Pertemanan Atau Permusuhan

Pertemanan Atau Permusuhan
Rumah Arsya


__ADS_3

Gelap malam menyelimuti bumi bagian itu, membuat 4 wanita di rumah besar itu, harus saling berpamitan.


"Kami pulang dulu yah bun! ".Caca dan Aprilia.


" Iya nak, hati-hati yah, sering-sering mainnya ke sini". Bunda Arsya.


"Iya Bun, sya kita balik yah! ".Caca dan Aprilia.


" Oke hati-hati yah".Arsya melambaikan tangan pada Caca dan Aprilia yang sudah bersiap memasuki kendaraan roda 4 itu.


Setelah memastikan Mobil yang di tumpangi Caca dan Aprilia, Arsya dan Bundanya masuk sambil berbincang, mereka sesekali tertawa entah apa yang mereka ceritakan.


Malam semakin larut,Ibu Maya(bundanya Arsya) masih teringat dengan wajah Caca, dia yakin pernah melihat wajahnya, tapi mendengar pernyataan Caca dia bingung.


"Wajah itu terasa akrab di mataku, mengapa aku tidak bisa mengingat siapa anak itu".Ibu Maya berpikir berkali-kali tapi nihil tidak sama sekali ia mengingat dimana ia pernah bertemu sosok itu. " Ini pertemuan pertama, tapi seolah kami sering bertemu".


Saat sedang berpikir tiba-tiba handphone nya berdering tertulis kata sayang di layar handphone itu di hiasi dengan emoticon love yang begitu indah.


"Halo sayang"


^^^"Kau sedang apa? "^^^


"Aku sedang memikirkan seseorang".


^^^" Siapa? jangan membuatku marah"^^^


"Hari ini Arsya membawa temannya di rumah"


^^^"Lantas"^^^


"Salah satu temannya, aku merasa tidak asing dengannya"


^^^"Benarkah,dari mana asalnya"^^^


"Dia bukan dari kota ini, ini pertama kalinya ia kemari, tapi aku merasa akrab dengannya"


^^^"Istirahatlah sayang, insting mu akhir-akhir ini terlalu kuat"^^^


"Tapi".


^^^" Sudahlah, beristirahatlah "^^^


"Baiklah".


Panggilan pun di akhiri, ibu Maya memutuskan untuk segera tidur.


***


" Kau akhir-akhir ini sibuk! ".Rani menatap kesal Caca.


" Maaf yah, aku sering meninggalkanmu sendiri".Caca meraih tangan Rani.


"Kau akrab ya sekarang dengan 2 wanita itu? ".Rani.


" Iya, mereka berteman baik denganku sekarang". Caca


"Hahaha kau akan lebih sibuk dengan mereka dong".Rani membuang nafasnya.


" Tentu saja tidak, aku akan membagi waktu yang setara denganmu".Caca.


"Janji! ".Rani.


" JANJI".Caca berkata dengan nada penuh keyakinan.


Malam itu mereka memutuskan untuk tidur lebih larut lagi, karena mereka akan bercerita banyak hal tentang dunia kampus,bagaimana teman-teman mereka.


***


keesokan harinya.


"Tuan, hari ini akan menjemput nona Caca? ".Tanya Baim.


" Tidak perlu, aku sudah menghubunginya, dia bilang akan bertemu di kampus ".Jawab Ronal.


" Baik Tuan".Baim kemudian melajukan mobilnya ke Universitas ternama itu.

__ADS_1


***


Caca berjalan menuju kampus, seperti biasa ia akan berjalan sambil membaca buku, sesekali memastikan bahwa dirinya tidak keluar jalur. Fokusnya tiba-tiba buyar ketika klakson mobil yang mengagetkannya.


"Ha siapa? ".Caca berusaha tenang.


Dia memperhatikan mobil di hadapannya itu, ia tidak tau mobil siapa itu.


" Hey Ca! ".Sapaan yang keluar saat kaca mobil mulai turun.


" Kau, siapa? "Caca bingung.


" Aku Derik. Mau bareng? ". Tawar Derik.


" Ah iya makasih tapi tidak perlu, itu fakultas ku, hanya berjalan beberapa menit lagi sampai". Caca menolak dengan sopan, dia bingung dengan orang itu.


"Kau tidak perlu takut, aku tidak akan menculik mu". Derik tersenyum merayu.


" Hahaha aku tidak berpikir sampai ke sana, hanya saja aku sudah biasa berjalan kaki ke kampus, jadi aku akan tetap berjalan ke kampus". Caca berusaha menolak, tetapi tetap sopan.


Derik merasa geram karena terus mendengar penolakan Caca, "Jika bukan perintah Aqifa, aku tidak akan berbicara lembut seperti ini padamu, ingin ku tarik tubuhmu, dan ku nikmati dengan paksa, akan terasa lebih menyenangkan". Pikir Derik yang terus memandangi Caca dengan tatapan panas.


" Baiklah, aku akan pergi".Caca berbalik dan segera pergi, tetapi Derik turun dari mobilnya dan menghampiri Caca, memaksanya untuk mengikutinya. Sangat nampak Derik sangat panas dan penuh gairah, entah apa yang dia pikirkan, saat hendak akan meraih tangan Caca, tiba-tiba ada lengan kekar yang menepis tangan Derik.


"Kau! ". Derik menatap tajam orang tersebut.


" Apa? mau kau apakan Caca, dasar pria mesum, aku tahu kau pasti sudah panas sekarang". Pria tersebut meledek Derik. "Haha, kau pasti tidak kuat melihatnya, kau berulangkali menelan saliva mu, selamat menyelesaikan urusanmu sendiri, kau tidak akan mendapatkan Caca untuk menyalurkan hasrat binatang mu itu". Cecar pria tersebut.


Derik menatap kesal orang itu, kemudian meninggalkan tempat itu.


" Kau tidak apa-apa? ".Pria itu menoleh pada Caca.


" Dewa! ". Caca tercengang.


" Iya ini aku, kenapa kau begitu terkejut". Tanya Dewa.


"Ah bukan begitu, aku hanya heran, tumben sekali kau datang, biasanya juga tidak ikut perkuliahan pun nilai mu akan baik-baik saja".Jelas Caca.


" Itu urusanku, ayo masuk, kita barengan aja! ". Ajak Dewa yang langsung di sambut anggukan kepala dari Caca.


***


Aqifa, Andini dan Derik duduk di sebuah ruang privat di sebuah restauran ternama di daerah itu.


" Derik, aku punya tugas untukmu".Aqifa


"Apa? soal Arsya? ". Tanya Derik.


" Bukan itu, aku ingin kau mendekati Caca, dapatkan dia, abadikan sesuatu yang menurutmu bisa membuatnya kehilangan muka". Tutur Aqifa.


"Dapatkan? ". Derik tersenyum aneh.


" Hah lakukan sesukamu, puaskan dirimu". Aqifa tau betul apa yang di pikirkan Derik.


Andini mengangguk mengerti dengan apa yang di maksudkan oleh Aqifa.


"Jika kau melakukan hal seru, abadikan baik-baik,aku ingin itu menjadi tontonan seru di kampus".Andini


Mereka tersenyum penuh makna dan saling menatap satu sama lain.


flash back off


***


Saat Caca masuk bersama Dewa, semua mata tertuju padanya.


" Wah Dewa masuk hari ini".


"Kok makin tampan sih".


" Cewek itu kenapa bareng Dewa".


"Jangan-jangan dia dekatin Arsya buat dekat sama Dewa"


"Iya mereka kan teman baik".

__ADS_1


" Tampan, kaya, bagaimana? ".


Banyak kalimat yang memuji Dewa tetapi Memaki Caca.


" Anak petani mana bisa dekat sama mereka, pasti pakai cara licik".


"Orang tuanya yang nyuruh kali".


Saat mendengar orang tuanya di sebut, spontan Caca membalik badannya ke arah suara itu.


" Aku di ajari banyak hal baik oleh orang tuaku, memangnya hal salah apa yang telah kau lihat, kau jangan sembarangan memfitnah, orang tuaku hanya meminta agar aku baik-baik di sini, dan baik-baik saja, hanya hal baik. Bukan menjilat orang kaya sana sini seperti yang kalian lakukan setiap hari".Caca sangat marah, hingga tidak bisa mengontrol dirinya.


Dewa tidak bisa berkedip melihat Caca melawan seperti itu, biasanya orang-orang hanya akan diam, tapi dia berhasil membungkam mulut orang-orang itu.


"Tenang Ca! ".Dewa mendekati Caca.


" Sudahlah, maaf yah aku tidak bisa tahan mendengar orang menjelekan orang tuaku".Caca.


"Aku mengerti". Dewa bertatap muka dengan Caca, " ada apa ini, kenapa cantik sekali! ".


" Dewa! apa yang kau pikirkan?". Caca melihat Dewa tidak bergerak.


" Ah maaf, aku teringat sesuatu tadi, ayo duduk di sana".Dewa menawari Caca.


"Ayo". Caca hanya mengangguk.


Tidak lama kemudian, Arsya dan Aprilia masuk ruangan, Aprilia terkejut melihat Dewa.


" Wah tampannya! ".Aprilia.


" Tumben masuk".Arsya heran melihat sahabatnya satu itu. "Kenapa mereka duduk bersampingan? ".


" Oh iya, kok mereka barengan? ".Aprilia ikut bingung.


Mereka menghampiri Dewa dan Caca.


" Minggir! ".Arsya masuk di tengah antara Dewa dan Caca, Aprilia duduk di ujung sebelah Caca.


" Apaan sih, nyelonong aja".Dewa.


"Aku maunya di sini, minggir dikit napa, sesak tau! ".Arsya.


" Wah, kau..! ".Belum selesai Dewa bicara,tiba-tiba jari telunjuk Arsya mendarat di bibirnya.


" Hah bibir suciku".Dewa menghempas nya dengan cepat.


"What! ". Aprilia dan Caca kaget.


" Kenapa? ". Arsya menoleh pada mereka berdua.


" Suci? ". Aprilia, Caca hanya diam menunggu jawaban.


" Hah waahh benar-benar, kalian kira aku ini apa hah, ya iyalah suci, gini-gini aku sangat menghargai wanita". Dewa mengerti dengan yang di maksud oleh Aprilia dan Caca.


"Oh ya, aku tidak menyangka".Aprilia.


Satu hal lagi terungkap hari ini, penilaiannya soal Dewa ternyata salah. Caca tersenyum mendapat kebenaran ini.


Dewa melihat Caca tersenyum, bak bunga bertebaran, dia tidak bisa mengedipkan matanya.


" Woi! "Arsya meneriaki Dewa.


" Apaan sih, berdarah ni kuping".Dewa mengelus telinganya.


"Hadap sana, dosennya sudah ada! ".Arsya.


Dewa mengikuti kata Arsya.


Arsya tersenyum, seolah ia mengerti sesuatu yang baru saja terjadi.


Perkuliahan pun berjalan dengan tenang, hingga waktunya selesai.


bersambung………………


...---------------...

__ADS_1


__ADS_2