Pertemanan Atau Permusuhan

Pertemanan Atau Permusuhan
DENIS


__ADS_3

Danar menoleh pada Arfa sambil memonyongkan bibirnya.


"Hehe, maafin gue yah kak". Arfa memegang lengan kiri Danar.


" Hah, kakak akan memukulku setelah ini". Danar menghela napas panjang kemudian berlalu pergi.


Arfa menggaruk kepalanya dan ikut masuk ke mobilnya.


piip..... suara klakson mobil di belakang membuat Danar dan Arfa terjungkal.


Danar bingung kenapa kakaknya membunyikan klakson , ia menoleh ke samping dan menyadari apa yang membuat kakaknya terus-terusan membunyikan klakson.


"Dasar, aku akan di pukuli habis-habisan oleh kakakku, keluar kau sana duduk di belakang". Danar kesal mendorong-dorong Arfa keluar agar pindah ke kursi belakang.


Arfa keluar dan menyempatkan diri tersenyum manis ke arah Denis, dan masuk ke mobil.


***


Rina dan Caca sampai ke rumah Arsya, begitu masuk Rina menengadah melihat betapa megahnya rumah itu.


"Ca, ini istana siapa? ". Rina mengedarkan pandangannya ke sana kemari.


" Rumah temanku Arsya, ayo masuk".


Arsya menarik tangan Rina yang masih saja mengagumi rumah Arsya, Mereka memasuki rumah Arsya dengan mudah, para pengawal tidak perlu menanyakan ada keperluan apa.


"Pengawalnya banyak". Rina


Terlihat Orang tua Caca dan Bunda Maya serta Aprilia dan Arsya sudah siap.


" Ayah, Ibu, Bunda". Caca menyapa mereka.


"Eh nak Rina". Ibu Caca menyapa Rina.


" Oh iya, Bunda ini Rina, bolehkan kalau Caca mengajaknya". Caca


"Boleh sayang, ini yah yang sekosan denganmu? ". Tanya Bunda Maya.


" Iya Bu-Bunda". sahut Rani

__ADS_1


Mereka kemudian berbincang mengenai hal-hal yang membuat mereka sesekali tertawa. Hingga tibalah kedatangan keluarga Sanjaya.


Saat masuk Caca tertuju pada sosok pria yang berdiri di ujung kiri tepat di sebelah Tuan Arthur. Deg…deg…deg…. "Hah apa yang jantungku lakukan, apa ini kenapa jatungku berdegub kencang". Caca tak bisa mengalihkan pandangannya dari sosok pria tersebut.


Rani merangkul tangan Caca dan berkata betapa tampannya pria di samping wanita yg tak lain adalah Nyonya Selena. Caca baru bisa mengalihkan pandangannya ketika pria yang ia tatap membalas tatapannya.


"Tajam, dingin, oh ya ampun". Caca tanpa sadar bergumam.


" Hey apa yang kau katakan? ". Tanya Rina.


" Ah bukan apa-apa". Caca memperbaiki duduknya dan ikut menyambut kedatangan keluarga Sanjaya.


Mereka memikirkan akan jalan-jalan kemana. Jumlah mereka sudah seperti keluarga besar. Melihat jumlah mereka yang cukup banyak, Nyonya Selena memutuskan ke wisata pantai di kota C. Sontak orang tua Caca dan Rina terbelalak. sebab mereka harus menggunakan kapal atau pesawat.


"Itu di luar kota? ". Ibu Caca bingung.


" Kita bisa menggunakan jet pribadiku, iyakan pa? ". Nyonya Selena.


" Aku tidak apa-apa, itu akan sangat menyenangkan, inikan weekend kita punya 2 hari untuk liburan ". Bunda Maya setuju dengan ide Nyonya Selena.


" Mama kenapa gak bilang kalau akan berlibur keluar kota, mereka jelas kaget jika tiba-tiba seperti ini". Tuan Arthur.


"Berlibur pa, ya berarti keluar daerah dong". Nyonya Selena terbiasa dengan istilah liburannya sendiri, yang artinya ia akan ke kota lain untuk jalan-jalan.


"Tuan mobilnya sudah siap". seorang bodyguard melapor pada Denis.


Denis mengangguk kemudian memberi tahu Tuan Arthur.


" Baiklah sepertinya sudah jelas, sebaiknya kita berangkat sekarang". Tuan Arthur


***


X PARK Pukul 16:00


Wah sepertinya 3 keluarga itu datang di waktu yang tepat, cuaca cerah, pengunjung yang tak terlalu ramai. Mereka kemudian berbincang sedikit di arah mana mereka akan terpisah dan bertemu di titik yang sudah di tentukan. Semua sepakat akan bertemu di area taman sebelum matahari terbenam.


Rani dan Caca memutuskan untuk pergi bersama, Ayah dan Ibu Caca bersama Bunda Maya dan Nyonya Selena. Sedangkan Arfa dan Danar mengendap-endap mengikuti belakang Caca dan Rani.


Denis menggulung lengan bajunya, dan hendak menghampiri Danar yang berlagak seolah bukan bawahan dari Arfa. Beberapa langkah Denis di hentikan dengan tangan Tuan Arthur yang menahan bahunya. "Biarkan Danar, kami tidak masalah dengan hal itu, justru itu yang kami harapkan, seandainya kau memberi sedikit kelonggaran pada dirimu". Tuan Arthur.

__ADS_1


" Saya akan mengikuti mereka diam-diam Tuan". Denis


"Aku ikut, aku ingin mengawasi putriku". Tuan Arthur kemudian berjalan endap-endap layaknya seorang pengintai.


" Ayah dan anak sama saja". Pikir Denis yang kemudian ikut bersembunyi agar tidak terlihat oleh 4 orang yang mereka ikuti.


Rani melihat ada beberapa permainan yang berhadiahkan boneka, Caca begitu senang melihatnya dan segera menghampiri game tersebut. Mereka memutuskan bermain game tersebut, 2x 3x 4x 5x 6x 7x akhirnya Caca mendapatkan boneka teddy yang ia inginkan.


"Waaaahh aku dapat". Begitu bahagia Caca mendapat boneka yang susah payah ia dapatkan.


4 pasang mata yang melihat hal itu terpaku dengan senyuman gadis cantik itu, " Aku akan membelikan boneka segudang untuknya, kamarnya akan terbuat dari boneka, seluruhnya akan ku buat seperti istana boneka". Arfa terharu melihat senyum manis adiknya yang mendapatkan boneka.


"Hei dia bukan anak kecil lagi". Danar.


" Bodoh amat, yang pentingkan dia suka". Arfa.


"Hah kasian Diandra, kakaknya seperti ini". Danar.


" Apa? ". Arfa menoleh pada Danar dengan tatapan tajam.


" Tidak Tuan". Danar membungkuk kemudian berlalu mengikuti 2 gadis cantik itu yang sudah berpindah game.


"Hah dasar". Kemudian arfa bergegas mengikuti Danar.


Caca sesekali menengok ke belakang, ia merasa aneh dengan dirinya seolah sedang di perhatikan, ia memiliki rencana untuk melihat apa benar ada yang mengikutinya. Ia masuk ke area yang sedikit ramai dan meminta Rani untuk berpisah dan akan bertemu di tempat yang sama 30 menit nanti. Caca berpisah dengan Rani yang ke kanan dan dia sendiri ke kiri, Caca yakin betul ada yang mengikutinya sebab tak sengaja ia melihat pantulanya di kaca yang ia lewati.


Caca tadinya percaya diri karna berpikir mungkin perasaannya saja, tapi saat ia melihat bahwa benar-benar ada yang mengikutinya, sesosok pria dengan pakaian serba hitam, menggunakan masker, topi dan kaca mata hitam, membuatnya merasa takut.


"Ya ampun, di area sini sedikit pengunjung". Ia menoleh sekali lagi dan tidak melihat sosok pria tadi. " Kemana? dia pergi kemana? ". Caca memanfaatkan hal itu dan mencari tempat untuk bersembunyi.


Saat Caca melewati 1 area yang cukup sepi, tiba-tiba tangan besar membekap mulutnya dan menariknya ke area belakang, Caca mengedarkan pandangannya. " Ya ampun, tempat ini tidak tersorot cctv". Caca menutup matanya takut melihat pria itu. Tiba-tiba……


Buk…buk…krek…krek


Caca semakin takut mendengar ada perkelahian dan dia semakin takut untuk membuka matanya. Tiba-tiba tangan besar menariknya, ia di tarik beberapa langkah daru tempat sebelumnya. Tiba-tiba ia merasakan dirinya di peluk oleh seseorang.


"Maaf nona, saya lancang melakukan hal ini, tolong diamlah sebentar". Suara berat namun tegas terdengar.


Caca tidak menolak pelukan itu, ia hanya diam mengikuti perintah orang tersebut.

__ADS_1


Deg…deg…deg


" Hey ini bukan jantungku, apa orang ini juga ketakutan". Caca kemudian membuka matanya perlahan. Pandangan pertama yang ia lihat adalah dada bidang seorang pria yang rajin berolahraga "Wow". kemudian ia perlahan mendongak untuk melihat wajah pria tersebut. " Oh Ya Tuhan". Caca tanpa sengaja mundur tiba-tiba menyadari pria yang mendekapnya adalah pria yang ia kagumi siang tadi.


__ADS_2