
Hari yang cerah, terlebih bagi Caca ini hari yang paling cerah, dia sudah sangat bersemangat memulai harinya di sekolah. Dia berangkat sambil memikirkan bahwa ternyata sebentar lagi dia akan merasakan duduk di bangku perkuliahan, di sebut sebagai mahasiswa. Memikirkannya saja sudah membuat Caca kegirangan.
Sesampainya di sekolah Caca berjalan ke kelas sambil mendengarkan musik di headsetnya, dia begitu menikmatinya sambil bernyanyi.Tiba-tiba saja ada yang menarik headsetnya dari belakang.
"Apaan sih, kenapa di tarik, kan sakit kuping aku jadinya!" pekik Caca yang kesal.
"Yah gue cuma pengen ngobrol aja sama kamu," Ronal yang sedang berusaha mendekati caca lagi.
"Ihhh apaan sih, kita kan beda kelas kenapa kamu ngikutin aku, sana balik ke kelasmu!" ujar caca yang merasa jengah dengan tingkah Ronal yang tiba-tiba memegang tangannya."Ihhh lepasin gak, Nal lepasin!"
"Apa? Kan aku hanya megang tangan kamu, emang kamu mikirnya apa?" Ronal dengan tawa penuh maksud.
"Hah, mikiran apa? Emang kamu pikir aku bakal mikir yang lebih dari ini? Sorry yah Nal, mikir tanganmu yang megangin tangan aku aja udah gak banget!" Caca langsung melepaskan tangannya dan berlari ke kelas.
"Haah kamu kok makin bikin aku penasaran sih, liat aja aku mau lihat sampai di mana sifat itu kau pertahankan, cuek, pemarah sama cowo dll," Ronal berpikir keras dengan rencananya.
----------------------
Tak terasa bel tanda istirahat berbunyi, semua siswa kegirangan.
tring......tring....tring. Bunyi pesan masuk di handphone Via. "Ke ruangan dekat gudang sekarang, aku mau ngasih novel yang kamu cari dari Fikram semalam," bunyi pesan dari Ronal, yang di baca dengan girang oleh Via tanpa curiga.
"Aaaaaa, Caca temanin aku ke dekat gudang!" ajak Via dengan semangat.
"Ngapain, bukannya tadi kamu lapar?" tanya Caca heran.
__ADS_1
"Aku mau di kasih buku novel yang aku cari-cari kemarin, ayo cepat sebelum dia berubah pikiran buat minjamin!" Via tidak ingin kesempatan nya hilang begitu saja.
"Baiklah ayo cepat, aku udah laper nih," Caca pasrah melihat tingkah Via.
------------------------
"hahaha sesuai dugaan Vio bakal ngajak Caca datang ke sini," Ronal dengan bangga dalam diamnya, sambil memperhatikan 2 gadis itu dari jendela.
"Oke semua ambil posisi, sesuai rencana semalam, pokoknya ini harus berhasil!" Ronal dengan penuh penekanan.
"Siap Nal!" sahut teman-temannya serentak.
Mereka berdua sampai di depan pintu ruangan, Caca sempat bingung kenapa harus ngasih bukunya di sini sih.
"Ayo masuk, mungkin dia di dalam," ajak Via.
Saat mereka membuka pintu tiba-tiba saja ada yang membekap mulut Via dan Caca."Mmmm.....mmmmm.mmmhhmm," mereka terus memberontak mencoba melepaskan diri.
---------------
"Hay, kau gak capek apa? Dari tadi berontak terus. Mau kau gerak gimana pun kita gak bakalan lepasin tau," Ronal dengan wajah mesumnya. "Buka kancing bajunya," perintah Ronal, sontak mata Caca membelalak. "Tunggu! biar aku aja, enak aja kau mau ikutan liat, sana pergi, temenin noh Via kesayangan mu baca buku," Caca kaget mendengarnya, jadi Via sengaja mengajaknya ke sana, dan tak lama terdengar suara Via yang tertawa entah dari mana asalnya.
"Haaah gak mungkin,Via gak mungkin tega ngelakuin ini sama aku," pikir Caca yang tidak percaya.
"Hay, hahahaha kamu kenapa, duh kasian, mulut kamu pasti sakitkan, wah wah wah ternyata milikmu juga besar, sepertinya Ronal bakal puas hari ini. Aku rasa cukup untuk 2 tahun ini aku harus menerima perbandingan yang di lakukan orang tuaku terus-menerus. Kamu itu harus baik seperti Caca, kamu itu harus pintar seperti Caca, kamu itu harus rajin seperti Caca, dan kamu mau tau, gue tuh suka juga sama Ronal, tapi kenapa harus kau lagi sih yang dia incar, jadi daripada dia harus sedih gak bisa dekat sama kamu, gue bantuin aja dia sekalian dapetin tubuhmu sekaligus menikmatinya," Via yang tiba-tiba berubah seperti perisak, membuat hati Caca sangat sakit, karna orang yang dianggapnya sahabat rupanya menyimpan rasa benci seperti itu.
__ADS_1
"Humm kamu udah selesai, aku mau ngelakuinnya sekarang, kamu jangan lupa bilang sama guru kalau Caca harus izin karna sakit perut atau apalah, pokoknya jangan sampai ini bocor kemana-mana, hanya kita yang boleh tau, paham, kan!" tekan Ronal yang juga tidak ingin mengotori nama ayahnya selaku kepala sekolah di sekolah itu.
"Iya iya gue paham kok, udah selamat menikmati," Via dengan senyum jahat pada Caca meninggalkannya.
-------------
"Ahhh aku sangat tertarik pada bibir dan juga gunung-gunung yang menggoda ini, tenang saja aku tidak akan mengambil kesucianmu seluruhnya, aku hanya ingin memberi sedikit kenangan yang bisa membuatmu terus ingat kepadaku, iyakan Caca sayang," Ronal mulai melakukan pergerakannya sedikit demi sedikit dengan lembut sehingga menimbulkan ******* darinya yang sepertinya dia ingin menyalurkan hasratnya tetapi masih belum berani melakukan terlalu jauh.
"Hhmmmhh, " Caca yang sudah menitikkan air mata tidak menyangka ini akan terjadi, terisak pelan sebab mulutnya masih di bungkam paksa oleh bibir Ronal.
Ronal terus melanjutkan kegilaannya sampai ke dada milik Caca, tapi tiba-tiba Ronal melepaskan Caca. Dia seperti mendapat kembali kesadarannya, dia memegang kepalanya, "apa ini?" pikirnya.
"Haaaahh apa yang kulakukan, kenapa aku bodoh seperti ini?" Ronal memukul mukul kepalanya, merasa menyesali apa yang dia lakukan."Tidak, bagaimana jika dia menceritakan segalanya pada orang tuanya, aku sudah melakukan pelecehan," Ronal frustasi.
"Aku akan diam, tapi kau harus berjanji hal ini hanya kita yang tau, kau harus membungkam Via bagaimanapun caranya, aku juga ingin melindungi nama orang tuaku," saran Caca dengan tenang yang susah payah mengontrol dirinya, dia tidak ingin karna hal ini semua usahanya selama ini menjadi hancur dalam sesaat. "Bagaimana? Sebentar lagi kita akan lulus, aku tidak ingin meninggalkan jejak buruk di buku penilaian ku."
"Jika kau sungguh akan melakukannya, aku bersumpah akan mengurus Via, yang terpenting kau tidak mengatakannya pada siapa saja, a-aku tidak ingin ayahku tau," Ronal dengan gugup bicara pada Caca, dia takut ayahnya tau sebab ayahnya sangat membenci hal tercela seperti ini, dia takut akan di cambuk oleh ayahnya lagi bahkan mungkin akan lebih dari itu kali ini jika dia tahu.
"Aku berjanji, dan aku peringatkan kau tutup rapat masalah ini, jangan pernah muncul di hadapanku lagi," Caca pergi meninggalkan Ronal sambil menggigit bibirnya kelu, dia harus menahan ini demi masa depannya, dia tidak ingin semua usahanya hancur dalam sekejap.
"Baiklah aku berjanji,aku…" Belum selesai bicara, Caca sudah meninggalkan Ronal. Sebenarnya ronal ingin memberitahunya bagaimana awalnya dia bisa melakukan hal ini.
Bersambung.............
silahkan berikan tanggapan kalian mengenai Pertemanan atau Permusuhan ini yah,
__ADS_1
akan author jadikan sebagai bentuk bimbingan ~