Pertemanan Atau Permusuhan

Pertemanan Atau Permusuhan
Kisah Malik


__ADS_3

Melihat Caca yang begitu mirip dengan dirinya, Nyonya Selena semakin yakin bahwa Caca memang putrinya, dia menoleh ke arah suaminya dan melihat raut wajah suaminya yang tampak memikirkan sesuatu.


"Papa, ada apa? ". Tanya Nyonya Selena


" Dia di hadapan kita ma, tapi kita tidak bisa menunjukkan diri sebagai orang tuanya ". Tuan Arthur.


Nyonya Selena menyadari hal itu, dia susah payah mengendalikan dirinya demi kenyamanan putri mereka yang baru saja mereka temui itu.


Tuan Arthur melihat situasi ibu maya yang sedang asyik berbicara dengan Caca, ia kemudian memberi kode pada Ibu Maya.


" Ehem ehem".


Ibu Maya melihat Tuan Arthur dan mengerti dengan kode itu.


"Caca tinggal di asrama kan? ". Tanya Ibu Maya.


" Iya Bunda, ada apa? ". Caca


" Begini, Papanya Arsya kan harusnya pulang hari ini, tapi karena ada beberapa pekerjaan tambahan dia gak jadi balik,terus Bunda harus mengunjungi neneknya Arsya, berhubung kalian udah mau UAS, bagaimana kalau Caca temenin Arsya di rumah ini, berangkat kampusnya bareng". Ibu Maya.


"Ah gitu yah, Caca kabarin temen sekamar Caca dulu yah Bun". Jawab Caca.


" kau juga yah! ". Arsya menyenggol Aprilia.


" Aku ngikut aja". Jawab Aprilia.


Tuan Arthur merasa tenang melihat Caca setuju.


Caca kemudian menghubungi Rani menyampaikan bahwa ia akan menemani Arsya dalam beberapa hari ini.


***


Vila Malik


Ronal baru saja sampai di vila tempat Malik berada. Ia langsung memasuki Vila itu, dan mendapati Malik sedang duduk sambil membaca dokumen, terlihat itu adalah dokumen perusahaan


"Sepertinya kau sibuk". Ronal.


" Rupanya kau sudah datang". Malik meletakkan berkas yang semula ia baca. "Ayo makan bersama, semuanya sudah siap".


"Aku ingin mendengar cerita soal Caca". Ronal langsung pada intinya.


Malik tersenyum, kemudian duduk di sebelah Ronal. " Caca! yah aku ingin memberi tahu mu bahwa gadis yang kuceritakan selama ini adalah..... ".


" Caca? ". Ronal


" Benar, dia orangnya ". Jawab Malik masih tersenyum berbeda dengan Ronal yang membisu dengan wajah datar.


" Jadi itu alasan kau begitu marah saat melihat pelayan menaruh racun". Tanya Ronal.


"Yah, aku tidak menyangka bahwa Aqifa akan meracuni nya". Jawab Hikmah.


" Lagi-lagi Aqifa, bisakah kita membuatnya kapok". Ronal


"Hari ini aku memberi nya obat sakit perut, dia akan kesakitan seharian, hahahaha". Malik.


" Jadi gadis yang ada dalam cerita mu selama ini adalah Caca? ". Ronal masih tidak menyangka.


" Yah, ada apa? ".Malik bingung


" Kau bertemu dengannya dimana? ". Ronal.


"Kau taukan aku pernah ke kota x, aku tinggal di sana selama 1 tahun sebelum akhirnya kembali ke sini".Malik


" Yah, setelah berkenalan, seminggu kemudian kau kembali ke sini". Ronal mengingat kembali awal perkenalannya dengan Malik.


"Sebelum mengenalmu, aku mengenal Caca dahulu". Malik


" Ketemu dimana? ". Ronal.

__ADS_1


" Kau tahukan aku selalu terlibat masalah, berantem sana sini, hari itu aku ingat sekali Caca masih memakai seragam sekolahnya". Malik tersenyum.


"Terus". Ronal penasaran.


flashback 1 tahun yang lalu


" Minggir, minggir, woii!!!! ". Malik berteriak pada seorang gadis yang tak lain adalah Caca.


Caca hendak mengantar kue pesanan, karena bawaannya yang banyak, ia tidak sempat menghindari Malik.


" Yah yah, kenapa tuh ". Caca panik.


" Minggir". Malik masih teriak.


"Jangan-jangan ada anjing lagi". Caca mulai takut, Malik semakin dekat teriakkannya semakin keras, dan tanpa bisa di hindari Malik menabrak Caca , akibatnya toples kue yang di bawa Caca jatuh dan pecah, kue berhamburan di mana-mana.


Malik terjatuh, kemudian ia hendak bangkit kembali tetapi Caca menariknya.


"Apa? ". Malik panik sambil melihat kondisi di belakang.


" Ganti rugi gak, semua kue ibuku hancur, ganti pokonya ganti". Caca memegangi pergelangan kaki Malik.


"Iya nanti di ganti, lepasin dulu dong". Malik memohon.


" gak". Caca.


Kini mereka berdua berusaha berdiri, karena Caca ingin memastikan Malik tidak lepas, ia kehilangan keseimbangan nya dan jatuh menimpa Malik.


"Berat banget, aku bukan matras tahu". Malik mendorong tubuh Caca.


Caca bangkit, rupanya gelang Caca tersangkut di gelang Malik, Caca berusaha melepasnya.


" Udah putusin aja". Malik


"Gak boleh, ini penting tahu". Caca." Gelang kau saja".


"Yeh gak boleh, ini juga penting". Malik. " Ya elah, mereka muncul". Malik melihat orang-orang yang mengejarnya tadi.


"Cepat lari". Malik menarik tangan Caca dan mereka berdua berlari sekuat tenaga.


" Waahh kenapa kita di kejar, kamu maling yah? ". Caca panik


" udah nanti aja ngomongnya, kita harus kabur dulu". Malik ngos-ngosan.


Caca berpikir , haruskah dia membantu orang ini, tapi jangan sampai orang itu maling. Ia memutuskan untuk membantu Malik, mengingat kue ibu yang ia hancurkan.


"Ikut aku! ". Gantian Caca yang menarik Malik dan menuntunnya di gudang tak terpakai.


Mereka berdua bersembunyi di gudang itu sampai keadaan di luar aman, Malik menarik napas lega.


" kau maling yah? ". Caca.


" Bukan, aku gak maling, muka kayak gini mana ada jadi maling". Malik.


"Terus kenapa di kejar-kejar, masih pagi lagi". Caca.


Malik kemudian menyadari sesuatu. " Hei kau gak ke sekolah? ". Malik melihat Caca mengenakan seragam sekolah.


" Ganti dulu kue ibu". Caca.


Caca harus absen hari ini, karena kalau ke sekolah sekarang ia sudah terlambat, terlebih lagi pakaiannya kotor.


"Nih". Malik memberi Caca uang yang cukup banyak.


" Sekarang ikut aku! ". Caca menarik Malik dan membawanya ke rumah yang memesan kue ibunya.


Malik hanya mengikuti Caca.


" Permisi". Caca.

__ADS_1


"Oh Caca, kuenya udah jadi? ". Ibu Riska pemesan kue.


" Oh namanya Caca". Pikir Malik.


"Ah maaf bu, tadi waktu nganter kuenya, saya di tabrak sama dia, kuenya hancur semua, jadi kita datang buat balikin uang dpnya". Caca kemudian mendorong Malik ke hadapan bu Riska.


" Apa? ". Malik bingung, Caca menatap Malik,Caca geram kemudian memberi kode untuk minta maaf. " Ah ma-maaf".


"Dasar anak bandel, kamu yang suka bikin kacau di kampung sebelah kan, kamu anaknya pak Endriankan". Ibu Riska memukul-mukul punggung Malik.


" Yah kan saya sudah minta maaf tante". Malik membela diri.


"Eehh benar-benar yah!! ". Ibu Riska hendak memukul lagi.


" Ah Bu, kami permisi yah, masih ada urusan". Caca menengahi.


"Oh iya Caca, awas kamu yah". Ibu Riska bicara lembut pada Caca tapi tidak pada Malik.


" Hah pembuat onar! ". Caca.


Malik hanya melirik Caca.


Caca memperhatikan Malik, dia melihat ada bekas luka di kening dan sudut bibirnya.


" Kau berantem yah? ". Caca.


" Bukan urusanmu". Malik.


Caca mengeluarkan tisunya dan penutup luka, ia menarik Malik membersihkan lukanya dan memasang penutup luka. Malik tidak menghindari nya, ia justru merasa gugup melihat Caca dari dekat.


"Oh iya, nama kamu? ". Caca


" Malik". Mereka berkenalan.


Malik merasa canggung karena yang dilakukan Caca sebelumnya. Ia memutuskan untuk kembali.


"Oke kita pisah di sini, aku sudah ganti rugi, jadi kita gak punya urusan lagi". Malik.


" Um oke". Caca kemudian pergi begitu saja.


Malik melihat Caca pergi begitu saja, ia pun berbalik dan bergegas kembali ke rumah neneknya.


flashback off...


"Terus? ". Ronal.


" Yah, karena aku tidak punya teman di sana, aku selalu menunggunya saat akan ke sekolah, pulang sekolah, dari situ kita mulai berteman". Jawab Malik.


"Berapa lama? ". Ronal.


" Umm 3 bulan, karena melihat aku yang tidak berulah lagi, nenek melaporkannya pada papa, lalu keluargaku datang menjemput ku, saat itulah kita berkenalan". Jawab Malik.


"Hanya itu? ". Ronal.


" Yah, kau dulu bahkan tidak mau berteman denganku". Malik mendorong Ronal.


"Karena kau terkenal bandel". Ronal.


"Yah kau sendiri". Malik. " Karena dia sering menasihatiku, sering mendengarkan keluhanku , aku menjadi menyanginya". Malik.


Ronal mencoba menahan diri, ia mungkin mengartikan itu sebagai adiknya.


"Dia sangat baik, aku tidak pernah bertemu wanita sepertinya". Malik mengingat-ingat kembali kenangannya bersama Caca. " Aku berjanji padanya untuk tidak melakukan kekerasan lagi, membuat onar, tapi tak di sangka aku justru bertemu kembali dengannya saat aku melanggar janjiku". Malik menghela napas panjang.


Ronal kemudian berusaha mencari topik lain, dia tidak ingin melihat Malik bertambah sedih, dan dia juga tidak ingin mendengar lebih, ia takut sakit hati.


bersambung………


...****************...

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2