
"Arah jam 1" satu suara dari earphone yang membuat 4 pria berbalik dan menoleh ke arah yang di katakan dari salah satu rekan mereka.
Denis menarik Caca menjauh dari tempat itu, menyadari ada seseorang yang mendekat,tingkat kewaspadaannya meningkat saat ia melihat dengan jelas bahwa orang-orang ini adalah seseorang dari kelompok yang benar-benar ia kenal. "*Aku akan menggiring mereka ke tempat lain, aku harus memberi tahu beberapa tim bayangan untuk bersiaga di sekitar semuanya ". Denis mengeluarkan Handphone nya dan mengetik pesan berupa kode bahaya dan siaga, ia mengirimkan pesannya ke beberapa pengawal bayangan." **Danar perhatikan Nyonya Selena ,kau tidak boleh jauh dari mereka, ada beberapa orang yang mengikuti kalian". * Denis kemudian kembali menggenggam tangan Caca dan keluar dari tempat itu. Mereka berdua sampai ke area parkir,tiba-tiba ada mobil yang berhenti menghadang jalan mereka. Denis semakin waspada,takut-takut yang menghadang mereka adalah kelompok dari orang-orang tadi.'' Nona sembunyi di belakang saya!".Tanpa mengatakan apa pun Caca bersembunyi mengikuti kata-kata Denis.
Pintu terbuka dan terlihat 2 sosok pria dari dalam mobil itu."*Mereka terlihat tidak berbahaya, apa yang mereka inginkan? ''. Denis menatap 2 pria yang keluar dari mobil itu.
"Kenapa kau menyembunyikan Caca di belakang mu?". Kata seorang pria yang memasang wajah penuh tanya.
"Suara itu". Caca yang menyembunyikan tubuh mungilnya di balik badan Denis perlahan menampakkan dirinya. "Ronal!". Denis menoleh pada Caca yang hendak maju, tapi Denis tetap merentangkan tangannya menghalangi Caca seolah memintanya untuk kembali ke belakang tubuhnya.
Ronal melihat hal itu membuatnya kesal, ia tidak rela lelaki itu menyentuh Caca, apalagi ia seolah melarang Caca berinteraksi dengannya."Siapa kau, kenapa memperlakukan Caca seperti itu".
"Nona! apa Anda mengenalnya?". Tanya Denis.
"Tentu saja dia mengenalku, aku 1 sekolah dengannya, aku sangat mengenalnya". Ronal mulai kesal dengan pria itu.
Mendengar hal itu Caca sedikit risih, ada pikiran aneh yang mengusik kepalanya.''Tidak! Kau......".
Ronal terdiam melihat reaksi Caca, sepertinya kalimatnya tadi membuat Caca mengingat sesuatu yang tentu saja Ronal tahu apa itu.
Denis berbalik melihat Caca dan melihat reaksinya membuat Denis mencap Ronal sebagai salah satu orang yang tidak boleh dekat dengan Caca."Sekarang saya memiliki alasan untuk menjauhkan Anda dari Nona". Denis kemudian menarik tangan Caca pergi meninggalkan Ronal.
__ADS_1
Mereka berjalan mencari letak mobil mereka di parkir, Denis memutuskan untuk menunggu mereka di mobil. Denis membuka pintu mobil dan mempersilahkan Caca untuk masuk. Caca merasa aneh di perlakukan seperti itu."Kau tidak perlu memperlakukanku seperti itu, dan lagi kau terus saja menyebutku Nona, namaku Caca". Caca kemudian masuk ke dalam mobil dan menyingkirkan tangan Denis kemudian menutup pintunya.
Denis terdiam sejenak mencerna kalimat Caca tadi kemudian ia menggeleng dan ikut ke mobil. Denis duduk di bagian kemudi sedangkan Caca duduk di kursi belakang. Caca memegang tangannya yang keringatan, ia menatap tangannya yang tadi menyentuh tangan Denis saat akan menutup pintu mobil, saat Denis memegang tangannya, saat ia melihat punggung Denis yang melindunginya, dan saat Denis mendekapnya. "Oh TUHAN". Caca tanpa sadar menampar pipinya berusaha menghilangkan isi kepalanya.
"Nona ada apa?". Denis membalik badan untuk mengecek apa yang terjadi pada Caca.
"Ah tidak apa-apa". Caca menunduk, menyembunyikan wajahnya ia yakin pasti wajahnya merah padam sekarang.'' Oh, haruskah aku berada dengannya di sini, aku tidak mau ia menyadari sikapku, Caca dasar aneh". *Ia merutuki dirinya sendiri yang tidak bisa mengendalikan perasaannya.
Sedang Denis yang melihat tidak ada hal serius, Ia kembali ke posisi awal dan menghubungi Danar serta salah satu anak buahnya untuk membawa yang lainnya keluar.
"*Danar, beritahu Tuan Arthur bahwa ada sedikit masalah, cari alasan untuk membawa semuanya keluar berikan alasan yang masuk akal, jangan sampai mereka curiga". *Denis mengirimkan pesan tersebut.
Saat sedang memantau perkembangan keadaan dari beberapa bawahannya, Denis kembali mengingat-ingat wajah seseorang yang sempat ia lihat saat berusaha melarikan diri bersama Caca. "Aku yakin aku pernah melihat wajahnya, tapi aku tidak boleh gegabah, aku harus memiliki bukti cukup untuk menuduh kelompok itu".
" Anu, mmm". Caca bingung akan bertanya bagaimana.
"Anda tidak perlu khawatir nona, anda sudah aman sekarang, soal preman-preman tadi memang biasa di tempat seperti itu, apalagi mereka melihat kesempatan saat anda sendirian". Denis.
" Ah, iya benar juga". Caca mempercayai begitu saja apa yang di katakan Denis. "Siapa juga yang menganggapku penting, dia pasti melakukannya karena aku datang bersama Nyonya Selena, aku sudah berpikiran yang aneh-aneh". Caca menertawai dirinya sendiri yang sempat merasa sebagai orang penting.
Caca memikirkan apa yang sedang di lakukan Ayah dan Ibunya, saat ia menoleh ke sembarang arah di luar kaca mobil, ia melihat rombongan yang datang bersamanya tadi datang.
__ADS_1
"Loh, kok mereka balik? ". Caca sedikit bingung.
Terlihat Nyonya Selena dan Tuan Arthur sangat panik, begitupun ibu dan ayah Caca. Melihat hal itu Denis menautkan alisnya, ia sudah memberi tahu Danar untuk membuat alasan yang masuk akal.
Denis keluar dari mobil bersamaan dengan Caca. " Bagaimana keadaan mu, apa ada yang terluka? ". Nyonya Selena begitu khawatir Ibu Caca hendak mendekati Caca tetapi melihat perilaku Nyonya Selena membuat nya menghentikan langkahnya.
Caca menangkap tangan Nyonya Selena dan mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja, tidak ada yang terluka, lalu ia menghampiri ibunya dan menenangkan ibunya yang juga terlihat panik.
Tuan Arthur menepuk bahu istrinya, begitupun Arfa melakukan hal yang sama terhadap ibunya. Terlihat di pojok lain 2 orang berdiri dengan kondisi 1 orang yang menunduk terhadap orang lainnya.
"Danar! aku sudah mengatakan padamu untuk membuat alasan sebaik mungkin, aoa yang kau lakukan? ". Denis menjewer adiknya.
" Ah…aaaa… aku sudah berniat membuat alasan tetapi itu, si gadis dungu itu berlari dan memberi tahu semuanya bahwa Caca hilang, dan mengatakan bahwa mereka sempat di ikuti, bahkan dia menceritakan dengan detail, aku tidak akan di percaya walau membuat alasan apapun". Danar memasang wajah kesal.
"Pokoknya kau tetap salah, dan lagi kau kalah selangkah dengan seorang gadis dungu".Denis nampak kesal tapi ia terpaksa menahan emosinya, karena ini bukan sepenuhnya kesalahan adiknya.
bersambung………………
...****************...
...----------------...
__ADS_1
......................