan?" Ronal yang sudah menyentuh tangan Caca tapi langsung di
tepis oleh Caca. "Ayo dong Ca, kamu kenapa mau jalan kaki sih? Padahal kan kalau sama aku kamu bisa cepat sampai sayang," rayu Ronal.
"GAK MAU, ojekkk!" Tolak Caca yang langsung menahan ojek untuk pulang. "Ayo
vi, kita balik. Itu ojek nya barengan datang nya.'' Berjalan tanpa menghiraukan lagi kata-kata Ronal yang sudah kesal karna di tolak di hadapan teman-temannya.
"Gila, sadis juga tu cewek, Lo langsung di
tolak man! Asli gila banget, gue jadi ikut penasaran ama tu anak." Agus menertawai Ronal yang sedang kesal. "Taruhan mau gak?" ajak Agus.
"Taruhan apa?" Ronal bingung.
"Kita taruhan, kalau Lo bisa dapetin dia dalam seminggu ini, gue turutin deh apa yang Lo mau, " Agus menjawab kebingungan Ronal. "Gimana, Lo mau gak? Pasti bakal seru nih, selain Lo dapatin Caca, Lo juga dapat bonus dari gue, mau gak?" Agus dengan iming-iming nya yang ternyata di terima oleh Ronal.
"DEAL" Keduaya sepakat saling berjabat tangan.
Di rumah caca
"Aaaaahh senangnya, Ibu mau dengar gak?" Caca memeluk ibunya.
"Ada apa sih, kok kayaknya kamu girang banget, " Ibu yang heran melihat tingkah anaknya.
"aaahh bu, aku masuk list pengajuan siswa ke universitas, " jawab Caca dengan penuh semangat.
"Waahh, syukur deh. Kamu harus tambah rajin lagi, pokonya kamu harus tunjukan bahwa kamu itu layak, jangan sia-siakan apa yang sudah kamu usahakan selama ini, " nasehat ibu.
"Baik bu, nanti mau makan apa. Aku yang masak, tapi aku ganti baju dulu yah, " Caca mencium ibunya.
"Terserah kamu, Nak. Ya sudah sana, ganti bajumu, " pintah ibu.
Cerita tentang masuknya Caca di list pengajuan mahasiswa di universitas xx
menjadi topik hangat di meja makan bersama ayah, ibu, dan keempat adiknya.
__ADS_1
Bersambung.........