Pertemanan Atau Permusuhan

Pertemanan Atau Permusuhan
Paket


__ADS_3

Caca, Aprilia dan Arsya berjalan masuk ke ruang kuliah sambil bercengkrama, terkadang tertawa, terkadang Arsya menghentakkan kaki karena kesal dengan Aprilia. Caca merasa pertemanan mereka semakin meningkat, semakin akrab, walaupun mereka belum saling membuka diri menceritakan masalah atau hal-hal sulit lainnya, mereka hanya membahas hal yang menyenangkan. Caca melihat kedua temannya itu, apa mungkin mereka berdua punya masalah, tapi belum siap membuka diri lebih dalam, caca hanya memikirkannya sendiri, tidak berniat untuk mengeluarkannya.


Seperti kuliah sebelumnya, mata kuliah Desain dan Fotografi, Ronal berencana akan duduk di dekat Caca lagi, ia bergegas takut ada orang lainnya yang mendahuluinya.


Dan benar saja saat sampai di ruangan kuliah, Dewa sudah duduk di sebelah Caca, Ronal menatap Dewa dengan tajam tetapi ia memutuskan untuk duduk tepat di belakang Caca.


"Kau pagi ini sarapan? ". Ronal.


" Kenapa? ". Caca.


" Aku ke asrama mu tadi, tapi kau sudah sudah berangkat pukul 06:00 pagi". Ronal.


"Tau darimana? ". Tanya Caca.


" Aku bertemu Rani, jadi sekalian aku mengantarnya". Ronal.


"Oh Rani, aku memang tidak sarapan". Caca menjawab pertanyaan awal Ronal.


" Kenapa? ". Dewa dan Ronal bertanya secara bersamaan.


" Ah yaa… aku bosan terus mendengar klakson mobil saat berjalan ke kampus, beberapa kali aku selalu mendapat gangguan". Caca menjelaskan


"What? gangguan? Siapa yang mengganggu mu? ". Tanya Arsya.


" Ah aku lupa memberi tahumu". Dewa mengingat kejadian dimana Derik mencoba memaksa Caca


"Soal apa? ". Tanya Arsya.


Dewa hendak menjelaskan tetapi dosen sudah memasuki ruangan dan memulai perkuliahan.


***


Di kamar hotel Presidential suite, Tuan Arthur


Tuan Arthur sedang membaca dokumen-dokumen perusahaan, walaupun dia sedang berada di kota lain, ia tetap menjalankan kewajibannya.


Ting…Ting…Ting (dering tanda pesan masuk)


Tuan Arthur meletakkan berkas yang sedang ia periksa lalu mengecek handphonenya, ia berdiri dengan wajah yang terlihat menegangkan saat membuka pesan yang baru saja ia terima.


"Aku tahu kau sedang berada di kota xx, aku tahu kau sedang berusaha mencari putrimu, cek paket yang baru saja sampai".


Melihat pesan itu Tuan Arthur bergegas menelpon Denis.


" Halo!! Cek paket yang baru sampai untukku"


^^^"Sepertinya paketnya sudah di sini Tuan"^^^


Mendengar itu Tuan Arthur langsung keluar kamar dan melihat seorang petugas hotel membawa paket.


"Permisi pak, ini paket untuk Tuan Arthur".


" Berikan padaku". Tuan Arthur mengambil paket tersebut dengan menggebu-gebu, ia kemudian masuk ke dalam kamarnya.


Tuan Arthur terdiam melihat isi paket tersebut, saat Tuan Arthur sedang tenggelam dalam pikirannya Nyonya Selena yang baru saja selesai mandi mendekatinya.

__ADS_1


"Papa, kok belum siap, katanya mau temenin mama belanja". Nyonya Selena.


Karena tidak mendapat jawaban, Nyonya Selena duduk di sebelah suaminya itu, ia melihat mata suaminya memerah.


" Papa, Pah! ". Nyonya Selena mencoba menyadarkan suaminya yang membisu.


Tuan Arthur menoleh pada Nyonya Selena dengan mata memerah yang siap memuntahkan air bening. Tuan Arthur menyerahkan foto wanita yang ia genggam sejak tadi.


" I-ini siapa? ". Nyonya Selena seolah bisa menebak siapa wanita di foto itu, tetapi hatinya menginginkan kepastian.


" Itu gadis yang Papa temui di Mall, seseorang mengirim pesan pada Papa dan mengirimkan paket berisi foto ini". Tuan Arthur menjelaskan.


Nyonya Selena bangkit dari duduknya dan menghampiri kotak paket itu, ia berharap ada surat atau apapun di dalamnya. Dan benar saja, ia menemukan secarik kertas di sela kotak itu. Nyonya Selena membaca tulisan di kertas itu.


"Aaaaaaaaaaaaa tidak tidaaaakkkkkk". Nyonya Selena.


" Kenapa Mah? ". Tuan Arthur segera menghampiri Nyonya Selena karena mendengarnya berteriak.


tok…tok…tok


" Tuan, Nyonya apa anda berdua baik-baik saja? ". Denis berdiri di pintu bersiaga.


" Kami baik-baik saja". Jawab Tuan Arthur.


Tuan Arthur kemudian mengambil kertas itu dan membacanya.


"Bermain dengannya sepertinya menyenangkan". (Isi dari secarik kertas tersebut).


" Sialan". Tuan Arthur.


" Tenanglah, papa akan keluar menemui Maya". Tuan Arthur.


"Mama ikut". Nyonya Selena


" Tidak, Mama di sini saja, percayakan sama papa". Tuan Arthur menolak permintaan istrinya, ia takut istrinya akan terlalu emosional.


"Tapi pah". Nyonya Selena masih berusaha.


" Papa mohon Mah". Tuan Arthur, setelah melihat istrinya menurut, ia keluar dari kamar.


Setelah keluar Tuan Arthur mengunci kamar itu dan memberikannya pada pengawal pribadi mereka.


"Apapun yang terjadi jangan biarkan Nyonya untuk keluar, pastikan tidak ada orang mencurigakan mendekat di kamar ini". Pinta Tuan Arthur yang di sambut anggukan siap dari para pengawal tersebut.


" Denis, ikut saya!! ". Tuan Arthur kemudian pergi bersama Denis.


***


Ibu Maya sedang duduk santai di ruang keluarga rumahnya, hingga saat ia menerima pesan.


" Hotel Secret Bee, Reservasi atas nama Arthur,sekarang juga". Pesan singkat dari Tuan Arthur kepada ibu Maya.


"Wah padahal aku juga berniat menghubungi nya, baiklah ini akan menjadi kejutan untukmu". Ibu Maya kemudian berjalan ke arah kamarnya, setelah mengambil tas dan beberapa barang penting, ia meninggalkan kediamannya itu.


***

__ADS_1


Hotel Secret bee


" Selamat datang". Pelayan hotel menyambut Ibu Maya.


"Tuan Arthur". Ibu Maya.


" Mari saya antar". Pelayan hotel.


Ibu Maya memasuki ruangan, dimana Tuan Arthur duduk dengan wajah serius, Ibu Maya menjadi gugup setelah melihat wajah Tuan Arthur.


"Bagaimana perkembangan dari informasi soal putriku? ". Tuan Arthur langsung pada intinya.


" A-aku sudah mendapatkan fotonya, dan rambutnya agar kau bisa melakukan tes DNA". Jawab Ibu Maya dengan hati-hati.


"Siapa saja yang tahu soal ini? ". Tanya Tuan Arthur.


"Dewa dan Arsya, aku memberi tahu mereka agar mendapatkan rambut ini, ada apa? ". Ibu Maya bingung.


Tuan kemudian mengeluarkan selembar foto dan memberikan nya pada Ibu Maya.


" Apakah dia? ". Tanya Tuan Arthur.


" Caca, iya dia wanita yang aku maksud, ini adalah rambutnya". Ibu Maya begitu semangat saat melihat foto Caca.


"Apa yang akan membuatku mempercayaimu". " aku harus memastikan dengan mata kepala sendiri".


Ibu Maya mengotak-atik handphonenya, kemudian membuka foto- foto yang ingin ia perlihatkan pada Tuan Arthur.


Tuan Arthur memegangi kepalanya setelah melihat foto yang di berikan Ibu Maya. Ibu Maya juga memperlihatkan foto yang sama.


"Baiklah, terima kasih untuk informasi yang kau berikan, dari sini aku akan mengurusnya sendiri". Tuan Arthur.


" Tunggu!! bisa beri tahu aku, dimana kau menemukan foto-foto itu? apa jangan-jangan kau tahu dari awal? ". Tanya Ibu Maya.


" Aku mendapat kiriman paket dan itulah isinya". Tuan Arthur.


"Pengirimnya? ". Ibu Maya.


" Entahlah, aku hanya menerima paket ini, dan secarik kertas yang mengancam akan mengganggu Diandra". Tuan Arthur.


"Aku bersedia menyediakan tempat untuk Caca di rumahku, dia bisa berangkat ke kampus bersamaan, aku akan membuat alasan untuk memberikan mereka pengawal pribadi.


" Aku berniat untuk membawanya pulang ". Tuan Arthur.


" Kurasa itu kurang pas, dia akan menghadapi ujian semester ini, jika memberi tahu kebenaran ini, ia akan terganggu dengan pelajarannya, sekarang lebih baik jika kita bisa mengawasinya, aku akan berusaha mencari alasan agar Caca mengikut saranku ". Ibu Maya


" Baiklah, aku percayakan padamu". Tuan Arthur.


bersambung……………


...****************...


...----------------...


......................

__ADS_1


__ADS_2