Pertemanan Atau Permusuhan

Pertemanan Atau Permusuhan
Perasaan aneh


__ADS_3

Ronal baru saja bangun, ia merasa ada sesuatu yang ia lupakan, ia mencoba mengingat apa yang ia lewatkan. Ia kemudian memutuskan untuk membersihkan diri dahulu. Ronal merasa segar saat air yang mengucur mengenai kepalanya, dan saat itu juga ia mengingat bahwa ayahnya memintanya untuk menjemputnya di bandara.


Ronal mandi secepat mungkin dan keluar dengan tergesa-gesa, ia mengecek handphone nya, benar saja sudah ada puluhan panggilan dari ayahnya.


"Mampus dah". Ronal bergegas mengambil pakaian yang bisa ia raih dari lemarinya kemudian ia kenakan dan segera keluar dari apartemennya .


***


Setelah Tuan Arthur menerima pesan dari ibu Maya, ia memerintahkan Denis untuk memusatkan kesiagaan pada Caca di bandara, ia menyadari kini orang yang berusaha mencelakai Caca memiliki banyak mata.


"Denis, kirim beberapa anak buah untuk melindungi adik-adik angkat Diandra, siapapun yang berkaitan dengan Diandra, lindungi mereka". Pinta Tuan Arthur.


" Baik Tuan". Denis kemudian bergegas melaksanakan tugasnya.


Nyonya Selena yang baru saja selesai mandi, ia memilih pakaian yang akan ia kenakan, ia sangat bersemangat untuk membuat kue bersama Caca hari ini.


"Pa, kok belum siap sih? ". Nyonya Selena menemukan suaminya masih mengenakan handuk mandi.


" Ah maaf tadi ada sedikit urusan". Tuan Arthur.


"Ya udah cepat". Nyonya Selena duduk di depan meja rias dan merias dirinya.


Nyonya Selena menyisir rambutnya, ia kemudian membayangkan menyisir rambut Caca, ia ingin Caca segera berada di samping mereka tapi ia bingung bagaimana nanti mereka akan memberi tahu Caca soal ini, ia takut Caca akan menolak mereka.


Tuan Arthur selesai mengenakan pakaiannya, ia melihat istrinya muram di meja riasnya.


"Ada apa? ". Tuan Arthur.


" Apa Diandra akan menerima kita, mama takut dia akan berpikir kita tidak mencarinya dengan baik selama ini". Nyonya Selena.


Tuan Arthur terdiam, benar juga pikirnya. Selama ini mereka tidak memikirkan hal itu, bisa saja Caca tidak begitu saja menerima mereka.


"Pa, kita harus bertemu orang tua angkatnya dahulu". Nyonya Selena.


" Baiklah, kita akan bicarakan ini di rumah Maya". Tuan Arthur.


Mereka berdua pun keluar dari kamar mereka, dan segera berangkat ke rumah Arsya.


***


Rumah Arsya.

__ADS_1


Orang tua Caca memasuki pelataran rumah Arsya, betapa takjub mereka berdua dengan kemegahan rumah itu. Belum lagi saat mereka memasuki rumah itu, mata mereka melebar.


"Ayah, ini istana". Bisik Ibu Caca.


" shut". Ayah Caca.


Mereka berdua di persilahkan duduk, Caca memasukkan barang orang tuanya di kamar yang ia tempati. Kemudian keluar lagi menemui orang tuanya dan ibu Maya yang sedang bercerita.


"Bapak sama Ibu istirahat dulu, saya tahu pasti capek di perjalanan, Caca bercerita bahwa kalian tidak akan bisa tidur saat di pesawat". Ibu Maya.


" Ahh rupanya Caca mengatakan nya, sebenarnya memang begitu". Ibu Caca tersenyum malu.


"Ya sudah, bapak sama ibu istirahat saja dulu, Caca antar orang tua mu". Ibu Maya.


" Iya bunda". Caca kemudian mengantar orang tuanya ke kamar, dan kembali pada ibu maya.


"Bunda". Caca.


" Kamu jangan pikirin yang aneh-aneh, orang tuamu bisa khawatir, biar Bunda yang urus orang-orang itu,memang sering terjadi hal-hal seperti itu di tahun pertama mahasiswa, banyak oknum yang iseng ataupun mencoba menipu, apalagi orang tua yang awam, mereka jelas percaya karena itu dirimu, jelas mereka menyayangimu, apapun mereka lakukan jika kau memerlukan nya". Ibu Maya.


"Tapi kenapa mereka bisa tahu orang tuaku, itu yang aku pikir Bunda". Caca tetap saja memikirkannya.


" Sayang, ini zaman modern, mereka bisa mendapatkan nya dengan banyak cara, tenanglah itu bukan hal serius, dan jangan beritahu orang tuamu mengenai hal ini, mereka akan sangat khawatir". Ibu Maya.


" Nanti bunda yang menjelaskan nya pada orang tuamu, kau tenang saja". Ibu Maya.


Akhirnya Caca mencoba untuk menerima penjelasan Bunda, lagipula untuk apa ada orang yang mau mengganggunya, dia bahkan tidak begitu penting pikirnya.


Tidak lama kemudian Tuan Arthur dan Nyonya Selena datang. Mereka berdua di persilahkan masuk, Nyonya Selena mencoba untuk berbicara sekaligus mengakrabkan diri dengan Caca.


Ibu Maya dan Tuan Arthur berjalan lambat di belakang mereka sambil membahas mengenai orang tua Caca dan tindakan orang misterius yang mengusik mereka.


***


"Caca, jagonya bikin cake apa? ". Nyonya Selena.


" Apa aja Tante, Caca udah coba bikin beragam cake". Jawab Caca.


"Kalian sudah siap, kita harus belanja bahannya". Ibu Maya.


" Iya Bunda ". Jawab Caca dan di ikuti anggukan oleh Nyonya Selena.

__ADS_1


Caca memperhatikan Nyonya Selena, rasanya sangat nyaman bersamanya padahal ini baru pertemuan kedua di antara mereka, ia menatap Nyonya Selena seolah dia adalah orang yang sangat ia rindukan dan tanpa di sadari air matanya jatuh. Nyonya Selena reflek menghapus air matanya. Caca tidak menghentikannya, dia justru minta maaf karena bersikap aneh seperti itu. Caca kemudian berdiri dengan alasan akan memberi tahu Arsya dan Aprilia yang sejak tadi belum juga keluar dari kamarnya.


Tuan Arthur dan Ibu Maya yang melihat hal itu hanya bisa diam. Terlebih Tuan Arthur yang tersiksa karena tidak bisa mengatakan yang sebenarnya, bagaimanapun mereka harus memikirkan perasaan dan mental Caca saat mengetahui yang sebenarnya.


Tuan Arthur mendekati istrinya dan mengelus tangannya.


Ibu Maya masuk ke kamarnya dan mengambil tas dan segera turun bersiap untuk pergi berbelanja bahan-bahan untuk cake.


Mereka berempat kemudian berangkat ke tujuan mereka dengan menggunakan mobil Tuan Arthur.


Caca merasa aneh karena mobil yang mereka gunakan di kawal oleh 2 mobil bodyguard.


"Bunda, apa Tuan dan Nyonya Selena orang penting, pengawalnya banyak". Caca berbisik pada Ibu Maya.


" Yah, mereka adalah orang ternama Negara A, mereka orang yang baik karena itu banyak juga yang iri pada mereka, karena itu di selalu di kawal". Ibu Maya.


Caca mengangguk mengerti, dan kembali duduk diam sambil memperhatikan pohon-pohon yang berlalu.


Mereka pergi ke sebuah Mall, Caca bingung kenapa mereka ke sana bukannya ke toko bahan kue.


"Caca maaf yah, Bunda lupa bilang kalau Selena mengajak kita sekalian untuk belanja beberapa barang". Ibu Maya sebenarnya sengaja tidak memberitahu karena ia tahu Caca akan menolak.


" Oh iya Bunda". Caca tersenyum dan keluar dari mobil.


Mereka memasuki mall, Ibu Maya dan Nyonya Selena berjalan ke sana kemari, memilih pakaian, sepatu, tas dan banyak hal. Sedangkan Caca mengikuti belakang mereka kemana-mana. Saat mereka sedang sibuk memilih pakaian, Caca meminta izin untuk mencari minuman, ia merasa kehausan. Ia kemudian pergi setelah mendapat izn.


Caca membeli ice coffee, ia berjalan hendak kembali ke tempat Ibu Maya, ia tidak sengaja melihat seorang wanita dengan jeans putih dan baju crop top. Caca melihat ada noda merah di jeans putihnya, orang-orang yang melihatnya menertawakan nya diam-diam. Caca melepas kardigan nya dan segera menghampiri wanita itu dan menutup bagian belakangnya.


"Apa yang kau…". Wanita itu berbalik.


" Kau! ". Caca kaget, rupanya dia Aqifa.


" kau! apa yang kau lakukan, jauhkan pakaian murahanmu dariku". Aqifa menghempas kardigan pemberian Caca.


"Kau jangan melepasnya, kau sedang datang bulan, ada noda di jeansmu". Caca kemudian kembali menutupi bagian belakang Aqifa dan mengikat kardigan itu di pinggang Aqifa. Aqifa hanya diam, ia merasa malu karena tidak menyadari hal itu.


Mereka berdua saling bertatap muka, karena Aqifa tidak mengatakan apapun, Caca memutuskan untuk meninggalkan nya.


bersambung…………………………………


...****************...

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2