
Jam perkuliahan pagi itu telah usai, tapi mereka tidak kembali ke asrama atau rumah masing-masing. Jam kuliah berikutnya hanya berkisar 2 jam.
"Ke kafe depan kampus yuk! ".Dewa menawari.
Mereka tidak menjawab, hanya menatap Dewa.
" Ada apa, kalian terpaku dengan ketampanan ku? ". Dewa
Mereka tidak menjawab dan hanya membalikkan badan dan berjalan ke arah kafe terdekat meninggalkan Dewa yang kemudian mengejar mereka di belakang.
***
Di sebuah kafe
"Dimana Derik? kenapa dia tidak mengangkat telpon ku? ".Aqifa kesal.
" Sabarlah, dia mungkin sedang dalam perkuliahan ".Andini.
" Apa susahnya membalas pesanku". Aqifa.
Tidak lama kemudian muncul suara berat dan lesu dari belakang.
"Maaf, aku baru datang".Derik.
" Kau dari mana saja hah?apa yang kau lakukan pada Caca, kenapa dia baik-baik saja,apa kau tidak mendengarkan ku? ".Aqifa marah.
" Dewa, karena dia".Derik
"Apa maksudmu,mereka tadi memang memasuki ruangan bersama".Andini
" Saat aku akan meraih Caca, Dewa menepis tanganku, aku susah payah melepas hasrat ku, mencari pelepasan lain. aku tersiksa melihatnya pergi". Derik masih terlihat kacau.
"Kenapa tidak mencari wanita lain? ".Aqifa
" Masih pagi, aku tidak menemukan siapa-siapa".Derik menghela napas.
Andini hanya terdiam, melihat keduanya seperti itu mencari jalan keluar sepertinya mereka sudah terbiasa dengan hal itu.
"Kita harus mencari cara lain". Aqifa.
Saat mereka sedang sibuk dengan makan dan minum mereka, Andini melihat Caca, Aprilia, Arsya dan Dewa memasuki kafe yang sama.
" Qifa, lihat di sana! ".Andini
" Mereka terlihat akrab".Derik yang kemudian melirik Aqifa yang wajahnya sudah ingin menelan mereka semua.
"Panggil seorang pelayan kemari! ".Aqifa.
" Mau apa? ".Andini.
" Panggil saja dulu".Aqifa tanpa melirik si penanya.
Tidak lama kemudian salah seorang pelayan datang. Aqifa membicarakan sesuatu dengan pelayan itu kemudian memberikan sejumlah uang. Yang kemudian di terima anggukan oleh pelayan tersebut.
***
Di meja lain di kafe yang sama
"Ah aku ingin minum yang dingin-dingin, tenggorakan ku kering".Aprilia yang di terima anggukan oleh Arsya.
" Caca, kau mau apa? akan ku pesan sekalian? ".Dewa, membuatnya di tatap oleh 3 wanita itu.
__ADS_1
" Ah samakan saja dengan kalian,minuman saja yah".Caca.
"Kau tidak memesan cake? ".Dewa.
" Tidak perlu, aku membawa cake di tasku, tapi entahlah apakah bisa makan di sini, jika ia ayo makan bersama".Caca.
"Ayo keluarkan, kita makan bersama".Arsya.
" Tapi nanti pemilik kafe menegur kita".Caca masih sedikit ragu.
Melihat kue yang di keluarkan Caca, Arsya mengangkat tangannya dan datanglah seorang pelayan, "Tolong bawakan 4 piring kecil, kami mau makan cake ini".
" Baik nona".Pelayan tersebut.
Caca bingung dengan keadaan ini, Dewa tersenyum melihat wajah Caca yang heran.
"Tidak perlu heran, kafe yang terletak di sepanjang area kampus ini, milik pamannya jadi tidak heran dia berbuat sesukanya".Dewa.
" Oh begitu yah".Caca mengangguk.
Mereka kemudian membagi-bagi cake itu, sampai akhirnya minuman yang mereka pesan sudah siap.
"Silahkan di nikmati".pelayan menunduk mengundur diri.
Caca hendak meneguk minumannya, tetapi ada tangan yang menghentikannya.
" Jangan di minum".Malik menghentikan tangan Caca, Ronal berdiri di sebelah Malik.
"Malik".Aprilia heran melihat keduanya bersama.
" Sini".Malik mengambil minuman itu, dan meminta seseorang memanggil seorang pelayan yang mengantarkan minuman itu.
"Ada apa sebenarnya? ".Aprilia bingung, sama halnya dengan Caca, Arsya dan Dewa.
Ronal menatap Malik yang begitu marah. "kenapa dia semarah itu, apa mungkin Caca? tidak mungkin". Ronal mencoba mengalihkan pikirannya.
" Ada yang bisa saya bantu Tuan? ".Pelayan yang mengantarkan minuman itu menghampiri mereka.
" Minum ini! ".Malik.
Sontak pelayan itu kaget, ia bingung bagaimana harus mengatasi ini, saat mengangkat kepala nya, matanya terbelalak melihat Malik yang berbicara dengannya, sontak ia tunduk dan memohon maaf, " Maaf tuan, saya hanya di suruh! ".
" Siapa? ". Malik dengan suara beratnya.
" Nona itu... ". Saat menoleh, meja Aqifa sudah kosong.
" Pergilah". Malik yang kemudian memanggil sekretaris nya mendekat. "Bawakan salinan rekaman cctv kafe ini".Malik.
Caca terdiam melihat hal ini, kenapa ada yang mau Mencelakai nya dengan racun, dia berpikir apa kesalahannya.
Aprilia memikirkan Malik, perasaannya merasa cemburu melihat Malik begitu pada Caca, dia menunjukkan betapa pedulinya dirinya pada Caca, tatapan hangat yang di berikan pada Caca.
Arsya dan Dewa kemudian berbicara dengan paman Arsya, yang berakhir dengan pemecatan pelayan tersebut, dan pendisiplinan seluruh karyawan.
"Minumlah, racun hanya di minuman Caca".Ronal.
" Kalian duduklah, aku membuat cake ini".Caca menunjukan wajah tenang dan tersenyum.
Melihat itu Malik merasa sakit, dia tahu Caca pasti takut dan memikirkan siapa orang itu, tapi menyembunyikan nya. "kau sungguh berbeda". Malik semakin mengaguminya.
Mereka menikmati cake itu, membiarkan masalah yang berlalu dengan Canda dan tawa. Caca tidak menyadari ada 3 pasang mata yang terus memperhatikan nya (Dewa, Ronal dan Malik).
__ADS_1
Jam perkuliahan berikutnya sudah akan dimulai, mereka memutuskan untuk kembali ke kampus.
"Kau masuklah, aku akan mengurus masalah tadi".Malik.
" Aku ingin bertanya sesuatu". Ronal.
"Mari bertemu di fila malam ini, aku juga akan mengatakan sesuatu, aku harus menyelesaikan masalah ini dahulu".Malik.
" Baiklah, sampai berjumpa malam ini! ".Ronal yang kemudian meninggalkan Malik
***
Aprilia, Caca dan Arsya berjalan berdampingan ke ruangan kuliah mereka.
" Kau kenapa diam saja? ".Arsya.
" Ah aku hanya memikirkan sesuatu".Aprilia
Caca mengerti kenapa Aprilia hanya diam,dia pasti memikirkan reaksi Malik terhadap dirinya.
"Dewa dimana? ".Caca menyadari Dewa tidak bersama mereka.
" Oh tadi katanya ada yang mau di urus". Arsya.
Caca hanya mengangguk, kemudian masuk ruang kuliah tanpa saling berbicara satu sama lain.
"Ada apa ini, kenapa mereka jadi terlihat canggung begitu". pikir Arsya
***
Ronal berjalan ke arah ruang kuliahnya, saat memasuki ruangan dia mencari Caca.
" Aku duduk di sini yah! ".Ronal.
" Loh, kau kenapa di sini? ".Caca.
" Aku memprogram kuliah ini juga, ini mata kuliah desain dan fotografi, hampir seluruh jurusan memprogram ini".Ronal.
"Iya sih,sstt dosennya masuk".Caca
Mereka mengikuti perkuliahan dengan tenang dan sesekali tertawa karena dosen yang tidak kaku dan membuat sedikit lelucon. Saat itulah Ronal akan memperhatikan Caca tanpa berkedip,dia merasa menyesal tidak masuk mata kuliah ini sebelumnya.
***
Dewa berjalan kembali ke kafe sebelumnya dan menuju ke ruang keamanan kafe.
"Tolong berikan salinan rekaman cctv hari ini! ". Dewa.
" Maaf tuan, kami tidak boleh... ". Petugas.
" Ada apa? ".Tiba-tiba Malik muncul.
" Aku akan mengecek siapa yang memberi racun di minuman Caca". Dewa.
"Aku sudah tahu, Aqifa yang melakukannya". Malik langsung ke intinya.
" Sepertinya kita harus makan bersama".Dewa.
"Sekretaris ku akan mengaturnya". Malik. " Mengapa dia ikut mengurus ini, apa dia menyukai Caca". Malik dan Dewa saling memandang dengan pikiran masing-masing.
bersambung……………
__ADS_1
...----------------...
...****************...