
Di Villa yang mewah, Malik hanya terdiam sambil memandang indahnya pantai yang berada dekat dengan villanya itu.Hingga saat pintunya di ketuk.
tok tok tok
"Masuk".Pinta Malik.
" Tuan, ada Tuan Ronal di bawah! ". Jeri selaku asisten pribadi memberitahukan kehadiran Ronal.
Ronal dan Malik merupakan teman baik, walaupun baru setahun bertemu dan perbedaan usia 3 tahun, tapi Malik sangat senang berteman dengannya. Mereka di pertemukan karena sama-sama merupakan penerus keluarga. Orang tua mereka berteman baik, dan sepertinya mereka juga akan melanjutkan itu.
"Kau lama skali". Malik.
" Kau kenapa? kau kan tau aku ini mahasiswa berbeda dengan mu ". Ronal.
" Haa ingat ceritaku setahun yang lalu? ". Tanya Malik.
" Cerita yang mana? kau banyak cerita". Ronal mencoba mengingat apa yang di maksud Malik.
"Soal cewe itu, aku hanya menceritakan 1 cewe selama ini". Malik.
" Iya, kau bahkan hanya menceritakan wanita itu saja, pacarmu tidak pernah kau ceritakan, padahal aku tidak pernah berniat mengambil pacar teman".Ronal.
"Haha kau bisa saja, aku bertemu dengannya hari ini,rupanya pacarku berteman dengannya,Aprilia sering menceritakannya,tapi aku tidak sadar kalau itu dia".Malik.
" Kau membuatku semakin penasaran dengan wanita itu, berteman dengan Aprilia yah, siapa yah, kita kan 1 fakultas ". Ronal berpikir
" Kau tidak usah cari tau, wanita itu sangat menarik, aku tidak mau kau bersaing denganku, karena kau pasti akan kalah dengan ketampanan dan kepandaian ku, serta tubuh keren seperti ini". Malik membusungkan dadanya, membanggakan diri.
Jeri dan Bima hanya tertawa kecil melihat hal itu.
(Oh ya, Bima adalah asistennya Ronal)
"Haa puji diri, nunggu di puji lama! ".Ronal menekan kata-katanya mengejek Malik.
" Dasar bocah". Malik mendelik
"Tua". Ronal.
" Ku bilang stop memanggilku seperti itu, 3 tahun, kau hanya 3 tahun lebih muda dariku, kau akan bertemu dimana pemuda seperti ku, yang sukses di usia semudah ini? ".Malik kesal di panggil tua oleh Ronal.
(Ronal 19 tahun dan Malik 22 tahun)
" Iya Tuan Malik Endrian, ngomong-ngomong kau kapan akan mempublish identitas mu, aku bosan mendengar kau di sebut sebagai anak yang hanya menghambur uang orang tua, keras, suka berantem padahal mereka tidak tahu siapa yang mengelola perusahaan ayahmu". Ronal kesal, padahal yang berada di posisi itu adalah Malik.
"Mereka benar, meskipun tidak ku lakukan lagi, tetap saja hal itu akan melekat denganku, jika tidak bertemu dengan wanita itu, entah apa aku akan berubah seperti ini". Malik kembali mengingat bagaimana dirinya bertemu Caca.
" Kau pasti sedang memikirkannya kan". Ronal
"Sok tau". Malik menyangkal.
" Ayo! ". Ronal berdiri.
" Kemana? ".Tanya Malik
" Ajarkan aku bela diri, boxing boxing, kau sudah berjanji ". Ronal.
" Haaa dasar, aku akan mengajarimu, tapi kau ingatkan syaratnya? ". Malik memastikan Ronal tidak melupakan syaratnya.
" Ingat! Tidak boleh di gunakan sembarang, gunakan saat genting atau mendapatkan ancaman, gunakan saat akan melindungi orang, harus bisa mengatur emosi walau kau sendiri tidak bisa". Ronal.
__ADS_1
"Aku bukannya tidak bisa, tapi.. " Malik mencoba membela diri.
"Haaa iya iya kau yang benar Guru". Ronal membungkuk ala pe kungfu.
Mereka kemudian menghabiskan waktu dengan latihan, Ronal sebenarnya tidak ingin latihan hari ini, tapi ini satu-satunya hal yang di sukai Malik agar dia melupakan masalah-masalah nya.
***
Di sisi lain Caca dan kawan-kawan sedang berbincang-bincang, Caca menjadi populer di kalangan jurusannya, di jurusan lain juga. Hal itu karena sifat ramahnya yang suka menolong,selain itu Caca juga cantik dan pandai, hal itu membuatnya cepat banyak teman dan interaksinya dengan teman- teman jadi baik.
Aqifa dan Andini serta Derik sedang memperhatikan gerak gerik Caca, Aprilia dengan beberapa orang dari jurusan lain.
"Katanya mau buat dia gak ada teman".Andini membuang nafas kasar.
" Lo gak ngasih tahu gue kalau dia mudah berinteraksi". Aqifa membela diri.
"Yah kalau bikin image nya jelek pasti gak akan ada yang mau dekat dengannya". Andini.
" Image jelek? ".Aqifa tersenyum.
" Kenapa? ". Tanya Andini.
" Kayaknya gue punya rencana". Aqifa.
"Der, lo besok senggang kan?" tanya Aqifa.
"Akhirnya gue di anggap, iyaa".Derik yang sedari tadi merasa tidak masuk dalam pembicaraan.
" Oke,temui gue besok! ".Aqifa.
Mereka kemudian kembali menikmati minuman mereka sambil memperhatikan Caca dan Aprilia.
***
" Kalian! ".Arsya.
" Oh Arsya, kau kelihatan capek". Aprilia.
"Hay sya".Anak-anak dari jurusan lain langsung berebut mendekati Arsya.
Melihat itu Aqifa dan Andini tersenyum kecut.
" Ah sorry yah teman-teman, aku lagi ada urusan". Dia kemudian menarik tangan Aprilia dan Caca.
"Mau kemana? ".Caca, tiba-tiba Arsya membalik badan dan menunjukkan wajah cemberut.
" Kalian lupa yah? ".Arsya sedikit kecewa.
Aprilia dan Caca tertawa. " Gak kok, ayo kita ke rumahmu".
"Ilia, Caca panggil aku Lani". Arsya.
" Kenapa? ". tanya Caca.
" Orang terdekatku biasa memanggilku seperti itu, di rumah juga begitu". Arsya menjelaskan.
"Ahh sulit". Aprilia.
" Kenapa".Tanya Arsya.
__ADS_1
"Aku biasa dengan Arsya, rempong mah ganti-ganti lagi".Aprilia
" Idih, kau juga melakukannya".Arsya .
" Eheheh tapikan itu mirip, kau Arsya terus Lani ,kan jauh". Aprilia.
" Humm, terserah deh".Arsya mengalah.
***
Mobil yang di kendarai mereka bertiga berhenti di sebuah rumah besar nan megah, Aprilia mendongak kagum melihat rumah itu.
"Gila, ini rumah apa istana? ". Aprilia.
" Hihi, ayo masuk". Arsya mengajak kedua temannya itu.
"Selamat sore Nona-nona". Para pelayan menyambut kedatangan mereka bertiga.
Mereka berjalan menuju ruang tamu.
" Kalian tunggu di sini, aku mau panggil bunda dulu".Arsya kemudian pergi ke atas mencari sosok yang dia sayangi itu
Rupanya Bunda baru saja dari taman, dia begitu riang melihat 2 orang wanita cantik di rumahnya.
"Aahhhh kalian temannya Arsya kan". Ucap Bunda.
" Iya tante". Jawab Caca dan Aprilia serentak.
"Ah ah panggil Bunda, Ayo! ". Bunda.
" Emm Bun-Bunda".Mereka berdua tergagap.
"Nah gitu dong, bunda senang melihat kalian, kalian cantik-cantik, dan dari cerita Arsya bunda semakin yakin kalian memang baik". Bunda melihat mereka dengan penuh kehangatan, dia begitu lama memperhatikan Caca, seolah dia pernah melihat wajah itu, tapi dia tidak ingat.
" Ada apa tan, maksud saya Bunda?". Caca bingung di tatap seperti itu.
"Ah haha aku hanya merasa tidak asing denganmu".Bunda.
" Ah mungkin itu perasaan bunda saja, saya baru pertama kali ke kota ini". Jawab Caca.
"Ah begitu yah, kalian tunggu di sini, bunda ganti baju dulu".Bunda.
Bunda meninggalkan mereka, yang kemudian Arsya muncul.
" Aku tidak menemukannya, maaf yah aku telpon dulu". Arsya.
"Haha, gak usah, Bunda ada di kamarnya mengganti baju katanya". Caca.
" Kalian sudah bertemu? ". Arsya.
" Iya, dia baik beda denganmu". Aprilia
"Ilia, ini di rumah Arsya nanti bunda dengar". Caca.
" Kok gituu".Arsya.
"Lo gak ngasih suguhan sama tamu, namanya apa coba kalau gak baik? ".Aprilia membuat alasan yang di sambut senyum oleh Caca dan Arsya.
" Ohh maafkan hamba baginda baginda, akan saya siapkan".Arsya memanggil seorang pelayan untuk menyiapkan minuman dan beberapa makanan ringan.
__ADS_1
Kapan kita jadi dekat gini, perasaan kemarin mereka masih saling mengomentari, tapi syukurlah, selama ini Arysa menjadi orang yang reseh, ternyata tidak jika kita melihat sisi lainnya. Pikir Caca, ia tersenyum melihat 2 teman barunya itu.
Bersambung…………………