
Senin, pukul 07:30
3 wanita muda duduk sarapan di meja makan bersama orang tua Caca, mereka bangun pagi karena akan masuk kampus hari ini. Caca melihat ibunya sedikit muram. Setelah sarapan Caca menghampiri ibunya.
"Bu, apa ibu gak enak badan? ". Tanya Caca.
" Gak apa-apa nak, ibu hanya kurang tidur saja, semalam gak bisa tidur, dingin". Ibu Caca membuat alasan.
"Ya sudah, ibu istirahat aja lagi, Caca mau ngampus dulu". Caca kemudian mencium tangan orang tuanya dan berjalan ke mobil yang akan membawa mereka ke kampus.
Aprilia melihat Caca membuatnya sedikit menghindar, ia masih memikirkan apa yang di katakan Ibu Maya semalam.
***
9 jam yang lalu
Aprilia masuk di sebuah ruangan yang terlihat seperti perpustakaan mini, Aprilia duduk di sebuah sofa masih dengan selimut di pelukannya.
"Aprilia ceritakan semua yang kamu dengar! ". Ibu Maya.
Aprilia sedikit gugup,, melihat keadaan saat ini yang begitu serius. " Aku mendengar bahwa Caca adalah anak yang di titipkan kepada ayah dan ibunya sa-saat ini, dia putri angkat mereka".
"Aprilia, dengar baik-baik sayang. Kau harus bersikap hal ini tidak pernah terjadi, jika Caca tau dari orang lain itu akan menjadi masalah untuk ibu dan ayahnya saat ini, dan orang tua kandungnya, Bunda mohon kau tetap diam dan seolah tidak pernah tau hal ini". Ibu Maya.
" Tapi Bunda, memangnya mereka tahu siapa orang tua kandungnya? ". Aprilia.
" Kamu tidak perlu tau lebih jauh, Bunda hanya berharap kau bisa menjaga rahasia ini". Ibu Maya.
"Baik Bunda". Aprilia masih bingung kenapa hal ini terlihat begitu penting untuk mereka, apa hubungannya mereka dengan Caca yang seorang putri angkat. Aprilia meninggalkan ruangan itu dengan ratusan pertanyaan di kepalanya.
flashback off…………………………
***
Mereka bercerita di sepanjang jalan menuju kampus, sesekali di selingi tawa. Hingga saat sampai di kampus, Aprilia melihat mobil yang ia kenali. "Itukan mobilnya Malik, ngapain dia di sini? ".
" Itukan Fahri, Fahriii". Caca membuka pintu mobil dan memanggilnya.
Fahri melambaikan tangannya, ia merasa punggungnya seolah tertusuk oleh tatapan tajam.
Caca berlari kecil dan menghampiri teman baiknya itu, dengan riang Caca tos dengan Fahri dan berbincang sesuatu. Fahri merasa dirinya semakin aneh, dia bergidik.
"Ada apa? ". Tanya Caca.
" Gak tau, kok rasanya ada yang ngeliatin yah". Fahri menoleh ke sana kemari.
__ADS_1
"Caca". 3 suara dari arah yang berbeda.
Caca menoleh dan memasang wajah heran, terlebih Aprilia, sedari tadi Malik belum mengatakan apapun padanya, menyapapun tidak, kenapa langsung menyapa Caca, Aprilia sempat merasa kesal, tetapi ia mencoba melupakannya. Arsya menatap 3 pria itu memiliki tatapan yang sama, sangat tajam, seolah akan menerkam mangsanya, dan mangsanya tak lain adalah Fahri.
"Hai, Ronal bukannya kau ada kelas sekarang? ". Caca.
" Di tunda 15 menit". Ronal membuat alasan.
"Oh gitu yah, ya sudah kita dluan yah, udah mau masuk". Caca kemudian menghadap Fahri lagi dan tersenyum manis.
Fahri sangat senang melihat Caca tersenyum begitu manisnya.
" Hari ini ada bazar kampus, kita pergi bareng yah". Caca mengajak Fahri sebagai patner jalannya.
Sontak 3 pria lainnya menatap Fahri tajam, berharap Fahri menolak ajakannya. "Yah Ca, aku harus bantuin Paman benerin pipa air, maaf yah". Fahri.
" Yah, ya udah deh aku masuk dulu yah, kalau berubah pikiran nanti hubungi aku yah". Caca menepuk pundak Fahri.
Ronal berdehem saat melihat Fahri terus menatap punggung Caca. "Kau akrab yah dengannya? ". Ronal bertanya.
Fahri melihat 3 pria di hadapannya seolah akan memakannya, ia hanya menjawab iya kemudian meninggalkan mereka.
Ronal kemudian fokus pada Malik . " Kenapa kau kemari? ". Tanya Ronal
" Aku, aku akan berangkat kerja, aku hanya mampir mau lihat Aprilia". Malik.
" Ah, aku…". Malik tergagap.
"Sudahlah, rupanya kau begitu merindukan wanitamu". Ronal menggoda Malik.
Dewa tidak menghiraukan mereka dan berjalan melewati mereka berdua.
***
Aprilia melihat Caca sepintas, " cantik sih, tapi apa iyah, Malik mau menyukai wanita ini? ". Aprilia bertanya pada dirinya sendiri.
" Aprilia, Apriliaaa". Caca dan Arsya meneriaki Aprilia.
Aprilia tersadar ia melewati ruang kuliah, ia membalik badannya dan melihat kedua temannya, Caca melihat nya dengan heran tapi Arsya melihatnya dengan gugup.
"Kau sedang memikirkan apa? sepertinya sejak sarapan tadi kau sedang memikirkan sesuatu". Caca mengelus bahu Aprilia, Arsya menatap Aprilia dengan gugup.
" Gawat, ini anak gak bisa apa bersikap normal aja". Pikir Arsya.
"Aku mau nanya Ca? ". Aprilia
__ADS_1
Sontak mata Arsya membelalak, " Apa yang akan dia tanyakan? ". Arsya begitu gugup, jangan sampai Aprilia salah bicara.
" Kau pernah dekat ya dengan Malik? ". Tanya Aprilia membuat Arsya lega tetapi bingung mengapa Aprilia menanyakan hal tersebut.
" Ah, memangnya siapa yang tidak mengenal nya? ". Caca tidak berniat menceritakan mengenai dirinya dan Malik.
" Iya sih,, dia cukup di kenal ". Aprilia menghilangkan pikiran-pikiran anehnya.
Mereka duduk berempat dengan Dewa sambil menunggu kedatangan prof. Milan.
***
Denis berjalan ke arah kamar yang di tempati oleh Tuan Arthur dan istrinya dengan dokumen di tangannya.
" Selamat pagi Tuan". Beberapa pengawal yang berjaga menyapanya.
"Bagaimana keadaan rekan kalian yang terluka kemarin? ". Denis.
" Masih istirahat Tuan, kata dokter sebaiknya tidak di ganggu dulu, tapi sepertinya ada sesuatu yang terus ia coba katakan, tapi dia hanya meminta untuk bertemu Tuan sebentar saja, saat kami mengatakan bisa menyampaikan nya, dia hanya meminta kami untuk waspada".
"Aku masuk dulu sebentar, aku akan menemuinya setelah bicara dengan Tuan Besar". Denis kemudian masuk ke dalam kamar.
Denis dan Tuan Arthur, duduk membahas mengenai perusahaan, dan menandatangani berkas yang di kirimkan oleh Arfa. Setelahnya Tuan Arthur menanyakan data semua petugas hotel.
" Tidak ada yang bermasalah dengan petugas hotelnya tuan, tapi kemarin ada sekitar 5-6 orang yang tertangkap cctv menggunakan seragam hotel, tapi tidak terdaftar sebagai petugas hotel. sekitar 30 menit yang lalu, seluruh petugas di kumpulkan". Denis menjelaskan.
Rupanya orang-orang yang di selipkan diam-diam itu sudah di tarik, karena sejak pagi tadi mereka tidak terlihat lagi, Tuan Arthur berpikir bahwa orang-orang itu adalah suruhan dari orang yang sama.
Denis keluar, memerintahkan 2 pengawal untuk memantau cctv di ruang keamanan. Kemudian ia berlalu hendak menemui pengawal nya yang terluka kemarin.Pengawal tersebut di rawat di hotel, 2 perawat dan 1 dokter di tugaskan untuk menjaganya. Saat akan memasuki kamar di mana pengawal itu di rawat, ia berpapasan dengan seorang perawat.
"Maaf Tuan, pasien harus di cek kondisinya dahulu, hanya beberapa pemeriksaan, Tuan bisa masuk setelahnya". Perawat itu masuk setelah Denis mengangguk.
10 menit kemudian
Denis menerima telpon, dan perawat itu juga keluar dan tersenyum pada Denis. saat Denis mematikan ponsel, ia melihat 2 perawat muncul dari arah yang berbeda dari perawat sebelumnya.
"Sial, kejar perawat itu". Denis memerintahkan mereka untuk mengejar perawat sebelumnya. Sedangkan ia bergegas masuk ke dalam kamar, pengawal itu mengeluarkan busa putih dari mulutnya, dia masih memiliki sedikit kesadaran.
" Nona, non-non-nona Tu-tuan". Dia terus mengatakan hal itu.
Denis mendekat." Ada apa, apa yang coba kau katakan".
"Pr-pre………uhuk…uhuk…prem". Setelah mengatakan itu ia kehilangan kesadaran nya.
Saat itu juga dokter masuk, dan mengecek kondisinya, ia menyatakan pasien itu meninggal. Denis tidak memberikan reaksi apapun, dia terdiam melihat pengawalnya meninggal, belum lagi apa yang dia katakan sebelum kehilangan nyawanya.
__ADS_1
"Kau sudah berusaha keras, tidak seharusnya mereka melakukan ini padamu, tenanglah di alam sana". Denis menutup mata pengawal nya itu dan memberi ruang kepada perawat untuk menangani mayatnya.