
Nyonya Selena berdiri dengan lengan yang di pegang oleh Tuan Arthur, seolah memberikan kekuatan untuk tetap tegar dan menahan diri.
Ia kemudian memutuskan untuk kembali ke hotel, jika tetap di sana ia takut akan kelepasan untuk memeluk Caca. Untuk saat ini ia ingin menjauh, dan selain itu ia ingin menginterogasi Denis.
"Papa, apa kita boleh kembali sekarang? ". Tanya Nyonya Selena.
" Ah mungkin Selena butuh sedikit istirahat, saya rasa kejadian tadi mengejutkan juga untuknya ". Ibu Maya mencoba menjelaskan situasi Nyonya Selena walaupun ia tahu apa yang sebenarnya tengah di rasakan Nyonya Selena.
" Baiklah, kalau begitu kami pamit dulu". Tuan Arthur kemudian pamit pada semuanya dan kembali ke hotel.
Ibu Maya memutuskan agar yang lainnya juga ikut beristirahat, sembari menunggu makan malam di siapkan.
***
Ibu Caca terlihat gelisah yang mana membuat ayah Caca bertanya-tanya.
"Ada apa bu? ". Tanyanya.
" Ibu tadi melihat wanita itu menatap Ibu".
"Lalu? ".
" Ayah, apa jangan-jangan mereka sebenarnya sudah mengetahui bahwa Caca adalah anak mereka? ".
" Apa yang ibu katakan, meskipun mirip mereka belum tentu orang tua kandungnya". Ayah Caca mencoba menenangkan Ibu Caca.
"Tapi sorot matanya…".
" Sudahlah bu, ayo istirahatlah". Ayah Caca menarik dan mendudukkan ibu Caca ke ranjang.
"Bolehkah kita egois…ibu sedikit tidak rela". Tiba-tiba ibu Caca mengatakan dirinya yang ingin egois terhadap Caca.
" Stop, istirahatlah". Ayah Caca menghentikan pembicaraan, ia merasa istrinya akan semakin berpikir aneh untuk mencegah Caca kembali pada orang tua kandungnya.
***
Aprilia pada hari itu memutuskan untuk kembali ke apartment nya , sudah cukup lama ia meninggalkan apartemen nya. Ia membersihkan dan merapikan tempat tinggalnya itu, setelahnya ia menelpon Malik.
"Halo sayang! ". Sapa Aprilia.
^^^" Iya ada apa? "^^^
"Hah, ayolah kenapa suaramu seperti itu"
^^^"Sudahlah aku sedang tidak ingin bercanda"^^^
"Hei sebenarnya ada apa denganmu? "
^^^"Ada apa denganku? "^^^
"Aku bertanya padamu".
^^^" Yah aku tidak apa-apa"^^^
"Kenapa kau jadi berubah begini"
^^^"Sudahlah, aku sedang tidak ingin berdebat"^^^
"Tapi aku butuh penj……".
__ADS_1
tut…tut…tut…
Panggilan di matikan sepihak oleh Malik, Aprilia semakin merasa aneh dengan perilaku Malik. " Sebenarnya ada apa ini, semenjak Malik bertemu Caca ia seolah menganggap aku tidak ada".
Aprilia memutuskan untuk mencari tahu soal Caca dan Malik keesokan harinya.
***
Arsya sedang duduk di kamarnya sambil memikirkan kejadian hari ini, ia membuka ponselnya dan menghubungi Dewa.
"Halo! ".
^^^" Yah ada apa? "^^^
"Aku ingin memberi tahu bahwa ada kejadian besar hari ini".
^^^" Apa itu berhubungan dengan Caca? "^^^
"Yah, ada sekelompok orang yang mengikutinya, meskipun katanya perampok biasa, menurutku tidak seperti itu".
^^^" Lalu bagaimana keadaan Caca sekarang? dia baik-baik sajakan? ".^^^
" Hei, slow! tentu saja dia baik-baik saja. Pengawal Tuan Arthur benar-benar menjaganya dengan baik".
^^^"Syukurlah, besok kalian tidak perlu membawa mobil ke kampus, aku akan menjemputmu"^^^
"Yah itu alasan baik agar kau bisa cepat bertemu dengannya".
^^^" Aku benar-benar hanya ingin menjemput"^^^
"Ya ya baiklah".
panggilan di tutup begitu saja oleh Dewa, Arsya menatap ponselnya lalu tersenyum kecil. "Kira-kira siapa orang-orang itu".Kembali ia memikirkan kejadian sore tadi.
***
Di hotel Denis duduk layaknya seorang pelaku kejahatan. Arfa, Tuan Arthur, Nyonya Selena dan Danar menatap nya menunggu penjelasan. Bahkan Arfa menunda untuk bertemu kliennya.
Denis mulai menjelaskan apa yang terjadi, tetapi tidak begitu detail.Ia menceritakan sebisa mungkin tidak terlihat gawat dan mencurigakan oleh Nyonya Selena, ia akan menceritakan yang sebenarnya tetapi tidak pada Nyonya Selena.
Nyonya Selena sedikit lega begitu mengetahuj bahwa ternyata mereka benar-benar hanya perampok biasa (Denis susah payah meyakinkannya). Ia kemudian masuk ke kamarnya dan memutuskan istirahat sejenak sebelum ia mandi.
Tuan Arthur dan Arfa kembali bertemu Denis setelah memastikan Nyonya Selena benar-benar pergi untuk beristirahat di kamarnya, mereka sangat tidak sabar mendengar yang sebenarnya.
"Tuan, saya rasa ini adalah kelompok mereka". Denis.
" Kau jangan sembarangan". Tuan Arthur.
"Saya sempat melihat salah satu anak buahnya, yang dahulu pernah berhadapan denganku". Denis.
" Kau mungkin salah liat".
"Tidak Tuan, ada bekas goresan di area pelipisnya, aku yang melakukan itu". Denis bersih keras.
" Denis, kau tahu betul apa akibat dari perkataanmu ini". Tuan Arthur menekan kata-katanya.
"Aku tidak akan melupakan wajah kelompok itu". Denis tiba-tiba merubah tatapannya.
" Kakak! ". Danar mendekati kakaknya.
__ADS_1
" Danar, minta beberapa orang untuk mencari tahu pergerakan kelompok itu". Tuan Arthur.
"Baik Tuan". Danar kemudian bergegas melaksanakan tugasnya.
Arfa hanya terdiam dengan ribuan pertanyaan di kepalanya, dia sangat ingin menanyakan banyak hal tetapi melihat kondisi ini ia mengurungkan niatnya. " Kak Denis kelihatan nya akan mengamuk lagi". Ia kemudian kembali ke kamarnya dan memutuskan untuk menyelesaikan urusannya segera.
***
Keesokan harinya
Dewa datang dengan menggunakan mobil mewah miliknya untuk menjemput Arsya dan Caca.
"Pagi Bunda". Sapanya.
" Loh, nak Dewa baru muncul lagi, kemana saja nak ? ". Ibu Maya.
" Tidak kemana-mana Bunda, gimana kabar Bunda? ". Tanya Dewa.
" Baik, tunggulah sebentar di sini dan sarapan dulu, Arsya dan Caca akan segera keluar".
Bunda Maya kemudian pergi untuk memanggil 2 gadis itu.
Mereka berangkat ke kampus bersama, dengan canda tawa mobil itu di penuhi dengan tawa ria, walau sebenarnya Dewa mencuri-curi pandang pada Caca.
Aqifa ke kampus dengan wajah sumringah, seolah dia baru saja mendapat hal baik, ia terus tersenyum manis.
"Ada apa denganmu? ". Tanya Andini.
" Videonya hebat,ia akan sangat malu". Aqifa tertawa riang. "Arsya pasti akan membencinya".
" Ah, kau sudah menontonnya, apa kau tidak berniat bertemu dengan pemberi video itu? ". Andini.
" Aku ingin sih, memangnya orang itu siapa? ".
" Intinya dia sangat membenci Caca, dia bahkan sangat ingin melenyapkannya". Andini
"Melenyapkan? ". Aqifa sedikit merasa tidak nyaman mendengar Caca akan di lenyapkan. " Aneh… ada apa denganku? ". Aqifa merasa sedikit ada perasaan tidak nyaman,tetapi ia menepis itu segera dan saat ini ia benar-benar sangat ingin melihat 2 sosok yang menjadi pemeran di video itu.
Mereka kemudian memasuki ruang kuliah berhubung kuliah akan segera di mulai, saat itu salah satu pemeran video itu ada di hadapannya, ia tersenyum padanya dengan manis.
"Apa dia tidak waras?kau sakit yah? ". Aprilia.
" Aku tidak tersenyum padamu, kenapa kau sibuk sekali". Aqifa. "Jangan merusak suasana hati orang".
" Aneh". Aprilia.
"Aneh, apa yang dia rencanakan dengan wajah seperti itu". Timbul perasaan curiga di benak Arsya. " Dia sudah pasti merencanakan sesuatu , kenapa dia seperti itu".
"Ada apa? ". Tanya Dewa melihat Arsya yang sedang memikirkan sesuatu.
" Tidak apa-apa". Arsya
Mereka kemudian memulai kuliah pada pagi itu.
bersambung……………
...****************...
...----------------...
__ADS_1
...****************...