Pertemanan Atau Permusuhan

Pertemanan Atau Permusuhan
Rani dan Andini


__ADS_3

Hari ini Caca memutuskan untuk berangkat pukul 06:30 pagi untuk berjalan ke kampus. Perkuliahan pagi itu sebenarnya mulai pukul 8:00, tapi dia hanya ingin menghindari gangguan yang setiap kali ia alami setiap pagi.


Caca sedang asik baca buku, seperti biasa ia akan memastikan jalan di depannya, dan tiba-tiba sesuatu yang ia ingin hindari pagi itu justru terjadi.


Ting...... ting.... ting (Klakson Mobil)


"What? ini pukul 06 loh". Caca berpikir mobil siapa lagi kali ini, ia membalikkan badannya dengan memasang wajah kesal.


" Neng majuan dikit, mau ngangkut sampah di belakang! ". Seorang pembersih jalan yang sedang mengarahkan truk pengangkut sampah.


" Ah iya, maaf". Caca menunduk minta maaf kemudian berbalik dan melanjutkan perjalanannya. "Haha, rupanya tukang bersih jalan". Caca menertawai dirinya sendiri. " Untung aku gak marah duluan tadi, kalau gak bisa malu, aduuhhh"


Dia berjalan hingga memasuki lobby fakultasnya, ia memutuskan duduk di taman sambil membaca buku dengan tenang.


"Kenapa bayangan wajah paman kemarin di mall terus muncul di pikiran aku yah? ". Caca bertanya pada dirinya sendiri, dia bingung mengapa wajah pria paruh baya yang ia tidak sengaja temui kemarin terus muncul di pikirannya, seolah ada hal yang ingin di beritahukan padanya.


"sudahlah, mending telpon ibu". Caca memutuskan melupakannya dan menelpon kedua orang tuanya. Caca selalu menyempatkan diri untuk menghubungi orang tuanya walau hanya untuk menanyakan kabar. Baginya yang terpenting adalah komunikasi yang membuat orang semakin dekat meskipun berada jauh.


***


Ronal baru saja bangun dari tidurnya, ia memutuskan untuk mandi dan segera sarapan.


Saat sedang sarapan ia sibuk bermain dengan handphonenya, hingga kemudian ia berhenti


"Ada apa Tuan? ". Tanya Bima


" Aku baru mengingatnya". Ronal kemudian terlihat menghubungi seseorang.


"Halo Malik"


^^^"Yah, tumben sekali kau menghubungiku"^^^


"Kau berutang penjelsan padaku"


^^^"Penjelasan soal apa"^^^


"Mengenai kejadian Caca saat akan di racuni"


^^^"Datanglah ke vila malam ini"^^^


"Oke, sampai ketemu nanti"


^^^"oke, bye"^^^


Percakapan telpon itu berakhir.


"Tuan jadwal kuliah anda pukul 08:00". Bima mengingatkan Ronal.


" Oke, saya siap-siap dulu". Ronal kemudian menghabiskan sarapannya, minum segelas susu kemudian bersiap untuk berangkat ke kampus.

__ADS_1


Tidak lama kemudian pukul 07:00 Ronal keluar dari apartemennya dan akan memasuki mobil, betapa kagetnya dia melihat Andini berada di depan mobilnya.


"Apa yang kau lakukan di sini, apartemen mu di sana". Ronal.


" Aku akan berangkat bersamamu". Andini langsung ke intinya.


"Kau punya mobil sendiri, pakai mobilmu sendiri". Ronal sudah meraih pintu mobil.


" Gak, pokoknya aku berangkat bareng kamu". Andini memaksa.


"Haa". Ronal menghela napas panjang dan memasuki mobilnya.


Andini berputar dan memasuki mobil dari arah berlawanan dengan Ronal, mereka berdua bagai pasangan muda bersanding di kursi belakang mobil.


" Haa". Untuk kedua kalinya Ronal menghela napas.


Ronal kemudian keluar dari mobil dan mengitarinya kemudian duduk di kursi sebelah Bima yang menyetir mobil. Andini memasang wajah kesal tetapi dia merasa ini cukup, setidaknya ia berangkat bersama Ronal.


Bima pun melajukan mobilnya mengarah ke kampus tempat mereka menempuh pendidikan.


Setelah beberapa lama mobil melaju dan akan memasuki kampus, mobil mewah itu berbelok ke arah jalan yang tidak memasuki kampus.


"Loh, mau kemana? harusnya kan lurus". Andini bertanya, tetapi tidak di jawab sepatah katapun oleh dua pria di hadapannya itu, ia hanya bisa mengerucutkan bibirnya kemudian memperhatikan arah jalannya. " Tunggu inikan ke arah asramanya Caca". Dan benar saja, mobil berhenti tepat di depan asrama Caca.


Ronal keluar dari mobil, melihat itu Andini juga keluar. Ronal mendekat ke arah penjaga hendak meminta tolong untuk memanggil Caca, tetapi saat itu juga Rani turun yang terlihat juga akan berangkat ke kampus.


" Rani, Cacanya mana? ". Ronal menanyakan Caca.


" Oh, Caca udah jalan dari pukul 06:00 pagi tadi". Rani memberi tahu Ronal, kemudian melihat Andini, Rani menghela napas saat melihat Andini.


"Apa liat-liat". Andini.


" Idih pede banget". Rani.


"Mau berangkat ke kampus juga kan? ayo bareng". Ronal menawari Rani sambil menunjukkan wajah penuh harap agar Rani bersedia.


" Oke". Rani mengerti apa maksud Ronal. Kemudian memasuki mobil di kursi belakang.


Andini hendak masuk dan duduk di sebelah Rani, tetapi Ronal menyalipnya dan memintanya untuk duduk di depan bersama Bima.


"Rani, kamu ngambil jurusan apa? ". Tanya Andini.


" Kedokteran". Jawab Rani santai.


"Orang tuamu itu berpenghasilan tergolong tinggi, kenapa gak beli apartemen aja, ngapain di asrama tadi, jangan-jangan karena Caca yah, dia kan gak mampu kalau bayar sendiri". Andini.


" Yah aku hanya ingin menemani sahabatku, lagipula itu tidak membuatku rugi". Jawab Rani.


"kau menganggapnya sahabat, yakin? bukan karena kasian kan? ". Andini tersenyum sinis.

__ADS_1


" Kau mana tahu, kau kan tidak punya teman". Rani.


"What? ". Andini menoleh dan menatap Rani.


" Penyihir ". Rani mengejek Andini, sehingga membuatnya berteriak tidak terima.


Mobil tiba-tiba berhenti, dengan senyum yang di paksakan, Bima berbicara pada Andini.


" Turunlah Nona". Pinta Bima. Andini membulatkan matanya. Ronal hanya cekikikan di kursi belakang. Bima kemudian turun dari mobil dan berputar ke arah Andini dan membuka pintu mobil untuknya.


"Silahkan".Bima mempersilahkan Andini seolah ia adalah Nyonya besar, tetapi bagi Andini ini seperti penghinaan.


" Awas kau yah". Andini keluar, kemudian memperhatikan sekitar, berharap tidak ada yang mengenalinya.


Bima kembali ke dalam mobil dan melajukan mobilnya ke fakultas Rani, barulah setelahnya Ronal pergi ke fakultas nya.


Saat akan memasuki lobby fakultas, Ronal melihat Caca duduk di kursi tama, ia tersenyum dan pergi untuk menghampiri Caca. Ronal melihat Caca membuat jantungnya berdetak. "Wah". Ucapnya mengagumi indahnya pagi itu.


" Kau! kenapa ke sini? ". Tanya Caca.


" Ah aku hanya ingin menghampirimu". Perkataan Ronal membuat Caca sempat tersipu.


"Indahnya". Caca.


" Ah, kau tidak perlu memuji". Ucap Ronal.


" Tapi memang indah, tidak akan bosan menatapnya". Ucap Caca, Ronal membelalakkan matanya.


"Ah aku..... ". Kalimat Ronal menggantung Ketika melihat Caca berdiri dan berjalan ke arahnya. " A-ada apa? ".


" Indah sekali!! ". Caca berjalan semakin dekat pada Ronal, Ronal semakin susah mengendalikan detak jantung nya.


Ronal kaget ketika Caca melewatinya, dia berbalik rupanya yang sedari tadi di kagumi oleh Caca adalah bunga mekar yang berada di belakangnya.


" Haaa kau mengharapkan apa Ronal? sadarlah". Ronal menampar wajahnya sendiri.


Caca tersenyum melihat Ronal, ia tahu bahwa Ronal salah paham dengan pujian itu.


Caca kemudian berbalik dan mengajak Ronal untuk kembali ke kelas perkuliahan. Caca mencoba untuk menghilangkan kecanggungan Ronal dengan memberi pertanyaan sepintas buku, barangkali ia juga suka membaca.


Situasi itu membuat Ronal bahagia, tetapi tidak bertahan lama, Aprilia dan Arsya muncul di antara mereka dan membawa Caca begitu saja, Caca menoleh ke belakang dan melambaikan tangannya serta tersenyum.


"Oh tidak, jantungku". Ronal.


Bersambung……………


...****************...


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2