
Aprilia pulang ke Apartemennya dengan menggunakan taksi, sebenarnya Ia tadi hanya membuat alasan. Ia hanya tidak ingin berlama-lama bersama Arsya, perasaannya sedang tidak karuan sekarang.
"Apa yang akan aku lakukan sekarang?" Aprilia bingung harus apa. Menghubungi Malik pun Ia tidak mendapat balasan.
Ia kemudian mengingat-ingat kembali, selama Ia menjalin hubungan dengan Malik. "Apakah pernah Malik menceritakan seseorang padaku? " pikir Aprilia.
Cukup lama Ia berpikir, tidak satupun Ia mengingat bahwa Malik pernah bercerita tentang seseorang. Tetapi Ia menyadari satu hal, bahwasannya Malik terlihat tertutup mengenai dirinya. Soal kantor atau pekerjaan memang tidak, tetapi masa lalu atau tentang diri Malik seperti apa sebenarnya. Aprilia meragukan dirinya sendiri.
"Ah, kenapa aku baru menyadari ini. "
Ia memutuskan untuk mengirim pesan pada Malik, bahwa Ia akan masak dan meminta Malik datang untuk makan malam bersama.
"Apa aku terlalu memikirkan diriku saja selama ini? Mungkin karena itu, Malik jadi seperti ini. "
Aprilia kemudian membereskan Apartemen nya, meskipun sebenarnya sudah bersih. Tapi Ia merapikannya lagi, Ia bertekad harus bisa mengembalikan perasaan Malik seperti dulu.
***
Rumah Arsya: ruang kerja
Tuan Arthur duduk seorang diri, setelah di minta oleh Ibu Maya untuk menunggu di ruangan itu.
Tidak lama kemudian, pintu kembali terbuka. Nampak lah 3 sosok dari balik pintu, yaitu Ibu Maya dan orang tua Caca. Terlihat jelas wajah khawatir dari orang tua Caca, Tuan Arthur hanya menarik napas dan berusaha untuk tidak terbawa suasana seperti istirinya, saat memulai pembicaraan.
Beberapa saat ruangan itu hening, Tuan Arthur sedang memilih kata yang tepat untuk memulai pembicaraan. Sedangkan, orang tua Caca sedang sibuk mempersiapkan diri untuk menerima segala sesuatu yang akan mereka dengar.
Melihat hal ini, Ibu Maya akhirnya membuka suara. "Ada baiknya kita mulai membicarakan hal ini, mumpung kedua orang tua Caca ada di Kota ini. "
__ADS_1
Tuan Arthur akhirnya membuka suara. "Maafkan saya Ibu, Bapak. Mungkin istri saya semalam terlalu tergesa-gesa meminta untuk bertemu, kalian mungkin saja belum mempersiapkan diri untuk itu, " ucap Tuan Arthur.
"Tidak Tuan, kami sudah tahu sejak awal memutuskan untuk merawat Caca. Hal ini pasti akan terjadi kelak, " ucap Ayah Caca.
Mereka kemudian berbincang-bincang mengenai Caca, dan bagaimana pertumbuhan Caca. Sangat nampak mereka berdua begitu melimpahkan kasih sayang saat membesarkan Caca. Terlihat dari bagaimana Ibunya bercerita mengenai Caca kecil.
Tuan Arthur menitikkan air mata mendengar semua cerita Ibu Caca. Bagaimana tidak, dengan mendengar saja, Ia sudah bisa membayangkan bagaimana imutnya, lucunya Caca kecil.
"Begitu beruntung kami bisa merawatnya, " ucap Ibu Caca.
"Tapi bagaimana kalian menemukan Caca? " tanya Ibu Maya.
Tuan Arthur mengangguk dengan sangat penasaran.
"Soal itu, kami tidak mengenal siapa orang itu. Saat Kami di perjalanan kembali ke Kota XX, Kami di hampiri oleh seseorang dengan bayi di gendongannya, Dia menyerahkan bayi itu pada Kami dan meminta untuk merawatnya dengan baik, " jelas Ibu Caca.
"Perawakannya tinggi, kulitnya sedikit gelap, dan memiliki sedikit jambang. Ia tidak terlihat jahat. Saat meminta kami untuk merawatnya Ia terlihat sangat tulu, " Ibu Caca.
"Kami pikir saat itu, Ia tidak mampu untuk merawatnya, " tambah Ayah Caca.
Tuan Arthur sedikit bingung dengan ciri-ciri yang di sebutkan Ibu Caca. Itu terlalu umum pikirnya.
"Ah saya ingat, dia memiliki bekas luka di pipi kananya, " ucap Ibu Caca tiba-tiba.
Tuan Arthur terkejut mendengar hal ini, Ia hanya mengenal 1 orang dengan bekas luka di pipi kanannya. Tetapi Ia masih ragu dengan pikirannya.
"Dan Ia memakai kalung yang terdapat hiasan pertama biru, saya melihatnya saat menerima Caca dari pria itu, " tambah Ayah Caca.
__ADS_1
Tuan Arthur terdiam, Ia kemudian melonggarkan jas dan juga kemejanya. Ia memperlihatkan kalung yang Ia kenakan.
"Benar, itu adalah kalungnya. Tapi kenapa itu ada pada Anda? " Ayah Caca bingung melihat kalung yang Ia maksudkan ada pada Tuan Arthur.
"Arthur, ada apa ini? " tanya Ibu Maya.
Tuan Arthur sangat terkejut, sehingga pikirannya tiba-tiba kosong. Ia kehilangan kata-kata. "Mengapa Damar memisahkan Caca dari kami"
"Dia adalah te-teman baik saya."
Semua yang berada dalam ruangan tersebut terkejut.
"Kami memiliki kalung yang sama. Sekarang … kalung itu ada pada Putra sulungnya, Denis. Ia … adalah Ayah Denis, orang kepercayaan keluarga Sanjaya" Tuan Arthur berbicara seolah tidak memiliki tenaga lagi.
Ia bingung mengapa hal yang menyiksa dirinya adalah perbuatan dari teman baiknya sendiri.
"Ia pasti memiliki alasan. Dia meminta kami merawatnya dengan baik, mungkin saja itu melindunginya" ucap Ayah Caca.
Ibu Maya mengangguk setuju, " Kau harus mencari tahu, dia pasti meninggalkan sesuatu".
bersambung……
...****************...
...----------------...
...****************...
__ADS_1