
"Ayo ikut Bunda! ". Ibu Maya
Dewa dan Arsya mengikuti ibu Maya masuk ke dalam ruangan.
" Kalian dengar apa yang di katakan Tuan Arthur tadi? ". Ibu Maya.
" Iya tante". Dewa.
"Ini persoalan putrinya yang hilang". Ibu Maya.
" Lalu apa hubungannya dengan Bunda". Arsya bingung.
"Dengarkan, Tuan Arthur membiarkan kalian mengetahui informasi ini karena percaya pada kalian, ini juga merupakan saran bunda. Putri Tuan Arthur kemungkinan besar adalah Caca". Ibu Maya.
" Apa? ". Arsya dan Dewa kaget mendengar hal tersebut.
" Ini baru kemungkinan, Tuan Arthur diam-diam akan melakukan penyelidikan, dan tes DNA". Ibu Maya.
"Lalu mengapa tante memberi tahu kami soal ini". Dewa.
" Bunda mau kalian mendapatkan rambut Caca, untuk di lakukan tes DNA". Ibu Maya.
Arsya dan Dewa masih merasa heran kenapa tiba-tiba Caca yang menjadi putri Tuan Arthur. Tetapi mereka menyanggupi untuk mendapatkan rambut Caca.
"Apa Tuan Arthur sudah melihat foto Caca? ". Arsya.
" Belum, bunda tadinya akan meminta nya padamu, akan bunda tunjukan pada tuan Arthur nanti". Ibu Maya.
Setelah berbicara panjang lebar, mereka bertiga memutuskan kembali ke rumah mereka masing-masing.
"Sampai jumpa Tante, hati-hati ya". Dewa.
" Iya, kamu juga hati-hati". Ibu Maya.
"Iya Tante". Dewa kemudian melambaikan tangannya.
***
Kediaman Endrian, ruang kerja Malik
Malik duduk di sofa ruangan kerjanya bersama Jeri sambil menikmati kopi.
" Jadi apa yang akan anda lakukan pada Aqifa? ". Tanya Jeri.
"Hanya memberinya obat sakit perut". Malik
" Tapi anda sampai ke restoran secret bee dan hanya akan memberi Aqifa obat sakit perut? kenapa tidak di culik saja? ". Jeri
" Aku ingin menculiknya tapi itu akan membuat kekacauan, walau bagaimanapun kita tidak boleh melupakan dia putri siapa". Malik menepuk bahu Jeri kemudian meninggalkannya di ruangan itu sendirian.
Jeri duduk sendiri dalam ruangan itu sambil menyesap kopinya sedikit demi sedikit sambil berpikir. "Anda tidak akanbisa melupakannya Tuan meskipun bertemu dengan ratusan wanita".
***
Kediaman Angga Wijaya
Dewa memasuki pelataran rumah megah itu, ia turun dari mobilnya dan memberikan kunci pada satpam. Saat masuk ia langsung ke ruang kerja ayahnya.
" Ayah! ". Dewa langsung duduk di hadapannya Ayahnya yang masih berkecimpung dengan kertas-kertas.
__ADS_1
" Ada apa? ". Tuan Angga melirik sekilas putranya.
" Aku ingin menanyakan sesuatu ". Dewa mengumpulkan keberanian untuk bertanya mengenai putri Tuan Arthur.
" Soal apa? ". Tuan Angga.
Saat akan bertanya, Dewa kemudian teringat dengan Ibu Maya yang mengatakan bahwa Tuan Arthur memercayainya.
" Apakah ayah masih punya obat untuk menyebabkan sakit perut? ". Dewa memutuskan untuk tidak menyinggung perihal soal Tuan Arthur.
" Apa yang ingin kau lakukan dengan obat itu? ". Tuan Angga melepas berkas yang sedang ia periksa.
" Aku ingin mengerjai seseorang". Dewa dengan santainya.
"Dasar anak nakal". Tuan Angga menyentil jidat anaknya.
" Aqifa mencoba meracuni temanku, aku tidak bisa menerimanya, aku akan membuat ia merasakannya ". Dewa menjelaskan.
" Aqifa? ". Tuan Angga terdiam sejenak, dia juga sebenarnya ingin menghukum anak keras kepala itu. " Obatnya ada di laci bawah".
"Terima kasih ya ayah". Dewa kemudian mengambil obat dan keluar dari ruangan itu.
" Sesekali anak itu harus di beri pelajaran". Tuan Angga memikirkan Aqifa yang harus bolak-balik kamar mandi.
***
Keesokan harinya, Universitas XX
Seperti biasa Caca akan berjalan ke kampus sambil membaca buku,dan sesekali memperhatikan ke depan memastikan jalanannya.
Saat sibuk membaca, Caca di kagetkan dengan klakson mobil, Caca diam sejenak. "Sekarang apa lagi, mengapa aku rasa hampir setiap pagiku di rusak oleh klakson mobil". Caca kemudian berbalik memasang wajah jengah.
" Ayo masuk, kita bareng! ". Ronal
Caca menatap Ronal yang entah mengapa menurutnya Ronal saat itu berbeda.
" Kenapa menatapku, ayo masuk". Ronal gelagapan melihat Caca menatapnya lama.
"Ah iya, baik aku masuk". Caca langsung masuk,tetapi mengalihkan pandangannya keluar. " Kenapa aku deg degan, ya ampun Caca kau sudah gila yah".
Ronal memperhatikan gerak gerik Caca yang tidak biasa, seolah ada yang mengganggu pikirannya.
"Ada apa? Apa kau baik-baik saja? ". Ronal berusaha membuat Caca menoleh padanya.
Caca tiba-tiba menepis tangan Ronal dan menunjukkan wajah waspada, hal itu membuat Bima yang melihat dari spion mobil merasa aneh.
" Apa kita menepi dahulu Tuan? ". Bima
" Tidak perlu". Caca menjawab cepat.
Ketiganya kemudian fokus pada jalan dan pepohonan yang mereka lewati, hingga sampai di depan loby fakultas tempat mereka menempuh perkuliahan, Caca keluar lebih dulu tak lupa mengucapkan terimakasih.
Ronal masih terdiam di dalam mobilnya, memikirkan reaksi Caca saat ia menyentuh bahunya. "Haaaah". Ronal membuat Bima bingung dengan keadaannya.
" Apa tuan baik-baik saja? ". Bima.
" Yah? ahh,aku baik-baik saja". Ronal kemudian keluar dari mobilnya dan memasuki lobby fakultas.
***
__ADS_1
Setelah perkuliahan selesai dan akan memasuki jam makan siang, 3 wanita cantik itu memutuskan untuk ke kantin. Saat hendak menuju kantin Dewa mencegat mereka bertiga kemudian meminta mereka untuk pergi ke kafetaria dekat kampus. Mereka hanya mengikuti apa mau Dewa, dan segera berjalan ke kafetaria itu.
Saat tiba di kafetaria itu, mereka melihat Andini dan Aqifa juga baru sampai di sana.
"Hah haruskah melihat mereka? ". Andini.
" Bagaimana membuat anak itu malu sih? " Aqifa mengerutkan keningnya.
"Ayo pesan dulu, soal Caca kita pikirkan nanti". Andini kemudian menatap tajam ke arah Caca.
" Baiklah". Mereka kemudian memesan minum dan Cake.
Dewa memperhatikan Aqifa yang sudah memesan minuman, tidak lama kemudian seorang pelayan yang melayani Aqifa melihat Dewa, Dewa menganggukkan kepalanya.
Mereka berempat kemudian ikut memesan, lanjut mereka berbincang banyak hal.
"Caca! apa kau mengenal Malik? ". Aprilia.
Caca kaget mendengar pertanyaan Aprilia, tetapi dia tidak ingin Aprilia salah paham dengannya. " Yah aku mengenalnya, aku pernah bertemu dengannya di kota X tahun lalu".
"Lalu? ". Aprilia.
" Ilia kau mengenal Malik? ". Tanya Arsya.
" Malik adalah kekasihnya ". Jawab Dewa.
Arsya membulatkan matanya. " What? kau berpacaran dengan orang kejam dan tidak punya hati itu".
"Jangan asal menilai orang". Jawab Aprilia
" Aku hanya bertemu dengannya beberapa kali tanpa di sengaja". Caca.
"Apa kalian saling menghubungi? ". Aprilia
Arsya merasa Pertanyaan-pertanyaan Aprilia menginterogasi, sangat tidak nyaman. " Ehem"
Caca merasa bahwa Aprilia sedang merasa cemburu saat ini jadi dia tidak mengambil hati semua pertanyaan nya. "Tidak, kami tidak sedekat itu sampai harus saling menghubungi".
Kemudian mereka berdua kembali diam, yang tadinya meja mereka yang paling bising sekarang tak ada suara.
gubrak…brukk
Mereka di kagetkan dengan suara meja dan kursi yang terdorong jatuh, mereka menoleh melihat Aqifa berdiri dengan tergesa kemudian berlari ke arah toilet.
"Selamat menikmati". Dewa tersenyum senang.
" Apa? ". Tiga gadis di hadapannya kompak bertanya.
" Ah, cakenya". Kemudian Dewa memakan cake di hadapannya dan mengedipkan mata pada Malik yang rupanya juga berada di Kafetaria itu. Melihat Malik membuat Dewa memikirkan bahwa alasan Malik membantu Caca hanya karena Caca adalah teman Aprilia tidaklah cukup. Itu sama halnya dengan alasan yang ia buat-buat. "Apa mungkin posisinya sama sepertiku? ". Dewa memperhatikan Caca.
Arsya terus melihat Dewa yang menatap Caca, ia kemudian menendang kaki Dewa, seolah mengingatkan mengenai pembicaraan mereka semalam. Dewa hanya mengangguk tanda mengerti.
Melihat situasi yang canggung, Arsya mengajak Aprilia dan Caca ke mall sepulang kuliah terakhir mereka hari ini.
bersambung…………
...****************...
...----------------...
__ADS_1