
Aqifa melirik semua orang yang berada di sekitarnya dengan tajam, membuat orang-orang yang menertawakan nya sedari tadi mundur seolah tidak terjadi apa-apa. Aqifa meninggalkan tempat itu dan berniat membeli dan mengganti celananya.
***
Caca kembali pada Ibu Maya dan Nyonya Selena yang masih sibuk belanja pakaian , tas dan sepatu. Caca melihat belanjaan mereka cocok untuk anak gadis, mungkin itu untuk Arsya pikirnya. Ia kemudian duduk menunggu dengan tenang 2 wanita paruh baya itu.
***
Setelah meninggalkan Mall mereka bergegas ke toko bahan kue sesuai tujuan awal mereka. Caca memimpin untuk belanja kali ini, ia seolah memasuki dunianya sendiri, ia terlihat lebih aktif di bandingkan saat di mall.
Saat sedang sibuk menemani 3 wanita itu berbelanja, Tuan Arthur menerima telpon dari Denis.
"Halo"
^^^"Tuan, sepertinya ada yang mengikuti Tuan"^^^
"Terus awasi mereka, jangan lakukan apapun jika mereka tidak melakukan pergerakan".
^^^" Baik Tuan"^^^
Tuan Arthur kemudian waspada mengawasi Caca dan istrinya, saat ada pelanggan lain yang mendekat, ia akan menghalangi mereka meskipun tidak bermaksud apapun. Ia sedang mencurigai siapapun saat ini.
Ibu Maya yang melihat reaksi Tuan Arthur pada setiap pelanggan yang mendekat pada Caca dan Nyonya Selena merasa ada yang aneh, ia mendekati Tuan Arthur.
"Ada apa? ". Ibu Maya.
" Tetaplah waspada, kita di awasi". Tuan Arthur.
Ibu Maya mengangguk mengerti kemudian kembali memilih bahan kue bersama Caca. Saat sedang memilih coklat yang akan mereka gunakan, Tuan Arthur teralihkan pada istrinya yang memilih cetakan yang berada di tempat berbeda. Tuan Arthur segera menyusul istrinya. Ibu Maya di minta mengambil tepung oleh Caca selagi ia memilih beberapa coklat batang dan bubuk yang ia gunakan.
Saat sedang sibuk mengambil tepung yang di minta Caca, Ibu Maya berhadapan dengan Tuan Arthur dan istrinya. Sontak mereka kembali di mana mereka meninggalkan Caca.
Tepung yang di pegang oleh Ibu Maya jatuh berhamburan di lantai, mendapati tempat itu sepi tersisa keranjang belanjaan tanpa Caca, Ibu Maya yakin itu belanjaan mereka tadi.
Tuan Arthur sudah berlari keluar, ia memberi kode bahaya.
Semua bodyguard di mobil itu keluar menyusulnya.
"Apa yang kalian lakukan, kenapa masih di sini".
__ADS_1
" Tapi ada apa Tuan? ".Denis bingung ada bahaya apa, ia melihat mobil yang sedari tadi mengikuti mereka belum melakukan pergerakan apapun.
" Diandra meng…". Perkataan Tuan Arthur terpotong oleh Nyonya Selena.
"Ada apa pa? ". Nyonya Selena.
Tuan Arthur berbalik, ia begitu lega melihat Caca bersama mereka.
" Syukurlah ". Ia mendekati Caca dan membelai rambutnya dengan penuh kasih sayang.
" Aku, memangnya aku kenapa". Caca bingung dengan yang di lakukan Tuan Arthur, tapi ia tidak menolaknya. "Aneh, ini terasa sangat tulus". Caca kemudian tersadar begitupun Tuan Arthur .
" Kau dari mana saja? ". Tuan Arthur.
" Aku tadi ke toilet ". Caca.
Tuan Arthur menertawakan dirinya, ia benar-benar takut kehilangan Caca lagi untuk kedua kalinya, dan bahkan belum sempat memberi tahunya yang sebenarnya.
Nyonya Selena mulai merasa ada yang aneh, ia melihat sekeliling dan seolah melihat sesuatu kemudian menoleh pada Caca.
" Kardigan kamu mana? ". Nyonya Selena.
" Ah, tadi aku memberikannya pada teman kuliah aku, dia punya sedikit kendala saat bertemu di mall tadi". Caca menjelaskan.
Nyonya Selena melihat kembali gadis yang memakai kardigan Caca yang hendak memasuki mobilnya, ia melihat wajah gadis itu.
"Ha Dia". Nyonya Selena.
" Siapa ma". Tuan Arthur melihat ke arah di mana Nyonya Selena mengarah.
"Dia Aqifa, kau kuliah di jurusan yang sama dengannya? ". Nyonya Selena.
" Iya tante". Caca.
"Tapi…".
" Sudahlah Ma". Tuan Arthur menggelengkan kepalanya, Nyonya Selena akhirnya bungkam.
Mereka kemudian memutuskan kembali ke kediaman Ibu Ma Maya. Sepanjang jalan mereka hanya diam, kecanggungan yang menyerang mereka membuat perjalanan terasa sangat lama. Caca masih merasa sangat aneh dengan tingkah Tuan Arthur saat di toko bahan kue. "Mereka memang benar orang yang baik, hangat, tulus". Caca berpikir mengapa dirinya sangat ingin merasakan kehangatan dari pasangan suami istri itu. " Aku kenapa". Perasaan rindu yang menyesakkan dadanya membuatnya bingung.
__ADS_1
"Ada apa? ". Ibu Maya khawatir melihat ekspresi Caca.
" Gak apa-apa Bunda ". Caca tersenyum.
Keheninganpun kembali melanda, Nyonya Selena tenggelam dalam pikirannya membuat Tuan Arthur khawatir.
Ia mempercepat laju mobilnya.
***
Aprilia memasuki kamar Arsya, rupanya Arsya sedang mandi. Ia memutuskan untuk menunggunya di ruang keluarga. Saat hendak keluar ia melihat bingkai foto yang di balik. Aprilia berpikir mungkin fotonya tidak sengaja terjatuh. Ia memutuskan untuk memperbaiki posisinya. Saat membalikkan bingkai foto itu, Aprilia heran melihat 2 gadis di foto tersebut. Ia memandangi baik-baik foto itu, ia yakin dengan wajah gadis yang ia lihat itu, ia mengenal gadis itu. Mendengar suara shower yang mati, Aprilia meletakkan kembali foto yang terbingkai cantik itu di posisinya semula dan segera keluar dari kamar Arsya.
"Kenapa Arsya memiliki foto dengan cewek rese itu? Mereka terlihat akrab".Aprilia terus memikirkan hal itu, mengingat bagaimana sikap wanita itu pada mereka. " Apa aku menanyakannya saja langsung yah padanya".
Ia merasa aneh, jika memang akrab mengapa tidak saling bertegur sapa saat bertemu, bahkan yang membuatnya bingung adalah sorot mata keduanya, terlebih wanita itu sangat nampak tidak ramah. Aprilia di buat kesal saat memikirkan tatapan wanita itu pada mereka.
"Apa Caca tahu soal hal ini? keterlaluan kalau dia tahu terus gak bilang sama aku, kalau dia balik dari belanja aku harus tanya padanya". Aprilia kemudian berjalan ke kamarnya.
" kau tadi ke kamarku? ". Tiba-tiba Arsya muncul.
" Ahh yah, aku tadi ke kamarmu tapi kau sedang mandi, jadi aku keluar lagi". Aprilia.
"Terus, kau mau kemana? ". Arsya.
" Aku akan mengambil handphoneku di kamar". Aprilia kemudian pergi ke kamarnya.
"Aku harap ia tidak melihat fotoku bersama Aqifa". Pikir Arsya.
Arsya masuk kembali ke kamarnya, dan mengumpulkan foto-fotonya bersama Aqifa dan memasukkannya ke dalam kotak, ia tidak ingin Aprilia maupun Caca melihat foto-foto itu, ia benci mengetahui Aqifa di balik semua masalah yang menimpa Caca.
"Hah, kenapa kau harus melampiaskannya pada orang lain, kenapa tidak padaku saja sih? ". Arsya tahu betul yang di lakukan Aqifa hanyalah karena ia tidak menerima orang lain bisa berada dekat dengannya, bisa tertawa dengannya. " Kumohon berhentilah menyiksa orang lain, aku juga ingin berteman dengan orang yang tulus". Arsya menyentuh wajah Aqifa pada foto yang sudah ia letakkan dalam kotak.
Ia menutup kotak itu dan meletakkannya di tempat yang aman.
bersambung………………………………
...****************...
...----------------...
__ADS_1