
"Jadi gini Ca! hari inikan aku ke rumah tante aku buat nginap, tapi tau gak ternyata di sana ada cowok tampan Ca ,,, uuhhh sumpah Ca aku gak ngedip pas liatnya," Rani malah menceritakan cowok yang di lihatnya di rumah tantenya.
"Raniiii gimana sih, tadi katanya mau cerita tentang Via. Kok malah ceritain cowok sih Ran, kalau soal itu mau aku tahu gimana reaksi kamu kalau liatnya, jadi walaupun kamu gak ceritain aku pasti tau gimana setelahnya," Caca memotong perkataan Rani, Sebenarnya Caca tau betul bagaimana Rani, karna kebiasaan Rani yang kerap curhat padanya ataupun terkadang menjodoh-jodohkan cowok yang dia kenal pada Caca.
"Ihihi sorry Ca, oke aku lanjut. Jadi gini Ca, pas nyampe kan aku tuh merhatiin rumah Via rencananya sih aku mau ke sana, ternyata tante aku nyadar gitu. Dia langsung bilang kalau Via udah berangkat sejak siang tadi Ca," Rani berbicara dengan suara yang sangat menunjukan bahwa dia kaget mendengar itu dari tantenya.
"Ya ampun Ran kalau itu mah aku udah tau. Tadi siang kan aku ke sana juga, tapi dia udah pergi lebih dulu," Caca merasa sedikit kecewa dengan yang dia dengar, dia tidak mendapat petunjuk apapun.
"Oooohh jadi kamu cewek yang di maksud tante aku, tenang aja Ca bukan hanya itu info yang aku punya!" Rani kembali pada info yang menurutnya Caca pasti belum mengetahuinya.
"Apaan?" Caca benar-benar berharap kali ini.
"Jadi gini Ca! Selama ini Via itu suka di banding-bandingin sama orang tuanya, baphkan itu mulai dari saat temannya itu sering maen ke rumahnya Via atau Via yang kerumahnya. Kata tante aku selama yang dia dengar kalau Via di marahin selama ini, bahwa menurut orang tuanya, Via hanya boleh berteman dengan orang seperti gadis itu aja. Hampir setiap malam Via selalu di nasehati seperti itu oleh orang tuanya, menurut kamu itu nasehat apa penekanan sih, masa iya ada orang tua yang bandingin anaknya terus sama orang laen, kan aku juga sakit hati kalau gitu!" Rani berbicara panjang lebar.
"Terus Ran apalagi yang tantemu katakan?" Caca semakin penasaran dengan gadis yang di maksud Rani.
"Terus yah, karna hal itu teman-teman lama Via sebelum masuk SMK di larang datang ke rumahnya lagi, bapaknya tuh ngatain mereka kalau mereka gak bener kelakuannya. Terus bapaknya narik tangan Via masuk ke dalam rumahnya, Via di Katain Ca gini katanya, Via kamu gimana sih cari teman memangnya kamu pengen rusak hah, kamu tuh harus maen sama anak pintar dan rajin itu, dia anak yang baik, pergaulannya tidak seperti mu. Kenapa kamu gak seperti dia sih, hah mending bapak gak punya anak daripada harus punya anak seperti kamu, bikin malu keluarga aja, mau di taruh di mana muka bapak," Rani menceritakan apa yang di dengarnya dari Tantenya.
"Ya ampun kamu yakin bapaknya ngomong gitu?" tanya Caca yang sedikit tidak percaya.
"Ya iyalah, mana mungkin Tante aku bohong. Kalau ini aja kamu gak percaya, gimana kalau tau siapa gadis itu!" Rani merasa sedikit kesal karna ceritanya di ragukan oleh Caca.
"Memangnya kita mengenalnya?" Caca bertanya lagi.
" Ya iyalah kita kenal, orang gadis itu kamu kok. Karna tanteku tadi langsung nyebut nama kamu, dia udah hafal benar soalnya hampir tiap hari nama kamu pasti akan di sebut oleh Bapaknya Vio, Tante aku sampe pengen ketemu kamu Ca," ujar Rani yang merasa bahwa Caca enak banget di jadiin contoh teladan.
"Kok aku sih, masa iya bapaknya gitu, apa yang di bandingin sama aku, cantik juga gak, menarik gak, blak-blakkan," Caca heran kenapa harus dia, tapi untuk itu dia menerima hal itu bisa membuat Via membencinya.
"Terus? apa ada lagi yang tante kamu katakan?" Caca berharap ada petunjuk lebih.
__ADS_1
"Udah gak ada, tadi pas aku mau nanya lagi tante aku nyuruh buat nemenin ponakannya beli sayur," Jawab Rani yang sepertinya terdengar sedang menguyah.
"Ran! Kamu lagi makan yah?" tanya Caca yang heran mendengar suara Rani.
"Hmmm," Rani hanya menjawab dengan deheman saja.
"Ya udah kamu makan aja dulu, makasih yah untuk informasinya. Sampai jumpa di sekolah besok," Caca membuat suaranya semanis mungkin, sementara yang di sebrang telpon merasa kesal karna belum sempat menceritakan tentang cowok yang di lihatnya di rumah tantenya.
"Humm kok bisa yah? apa yang aku punya sampai papanya membandingkan kami seperti itu, kenapa aku merasa gak ada hal yang menarik yah, hmmm matanya Om Candra udah mulai rabun kali yah," Caca berbicara di depan cermin sambil memandangi dirinya bahkan mencari hal menarik padanya, baik dari wajah maupun lekuk tubuhnya.
Tok....tok.....tok.
Suara ketukan pintu mengejutkan Caca dan reflek menghentikan lenggak lenggoknya di depan cermin tadi.
"Masuk aja! Gak di kunci!" teriak Caca menyuruh orang yang di balik pintu untuk masuk.
"Kamu bisa bantu ibu nak?" tanya ibu selepas muncul dari balik pintu.
"Iya, kamu mau kan?" Ibu memastikan.
"Iya, ayo Bu keburu aku ngantuk, " Caca menarik tangan ibunya dan menuju di halaman rumah sederhana itu.
Di halaman rumah Caca langsung membongkar sayuran yang ibu dan ayah bawa dari kebun baru saja, mereka mengeluarkannya dan menatanya rapi di tempat biasanya agar sayur-sayur itu tetap segar hingga pagi nanti.Tak lama kemudian ayah datang dengan sekarung sayuran lagi.
"Tolong ,Nak," Ayah meminta Caca untuk menurunkan sayuran yang ia ikat di belakang motornya, sementara dia sendiri membawa kantong yang berisikan sayuran lain.
"Ayah! ini kok tumben banyak gini yang di ambil? Biasanya juga kan hanya 1 karung aja," Caca heran melihat banyak sayuran yang ayah nya panen kali ini.
"Tadi Bu Sitti sama Bu Cia mesan banyak buat besok, katanya ada acara makan-makan di rumahnya," Jelas ayah yang langsung mengumpulkan semua karung bekas sayuran tadi, dan merapikannya.
__ADS_1
"Oh gitu yah," sahut Caca mengerti.
"Ya sudah kamu masuk sana, tidur, " Ayah menyuruh Caca masuk karna pekerjaannya juga sudah selesai.
"Ya sudah, selamat malam," Caca masuk langsung ke kamarnya.
----------------------------------
"Caca kamu mau lari kemana?"
"Haaahh, pergi. Aku gak mau ketemu kamu, pergiii!".
"Hahahahahahaah kamu mau kemana hahaha, Caca".
"Tidak! Menjauh dariku, pergi!".
"Kamu gak bisa lari lagi, rasakan," Gunting menancap di perut Caca seketika darah mengalir deras dari perutnya di barengi dengan tawa dari yang menancapkannya.
"aaaaaaaaaaaa hah hah hah".Caca langsung sadar dari tidurnya, dia melap semua keringat yang ada di dahinya.
"Ya ampun aku kok mimpi itu lagi sih, peristiwa kemarin memang cukup menakutkan. Tapi Via,kenapa itu harus kamu sih," Caca bangun dari tidurnya dan menuju ke dapur untuk mengambil minum.
"Kamu udah bangun nak? Inikan baru jam 4," tnya ibu heran melihat anaknya bangun cepat.
"Ah ibu, aku lupa semalam ada tugas, jadi aku bangun cepat buat ngerjain tugas," jawab Caca yang menutupi hal sebenarnya.
"Oh gitu yah, ya sudah Ibu mau misahin sayuran dulu," Ibu meninggalkan Caca yang masih berdiri dengan segelas airnya.
"Huufft kenapa aku jadi mikirin hal kemarin lagi sih, iya sih itu nakutin. Huuhhh ayah sama ibu gak boleh sampai tahu hal ini," Caca memegang erat gelasnya dan kembali ke kamarnya.
__ADS_1
Bersambung...........