
Hari itu Caca langsung balik ke rumahnya, karna dia berpikir bahwa Via pasti sudah memberitahu guru bahwa dirinya sakit. "Haaah aku jadi ngerasa aneh kalau pulang cepat, hmmm jadi gini rasanya anak bolos," Caca berbicara sendiri di kamarnya, rumahnya kosong saat ini sebab orang tuanya sedang berada di kebunnya. "Rumah sepi banget, nyuci pakaian dulu deh," Caca memanfaatkan waktunya.
Caca bersih-bersih dalam rumah, kemudian memasak mengingat kedua orang tuanya pasti akan balik untuk makan siang, dan benar saja tepat setelah Caca selesai masak orang tuanya sudah sampai. Mereka melihat Caca dalam rumah seharusnya 2 jam lagi baru Caca balik dari sekolah.
"Caca! Kamu kok udah balik?" Ayah yang bingung melihat anaknya sudah pulang.
"Iya benar kok kamu udah pulang? Kan, harusnya sekitar 2 jam lagi Nak," Ibu tidak kalah heran.
Caca berpikir dia harus bilang apa. "Ahh itu tadi aku sakit perut Bu, mau BAB tapi di sekolahan toilet nya mampet jadi terpaksa deh Caca balik, lagian Caca udah izin kok," Caca dengan setenang mungkin meyakinkan orang tuanya. "Ya udah gih makan dulu,aku nunggu Adan, Vano, dan Cia balik dulu," sambung Caca yang berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Ya udah, kamu istirahat sana atau belajar, apalah terserah kamu aja," Ibu yang sedang mencuci tangannya dan segera membersihkan diri.
"Ya udah, Caca masuk kamar dulu," Caca masuk ke kamarnya.
Selesai berbicara dengan orang tuanya, Caca mengingat kejadian di sekolah tadi yang pasti akan membuat mereka sedih mendengarnya. "Ronal, sumpah aku gak mau ini terbongkar, gimana ya? Apa dia bisa membungkam Via, tapi gimana kalau Via malah tambah marah sama aku, duh gimana ya?" Caca bertanya pada dirinya sendiri. "Udah deh, kita liat aja besok gimana keadaannya."
Setelah itu Caca menjalani sisa harinya hanya berdiam diri di kamar. Seolah belajar, yang sebenarnya dia hanya menyibukkan diri, agar tidak terlihat cemas akan kejadian hari ini.
----------------------
Keesokan harinya di sekolah
"Duh kok aku deg-degan sih, bagaimana kalau di kelas ternyata ngomongin aku?" Caca yang berdiri mematung di depan gerbang sekolah.
"Caca! Kok kamu diam di sini? Gak masuk?Mau telat? Pengen di hukum? Hummm gini amat ya anak teladan sampai ingin tau rasanya di hukum," Rani yang mencecar Caca dengan pertanyaan anehnya.
"Yah nggaklah, mana ada aku mau di hukum, ya udah sini masuk bareng, aku di sini itu nungguin kamu, aku rindu!" Caca membalik keadaan dengan menggoda Rani.
"Ih kok malah aku yang kamu goda sih …hahahah," Rani tertawa sambil memukul bahu Caca. "Oh ya, kemarin kan kamu balik duluan tuh, kamu dengar kabar gak soal Via? Kamu tau masalahnya gak? Kamu kalau gak tau, parah deh."
"Maksud kamu tau apa? Emangnya Via ngapain?" takut-takut Caca bertanya,dia berpikir masalah kemarin tersebar.
"Gini, kita ngomong sambil jalan aja yah!" Rani menarik Caca berjalan ke kelas."Jadi kemarin ada video tersebar, terus di video itu Via tuh lagi main sama cowok nakal gitu,mereka tuh ngelakuin hal gak senonoh gitu, terus di tambah lagi di video itu tertangkap Via lagi pegang lem sama sabu-sabu loh Ca, keliatannya sih dia udah mabuk banget saat itu, dia sampai di sentuh-sentuh gitu sama cowok-cowok yang ada di sana, ih pokonya aku gak habis pikir kalau Via bisa begitu, dia punya kepribadian ganda ternyata," tutur Rani pada Caca yang di respon dengan mata membelalak serta nampak wajah Caca yang kaget akan semua itu.
"Kamu yakin itu Via? Emang videonya kamu dapat dimana?" tanya Caca cepat, "jangan jangan ini ulah Ronal."
__ADS_1
"Gak tau sih, ada akun gak di kenal nyebarin itu di situs sekolah, emang kamu gak cek? tapi percuma juga sih, videonya udah di hapus dari pihak sekolah," Rani menjelaskan kembali.
"Terus Via gimana?" tanya Caca lagi.
"Kalau dengar kabar kemarin, kayaknya Via di skors dari sekolah selama 3 minggu, tapi dari kabarnya juga kalau hari ini Via di pindahkan keluar kota, orang tuanya malu banget soalnya," Rani menjawab rasa penasaran Caca.
"Kasian banget, dia pasti shock karna itu semua tersebar, ya udah Ran aku ada urusan sebentar, kamu duluan aja," Caca mengakhiri pembicaraan.
"Ya udah, bye," jawab Rani.
----------------------
Ternyata Caca pergi untuk bertemu Ronal, dia sudah mengira bahwa ini pasti perilaku Ronal, siapa lagi yang seberani ini di sekolah kalau bukan dia.
"Kamu mau ngomongin apa? Tumben ngajak ketemuan," Ronal sebenarnya tau alasan kedatangan Caca.
"Gak usah pura-pura! Aku tau kamu mengerti maksud aku nemuin kamu. Kamu kan yang nyebarin video Via, iya kan?" tanya Caca dengan wajah serius.
"Gak usah serius gitu kali, emang benar gue yang nyebarin tapi gak siapapun tau, ini hanya kau yang tau!" Ronal mengakui hal itu.
"Gimana kamu gak gampang kena tipu Via kalau kamu baik gini orangnya.Kau kenapa sih, aku hanya punya itu buat jauhkan Via dari kau, lagian kenapa juga coba kamu marah. Diakan udah nyakitin kamu jadi kan fine-fine aja dong, setidaknya ini bisa buat dia lebih berhati hati," tutur Ronal yang heran terhadap sikap Caca yang bahkan masih bisa memaafkan perilaku Via.
"Tapikan gak gini juga, lagian kamu juga ikut-ikutan, kan kasian Via hanya menanggungnya sendiri," Caca merasa kasian pada Via walaupun dia udah jahat pada dirinya kemarin tapi Caca masih bisa mempertimbangkan pertemanan mereka selama 2 tahun lebih ini. "Ya udah deh aku balik kelas," lanjut Caca yang langsung meninggalkan Ronal.
"Iya sih gue salah, tapikan aku udah minta maaf beda halnya sama Via". Ronal memikirkan lagi apa yang di katakan Caca tadi, dia menggaruk-garuk kepalanya menyesali yang ia perbuat pada Caca.
---------------
Caca terus memikirkan Via,bagaimana keadaanya sekarang dia mencoba untuk menghubunginya tapi dia mengurungkan niatnya, dia akan pergi langsung ke rumah Via saja sepulang sekolah nanti.
------------
jam pulang sekolah pun tiba
"Rumahnya keliatan sepi banget, aku coba ketuk aja kali yah," Caca mengetuk pintu rumah Vio. "Permisi … permisi … Via." Tak lama kemudian ada yang menyahut dari dalam rumah, ternyata itu mamanya Via.
__ADS_1
"Eh Caca, masuk nak. Ada perlu apa? Kok tumben datang ke rumah siang-siang, kan panas," Mama Via mengajak Caca masuk. "Kamu duduk dulu yah, tante panggilin Via dulu."
"Iya tante," sahut Caca sopan.
Tak lama setelah itu, Via dan mamanya muncul bersamaan. "Nak mama tinggal yah, kamu temenin Caca dulu," Mama Via pergi meninggalkan mereka.
"Kamu ngapain ke sini? Kamu seneng aku kayak gini? Mau ngeledek?" Via berbicara dengan nada ketus.
"Gak kok, aku cuma mau nengok kamu, aku khawatir sama kamu," Caca menunjukan perhatiannya dengan tulus.
"Gak usah sok-sokan, kamu seneng kan, gak usah sok peduli deh. Dengan apa yang
gue lakuin kemarin, gak mungkin kau bakalan setenang ini, pasti kau punya maksud tertentu kan," Via menepis perhatian Caca.
"Vi, kamu kenapa sih? Aku gak mau mengungkit hal itu lagi Via," Caca berusaha meyakinkan Via bahwa dia tulus saat ini.
"Gak usah, aku gak butuh. Sana kamu keluar!" Tiba-tiba saja Via menarik kasar tangan Caca dan mendorongnya keluar. "Jangan datang ke sini lagi, aku benci ketemu kamu, lihat muka kamu, aku bawaannya emosi tau. Lagipula aku akan pindah malam ini, jadi jangan coba buat nemuin aku lagi," Via menegaskan pada Caca.
"Vi ..." Caca benar-benar tidak menyangka ini akan terjadi, dan belum selesai caca bicara, Via sudah menutup pintu rumahnya. "Hah mungkin dia masih butuh waktu karna masih kaget dengan semua ini," Caca memutuskan menyerah kali ini, tapi dia akan berusaha lagi besok atau malam ini untuk menghubunginya.
--------------------------
"Huuufffttt capek juga yah, aku laper," Caca bangun dan keluar untuk mencari makan di dapur.
"Mmmm apa yah, haaahh kok rasanya aku masih gelisah ya sama keadaan Via, tadi dia kelihatan kesal banget pas aku datang, apa dia marah banget sama aku," Caca bertanya pada dirinya sendiri.
"Kamu kenapa ngomong sendiri di dapur?" tanya ibu yang mengagetkan Caca.
"Ibu … Caca jadi kaget," Caca berusaha menyembunyikan yang terjadi karna sepertinya ibu belum mendengar kabar apapun tentang Via.
"Maaf, udah kamu lanjut makan," Ibu merasa bersalah.
"Iya bu," sahut Caca yang langsung melanjutkan makannya.
bersambung.............
__ADS_1